
Ika berjalan dengan riang menuju ruang kerja Tommy yang ada di lantai atas dari gedung perusahaan milik suaminya itu. Wanita itu sudah menyusun banyak kata untuk memberitahu perihal kandungannya.
Hingga sampai wanita itu sudah tiba di depan ruang kerja suaminya, ia di sapa oleh sekretaris Tommy yang berada di luar ruangan itu.
"Bapak sepertinya lagi kurang sehat, Bu," jelas sekretaris itu mengatakan kondisi Tommy yang sering ringkih belakangan ini.
Dua sekretaris yang usianya sebenarnya masih di atas usia Ika terpaksa memanggil Ika dengan sebutan ibu karena memang statusnya adalah istri dari atasannya. Walau sebenarnya dua sekretaris itu merasa agak aneh, tetapi tetap harus menghormatinya.
Ika mengangguk kecil dengan goretan sedih di wajahnya. Sebenarnya belakangan ini kondisi suaminya memang sering drop, tetapi suaminya itu selalu menganggap enteng akan kesehatannya itu.
"Terimakasih ya, Kak. Saya mau masuk, tolong jangan ada yang masuk ke dalam dulu, hem?" pesan Ika pada sekretaris itu.
"Baik, Bu."
Ketika Ika mulai masuk ke ruangan suaminya itu, dua sekretaris Tommy mulai bergosip di belakangnya.
"Pantas saja pak Tommy sering drop, bininya masih muda. Apa kewalahan karena dinas malam ya?"
"Bisa jadi." Lalu dua sekretaris itu cekikikan sendiri.
"Kalau tahu pak Tommy sukanya daun muda, menyesal dulu aku nggak godain dia," ujar satu sekretaris yang bertubuh seksi itu.
"Udah telat kali. Dah lah, balik kerja."
Lalu mereka menyudahi gosipnya dan melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan Ika ketika masuk ke ruangan itu melihat Tommy sedang memijit pelipisnya sambil bersandar pada punggung kursinya. Wajahnya tampak pucat tak seperti biasanya, membuat Ika urung untuk mengatakan perihal kejutannya itu.
"Mas Tommy," sapa Ika sambil mendekat dan berdiri di sampingnya.
Tommy membuka matanya. Cukup kaget karena istrinya itu tidak memberi kabar jika akan menemuinya ke kantor.
Meski sedang merasa kurang sehat, pria itu menyambut kedatangan istri kecilnya dengan tersenyum manis. Lalu memeluk pinggang Ika seraya menyandarkan kepalanya di perut Ika.
"Kalau sakit mending pulang, Mas," ucap Ika sambil mengusap rambut Tommy dengan belaiannya.
"Tumben ke sini nggak ngasi kabar?"
"Iya, rencananya aku mau kasih surprise gitu, tapi nggak jadi deh."
"Loh kok nggak jadi, surprise apa nih?" Tommy mengangkat wajahnya menatap Ika.
"Nggak jadi surprise kalau kamu nggak mau periksa."
"Aku nggak kenapa-napa kok, By. Di bawa tidur nanti sudah baikan." Tommy tetap keras kepala tidak mau di ajak periksa.
"Tapi aku khawatir banget, Mas. Mumpung masih awal, lebih baik di periksakan biar pengobatannya tidak telat."
"Kamu pikir aku sakit apa emang?" Tommy melerai pelukannya. Bahkan pria itu berpindah duduk di sofa dalam ruang itu, dan Ika turut mengekornya ikut duduk di samping Tommy.
"Ya semoga aja nggak ada apa-apa, tetap sehat," cemas Ika.
Jangan sampai Tommy terdeteksi memiliki penyakit akut yang akan membuat Ika bersedih hati karenanya. Memang suaminya itu sudah berusia matang, tetapi jika boleh meminta ia berharap suaminya itu akan selalu sehat hingga kelak membesarkan anak-anak mereka bersama-sama.
__ADS_1
"Masih pusing ya, Mas?" tanya Ika lagi demi melihat wajah suaminya yang masih pucat.
Tommy mengangguk lemah.
"Obatnya sudah di minum nggak?"
"Sudah, tapi kayaknya sudah nggak manjur."
"Makanya itu, Mas, lebih baik periksa. Ngeyel amat deh. Nggak kasihan apa sama aku?"
Tommy bergeming saja. Untuk ini ia memang malas berdebat, karena Tommy tetap kekeh malas memeriksakan diri.
"Mau makan sesuatu nggak, Mas?" tawar Ika, siapa tahu bisa sedikit meringankan rasa pusing yang di rasa Tommy.
Tommy menggeleng kepala. "Nggak naffsu!"
Lalu pria itu membaringkan diri pada sofa itu sambil berbantalkan paha istrinya.
