Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 150


__ADS_3

Kelas hari ini telah usai. Waktu menunjukkan pukul dua siang saat Resty dan Ika keluar bersama sekedar jalan-jalan berkeliling mall. Sedangkan Alex memilih tidak langsung pulang. Semenjak menikah pria itu sudah jarang berkumpul dengan kedua sahabatnya, Cello dan Ryan. Jadilah saat ini mereka juga memiliki quality time dengan sahabat masing-masing.


Saat dalam perjalanan itu Resty meminta berhenti di sebuah apotik. Ia turun seorang diri, sedangkan Ika tetap menunggunya didalam taksi.


Tak lama kemudian Resty datang lagi. Sebuah alat penguji kehamilan yang dibelinya itu sengaja ia simpan dalam tas kecilnya.


"Sudah?" tanya Ika seakan paham apa yang dibeli Resty di apotik itu.


Resty hanya mengangguk singkat. Dan taksi itu kembali melaju menuju sebuah mall terbesar yang ada di kota itu.


Sekitar sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai ditempat tujuan. Resty segera turun dari taksi itu setelah merasa perutnya tiba-tiba bergejolak lagi. Wanita itu berlari kecil mencari toilet terdekat yang ada di basement mall itu. Disusul Ika yang juga mengejarnya cemas.


Dan benar saja, Resty lagi-lagi mengeluarkan isi perutnya di wastafel kamar mandi itu. Dibantu Ika yang memijiti tengkuknya dengan pelan. Wanita itu semakin yakin, jika sahabatnya itu sedang berbadan dua.


Saat sudah merasa sedikit lebih baik, Resty membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.


"Tadi kamu beli testpack kan?" tebak Ika tepat sasaran.


Resty hanya mengangguk.


"Coba sekarang aja," ucapnya lagi sambil menunjuk dengan dagunya pada sebuah toilet kosong didekatnya.


Resty menggeleng kepala.


"Kenapa?"


"Entar aja di rumah," sahutnya masih sedikit ragu, karena sejujurnya Resty masih enggan untuk menguji coba alat itu.


Ika hanya bisa menghela nafasnya.


"Masih mau lanjut masuk?" tanyanya mulai ikutan cemas.


"Lanjut dong..."


"Yakin kuat?"


"Kuat. Aku nggak pusing, cuma suka eneg aja kalau ada bau aneh-aneh," ujar Resty apa adanya.


"Fix! Kamu beneran hamil, Res." Ika tersenyum lebar.


Tetapi Resty hanya diam, tak tahu lagi harus senang apa sedih.

__ADS_1


"Aku harus kabari papa kamu nih."


Saking semangatnya Ika berencana akan menghubungi Tommy, tetapi segera dicegah oleh Resty.


"Eh, jangan! Ngapain ngasi tau papa. Hasilnya aja masih nggak tahu."


"Sumpah aku senang banget, Res."


Ika sampai mengusap perut Resty yang masih rata.


"Nggak nyangka kalau aku akan jadi oma secepat ini," serunya tanpa beban.


Benar-benar merasa sangat senang dan juga bahagia. Padahal Resty sendiri masih belum tentu hamil, tetapi mama sambung Resty itu sangat berantusias sekali.


Lalu mereka keluar dari toilet itu, kembali berjalan pelan menyusuri seluruh mall tanpa tujuan apa yang ingin dibeli.


"Tapi kalau nanti aku beneran hamil, ini semua salah Alex." Resty terus saja menggerutu. Tetapi Ika langsung tertawa kecil mendengar ucapan Resty yang menurutnya sangat konyol.


"Kok kamu ngetawain aku?"


Resty menghentikan langkahnya, menatap Ika cukup sengit.


"Lucu kamu!"


"Bisa-bisanya kamu mau nyalahin Alex. Padahal itu juga kan hasil kerja berdua, bertukar keringat, mendessah bersama, nikmat luar biasa," tutur Ika tanpa filter.


"Iiih.... Bukan itu maksud aku. Kamu mah langsung mesum."


Dan Ika hanya terkekeh kecil dituduh begitu oleh Resty.


"Aku mesum begini karena di mesumin papa kamu," bisik Ika sambil cekikikan sendiri.


"Iiih.... Ngomong apaan sih!" Resty ikut terkekeh mendapati istri papanya itu semesum begini.


