Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 106


__ADS_3

Saat ini hanya Tommy dan Ika berdua saja diruang kerja yang mendadak mencekam bagi Ika. Pria itu sedari tadi tidak membuang pandangannya, seakan mau menguliti diri Ika yang mulai panas dingin akibat nervous yang memburu.


Sedangkan Resty dan Alex keluar dari ruangan itu seperti pinta Tommy. Entah pergi kemana mereka saat ini.


"Sayang, kira-kira papa Tommy mau ngomong apa ya sama Ika?" Alex yang sedari tadi hanya terdiam, akhirnya bertanya sangat kepo.


Resty hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya pertanda entah. Sejujurnya gadis itu juga sangat penasaran. Semoga saja setelah ini apapun yang terjadi semuanya akan baik-baik saja.


"Trus kita mau kemana nih?" tanya Alex. Saat ini mereka sedang berdiri didepan pintu lift yang masih tertutup.


"Bukankah tadi kamu ngajak aku keluar?"


"Jadi?"


"Kenapa harus nggak jadi?"


"Aku kira kamu masih kepikiran ninggalin Ika di sana," ujar Alex.


"Biarin aja lah. Papaku juga nggak ganas kok. Nggak mungkin nyakitin Ika."


Alex hanya tersenyum entah menanggapi respon Resty yang terlihat santai walau sahabatnya itu kini sedang disidang oleh Tommy.


Pintu lift sudah terbuka, lantas mereka berdua masuk dan kemudian menekan tombol lantai bawah.


"Seandainya papa Tommy menolak Ika, bagaimana menurut kamu, Sayang?" Alex bertanya lagi.


Resty terlihat berpikir. Ia tidak pernah membayangkan hal seperti itu sebelumnya. Jadilah ia galau sendiri. Takut kehilangan sahabat terbaiknya hanya karena penolakan dari papanya.


Akhirnya gadis itu hanya diam saja. Tak mau menjawab pertanyaan Alex yang ia tak sanggup membayangkan itu terjadi.


Beruntungnya Alex paham dengan apa yang dirasa Resty. Ia pun tidak memaksanya. Perlahan pria itu membawa tangan gadisnya ke dalam genggamannya. Sembari tersenyum hangat demi menenangkan hati kekasihnya yang dirundung kegalauan.


"Apapun yang terjadi setelah ini, tolong jangan kamu pendam sendiri. Ada aku, Sayang. Sebisa aku, aku akan terus bantu dan dukung kamu," ujar Alex tulus.


Resty tersenyum kecil kepada kekasihnya itu. "Seandainya nanti Ika jadi mamaku, kamu nggak keberatan kan?" tanyanya, yang dari ini Alex sudah paham jika Resty sebenarnya mengharap papanya mau menerima Ika dalam kehidupannya.


Alex berpikir sejenak. Walau itu terasa berat dan aneh, tetapi ia harus belajar menerima itu. Siapapun kelak pilihan papa mertuanya, tetap ia harus hormati. Karena itu sama saja seperti mama mertuanya.

__ADS_1


Kemudian pria itu hanya tersenyum simpul sembari merangkul sang kekasih penuh sayang. "Aku nggak masalah," jawabnya kemudian.


Sedangkan suasana didalam ruang kerja Tommy masih terasa dingin. Dua manusia berbeda generasi itu sama-sama terbungkam, tanpa ada yang mau memulai percakapan terlebih dulu.


Ika yang sedari tadi duduk gelisah, akhirnya memberanikan diri menatap kepada lelaki yang duduk didepannya itu.


"Mm... Kalau tidak ada yang mau dibicarakan, aku pamit saja Om," ucap Ika.


Tommy menghela nafasnya, sebelum kemudian membalas ucapan gadis itu.


"Katakan yang sejujurnya, mau kamu apa?" Tommy balik bertanya.


Ika terdiam lagi. Mana mungkin ia akan berterus terang tentang perasaannya itu. Syukur-syukur diterima baik, jika akhirnya ditolak akan malu luar biasa.


"Apa maksud kamu save nomor aku dengan nama itu?" Tommy yang butuh penjelasan itu menanyakannya.


"Maaf, Om." Ika menundukkan wajahnya lebih dalam. Jemarinya saling memilin, begitu gugup yang ia rasa sekarang.


Tommy menyeringai tipis. Mungkin sekarang lah saatnya ia harus mencoba sesuatu yang baru. Bukan untuk dimainkan, tetapi untuk kebaikannya sendiri. Sejujurnya pria itu mendamba seorang wanita yang mau menerimanya apa adanya, mau mencintainya dengan tulus, bukan karena materi yang ia miliki.


