
"Oh tidaaaak...."
Ika memekik pelan dan menutup matanya rapat-rapat. Membayangkan milik suaminya itu yang nanti akan menembus dinding pertahanannya pasti akan ngilu dan sakit luar biasa.
Hingga saat Tommy akan melepas tangan Ika yang dibuat menutupi matanya, gadis itu masih menahannya sekuat mungkin.
"Ada apa, By?" tanya Tommy tiba-tiba cemas.
Ika hanya menggeleng.
Karena tidak mau menjawab, Tommy malah melancarkan aksinya lagi dengan aksi kecupannya yang mendarat nakal di perut rata istrinya itu.
Berhasil. Gadis itu spontan membuka matanya lagi, menggeliat geli mendapati perlakuan suaminya yang semakin nakal.
"Mas," Ika bersuara sedikit lirih, tak kuat menahan geli-geli nikmat yang dicipta oleh suaminya.
"Ada apa, By?" tanya Tommy sekali lagi.
Ika masih bergeming.
"Sepertinya kamu ada yang dipikirkan, coba ngomong." Masih sempat-sempatnya Tommy menanyakannya dengan sabar disaat hasrat dirinya sudah berada di ubun-ubun.
"Aku takut," seru Ika kemudian.
"Takut apa?"
Ika hanya menunjuk dengan dagunya, tetapi kedua kakinya ikut bergerak untuk saling merapat, berusaha melindungi gawang miliknya yang masih virgin pastinya.
Tommy mengikuti kemana arah Ika menunjuk. Sesuatu miliknya itu memang sedikit besar dan panjang, melebihi ukuran standart pria Indonesia. Seketika ia paham. Gadis yang masih berada dibawah kungkungannya itu masih orisinil, tentulah nanti Tommy harus lembut saat memainkannya agar tiada muncul trauma yang dirasa istrinya nanti.
"Tenang, By. Aku akan memainkannya dengan lembut. Kamu tinggal menikmatinya saja. Percaya sama aku," ujar Tommy, berusaha meyakinkan istrinya agar tidak urung unboxing gegara takut melihat keperkasaannya yang menegang kuat.
Ika menggigit bibir bawahnya sedikit resah, tetapi juga pasrah karena ini adalah kewajibannya yang harus ditunaikan sebagai seorang istri. Sebisa mungkin ia harus rileks agar nanti terasa nyaman. Apalagi mengingat suaminya itu adalah pria duda yang pastinya sudah berpengalaman perihal ninuninu, pasti nanti akan lebih apik permainannya dibanding yang masih amatiran.
"Boleh aku lanjut, By?" Suara Tommy sudah semakin parau.
Sesaat Ika menghela nafas panjangnya, kemudian mengangguk kecil kepada suaminya. Merelakan miliknya itu jebol malam ini juga, demi membahagiakan suami tercinta.
__ADS_1
Tommy menyeringai puas. Tak mau menunggu lama pria itu melepas satu persatu yang melekat pada tubuh mulus Ika. Hanya menyisakan segitiga bermuda di sana. Sengaja pria itu masih membiarkan kain kecil itu membungkus lembah kenikmatannya, karena masih banyak yang harus di eksplor lagi olehnya semua yang ada di tubuh istrinya itu.
Pria itu mulai melukis tanda kepemilikan disetiap tempat yang ia inginkan. Membuat Ika kembali mendesah pelan, menggelinjang nikmat saat pria itu berhasil membuat sesuatu miliknya tersiram basah.
"Jangan ditahan, By. Keluarkan sepuasnya," ucap Tommy.
Kali ini pria itu merubah posisi, mengangkat tubuh Ika agar bergantian berada diatas tubuhnya. Sekali lagi gadis itu terjengkit kaget, saat tak sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang keras itu yang masih terbungkus aman di sangkarnya.
"Nanti juga akan biasa," seringai Tommy.
Ika hanya terdiam tersipu malu saat Tommy menatap tubus polosnya lekat-lekat. Saat ini posisi gadis itu sedang duduk diatas perut Tommy, dan pria itu menuntun tangan sang istri untuk menjelajahi dada bidangnya. Ika terpancing untuk ikutan membuat tanda kepemilikan ditubuh suaminya itu. Sebelumnya jemari gadis itu masih memainkan titik kecil di dada bidang suaminya, membuat Tommy seketika mengerang nikmat, menahan geli yang dicipta oleh jari nakal Ika.
"Mas, boleh aku merahin disini?" Sudah tidak sungkan lagi Ika bertanya, sambil membelai lembut leher suaminya dengan manja.
"Silahkan, By. Sepuasmu, sesukamu. Aku ini hanya milik kamu, sama halnya kamu yang hanya milik aku," balasnya pasrah.
