
Ika memeluk erat tubuh Tommy selepas mereka selesai dengan kegiatan penyatuan raga yang cukup melelahkan. Dan pria itu senantiasa mengelus pucuk kepala istrinya, sesekali menghujaninya dengan ciuman sayangnya.
Usapan tangannya pada punggung yang masih polos itu membuat Ika merasa nyaman dan tenang. Seakan rasa lelah itu musnah sejenak, tergantikan oleh perlakuan suaminya yang sangat perhatian.
"Terimakasih, By," ucap Tommy lagi.
Kecupan hangat itu kembali bertandang pada kening Ika yang berangsur mengering dari keringat yang sempat bercucuran tadi. Entah sudah ke berapa kali suaminya itu mengucapkan kata terimakasih padanya. Yang pasti wanita itu merasa sangat senang. Ungkapan kata itu seakan menandakan jika suaminya itu puas dengan pelayanannya yang masih sangat amatir buatnya.
Bukan tanpa sebab Tommy terus mengucapkan kata terimakasih itu. Pria itu sungguh merasa terharu bercampur takjub sekaligus bahagia. Sebab masih ada wanita yang mau menjaga kehormatannya untuk suami tercinta. Apalagi dilihat dari jaman sekarang, bagai mencari jarum dalam jerami untuk mendapatkan gadis yang masih virgin dalam kehidupan kota yang luar biasa sesat pergaulannya, bila tidak kuat iman.
Sesaat Tommy terdiam sejenak. Pikirannya kembali teringat dengan benih yang ia siram pada rahim istrinya itu. Ia terlupa jika belum sempat membahas perihal momongan dengan istri kecilnya itu. Tetapi semua sudah terlanjur tertanam. Semoga saja istrinya itu tidak keberatan mengandung buah cinta mereka dalam usia dirinya yang tak lagi muda.
"Mas," sapa Ika dengan mendongakkan kepalanya, tak sengaja mendapati suaminya itu tengah melamun.
"Ngelamunin apa sih?"
Tommy hanya mengulas senyum tipisnya. Mungkin lebih baik harus dibicarakan saat ini juga. Sebelum semuanya terlanjur jadi janin. Apalagi teknologi sekarang semakin canggih. Sudah ada pil kontrasepsi darurat yang bisa diminum bila memang Ika masih belum berkenan mengandung.
"By..."
Tommy menarik tubuh Ika agar lebih masuk dalam pelukannya.
"Apakah kamu sudah siap jika suatu saat nanti akan hamil?" tanyanya langsung ke intinya.
Ika langsung merespon dengan anggukan kepalanya. Senyum kecilnya terbit. Mengartikan jika wanita itu siap walau harus hamil dalam waktu dekat ini sekalipun.
"Namanya sudah menikah pasti harus siap hamil. Apalagi dengan adanya anak itu bukti dari buah cinta kita. Aku sangat siap, Mas. Kalau memang Tuhan akan mengamanahkan seorang anak kepada kita," tutur Ika, sangat menyejukkan hati dan perasaan Tommy saat mendengarnya.
"Benar tidak keberatan?"
Ika mengangguk yakin.
"Apa nggak repot? Kamu masih harus selesaikan kuliah. Belum lagi di usia seperti kamu biasanya masih enggan untuk hamil. Masih suka main, nongkrong sama teman-teman, ngafe, nonton, pergi karaoke kayak kemarin."
Ika langsung mendongak lagi saat suaminya itu menyebut kata pergi karaoke. Apa dia lagi mode nyindir?
"Aku jadi curiga, jangan-jangan mas Tommy yang nggak mau punya anak lagi," seloroh Ika, mulai salah paham dengan perkataan Tommy.
__ADS_1
"Eh, siapa bilang?" Tommy mengecup pipi kenyal istrinya lagi.
"Mendengar kamu nggak keberatan mengandung anakku rasanya bahagia luar biasa. Aku masih merasa ini semua seperti mimpi. Kadang aku masih nggak percaya, kalau aku disukai sama perempuan seusia Resty. Padahal usiaku saja sudah lumayan tua."
"Tua-tua keladi!" Ika terkekeh kecil mengumpat suaminya itu.
"Makin tua makin jadi. Maksudnya makin hot dan bikin nagih." Ika sengaja mencubit gemas pipi Tommy yang sedikit ditumbuhi bulu tipis.