Karena memutuskan untuk hidup menduda yang cukup lama, sejujurnya itu melelahkan. Naluri pria itu juga ingin merasakan hidup yang semua orang merasakannya. Disambut manis oleh istri sepulang kerja, ada yang melayani segala kebutuhan kesehariannya, Tommy merindukan kehidupan seperti itu. Hanya ia tidak menyangka saja jika akan dihadapkan oleh gadis muda yang saat ini duduk tertunduk didepannya itu.


Tommy berdiri. Ia beranjak menuju meja kerjanya untuk mengambil sesuatu di sana. Kemudian kembali mendekat kepada Ika.


"Ayo," ujarnya, yang membuat gadis itu mendongak keheranan.


"Mau kemana, Om?" tanyanya panik.


"Antar aku menemui orangtuamu," balasnya langsung.


"Bu-buat apa Om mau bertemu mereka? Tolong jangan adukan ini sama mereka, Om. Mereka bisa marah, karena aku nggak nurut sama mereka." mohon Ika.


Apa jadinya jika Ika membawa Tommy ke rumahnya. Walau sebenarnya mamanya Ika sudah tahu jika dirinya menyukai Tommy, tetapi sebenarnya kedua orangtua Ika lebih setuju Ika mencari pasangan yang seumuran dengannya. Karena sejujurnya kedua orangtua Ika takut anaknya hanya akan menjadi mainan saja bagi duda keren seperti Tommy.


"Aku tidak akan mengadu apa-apa, cuma--" Tommy sengaja menjeda bicaranya.


"Cuma apa, Om?"

__ADS_1


"Cuma mau nuntut tanggungjawab kamu."


"Hah? Tanggung jawab?"


Seketika Tommy melangkah ke arah pintu, hingga sampai pria itu sudah membuka pintunya Ika masih termenung ditempat.


"Ayo, Ka. Nanti aku berubah pikiran gimana? Mau kamu?" ajaknya lagi.


Ika berlari kecil mendekatinya. Seketika tangannya meraih lengan Tommy sembari merengek memohon agar Tommy mau mengurungkan niatnya pergi ke rumah orang tuanya. Gadis itu tentu sangat takut, sebab tadi saja Donita diancam akan dilaporkan ke pihak berwajib bila terus mengusiknya.


"Om, pliiis... Jangan, Om. Ku mohon..." rengeknya, yang tentu menjadi tontonan langsung bagi sekretaris Tommy yang berada diluar ruangannya.


"Sepertinya kamu takut sekali?" Tommy berkata lagi, tetapi tetap membiarkan tangan Ika memegangi lengannya.


"Iya, Om. Jujur aku takut Om akan lapor ke polisi atas dasar--"


Tommy menyeringai lagi. Rasanya kehidupannya akan menarik jika kemudian mencoba bersama Ika yang sedikit berbeda dari karakter Resty. Selain sebagai hiburan hati yang hampa, tentu sebagai penyemangat hidup juga buatnya.


Mendapati Tommy hanya terdiam memandanginya, Ika pun berhenti merengek-rengek lagi. Sesaat kedua netra mereka tak sengaja membentur dalam, membuat keduanya seketika terlena dalam perasaan masing-masing.


"Ayo!" Kali ini tangan Tommy sengaja menarik tangan Ika dalam genggamannya.


Gadis itu kaget, pun hanya bisa diam sambil mengikuti kemana Tommy membawanya. Ketika mereka berdua sudah berada dalam sebuah lift, Ika berusaha menarik tangannya dari genggaman Tommy, tetapi pria itu semakin mengeratkan genggamannya.


"Kamu harus tanggung jawab, Ka." ujarnya lagi.


Ika menelan saliva merasa pias. Netra hitam pria itu seakan langsung menembus hingga ke relung hati terdalam.


"Sekali aku serius, kamu sudah tidak bisa lari dariku." Tommy mendorong tubuh Ika hingga bersandar didinding. Sedangkan sebelah tangan pria itu langsung mengungkungnya.


"Kamu yang memulai, dan sekarang aku mau menyambutnya, walau masih harus belajar mencintaimu."


Seketika bola mata Ika membulat kaget, saat mendengar sendiri perkataan dari pria yang ditaksirnya itu.


"Kamu hanya cukup mengantarku menemui orangtuamu, Ka. Aku akan melamarmu untuk menjadi pasangan hidupku. Kamu tidak keberatan kan?"


"Om?" Ika membekap mulutnya sendiri. Rupanya rasa cintanya disambut oleh pria itu. Rasanya sangat bahagia tiada batas, saat mendengar keseriusan pria itu kepadanya.

__ADS_1


Tommy meraih tangan Ika yang dibuat membekap mulutnya. Tak cukup disitu, pria itu lantas mendaratkan kecupan hangatnya dipunggung tangan Ika. Sembari menatap dalam pada netra Ika yang sudah berbinar bahagia.


*


__ADS_2