Langsung saja Ika menyesap lembut leher suaminya dengan sedikit nakal. Membuat Tommy mnyeringai tipis, rupanya istri kecilnya itu tidak lugu-lugu amat.
Keduanya masih terlena saling memadu nikmatnya madu kasih mahligai rumahtangga. Hingga sampai benda keramat milik Tommy sudah keluar dari sangkarnya itu telah siap menembus lembah kenikmatan milik istrinya itu, tiba-tiba saja dering ponsel milik Tommy memekik nyaring.
Kegiatan mereka terjeda sesaat, sama-sama menoleh pada dimana ponsel Tommy berada. Tetapi mereka memilih mengabaikan, dan berusaha melanjutkan lagi aksi ninuninu nya.
"Coba dilihat dulu, siapa tahu penting," ucap Ika, karena sejujurnya merasa ikut terganggu dengan dering ponsel suaminya yang terus berbunyi.
"Biarkan saja. Nanggung nih.." balas Tommy, sudah tak kuat menahan diri.
Tommy kembali meluruskan benda keramat miliknya pada pusat inti milik Ika, tetapi lagi-lagi harus terjeda saat dering ponsel miliknya itu masih berbunyi. Sepertinya ini benar-benar penting, mengingat yang menelponnya itu seakan memaksa dirinya menjawab panggilannya.
"Sudah, ditahan dulu sebentar. Jawab sana, aku takut itu hal penting untuk kamu." Ika mendorong pelan dada Tommy.
Pria itu mendesah pasrah. Mau tak mau ia harus menahannya dulu sejenak. Kembali duduk sambil menggaruk-garuk kepalanya frustasi. Apakah perempuan tidak tahu, jika menahan sesuatu yang seharusnya keluar itu bisa membuatnya pening tujuh keliling?
Andai ia mau meminta, pastinya ia menginginkan istrinya itu tidak diam saja. Tetap menyentuhnya dengan seduktif, walau harus menjawab telpon yang sangat mengganggunya itu.
Dering ponsel itu masih berbunyi. Tertera nama Resty yang muncul dilayar panggilan itu.
"Dasar anak nggak ada akhlak!" umpatnya geram sendiri.
__ADS_1
"Nggak tahu lihat sikon, malam-malam begini nelpon." batinnya terus mengomel pada anaknya yang tumben-tumbenan menelponnya malam-malam begini.
"Dari siapa, Mas?" tanya Ika, ikut penasaran karena Tommy masih menatap enggan pada ponselnya yang masih berbunyi.
"Dari Resty," jawabnya kemudian.
"Hah? Tuh anak ngapain nelpon malam-malam begini? Sengaja apa, mau ganggu aku sama papanya?" batin Ika bertanya-tanya heran.
"Dijawab saja, Mas. Takutnya ada yang penting yang Resty mau omongin sama Mas."
Walau sempat ngedumel, tetapi sebenarnya Ika merasa agak khawatir. Sebab ia tahu bagaimana Resty. Sahabatnya itu tidak pernah jail dengan siapapun. Apalagi harus menjaili malam pengantin dirinya dengan papanya. Maka dari itu Ika tetap kekeh menyuruh Tommy menjawab panggilan dari Resty.
"Iya, Nak, ada apa malam-malam telpon papa?" tanya Tommy, saat ia sudah menggeser tombol hijau dilayar ponselnya itu.
"Papa," suara Resty terdengar sedikit ketakutan.
"Ada apa, Resty?" Tommy mendadak panik, begitu menyadari suara Resty yang tak seperti biasanya.
Ika ikut duduk. Gadis itu perlahan merapatkan diri kepada Tomny, agar bisa mendengar juga telpon dari Resty saat ini.
"Papa, aku--" Resty terdiam lagi.
Tommy semakin gelisah dibuatnya. Spontan pria itu berdiri, sambil memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kamar. Ika pun ikut menyelimuti tubuh polosnya itu dengan selimut tebal yang sedikit lusuh karena pergulatannya tadi.
"Ada apa, Mas? Apa yang terjadi sama Resty?" Ika tak kalah panik demi melihat wajah suaminya yang mulai gusar.
"Resty belum jawab," jelas Tommy.
"Sayang, Resty, coba kamu tenang dulu. Terus cerita sama papa. Ada apa kamu sampai nelpon papa malam-malam begini?" Tommy bertanya lagi lebih kalem, mencoba menenangkan.
"Kami dari kantor polisi. Silahkan Anda menemui kami di sini malam ini juga."
Bukan Resty yang menjawab, tetapi suara seorang laki-laki yang mengaku sebagai polisi kepada Tommy.
"Apa? Kantor polisi?"
*
__ADS_1
Hayo loh... Apa yang sebenarnya terjadi sama Resty? Ada yang bisa nebak nggak?