
Resty sudah duduk di meja makan hanya berdua dengan eyang Asih. Sedangkan Ayu, asisten rumahnya itu sudah ditawari makan bersama oleh eyang Asih tetapi ditolak secara halus olehnya. Bisa jadi karena ada Resty membuatnya menjadi sungkan, karena sebelumnya Ayu lah yang selalu menemani eyang Asih tiap kali waktunya makan.
"Ayo, Yu, makan bareng, biasanya nggak pernah nolak gini." Eyang Asih masih kekeh memaksa Ayu agar mau makan bersama.
"E-e... Biar Ayu makan diluar saja, Bu, sekalian bareng sama mas Deden." jawab Ayu.
"Kalau begitu panggil mas Dedenmu itu kesini juga, sekalian kita makan bareng." titah eyang Asih, yang kemudian Ayu pun beranjak juga karena merasa tidak enak terus-terusan membantah perintahnya.
"Ck! Dasar si Ayu!" kekeh eyang Asih, saat Ayu sudah benar-benar hilang dari pandangan.
"Kenapa, Eyang? Kok kayaknya lucu begitu?" Resty turut penasaran.
"Semenjak ada Deden, Ayu jadi caper terus ke dia." jelas eyang Asih.
"Deden? Geli amat denger namanya, Eyang. Orang mana sih?" Resty ikutan terkekeh.
"Orang Jakarta juga, bawaannya Saleh. Ya karena Saleh sering manggil dia Den, jadi Ayu nyambungnya namanya Deden. Padahal kata Saleh nama sebenarnya bukan Deden."
Resty dibuat tertawa lucu karena ulah polos Ayu yang belum ia kenal. Berasa akan seru saja jika nanti ia bisa berteman dengan Ayu. Sementara waktu bisa menjadi pengobat kangen pada sosok Ika selama ia berjauhan dengan besti nya itu.
Sesaat kemudian Ayu datang lagi, tetapi kemunculannya itu tidak dengan pria bernama Deden itu.
"Mana, Yu?" Eyang langsung bertanya.
"Mm, mas Dedennya nggak mau, Buk." ujar Ayu.
"Tumben pada nggak mau diajak makan bareng?" terlihat wajah eyang Asih sedikit kecewa.
"Apa karena ada Resty?" tanyanya, setelah curiga penolakan kedua asistennya itu setelah adanya Resty.
Ayu tak menyahut. Ia hanya menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Ya sudahlah." ucap Eyang pada akhirnya.
Dan kemudian Ayu pun beranjak dari tempat itu menuju dapur. Sesaat kemudian pergi lagi sambil membawa dua piring nasi beserta lauk diatas nampan yang dibawanya. Sepertinya gadis muda itu telah benar-benar niat hanya ingin makan berdua dengan pria incarannya.
"Tuh, Res, lihat si Ayu." Eyang Asih menunjuk pada Ayu yang sedang berjalan keluar.
Resty mengikuti arah tunjuk eyangnya.
"Apapun dilakukan sama dia demi dekat dengan Deden. Buktinya dia garcep betul siapin dua piring makanan. Apa nggak memang sudah niat dari tadi?"
Eyang Asih menggerutu saat melihat Ayu begitu sumringah saat melewatinya. Wanita renta itu memang tidak pernah membedakan dirinya dengan sang asisten rumah. Dimasa tuanya yang hanya hidup seorang diri tanpa suami dan anak, ia selalu mengajak semua pekerjanya itu untuk makan bersama diruang yang sama pula.
"Biar saja lah, Eyang. Nanti aku coba kenal sama dia, biar nantinya nggak ngerasa malu lagi sama adanya aku." tutur Resty, mencoba menghibur hati eyangnya yang kentara sedikit kecewa.
"Iya, tuh. Sekalian kamu kenalan juga sama Deden, biar nggak terkesan sombong buat mereka entar."
"Siap, Eyang." Wajah Resty mulai full senyum.
Lalu setelahnya mereka berdua menikmati menu makan malamnya dengan nikmat. Ditambah lagi sayur nangka muda berkuah santan buatan Ayu itu membuat selera makan Resty bertambah lahap, berasa cocok dilidahnya dan bikin nagih buat nambah terus.
