
Resty dan Alex hampir bersamaan masuk ke dalam kelasnya. Gadis itu langsung menempati tempat duduknya yang sudah di tag oleh Ika sebelumnya. Sedangkan Alex sengaja berlama-lama ngobrol dengan seseorang yang kebetulan berada disamping Resty duduk. Demi apa coba? Demi bisa berdekatan dengan Resty lagi.
Ika yang memang tak sengaja memperhatikan saat Resty dan Alex datang tadi, tentu merasa sedikit curiga tentang kedekatan mereka. Apalagi saat melihat dengan jelas pria itu tadi selalu mengulas senyum saat berada dibelakang Resty, membuat jiwa kekepoannya tumbuh lagi untuk segera mengusutnya langsung.
"Resty," bisiknya, sambil melirik aneh kepada Alex yang masih betah ngobrol disamping Resty.
Resty hanya menggeser sedikit kepada Ika, sudah siap mendengar apa yang akan dikatakan sahabatnya itu.
"Ada yang aneh," ucapnya tiba-tiba.
"Siapa?"
"Tuh," Ika menunjuk dengan dagunya ke arah Alex.
Resty mengikuti arah Ika menunjuk. "Kenapa emang?"
"Kamu sama Alex sudah sampe mana?"
"Maksudnya?"
Ika melirik jengah. Ia ingat betul saat Alex nembak Resty sebelum liburan kemarin. Bisa jadi saat liburan kemarin mereka sudah jadian. Tapi mengapa Resty masih tak paham dengan pertanyaannya itu?
Belum sempat Ika bertanya lagi, dosen pemateri hari ini sudah datang. Mereka yang sebelumnya berhamburan jadi seruang kelas, kembali rapi ditempat duduk masing-masing saat dosen itu mengucap salam.
Tak lupa Alex menyempatkan diri untuk menyapa Resty.
"Selamat belajar dengan semangat, Sayang," bisiknya lembut, tetapi Ika juga bisa mendengarnya dengan jelas.
Resty tak merespon apa-apa, walau kekasihnya itu sudah melempar senyum termanis kepadanya. Perasaannya mendadak kikuk sendiri. Sekujur tubuhnya seketika membeku saat diterpa hembusan hangat itu ditelinganya. Sungguh kekasihnya itu benar-benar meresahkan. Diajak untuk merahasiakan hubungannya itu dulu, malah sekarang mau menampakkannya didepan Ika.
Ika melirik sengit hingga sampai Alex duduk ditempatnya. Pria itu tahu jika ia ditatap tak suka oleh sahabat kekasihnya itu, tetapi ia memilih cuek saja dan terus menyorot lembut pada Resty yang duduk dua baris didepannya.
"Resty," Ika menyikut pelan lengan Resty.
"Ah?" Resty yang kebetulan tengah melamun, menoleh kaget kepada Ika.
"Kamu sama Alex jadian?" tanyanya to the poin.
"Ssssttt...." Resty mengalihkan dengan menyuruh sahabatnya itu diam dan fokus kepada dosen yang menjelaskan materi didepan.
Ika mendengus kesal. Jiwa keponya sudah meronta menuntut jawaban pasti. Membuat gadis itu hilang fokus sesaat demi memikirkan Resty yang masih menggantung jawabannya.
"Kamu hutang jawaban sama aku, Res," bisiknya penuh penekanan.
__ADS_1
Dua sahabat itu kembali menyimak materi yang diterangkan dosen didepan. Sepertinya Ika sudah fokus menyimaknya, tetapi sekarang giliran Resty yang dibuat hilang fokus saat ponsel miliknya terus bergetar, menandakan banyak pesan masuk disana.
Alih-alih takut ada pesan penting dari papanya atau siapapun itu, akhirnya Resty membuka aplikasi khusus pesan berwarna hijau itu.
[ Sayang, jangan lupa setelah ini kita keluar bareng dari sini.]
[ Nggak pake nolak.]
[ Harus belajar nurut sama calon suami.]
[ Atau kamu mau aku umumin didepan kampus entar?]
Resty mendelik tak percaya saat membaca pesan terakhir yang dikirim oleh pria yang diberi nama Casuku diponselnya itu. Harus banget pake acara mengancam?
Gadis itu menoleh sekilas ke belakang, melempar tatapan sebal kepada pria yang hanya cengengesan bagai tak bersalah sambil menautkan ibu jari dan telunjuk membentuk love kecil kepada Resty.
Resty segera berpaling, takut ketahuan juga sama pak dosen, juga sengaja memalingkan wajahnya yang tiba-tiba merona dibegitukan oleh Alex.
Sesaat gadis itu tersenyum sendiri, terbayang saat Alex seperti tadi. Yang membuatnya merasa senang tak kepalang, karena hampir bisa membuat pria yang terkenal sebagai ketua geng The Fly di kampus ini jadi bucin kepadanya.
