
Tommy menatap nyalang pada sebuah foto yang dikirim eyang Asih lewat pesan WhatsApp. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau ternyata lelaki yang disukai anaknya itu adalah Alex. Saat ini bukan masalah tak mau merestui kedekatan mereka, tetapi Tommy memang masih belum tahu persis bagaimana latar belakang keluarga Alex yang sebenarnya.
Niat menyelidiki background keluarga Alex itu semata bukan mencari yang elite atau bagaimana, tetapi lebih ke rasa takut andai-andai Alex berasal dari keluarga yang kurang baik, contoh dari kalangan mafia atau kriminal lainnya. Tommy tak pernah menuntut anaknya itu harus bergaul dengan yang satu kalangan dengannya. Ia membebaskan anaknya itu bergaul dengan siapa saja selama tidak berpengaruh buruk kepadanya.
Apalagi setelah mendengar penjelasan singkat dari eyang Asih mengenai Alex, ternyata perilaku pria itu tidak buruk-buruk amat. Kesan pertama saat bertemu dengan Alex dulu Tommy kira pria itu termasuk tipe urakan bin blangsat. Tetapi memang tak sepatutnya menilai seseorang hanya dari penampilan saja. Buktinya Tommy sendiri sekarang salah menilai bagaimana Alex yang sebenarnya.
Ditambah ketika eyang Asih bercerita mengenai nasib keluarga Alex saat ini, hingga membuat pria itu terdampar di rumah eyang Asih dan terpaksa menjadi pekerja di sana, Tommy pun semakin penasaran untuk menyelidik lebih jauh tentang keluarga Alex yang rupanya masih selevel dengannya.
Pria itu mulai berpikir keras tentang siapa yang pertama akan ia hubungi untuk mencari tahu semua itu, yang ia anggap dapat membantu menjelaskan rasa penasarannya secepat mungkin. Ia pun juga sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidikinya juga, tetapi tentu hal ini harus menunggu waktu untuk tahu jawabannya.
Tiba-tiba Tommy teringat tentang satu orang yang memang dekat dengan Resty, siapa lagi kalau bukan Ika. Pria itu bergegas mencari sesuatu di laci nakas di kamarnya, mengobrak abrik isi dari laci itu demi mencari secarik kertas yang bertuliskan nomor telpon Ika disana. Hingga akhirnya yang dicarinya pun ketemu juga. Pria itu mengulas senyum lebar dan langsung menekan nomor telpon itu saat ini juga.
"Masih untung anak itu kasi nomor telponnya." gumam Tommy, saat sambungan telponnya masih belum terjawab oleh Ika.
Entah dalam rangka apa tiba-tiba saja saat itu Ika memberikan nomor telponnya kepada Tommy. Dan Tommy sendiri juga tak paham mengapa ia masih menyimpan robekan kertas itu, yang akhirnya saat ini ternyata dibutuhkan juga.
Setelah menunggu hampir semenit akhirnya telpon itu terjawab juga.
"Hallo," sapa Ika dengan suara ramahnya.
"Mm, ini Ika ya?" Tommy masih bertanya, takut-takut nanti salah sambung.
"Iya. Ini sama siapa ya?" Ika balik tanya.
"Aku papanya Resty." balas Tommy.
Seketika mulut Ika terperangah tak percaya. Andai Tommy tahu apa yang dilakukan gadis itu diseberang sana, mungkin Tommy akan dibuat geleng-geleng kepala terheran-heran.
Gadis itu berjingkrak-jingkrak terlampau senang saat tahu papanya Resty akhirnya menelpon juga setelah iseng-iseng memberinya nomor telpon. Hingga sampai lupa kalau saat ini dirinya sedang berada di rumah saudara yang masih dalam keadaan berduka.
"Ika, biasa aja kenapa? Heran deh! Dapat telpon dari siapa sih? Girang amat! Gebetan ya?" seru salah seorang sepupu Ika yang kebetulan sedang bersama Ika disana.
Gadis itu seketika terdiam, tak lagi berekspresi lebay seperti sebelumnya. Tetapi senyum sumringahnya terus mengembang merasa sangat senang, walau masih belum tahu tujuan Tommy menelponnya.
Sedangkan Tommy ikutan tercengang. Ia bisa mendengar jelas teguran seseorang itu dari seberang sana. Entah seperti apa tingkah Ika itu sehingga dianggap sedang dapat telpon dari gebetan.
"Ehem." Tommy sengaja berdeham.
