
Cukup lama Alex dan Resty menunggu Ziyyan balik dari asrama itu. Sambil menghilangkan kejenuhan, mereka sengaja menyetel musik romantis yang kebetulan mereka suka lagu itu.
"Sayang, pokoknya lagu ini akan jadi lagu milik kita. Kenangan kita. Dan otomatis tiap dengar lagu ini, kita akan saling ingat satu sama lain." Alex berkata sangat menggebu. Binar matanya tak lagi galau. Seakan telah terlupa dengan peristiwa semalam dengan orangtuanya.
Resty menanggapinya hanya dengan kekehan kecil. Sejail-jailnya Alex, rupanya pria itu juga bisa bucin. Dan hal itu membuatnya sedikit geli membayangkan Alex akan semakin bucin dikemudian hari. Walau begitu hati Resty sangat senang melihatnya, sebab dengan begitu berarti Alex benar-benar mencintainya.
"Serah kamu lah. Pokoknya bikin kamu senang, ya sudah..." sahut Resty ala kadarnya.
Sorot mata Alex semakin berbinar mendengar kata pokok bikin senang. Tiba-tiba muncul ide gilanya untuk menggoda sang kekasih berdasarkan kalimat itu.
"Serius, Yang, kamu akan selalu bikin aku senang?" tanyanya ambigu.
"Tapi lihat dulu, senangnya itu dalam bentuk apa?" sewot Resty.
"Iya, aku tahu."
Lalu Alex meraih tangan Resty untuk ia genggam. Sesekali pria itu membubuhi tangan gadisnya dengan kecupannya yang hangat.
"Ayo kita menikah, Aradilla Resty." ucapnya, mantap dan tegas.
Gadis itu sudah pasti kaget, tetapi segera enjoy kembali. Karena tepatnya kemarin malam mereka sudah membahas hal itu dengan masing-masing keluarga, tetapi tak disangka akan terkendala restu dari mama Alex, yang sampai saat ini Resty masih belum tahu apa duduk perkara yang sebenarnya.
Melihat Resty yang hanya bergeming, Alex mengendorkan sedikit genggaman tangannya. Tiba-tiba ia jadi parno takut gadisnya itu akan menolak karena efek kemarin malam.
"Kamu serius mau nikah muda? Kita belum ada separuh jalan kuliahnya, Lex." seru Resty, sekedar memastikan kesiapan prianya saja.
Alex mengangguk yakin. Usia muda bukanlah jaminan seseorang untuk masalah kesiapan menikah. Semua itu tergantung komitmen diri. Selagi sudah menemukan yang benar-benar cocok dihati, buat apa menunda kebaikan itu?
"Kita bisa tetap kuliah bareng. Bahkan setelah kita menikah, kita bisa berangkat bareng tiap hari. Bisa bareng kamu terus setiap saat, bisa menyentuh kamu seperti ini dengan halal."
Saat berkata dikalimat terakhirnya itu, Alex sambil mengusap punggung tangan gadisnya itu begitu lembut. Apa yang dikatakannya memang sangat benar. Sebab dengan hanya berdua begini saja sebenarnya sudah tidak dibenarkan dalam ajaran agama mereka.
"Kalau begitu, kamu jangan sentuh aku. Sebelum kita menjadi pasangan halal." Resty sengaja menarik tangannya dari genggaman Alex, juga sedikit menggeser duduknya lebih berjarak dengannya.
"Ah, cuma pegangan tangan doang. Masa nggak boleh." Pria itu mencoba meraih tangan Resty lagi, tetapi gadis itu sengaja menyembunyikan tangannya dibalik punggungnya.
"Sama aja, Alex." Resty sedikit menyeringai begitu melihat wajah kekasihnya mulai manyun.
__ADS_1
"Sok-sokan pakai dalil halal. Sekali aku jalani, jadi resah begini." gumam Resty, sembari membuang tatapannya ke luar kaca mobil.
"Eh, Sayang. Itu-- Kak Ziyyan kan?" Resty bersuara lagi saat kebetulan melihat Ziyyan keluar dari halaman asrama itu sambil menggandeng tangan seorang gadis muda.
Alex ikut menyorotnya lekat. Itu benar Ziyyan. Tetapi yang membuat Alex heran setelah melihat gadis remaja yang digandengnya. Awalnya pria itu menduga kalau pacar abangnya itu mungkin salah satu staf pekerja di asrama itu, atau minim pengajarnya. Tetapi yang dilihatnya malah gadis itu terlihat masih seumuran dengan Ziana, adiknya Ziyan.
Ziyyan dan gadis berhijab itu sudah masuk ke dalam mobil. Mereka duduk di kursi depan, sedangkan Alex dan Resty duduk di kursi belakangnya.