"Apakah ini kode kamu mau nambah? Pingin lagi ya?" Tommy mengendus nakal pada ceruk leher istrinya. Membuat wanita itu cekikikan menahan geli yang ditimbulkan oleh suaminya itu.
"Nggak, Mas. Siapa bilang?" Ika mendorong bahu Tommy.
"Itu barusan?" Tommy mengerlingkan matanya.
"Masih perih tahu! Mas sih enak tinggal **** terus puas. Nah aku? Entah sampai kapan rasanya akan sembuh."
Tommy terkekeh sendiri saat mendengar pengakuan istrinya yang terlalu jujur tanpa filter.
"Kalau sering dipake nanti cepat sembuhnya, By," ucap Tommy yang sebenarnya hanya akal modusnya saja.
"Iih, itu sih maumu, Mas!" Ika memukul pelan pada dada bidang suaminya.
"Besok." Ika langsung mencium sekilas pada bibir suaminya itu.
"Bilang besok tapi kamu cium-cium aku. Apa ini nggak mancing-mancing namanya?"
"Tauk ah, Mas! Aku masih pegal. Tubuh aku rasanya remuk." Ika langsung memunggungi Tommy saat mengatakan itu.
"Duh, jangan hadap situ dong, By. Berasa kayak lagi marahan aja." Tommy menarik tubuh Ika lagi, dan berhasil mereka kembali saling berhadapan lagi.
"Aku nggak akan maksa, selagi kamu merasa nggak nyaman. Janji!" Tommy mengangkat dua jarinya membentuk V.
Ika tak menyahut apa-apa. Tetapi wanita itu lebih merapatkan pelukannya. Perkataan suaminya itu cukup bisa dipegang. Buktinya saat ini saja ia tidak memaksakan diri walau kesempatan itu ada didepan mata.
"By..." sapa Tommy lagi.
"Iya, Mas."
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa menyukai pria dewasa sepertiku?"
Wajah Ika yang semula menempel nyaman pada dada suaminya, terpaksa terangkat lagi demi pertanyaan suaminya yang mungkin ia sangat membutuhkan jawabannya itu.
Akan tetapi Ika malah menghedikkan kedua bahunya.
"Bukan karena aku duda kaya kan?" tanyanya lagi terdengar jumawa.
"Aku juga kaya kali, Mas." timpal Ika, seketika gemas sendiri mendengar pertanyaan kedua dari suaminya itu.
"Ya kali aja. Wiih... Ada duda. Tampan, kaya pula," selorohnya sesuai apa yang sering dilihat bila sedang ada perempuan muda mau dengan yang berumur, sudah bisa ditebak itu karena harta.
"Dasar narsis!" Ika terkekeh lagi.
"Habisnya kamu nggak mau jelasin."
"Nggak aku jelasin nggak akan bikin kamu mati penasaran juga kan?"
"Meski nggak mati penasaran, tapi tidurku nggak bakal nyenyak. Kecuali kamu mau tanggung jawab nidurin aku."
"Iih... Apaan sih! Omongan Mas bikin aku harus waspada. Dasar om-om meresahkan!" Tentu Ika sangat tahu kemana arah bicara suaminya itu.
"Ayo, bilang lagi? Bilang om lagi? Aku bakal tidurin kamu sampe pagi kalau masih nyebut om," Tommy siap menerkam dengan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.
"Lah emang situ om-om kan?"
Cup.
Tommy mencium bibir mungil itu cukup dalam.
"Om, pliss deh! Kalau nakal begini kapan bisa tidur?" protesnya saat suaminya itu menjeda ciumannya.
"Fix! Kamu beneran minta nambah, By."
Dan Tommy kembali memagut bibir kenyal itu lebih seduktif. Sebelah tangannya bermain lincah pada tubuh istrinya yang masih polos sedari tadi. Mau tidak mau Ika pun kemudian mengimbangi permainan itu. Turut membelit lidah dalam pagutannya yang semakin menjadi.
Untuk kedua kalinya mereka melakukan kegiatan penyatuan raga. Bertukar peluh dalam mengarungi puncak nikmatnya surgawi. Berhasil membuat mereka kembali terbuai terbang tinggi ke nirwana. Saat sesuatu yang nikmat itu kembali pecah, menyeruak bebas pada lembah madu niikmatnya perkawinan.
__ADS_1
*