Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 140


__ADS_3

Dua hari berlalu. Hingga sampai saat ini Tommy masih terkesan dingin terhadap Ika. Mereka sering bertelponan seperti biasa, tetapi kerap kali hanya Ika yang terkesan mendominasi. Meski cukup gemas dan menyita perasaan, tetapi semua memang salah Ika. Ia baru sadar saja jika bersuamikan om-om seperti suaminya itu kalau lagi marah rupanya menakutkan. Walau tidak mengamuk, sikap dinginnya itu mengalahkan kutub utara.


"Hem, iya, Mas. Wa'alaikum salam."


Ika menutup telponnya, saat suaminya itu mengatakan sedang mengadakan pertemuan penting dengan rekan bisnisnya. Entah itu benar atau hanya alasan untuk menghindarinya. Mendadak dada itu merasa ada yang sesak. Ingin menangis tapi masih ditahan. Mengapa mencintainya semeresahkan begini jadinya? Apalagi mereka sudah hampir seminggu tidak saling bertemu.


Wanita itu melirik jam yang menempel di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Apa iya suaminya itu masih bertemu dengan klien pada jam-jam tak wajar begini.


Rasa resah itu sudah menyeruak pada seluruh hatinya. Bayangan akan ada pelakor dalam rumahtangganya hinggap begitu saja. Menikahi perempuan muda seperti dirinya saja Tommy mau, apalagi untuk mencari simpanan diluaran sana yang sama mudanya seperti dirinya. Hal itu sangat mudah bagi Tommy yang masih berparas rupawan dalam usianya yang sudah matang.


"Nggak boleh! Ini nggak boleh terjadi!" Ika bermonolog sendiri.


Dalam keresahan itu lebih baik ia curhat dengan Tuhan. Apalagi dirinya juga masih belum menunaikan kewajiban empat rokaatnya malam ini. Segera wanita itu turun dari kasurnya yang sedari tadi menjadi saksi bisu atas kegalauan hatinya. Beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu menunaikan sholatnya yang cukup tertinggal dari waktu yang tepat.


Usai salam Ika segera menengadahkan kedua tangannya. Lantunan doa agar rumahtangganya selalu sakinah mawaddah warohmah, ia ucapkan dengan setulus hati. Setitik bulir bening itu lolos dari pelupuk matanya. Bukti betapa besar cinta itu untuk suaminya. Benar-benar tak mau kehilangan, walau tak sedikit yang mencemooh karena usia mereka yang terpaut sangat jauh, layaknya anak dan bapak.


Saat sedang khusyuk itu, Ika tidak menyadari jika dibelakangnya telah berdiri sosok yang ia doakan saat ini. Pria itu menatapnya dengan sendu. Belakangan ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga terkesan dingin kepada istrinya. Tetapi jika tidak dipercepat urusan pekerjaannya itu, sudah tentu saat ini ia masih belum bisa pulang.


Diam-diam Tommy tersenyum kecil. Istrinya itu tidak tahu jika dirinya saat ini pulang. Ia memang sengaja merahasiakannya untuk menjadi sureprise buatnya. Saat mengatakan jika sedang bertemu dengan klien itu, saat itu Tommy sedang dalam perjalanan pulang dan sudah hampir tiba di rumah.


"Ehem!" Tommy sengaja berdeham.


Ika segera menoleh kaget pada suara yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.


"Mas Tommy?" sapanya terperangah.


Tommy tersenyum manis.


"Assalamu'alaikum, istriku," ucapnya.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam."


Air mata kerinduan itu lolos mengalir dari pelupuk matanya. Saat Ika berhambur ingin memeluknya, Tommy malah mundur perlahan. Membuat hati Ika mendadak mencelos lagi.


"Jangan sentuh aku dulu, By. Biar wudhumu tidak batal. Aku masih ingin sholat bareng kamu," ujarnya kalem.


Sudut bibir Ika perlahan tertarik melengkung. Lalu mengangguk senang, mengiyakan keinginan suaminya itu. Lekas Tommy melepas pakaiannya, memamerkan dada bidangnya kepada sang istri tanpa rasa sungkan. Dan kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan.


Ika tetap menunggu dengan sabar suaminya itu hingga selesai mandi. Hingga saat suaminya itu telah selesai mengenakan setelan koko lengkap dengan sarung dan juga peci yang dipakainya, barulah mereka berdua menunaikan sholat sunnah dengan berjamaah.