"Pelan-pelan saja makannya, Res."
"Hehe... Enak banget, Eyang, jadi lahap." sahutnya, dengan mulut yang masih penuh isi.
Sedangkan keadaan diluar rumah itu, tepatnya di pos jaga depan, Ayu sudah duduk di kursi panjang yang berada diluar pos itu sambil bersebelahan dengan pria yang bernama Deden.
Keduanya sama-sama menikmati makan malamnya sambil menikmati pemandangan jalanan luar perkampungan itu. Kondisi begini tentu beda sekali dengan di kota. Petang begini bila di kota masih sangat ramai macam-macam kendaraan berlalu lalang, akan berbalik keadaan bila sudah berada di kampung. Dan suasana hening dan damai seperti ini lah yang kadang membuat suasana terasa tenang.
"Mas Deden, tadi sepertinya ibu Asih kecewa karena Ayu nolak makan bareng." tutur Ayu, sesaat setelah mereka selesai makannya.
"Lagian kamu juga kenapa ikut-ikutan nggak mau?"
__ADS_1
Ayu hanya diam. Rasanya terlalu malu untuk jujur kalau sebenarnya ia hanya ingin makan berdua saja dengannya. Ayu yang terlanjur kepalang bucin sama Deden, berasa makan malamnya kali ini sangat romantis seperti di sinetron yang sering ia tonton di tivi.
"Yu, kamu nggak masuk sana? Siapa tahu ibu sudah selesai."
Seketika Ayu berwajah manyun, sebab pria bernama Deden itu memang kerap menyuruhnya pergi walau dengan perkataan halus. Ia tahu jika Deden terlihat selalu menjaga jarak dengannya. Tetapi jangan sebut nama Ayu jika ia tidak bisa menarik perhatian si Deden itu nanti.
"Sudah, cepat masuk sana. Dipecat ibu tau rasa entar." sergah pria itu.
"Nggak mungkin dipecat lah. Ayu nggak ngelakuin salah apa-apa juga. Cuma nongkrong bareng mas Deden begini, emang salah?" protes Ayu.
Adakalanya gadis itu sedikit keras kepala, apalagi jika harus menjauh dari Deden.
"Ayu!"
Eyang Asih memanggilnya sambil berdiri diambang pintu utama.
"Tuh, dipanggil ibu beneran kan?"
"Eh, iya, Bu. Ayu kesana."
Ayu pun lekas beranjak menuju eyang berada. Sampai-sampai ia lupa tidak membawa piring kotornya, dibiarkan begitu saja disamping Deden.
Pria itu hanya bisa menatap nyalang saat eyang Asih dan Ayu sudah masuk ke rumahnya. Kedatangan sang cucu majikan membuatnya takut untuk sekedar masuk ke rumah itu lagi. Padahal sebelumnya ia begitu leluasa keluar masuk dari sana, itu pun karena eyang Asih tidak pernah membatasi pergerakannya.
Bila teringat saat-saat pertama pria itu datang ke rumah ini, eyang Asih sangat antusias menyambutnya. Wajah sumringahnya yang penuh kasih, membuatnya langsung merasa betah dan seakan terlupa dengan masalah hidupnya yang sebenarnya.
Bahkan sebelum sang cucu itu datang, eyang Asih sendiri sudah menceritakannya. Tentang bagaimana cucunya, parasnya, dan juga namanya, sudah eyang Asih beritahu dulu padanya.
Dan karena sudah tahu siapa cucu eyang Asih itu, membuatnya tak tahu lagi harus bagaimana setelah ini. Akankah ia jujur saja pada eyang Asih tentang siapa dirinya yang sebenarnya? Tetapi ia juga tidak mau statusnya itu terbongkar di kampung ini. Sebab bila eyang Asih sudah tahu, pasti akan bercerita kepada Ayu. Dan ia tidak jamin Ayu tidak akan heboh sendiri bila tahu siapa Deden sebenarnya.
*
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya ya...
Terimakasih karena masih setia bersama karya othor yang masih amatiran🙏