Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 117


__ADS_3

"Wellcome mama Ika..."


Resty berlari kecil menyambut kedatangan Ika di kamarnya. Sesaat mereka saling berpelukan erat dan begitu senang, sehingga abai dengan kehadiran Tommy diantara mereka.


"Ehem!" Tommy berpura-pura berdeham keras demi mencuri atensi mereka yang nyaris melupakan keberadaannya.


Duo bestie itu sama-sama menoleh, kemudian saling melempar senyum menyeringai kepada Tommy.


"Kalian mengobrol lah. Papa ke ruang kerja dulu, Res." ucap Tommy.


Resty langsung mengangguk setuju.


"Mas Tommy nggak jadi ngomong sama Resty?" Ika memanggilnya lagi, saat pria itu sudah membalikkan badan.


"Ngomong apaan emang?" Resty langsung kepo maksimal.


"Aku pasrahkan sama kamu lah, By. Mungkin kalau kamu yang ngomong Resty akan langsung paham," pasrah Tommy.


Bukannya mau lepas dari perannya sebagai papa dari Resty, tetapi pria itu memang sengaja memberi ruang untuk istrinya agar bisa berperan sebagaimana mestinya ibu sambung sekaligus merangkap sebagai bestie sejati.


"Ciye.... Ciye.... So sweet sekali dengernya. By itu apaan sih?" goda Resty, sambil menyikut lengan Ika syarat godaan. Bergantian melirik canda pada papanya juga.


"Panggilan sayang," jelas Tommy, sambil mengacak rambut Resty begitu saja.


"Uhuy... Uwuu sekali sih kalian."


Ika hanya tersipu malu dengan menundukkan wajahnya. Terus terang ia masih tidak menyangka jika bersahabat dengan Resty akan menghadirkan jodoh buatnya juga, walau ceritanya dengan menikahi papa sahabat sendiri.


Tommy segera keluar dari kamar anaknya itu, karena ditambah lima menit saja ia masih di kamar anaknya itu, rasanya ia akan matang dicerca godaan yang keluar dari mulut anaknya yang mulai nggak kenal filter.


Resty dan Ika sudah sama-sama merebah dengan telentang menghadap langit-langit kamar. Sekilas Resty melirik kepada Ika, tak sengaja matanya menemukan banyak tanda kepemilikan di leher Ika, membuatnya spontan duduk lagi.


"Ya ampun!" Telapak tangan Resty membekap mulutnya sendiri.


"Papaku ternyata garang juga ya?" gumamnya yang masih bisa didengar oleh Ika.


Ika ikut duduk bersila saling berhadapan dengan Resty. "Kenapa, Res?" tanyanya sedikit penasaran mendapati bola mata Resty membulat menatapnya.


"Eh, gimana rasanya gituan?" Gadis itu sedikit mengerling nakal menatap lekat pada leher Ika.


Seketika Ika paham maksudnya. Sekenanya gadis itu langsung menimpuk gemas dengan bantal yang dipegangnya tepat dipaha Resty. Dalam hati mulai merutuki diri karena ceroboh telah lupa menutupi tanda itu dengan foundation tadi.


"Ayo dong... Cerita sedikit dong mama Ika. Biar aku ada sedikit pencerahan gitu pas hari-H tiba," paksanya agak berlebihan. Karena sebenarnya gadis itu hanya lagi gabut saja efek dilarang masuk kuliah oleh Tommy hari ini. Padahal biarpun Ika tidak mau cerita juga tidak apa-apa sebenarnya.


"Pencerahan apaan? Kamu nih kalau ngomong suka ngadi-ngadi deh."

__ADS_1


Tidak mungkin juga Ika akan bilang kalau dirinya masih belum pecah perawan lantaran palang merah dan akan aman dalam seminggu ke depan pastinya.


"Eh, gimana menikah sama papaku? Pasti hot jeletot kan?" Resty bicara semakin tanpa filter, diikuti kekehan kecilnya khas menggoda.


"Iiiih..... Resty....."


Lagi-lagi Ika menimpuki tubuh Resty dengan bantal itu berulang-ulang. Sedang rona wajahnya sudah bersemu merah, pastinya sangat malu yang dirasa oleh Ika. Apalagi semalam yang terjadi itu memang yang pertama bagi Ika. Berbeda dengan Resty yang mungkin sudah pernah mengalami permainan sesap menyesap leher dengan Alex. Yang ia tahu cerita itu dari Tommy semalam.


"Seharusnya aku yang nanya, gimana rasanya kegerebek orang sampai kejadian dua kali? Heran deh!"


"Eh, dari mana kamu tahu?" Resty sedikit kaget.


"Ya tahu lah..."