Lantunan doa kebaikan mereka panjatkan bersama saat ibadah sunnah itu usai dikerjakan. Beralih Tommy mendekat untuk mencium kening istrinya. Istri yang begitu dirindukannya selama ini. Istri yang membawa kabar bahagia, karena rupanya telah bersih dari halangannya. Haiis..


"Mas mau makan?" tawar Ika, ketika mereka telah mengganti pakaian sholatnya dengan baju tidur yang biasanya dipakai.


Tommy menggeleng saja.


Mendadak mulut Ika mengerucut sebal.


"Mas Tommy curang!" umpatnya.


"Kenapa nggak bilang aja sih kalau pulang sekarang? Kenapa harus ngomong masih ada urusan sama klien pas kita telponan barusan?"


Tommy hanya tersenyum simpul. Sebelah tangannya ia rangkulkan dipundak istrinya, menuntunnya untuk duduk bersama di bibir ranjang.


"Iya, aku minta maaf," ucapnya dengan tulus.


"Demen banget ngeprank. Aku prank balik entar mau nggak?"


"Iya, maaf, By. Duh, hampir semingguan nggak ketemu kok malah manyun-manyun gini." Tommy mencubit gemas pipi istrinya yang sedikit chubby.

__ADS_1


"Habisnya mas Tommy duluan sih." Ika sengaja membalik badan, memunggungi Tommy begitu saja.


Tetapi Tommy malah memeluknya dari belakang. Hembusan nafasnya terasa sekali pada telinga Ika, menimbulkan rasa geli-geli nikmat bercampur resah seketika.


"Aku kangen, By," ucap Tommy, begitu lembut, tanpa mau melepas pelukannya yang semakin erat.


Deg deg deg


Detak jantung Ika mendadak bergetar melebihi biasanya. Deru nafasnya mulai membuncah. Rasanya meremang disekujur tubuh. Apalagi saat suaminya itu dengan sengaja mengendus-ngedus nakal pada area tengkuknya, memberinya kecupan kecil yang memabukkan, membuatnya semakin gugup tetapi tetap harus dijalani karena mungkin inilah saatnya.


"Kamu nggak kangen sama aku, By?" tanya Tommy.


Nada suaranya mulai terdengar berat. Dapat dirasakan jika suaminya itu sudah mulai on. Pergerakan tangannya sudah mulai bergerilya dengan bebas. Menyentuh pada semua yang ingin disentuh pada tubuh molek istrinya itu.


Ika menggigit kecil bibir bawahnya saat tangan kekar suaminya itu mulai meremmas pada salah satu buah kenyalnya. Walau sangat gugup, tetapi perlahan ia mulai menikmati perlakuan suaminya itu.


Tak kuasa menahan libidonya yang semakin memuncak, Tommy membalik tubuh istrinya. Seketika mendaratkan kecupan manisnya pada bibir ranum istrinya. Melummatnya dengan lembut. Menyesapnya penuh kenikmatan. Berbelit lidah dan bertukar saliva hingga mengharuskannya berhenti sejenak untuk mengambil nafasnya yang sempat tersengal-sengal.


Tommy tersenyum puas saat sang istri bisa mengimbangi permainannya sesuai keinginan. Dan lagi, ciuman itu kembali bertandang dan semakin panas. Hingga tubuh keduanya ambruk di ranjang, masih dengan saling berpagutan.


Rasa rindu yang teramat dalam bagi dua pasang pengantin baru yang belum juga berhasil unboxing, sepertinya akan terbayar tunai malam ini. Permainan itu belum juga usai. Dan semakin mendalam mana kala pria itu berhasil melucuti semua yang melekat pada tubuh istrinya.


"Aku sayang kamu, By," seru Tommy lalu kembali mencumbu istrinya lagi.


Ika hanya terdiam. Bukan tidak mau merespon pernyataan suaminya itu, melainkan terlalu asyik menikmati sentuhan nakal suaminya yang berhasil membuatnya melambung tinggi ke nirwana, seiring keluarnya sesuatu yang menyeruak dari dalam inti miliknya.


"Aaaah..... Maaassss........"


Bersambung gaes😁✌

__ADS_1


__ADS_2