Saat sedang terbayang-bayang begitu, sampai Resty tak menyadari jika ponselnya sudah berpindah tangan.
Ika sangat kaget saat membaca deretan pesan dari seseorang yang diberi nama Casuku, yang sangat aneh menurut Ika.
"Calon suami?" gumamnya tak percaya.
Kemudian ia pura-pura tak peduli dengan sorot tajam Ika kepadanya. Ia tahu jika sahabatnya itu telah membaca pesan dari Alex itu dengan lancang. Sungguh definisi teman nggak ada akhlak.
Meski begitu Resty mencoba untuk fokus lagi menyimak penjelasan dosen, walau dalam hati sebenarnya sedang memikirkan jawaban yang pas andai nanti dicerca olehnya, yang tidak membuat sahabatnya itu heboh sendiri saat mendengarnya nanti.
Sembilan puluh menit berlalu. Materi hari ini selesai dengan tuntas. Tetapi sungguh Resty tidak bisa fokus barang sejenakpun saat mengikutinya tadi, meski sudah berusaha sebisa mungkin.
Resty mengemasi bukunya ke dalam tas. Saat gadis itu akan beranjak, tangannya masih dicegah oleh Ika.
"Aku mau nagih jawaban kamu. Sumpah aku kepo banget, Res." ucap Ika.
"Kamu mau tanya yang apa?" Resty duduk lagi. Pasrah lebih tepatnya.
"Calon suami."
"Tepat dugaan." batin Resty mulai gelisah, akan dari mana ia harus menceritakannya kepada sahabatnya itu.
"Siapa dia? Yang bilang calon suami? Emang kamu udah mau nikah apa?" Ika bertanya lagi lebih banyak.
__ADS_1
Resty masih terdiam. Bibir bawahnya ia gigit kecil, pertanda masih galau untuk jujur dengan sahabatnya itu.
"Cincin ini?" Kali ini Ika terfokus dengan cincin yang dipakai Resty.
"Kamu sudah punya tunangan?"
Resty akhirnya mengangguk.
"Dan kamu sudah mau nikah juga?"
Resty tak langsung merespon. Ia masih melirik kecil kepada Ika yang sudah menyorotnya intens. Tetapi kemudian gadis itu mengangguk juga.
Kedua netra Ika membulat tak percaya. Kaget sekaget-kagetnya.
"Astaga! Kita sahabatan, Res. Bahkan hal sepenting ini kamu main rahasiaan sama aku."
"Ika, maaf... Aku nggak niat mau merahasiakan dari kamu. Cuma jujur aku malu mau bilang ke kamu." Resty menyentuh tangan Ika.
Sungguh ia sangat ingin membagi kebahagiaannya itu kepada sahabatnya. Masalahnya Ika belum tentu senang saat tahu siapa yang menjadi calon suaminya itu.
Dan perihal Resty meminta Alex merahasiakan hubungannya sampai nanti pernikahan itu dilangsungkan, itu pun bukan tanpa sebab yang kuat. Resty menginginkan hubungannya dengan Alex itu terdengar sebagai pasangan halal yang dikuatkan dengan janji mereka dihadapan Tuhan. Yang mana hubungan itu sudah bukan main-main lagi, tidak seperti sebuah hubungan pacaran belaka.
Ika tersenyum riang sampai terharu, setelah mendengar pengakuan Resty padanya. Hingga sampai gadis itu memeluk erat ikut merasa bahagia.
"Sumpah demi apapun aku ikut seneng, Res. Duh, nggak nyangka kamu bakal nikah secepat ini. Btw, selamat ya, Bestie." Ika melerai pelukannya. Dan Resty mengangguk tersenyum.
"Jadi kapan tanggalnya?" Ika kepo lagi.
"Secepatnya. Doakan saja ya, Ka." balasnya santai. Masih merahasiakan tanggal pernikahannya kepada Ika.
"Pastilah, Res. Semoga pernikahannya berjalan lancar. Dan calon suamimu itu bisa jadi jodohmu dunia akhirat. Aamiin..."
Resty turut mengamini dengan mantap dalam hati. Alex pun yang sengaja belum beranjak dan menguping obrolan mereka ikut mengamini dengan lebih mantap.
Pria itu tersenyum tipis saat mendengar sendiri gadisnya itu memberitahu Ika perihal rencana pernikahannya. Mungkinkah ia sudah bisa go publik hubungan didepan Ika saja?
"Tapi, Res. Aku kepo deh siapa calon suamimu itu?"
Alex beranjak. Langkah kakinya mengayun mantap mendekati Resty.
"Ayo Sayang, kita sudah ditunggu buat fitting baju pengantin kita," ujarnya tiba-tiba.
Tangannya terulur menunggu sambutan tangan Resty. Tak menunggu lama gadis itu menyambutnya riang.
__ADS_1
"Jadi calon suami kamu itu-- Alex?"
*