Lantas Resty hanya nyengir, karena ia baru ingat lagi jika sahabatnya itu sudah menjadi mamanya, yang kemungkinan cerita itu ia tahu dari papanya.


"Hm, nggak bisa jawab juga kan?"


"Emang nggak mau cerita. Malu lah... Yang kayak gitu mau diceritakan," balas Resty pada akhirnya.


"Ya emang. Makanya tadi aku juga nggak jawab. Karena begituan tuh cukup dinikmati saja, bukan untuk diceritakan. Iya nggak?"


Resty mengangguk sepakat. Lantas mereka berdua saling tertawa kecil, menyadari obrolan mereka kenapa bisa bahas sampai kesitu.


"Tadi papa mau ngomong apa sih? Jadi bikin penasaran deh," tanya Resty, saat mereka sempat saling terdiam beberapa saat.


"Ooh.... Paling soal semalam lagi."


"Bukan. Tapi kaitannya karena kejadian semalam juga sih," terang Ika.


Resty menatap lekat kepada Ika, menunggu sahabatnya itu menjelaskan apa maksud dari omongannya itu.


"Lusa kamu sama Alex akan menikah," tutur Ika seketika.


Resty tercengang sesaat. Mulutnya mengatup rapat, seakan sulit mengeluarkan kata-kata saking kagetnya mendengar pernyataan dari Ika.


"Nggak usah pasang muka kayak gitu napa, Res? Santai aja kali. Aku saja yang cuma proses tiga hari biasa-biasa aja," seloroh Ika, cukup tak enak menatap wajah Resty yang masih terdiam bagai patung.


"Ini serius? Kamu nggak bohong kan?" Resty bertanya kemudian.


Ika hanya mengangguk mantap. Dan Resty langsung menghembus nafasnya dengan kasar.


"Aaaah..... Kenapa harus secepat ini coba?" Gadis itu membenamkan wajahnya pada bantal yang dipegangnya.


"Emang sudah jalannya kali, Res."

__ADS_1


Resty masih saja membenamkan wajahnya di bantal. Degup jantungnya tiba-tiba berdetak lebih dari biasanya. Belum apa-apa sudah gugup duluan. Apalagi jika sudah hari-H itu tiba?


"Resty, Res..." Ika mengguncang bahu Resty, kemudian gadis itu mendongakkan wajahnya menatap pada Ika.


"Kamu nggak keberatan kan pernikahan kalian dimajukan lusa?" tanya Ika, karena poin terpentingnya adalah persetujuan dari Resty, yang mana Tommy juga menunggu jawaban itu.


Perlahan gadis itu kemudian mengangguk pasrah. Mau menolak agar tetap menikah di hari yang sudah ditentukan sebelumnya, rasanya sudah percuma. Apalagi mengingat dirinya sudah terlanjur banyak salah belakangan ini, membuatnya semakin pasrah dengan apa keputusan papanya untuknya.


"Wokey lah! Kalau gitu aku harus bilang ini sama papamu. Papamu pasti senang dan lega mendengarnya. Terimakasih ya, sudah menjadi anak yang tak banyak protes." Kemudian Ika beranjak turun dari kasur itu dan melesat keluar dari kamar Resty untuk menemui Tommy.


Sedangkan Resty kembali terdiam. Pikirannya sudah tak menentu. Tiba-tiba jadi teringat dengan kekasihnya yang tiada memberi kabar apa-apa seharian ini. Jadilah gadis itu mencoba menghubunginya yang kemudian langsung terjawab oleh Alex.


"Ada apa, Sayang? Kangen ya?" Alex langsung menggodanya.


"Kangennya ditahan dulu sampai lusa ya, Sayang?" Alex kembali bersuara.


"Jadi kamu juga sudah tahu kalau lusa kita akan menikah?"


"Tahu dong..." Nada bicara Alex terdengar sangat sumringah.


"Curang! Kenapa kamu nggak ngasi tahu aku kalau sudah tahu duluan?"


"Loh, ku kira kamu sudah tahu, makanya aku diem aja."


Resty terdiam lagi dalam sesaat.


"Sayang, sekarang kamu lagi dimana?"


"Di kamar," balasnya agak tak bersemangat.


"Kok lemas gitu jawabnya?"


Resty memilih tak menimpali.


"Lagi sama siapa di kamar emang?" tanya Alex lagi.


"Sendiri lah. Kamu kira sama siapa emang?"


"Tunggu aku dua hari lagi. Setelah ini kamu nggak akan sendiri lagi di kamar," seloroh Alex tiba-tiba.


Wuuussss....


Bulu roma Resty seketika begidik geli. Berasa Alex juga sedang berada di kamarnya saat ini. Demi apa coba pria itu berkata sePeDe ini?


"Sayang, kok diem aja?"

__ADS_1


"Kamu meresahkan, Lex!"


*


__ADS_2