"Nggak salah bawa orang, Bang?" seloroh Alex, cukup membuat yang mendengarnya sedikit heran.
"Kenapa emang?" tanya Ziyyan. Pria itu terlihat sangat romantis dengan turut memasangkan seatbelt ditempat gadisnya duduk.
Alex bergeming. Sorot matanya ikut senang melihat roman abangnya yang berbinar.
Satu adegan romantis terulang lagi didepan mereka, saat dengan sengaja Ziyyan mencium pipi gadisnya dengan sayang, setelah selesai mengenakan seatbeltnya itu.
"Astaghfirullah! Jangan dilihat, Sayang! Entar kamu pingin gitu juga aku kerepotan. Kita kan belum halal." Alex sengaja menutup mata Resty dengan telapak tangannya.
"Apaan sih!" Resty melepas tangan kekasihnya itu dengan gemas.
"Bukannya kamu yang kepingin, Lex?" Ziyyan balik menggoda Alex.
Ziyyan terkekeh ringan menanggapi ocehan adik sepupunya itu.
"Makanya buruan halalin." seloroh Ziyyan sambil bersiap menyalakan mobilnya.
"Emang Abang sendiri sudah halal sama dia?" tanyanya kepo.
"Sudah halal didepan Allah. Tetapi masih belum tercatat di hukum negara saja." terang Ziyyan, yang otomatis membuat Alex dan Resty terperangah kaget.
"Jadi-- kalian nikah siri? Begitu?" Resty ikut bertanya.
Ziyyan dan gadis berhijab itu sama-sama mengangguk mengiyakan.
Sebenarnya saat ini Resty lah yang merasa paling senang. Melihat orang yang pernah dijodohkan dengannya sudah bahagia bersama pilihannya, rasanya Resty sangat lega. Dengan begitu mereka sama-sama tidak akan merasa bersalah dengan kedua orangtua masing-masing setelah gagalnya perjodohan itu.
"Kalau begitu kita ikut cara bang Ziyyan, Yang. Kita nikah siri juga kayak mereka." Tetiba Alex muncul ide seperti itu.
__ADS_1
"Eh, jangan mau, Res!" Ziyyan ikut melarang.
Resty mengangguk menurut. Senyum tipis gadis itu tertarik senang. Seakan suka saja menggoda kekasihnya itu bila sedang mode ngambek.
"Eh, kenapa bisa? Abang aja nikah siri juga." protesnya kesal.
"Itu karena Mayra masih sekolah. Tahun depan sudah lulus. Saat itu aku akan meresmikannya secara hukum." jelas Ziyyan, sembari menatap lekat pada netra hitam gadis SMA yang sudah menjadi istrinya.
Resty dan Alex sama-sama terdiam. Apapun yang abangnya itu putuskan, pasti sudah yang terbaik buat mereka.
"Kalau sudah jadi istri kenapa tidak dibawa pulang ke rumah, Bang? Dengan begitu abang kan bisa totalitas bertanggungjawab lahir batin sama istri abang." selidik Alex.
"Ini sudah komitmen kita." balasnya singkat.
"Bukannya takut nggak bisa nahan bobol gawang ya, Bang? Hahaha..."
"Serah kamu lah!" Kemudian Ziyyan segera melajukan mobilnya menelusuri jalanan ibu kota yang ramai.
"Oh ya, Hubby. Kenalkan, cowok yang berisik tadi itu namanya Alex, dia adik sepupuku. Trus yang cewek kalem ini namanya Resty. Nggak tahu kesambet apa, kok mau saja pacaran sama Alex." Ziyyan memperkenalkan mereka kepada Mayra, istri kecilnya.
Resty hanya tersenyum saat lagi-lagi mendengar Ziyyan demen menggoda Alex. Kemudian Resty dan Mayra pun saling berjabat tangan. Tetapi kepada Alex, gadis itu hanya mengapitkan kedua tangannya sebatas dadanya.
"Sebenarnya kita mau kemana, Bang?" tanya Alex.
"Makan," sahutnya singkat.
"Setelah itu?"
"Lihat nanti aja. Atau apa Hubbyku punya tempat yang ingin dikunjungi sekarang?" Ziyyan balik tanya kepada Mayra.
"Aku terserah Mas saja," sahutnya lembut.
Sekilas mereka saling melempar senyum kecil, membuat seseorang yang memperhatikannya ikut meleyot merasakan keromantisan mereka berdua.
"Aha! Aku ada ide!" batin Alex bersorak senang, saat tiba-tiba ide konyolnya melintas sesat dibenaknya.
Hayoo... Kira-kira Alex punya ide apa ya?
__ADS_1
Ayo dong, Readersku...
Tetap semangati othor dengan cara like dan komentarnya juga. Vote dan bagi-bagi bunga dan kopi othor juga mau. Hehe...✌