__ADS_1
"Eh, iya Om. Ada apa ya, kok tumben telpon aku?"
"Masalah Alex." Tommy langsung ke intinya, yang cukup membuat Ika bertanya-tanya sendiri.
"Alex? Seharusnya yang ditanya itu kan Resty, anaknya?" batin Ika berbicara.
"Paling nggak nanyain gimana kabarku gitu? Aah, si Om bikin jadi kangen deh." Ika masih membatin sendiri.
"Alex? Kenapa memangnya, Om?" tanya Ika, cukup penasaran.
"Mm, kamu pasti tahu kan kalau selama ini Alex deketin Resty."
"Iya. Trus, Om?"
"Kalau begitu aku boleh cari info Alex dari kamu?"
"Mm-- info tentang Alex ya?"
Ika mulai berpikir sejenak. Tiba-tiba saja ide modus itu muncul dibenaknya.
Tommy terdiam. Ia tak mengira jika hanya bertanya tentang Alex saja sahabat anaknya itu akan mengajak bertemu dulu.
"Maksud aku gini, Om. Ada satu info penting tentang Alex yang nggak bisa aku jelasin hanya dari telpon, soalnya benar-benar rahasia banget." jelasnya.
"Rahasia?" Tommy terpancing penasaran.
"Iya, Om. Gimana?"
"Tunggu, aku cek schedule dulu. Nanti aku kabari lagi kapan bisanya." Akhirnya Tommy mau diajak saling bertemu dengan Ika.
Sumpah demi apapun, gadis itu kembali berjingkrak kegirangan saat mendengar Tommy menimang permintaannya. Dan lagi-lagi tingkah Ika itu menyita perhatian orang-orang yang sedang membantu di rumah saudaranya itu.
Walau masih belum tahu kapan Tommy akan memberitahu kapan waktunya, tetapi Ika harus bersabar. Mengingat pria dewasa yang diincarnya itu adalah orang penting di perusahaannya, yang pasti akan sangat sibuk dengan jadwal penting didalamnya.
Sesaat kemudian sambungan telpon itu berakhir. Ika masih senyum-senyum sendiri, walau banyak pasang mata yang menatapnya heran. Hingga salah seorang sepupu yang menegur Ika tadi terpaksa mendekati, demi rasa kepo yang terlanjur maksimal tentang seseorang yang Ika panggil om itu.
"Ka, kamu lagi deket sama om-om ya?" tanyanya to the poin.
__ADS_1
Ika tak menjawab, tetapi senyum malu-malu kucingnya cukup menjadi jawaban dari pertanyaan itu.
Gadis yang tiga tahun lebih tua dari Ika itu meringis tak percaya. Bisa-bisanya Ika yang masih berusia dua puluh tahun itu jatuh dalam pelukan om-om.
"Sumpah, Ka? Kamu beneran naksir om-om?"
Perlahan Ika mengangguk kecil. "Tapi om yang satu ini beda. Dia Duren, duda keren. Bukan om-om yang demen mainin perempuan. Cakep, penyabar, baik hati dan--"
"Tajir. Iya kan?"
Ika mengangguk. Tapi bukan poin tajirnya yang Ika suka dari Tommy. Tiba-tiba saja rasa itu hadir begitu saja saat pertemuan pertama di rumah Resty saat itu. Ika yang dominan gadis manja tentu sangat butuh sosok lelaki yang sabar dan mampu mengimbangi kemanjaannya. Dan tak tahu kenapa pilihan hatinya itu bisa jatuh pada ayah dari sahabatnya sendiri.
"Ka, serius nanya nih?"
Ika menatap serius pada saudara sepupunya itu.
"Kamu masih bersegel kan?" tanyanya tanpa filter.
Kedua mata Ika langsung membola, saat saudaranya itu menanyakan hal intim itu padanya.
"Ya masih lah. Kamu pikir aku sudah terpakai apa? Gila aja kamu sampe nanyain itu ke aku. Gini-gini aku ini penganut penjaga kevirginan sebelum kata akad itu tercatat di KUA." protesnya merasa kesal dan jadi sensi sendiri setelah diketahui lagi mengincar om-om.
"Yeee... Nggak usah sewot gitu napa, aku kan cuma nanya?"
"Pertanyaan kamu itu bagai tuduhan buat aku."
"Iya deh, maaf..."
Ika masih bermuka masam.
"Jadi kapan mau dikenalin ke mama, Ka?" Tiba-tiba suara mama Ika muncul dari balik tubuh Ika.
"Mama?"
Waduh!
*
__ADS_1