"Kamu tadi ke sini sama siapa?" tanya Tommy.
"Tadi aku bareng Resty sama Alex, tapi mereka nggak mampir karena keburu pulang," jelas Ika.
"Oh ya, Mas, kamu tahu nggak bakal cucu kita apa?"
"Apa?"
"Baby boy," pekik Ika dengan girang.
Tommy tersenyum bahagia. Sebenarnya mau cowok atau cewek bagi Tommy itu terserah. Yang terpenting adalah kesehatan dan keselamatan Resty dan bayinya.
"Mm... Kalau nanti kita juga di beri momongan, mas Tommy mau cewek apa cowok?" tanya Ika dengan riang.
"Mm... Terserah Tuhan yang maha memberi," sahut Tommy dengan bijak.
"Jangan pasrah aja, apapun itu harus di minta dan di usahakan."
Tommy merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap perut Ika. Lalu pria itu mulai mengendus-endus nakal di sana.
"Di sapa dong, ada anaknya tuh di dalam," ucap Ika yang di anggap bercanda oleh Tommy.
"Assalamu'alaikum, anak papa..." Tommy mengucap sambil mengusap perut Ika.
"Bukan anak, tapi anak-anak."
Sejenak Tommy mengangkat wajahnya menatap wajah istrinya dari bawah. Ia mengira istrinya itu sedang berhalusinasi menjadi bumil yang di manja suaminya. Tetapi tak apalah kali ini ia akan turuti kemauannya, asal tidak membahas kapan mengandung seperti yang sering Ika utarakan saat tak kunjung positif hamil sebelumnya.
"Assalamu'alaikum anak-anak papa..." Tommy pun mulai mengikuti ucapan Ika tadi.
"Wa'alaikum salam papaku," Ika menjawabnya dengan mengganti suaranya menjadi mirip anak kecil.
Sesaat Tommy tersenyum manis menatap istrinya yang juga tersenyum manis kepadanya.
"Gimana, Mas, sepertinya kamu sudah baikan," tanya Ika di saat melihat kondisi suaminya yang lebih baik dari pada tadi.
__ADS_1
"Iya. Apa aku harus akting menyapa baby di sini ya, kepalaku sudah tidak pusing lagi, By," tutur Tommy agak aneh memang, tetapi itu nyata.
Pria itu memilih duduk lagi. Merasakan kondisi dirinya sambil memejamkan matanya. Yang ada memang rasa pusingnya sudah hilang. Tetapi....
Huwek!
Tiba-tiba perut Tommy bergejolak, tetapi masih untung bisa di tahan dan tidak muntah.
"Kenapa, Mas?" tanya Ika panik lagi.
"Perutku eneg," tutur Tommy sambil menekan-nekan perutnya.
"Asam lambung?" tebak Ika.
Tommy menggeleng. Karena memang ia tidak pernah memiliki riwayat penyakit itu.
"Maag?" tebak Ika lagi.
Tommy menggeleng lagi.
"Apa mau coba menyapa anak kita lagi, siapa tahu sembuh lagi kayak pusingnya," usul Ika yang di rasa sangat ngadi-ngadi bagi Tommy.
Tommy tercengang sesaat.
"Coba aja, kali aja anak kamu lagi minta di sapa."
Tommy masih menatap wajah istrinya yang seperti ada raut kebahagiaan yang terpancar di sana.
"Sini deh, Mas," Ika menarik tangan Tommy, kemudian meletakkannya di perutnya.
"Kamu rasakan, ada yang aneh nggak?" ucap Ika membuat Tommy terpancing rasa penasaran.
"Nggak ada yang aneh ya?" tanya Ika karena suaminya hanya terdiam.
"Perut kamu tambah lebar," sahut Tommy tanpa filter.
"Aaaaaaah..... Mas Tommy....!!! Jahat banget jujur sekali...." pekik Ika sambil merengek-rengek tak terima di katakan gendutan.
Tommy terkekeh melihat istrinya yang tak pernah mau di katakan gendut, padahal nyatanya memang otw naik lima kilo.
"Biar gendut tapi aku sayang kok," ucap Tommy menenangkan istrinya yang mulai merajuk.
"Sini aku cium."
Lalu pria itu menarik tengkuk Ika dan mellumat bibir ranum itu walau sekejap.
"Kok masih cemberut? Kurang?" Tatapan mata Tommy mulai mengerling nakal.
Ika menggeleng dengan wajahnya yang tetap manyun.
"Bagaimana aku nggak tambah gendut, di sini isinya baby twins anak kita. Nggak kebayang beberapa bulan ke depan aku akan tambah gendut seperti apa," ucap Ika dengan suara pelan, tetapi sangat membuat Tommy tercengang mendengar kalimatnya itu.
"By, kamu hamil?"
__ADS_1
*