
"Mm... Ini sih sudah ada babby nya," seru dokter itu mengejutkan Ika, Resty dan juga Alex yang saat itu ikut fokus memperhatikan Ika.
"Ah, dokter ngeprank nih pasti," Ika terkekeh sendiri.
"Ngapain ngeprank?" Dokter perempuan yang di duga seumuran dengan Tommy itu semakin memeriksa kondisi Ika dengan teliti.
"Jadi serius, Dok?" Resty sampai ikut mendekat di samping Ika berbaring.
"Ini coba perhatikan." Dokter itu menyuruh Ika dan Resty memperhatikan gambar dari mesin USG itu.
"Nggak nanggung-nanggung, ada dua kantong loh," seru dokter itu lagi.
"Maksudnya, Dok?" Ika semakin penasaran.
"Babby twins," jelas dokter itu.
"Aaaaaaaah......."
Ika memekik kegirangan hingga Alex pun ikut mendekat sambil menahan kaki Ika yang akan di hentak-hentakkan efek kegirangan.
"Kalem, Mak. Jangan banyak gerak, udah tahu isi masih petakilan," ucap Alex, meski terdengar sewot tetapi ada benarnya.
Dan Ika pun langsung menurut. Wanita itu tersenyum-senyum sendiri sampai tak terasa meneteskan air matanya terharu bahagia. Dirinya yang selama ini sangat berharap ingin segera hamil, sekalinya ada kabar langsung dapat bonus dua babby.
"Dokter, tadi mama Ika bilang dia mens nya lancar, trus kok bisa positif?" Resty bertanya pada dokter itu. Karena menurutnya kehamilan seperti itu aneh.
"Ah, iya, aku mau tanya itu juga," timpal Ika.
"Mungkin yang keluar itu bukan darah mens, hanya sedikit flek karena pendarahan. Dan itu bisa terjadi. Bisa karena kelelahan, stress, atau terlalu sering dinas malam sama suami," ucap dokter itu sambil mengerlingkan matanya kepada Ika.
"Namanya juga kejar setoran pingin cepat hamil, jadi ya hampir tiap waktu prosesnya. Hehe..." Tanpa sungkan Ika mulai berterus terang dengan dokter itu.
"Astaga!" Alex yang mendengarnya menggeleng heran. Sungguh mama mertuanya itu terlalu fulgar hingga tiada malu lagi mengakui hal itu.
__ADS_1
Dokter itu hanya tersenyum geli mendengar pengakuan Ika. Ia pun jadi teringat dengan masa mudanya dahulu saat seumuran dengan pasiennya itu. Hanya bedanya mereka berani menikah muda, sedangkan dirinya terlalu fokus mengejar pendidikan dan berkarier hingga sampai telat menikah.
"Mulai sekarang kurangi dinas malamnya ya, lagian sudah isi juga," pesan dokter itu.
"Libur begitunya kira-kira berapa lama, Dok?"
"Sampai lahiran," sahut Alex sekenanya.
"Ah, jangan dong, kasihan mas Tommy kalau harus libur sampai lahiran," protes Ika.
Seketika Alex mencebikkan bibirnya kepada Ika. Sedangkan dokter dan Resty hanya bisa terkekeh lucu melihat reaksi Ika yang terlalu bar-bar.
"Intinya begini, boleh melakukan itu asal tidak terlalu sering. Paling tidak dalam trimester pertama ini keamanan kandungannya di jaga dulu. Karena di lihat dari riwayatnya kandungannya agak lemah dan memicu pendarahan yang kamu kira itu darah mens sebelum ini." jelas dokter itu.
"Ooh... Begitu ya, Dok. Baiklah setelah ini aku harus nahan diri biar babby twins aku selamat dan sehat," ucap Ika sambil mengusap perutnya.
"Mm...Apa sebelum ini kamu tidak merasakan ada perubahan pada tubuh kamu, seperti gejala-gejala orang hamil pada umumnya?"
"Ada sih, Dok. Tubuh aku jadi agak gemuk naik lima kilo, payudara juga, terus mudah lelah."
Ika yang saat itu akan turun dari ranjang pasien itu langsung sigap di bantu oleh Alex dengan berjaga-jaga takut kepleset saat mau turun.
"Hati-hati, Mak," seru Alex mendadak perhatian kepada Ika.
Dan Ika hanya menatap aneh pada pria yang semenit lalu masih adu mulut dengannya, tetapi kali ini berubah drastis menjadi perhatian.
Resty yang melihat kelakuan Alex begitu sudah tidak heran. Suaminya itu selalu over protektif bila berurusan dengan bumil.
"Lain kali datang periksa ke sini lagi bersama suami, biar sama-sama tahu apa-apa yang baik buat ibu hamil. Selamat ya..."
Lalu dokter itu menyerahkan hasil foto USG milik Ika. Wanita itu menerimanya dengan riang.
"Terimakasih, Dokter. Lain kali aku pasti datang bareng suami ke sini. Kalau bisa saat lahiran nanti aku ingin dokter yang nanganin," ucap Ika sebelum kemudian mereka berpamitan kepada dokter itu dan kemudian segera keluar dari ruangannya.
__ADS_1
"Duh, selamat ya, mama Ika," ucap Resty saat mereka berjalan di koridor rumah sakit itu.
"Iya, sumpah aku senang banget, Res. Nggak nyangka sama sekali kalau aku ternyata lagi hamil. Dapat bonus dua pula."
"Emang di keluarga kita ada turunan kembar ya, Yang?" tanya Alex penasaran. Kalau ternyata ada, sejujurnya pria itu ingin protes karena dirinya juga ingin punya babby twins seperti Ika. Membayangkan saja akan sangat lucu dan menggemaskan.
Tetapi gelengan kepala Resty membuat Alex sedikit kecewa.
"Papaku yang kembar. Tapi kata papa kembaran papa itu meninggal saat masih bayi," tutur Ika, menjelaskan jika pak Ramdan rupanya memiliki saudara kembar yang di beri nama Hamdan.
"Oooh..." Alex hanya ber-oh saja.
"Sayang, kamu ngerasa nggak sih kalau orang-orang ngeliatin kita agak aneh," bisik Alex kepada Resty.
Resty melihat ke sekeliling. Memang benar tatapan orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka menatap mereka sedikit aneh. Ada yang sengaja saling berbisik, ada pula yang menyorotnya tak berkedip.
"Jangan-jangan mereka pikir kamu punya istri dua, Lex," ujar Ika seketika.
"Iya kali ya. Haha...." Alex pun hanya tertawa ringan andai tebakan Ika itu benar.
"Mm... Happy sekali ya di sangka punya istri dua," seloroh Resty bernada merajuk.
"Biarin aja apa kata mereka." Lalu Alex dengan santainya merangkul pundak kedua wanita hebat di sampingnya itu dengan senyum lebarnya.
"Astaga! Suami kamu bahaya, Res. Tolong di jaga. Sepertinya doi mulai berhalu punya istri dua," seloroh Ika yang pasti itu hanya sekedar candaan.
"Awas saja kalau beneran berani. Aku potong burung kamu biar kapok."
"Waduh! Jangan sadis dong. Nggak ada burungku, kamu nggak akan mendessah-dessah lagi entar, Yang."
"Sudah! Sudah! Kalau mau bahas itu lanjut di rumah. Sekarang kalian antar aku ke kantor mas Tommy. Aku ingin ngasi tahu kabar ini sama dia."
"Siap, mak Ika!"
__ADS_1
*