Lalu mereka berdua memilih melipir duduk di sebuah cafe yang cukup ramai di mall itu. Sambil menikmati es krim pesanannya, mereka berdua kembali mengobrol seru.


"Padahal sebulan ini aku rutin minum pilnya, kalau nanti beneran hamil, itu salah Alex." Resty kembali curhat.


"Yakin nggak pernah bolong minumnya?"


Resty mengangguk yakin.

__ADS_1


"Jadi sebelum begituan berarti kamu sudah KB duluan?"


"Ya nggak langsung sih. Awalnya Alex yang pake. Karena ngerasa nggak enak, akhirnya aku yang pake KB. Masalah menunda ini kita sudah sepakat. Makanya aku masih ragu. Kalau beneran hamil itu kok bisa ya?"


Ika terdiam. Berpikir cukup lama. Tetapi bisa jadi mereka pernah melakukan itu tanpa pengaman sebelumnya. Namanya juga pengantin baru, kalau sudah kepalang on mana tahan?


"Coba diingat-ingat lagi. Bisa jadi kalian pernah lupa nggak pake pengaman," ucap Ika.


Resty ikutan berpikir. Mengingat-ingat tetapi hal itu hanya Alex yang bisa jawab. Karena sebelum memutuskan mengkonsumsi pil KB, Alex lah yang menggunakan balon ajaib. Awas saja kalau beneran Alex pernah lupa pakai! Mendadak hati Resty jadi dongkol jika benar dugaannya itu tepat.


"Sudah lah, nggak usah terlalu dipikirkan. Dinikmati saja, karena semua itu sudah takdir. Anak itu rezeki dan juga amanah dari Tuhan. Kun fayakun! Kalau Tuhan sudah berkehendak, mau menolak bagaimana pun, tetap akan terjadi."


Sekali lagi Ika mencoba menenangkan perasaan Resty agar tidak terlalu beban memikirkannya. Bahkan wanita itu mulai menceritakan bagaimana perjuangan orang lain yang sangat menginginkan kehadiran buah cinta, tetapi tak kunjung diberi oleh Tuhan. Banyak pasangan diluar sana yang begitu mendamba seorang anak hingga harus menunggu bertahun-tahun lamanya. Dan jika kali ini Resty diberi amanah itu secepat ini, itu artinya Tuhan telah mempercayai mereka untuk bisa mengurusnya dengan penuh tanggung jawab.


Mendengar itu Resty sedikit menjadi lega. Tetapi mungkin hatinya saja yang harus belajar siap menerima kenyataan.


Merasa sudah jenuh duduk berlama-lama di cafe itu, mereka berdua memutuskan untuk kembali berkeliling di mall itu. Puas berkeliling hingga tak terasa waktu maghrib sudah tiba. Segera mereka mencari musholla di mall itu. Setelah menemukannya mereka berdua segera menunaikan kewajiban tiga rakaatnya dengan khusyuk.


Saat ini mereka sudah berdiri menunggu jemputan didepan pintu utama mall. Karena sebelumnya Ika sudah menghubungi Tommy meminta dijemput. Tetapi Resty yang merasa eneg duluan terbayang wangi khas mobil yang mendadak ia tak suka baunya, memutuskan menghubungi Alex agar menjemputnya juga.


Hampir bersamaan jemputan mereka tiba. Alex yang tiba lebih dulu, langsung bertanya cemas bagaimana kondisi Resty.


"Aku sudah baikan. Tadi aja aku habis dua porsi es krim," ucap Resty saat ditanya bagaimana kondisinya oleh Alex.


"Syukurlah kalau begitu. Mau langsung pulang?"


Resty mengangguk.


"Apa nggak bareng papa saja, Res?" Tommy menawari Resty ikut bersama, mengingat anaknya itu tidak mengenakan jaket kalau harus naik motor.


"Tidak, Pa. Makasih."


"Baiklah. Kalian hati-hati di jalan. Jangan ngebut."


"Iya, Pa," sahut Alex.


Lalu setelah itu Tommy dan Ika lebih dulu pergi, tetapi mereka memilih pulang ke rumah Ika.


"Ayo, Yang," ajak Alex kemudian. Pria itu sudah siap duduk di motornya.


Resty segera ikut duduk di jok belakang. Segera melingkarkan tangannya di pinggang Alex dengan erat. Mencari kehangatan dengan memeluk tubuh kekar suaminya itu. Melaju dengan kecepatan sedang menyusuri keramaian jalanan.

__ADS_1


*


__ADS_2