Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 57


__ADS_3

Resty sudah rebahan manja di kasur empuk dalam kamar. Kedua tangannya membentang bak sayap pesawat, sedang netranya menatap lekat pada langit-langit kamar yang masih sama. Dua hari sibuk mondar mandir dari rumah ke rumah sakit, rasanya malam ini sudah bisa kembali nyenyak tidur di kamarnya dengan nikmat.


Sesaat pikirannya teringat kembali akan sebuah rencana menyatukan papanya dengan Ika. Meski terkesan agak ngawur karena sahabatnya sendiri yang akan ia rekomendasikan untuk menjadi mama barunya, tetapi Resty sama sekali tak keberatan dengan hal itu.


Sesekali ia jadi cekikikan sendiri begitu membayangkan rumahnya akan ramai dengan canda tawa ia dan Ika, andai rencananya itu terwujud tanpa hambatan.


Gadis itu pun meraih ponselnya, untuk sekedar menanyakan Ika sudah tiba di rumah atau belum. Setelah chat nya terbalas oleh Ika dan memberitahu jika sudah tiba di rumah dengan selamat, ia pun bisa tersenyum lega.


"Apa lebih baik sekalian aku ajak Ika ke rumah eyang Asih? Dengan begitu aku bisa leluasa mengajaknya ngobrol serius tentang papa."


Ide briliannya tiba-tiba muncul begitu saja. Bibirnya pun mulai tersenyum riang, sangat yakin jika papanya pasti akan setuju bila ia berencana mengajak Ika ke sana.


Terlanjur asyik berselancar di ponselnya, ia pun baru menyadari jika ada sesuatu yang terasa mengganjal. Belakangan ini ia tak lagi menerima chat dari Alex, bahkan sekarang saja ia sudah tidak menemukan tanda-tanda pria itu sedang online.


Melihat dari logo profilnya sudah berubah menjadi seperti donat tergigit, tak lagi tampak foto pria itu yang biasa menjadi pajangan profilnya. Sepintas Resty berpikir dalam-dalam. Mungkin saja sedang malas pasang foto, ataukah ia sudah diblokir oleh Alex?


Seketika Resty memposisikan tubuhnya untuk duduk. Perasaan tak nyaman seketika menghantui andai benar Alex telah membatasi akses komunikasinya. Nomor telpon pria itu pun Resty coba hubungi, rupanya bernada sedang tidak aktif.


Berkali-kali Resty tak jemu mencoba menghubunginya, tetap saja tidak tersambung.


"Dia benar-benar blokir aku?" ucapnya, sambil menatap nyalang pada ponselnya sendiri.


"Masa cuma karena aku tolak, sampe harus blokir-blokiran begini? Kayak anak kecil! Sebel!" gerurunya, sambil meletakkan kasar ponselnya diatas nakas.


"Padahal aku ada kabar baik, kalau aku gagal bertunangan sama kak Ziyyan."

__ADS_1


Mata Resty kembali menerawang entah. Sungguh perasaannya saat ini seperti lagi berada dalam lingkaran yang hanya berputar-putar tanpa solusi. Gemuruh didadanya sudah membuncah, antara kecewa tetapi juga rindu pada Alex.


"Iiiiiiiih...... Alex!!!"


Tubuh Resty gulang guling diatas kasur sambil menyebut nama Alex yang sudah tiada kabar, bagai sengaja ingin mempermainkannya, setelah sukses mencuri perasaan cinta kepadanya.


Padahal saat terakhir bertemu dengan Alex, Resty pernah meminta agar diantara mereka tetap seperti biasanya. Tetapi apa yang terjadi sekarang, sungguh membuat Resty merasa gemas sendiri. Mau mewek rasanya akan rugi diri. Nyatanya pria si pencuri hati tak tahu diri itu sudah menghilang begitu saja.


Oke! Jika Alex bisa bertindak seperti bocil yang demen ngambek dan main blokir segala, maka Resty pun akan melakukan yang sama pula. Biarlah dikatakan tak jauh beda kekanakan seperti Alex. Yang Resty mau sekarang ia ingin memasang genderang perang dingin kepada Alex. Entah siapa nanti yang lebih betah atau malah menyerah lebih dulu lalu kemudian bertegur sapa, saat dikemudian hari mereka bertemu lagi.


"Awas saja kau, Lex!" sungutnya kesal.


Ia pun beranjak mau ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka agar bayangan Alex ikut hanyut bersamaan air yang mengalir. Baru saja tangannya menyentuh handle pintu kamar mandinya, ia tiba-tiba teringat jika tadi belum sempat mengingatkan papanya untuk meminum obatnya.


Maka akhirnya gadis itu urung ke kamar mandi, memilih keluar kamar untuk menemui papanya di kamarnya.


Ia pun teringat jika dulu ia pernah tak sengaja menemukan foto yang disimpan papanya dibalik fotonya sendiri. Walau sampai saat ini Resty tidak tahu siapa wanita yang foto berdua dengan papanya itu, tetapi Resty yakin jika wanita itu bukan orang biasa bagi papanya.


Sejenak kembali merasa sakit saat menyadari jika ternyata papanya tidak mencintai almarhum mamanya, karena Resty tahu yang diajak bicara oleh Tommy bukan gambar mamanya.


Meski begitu, tetapi untuk saat ini apa mau dikata? Protes atau apapun bentuk wujud tak terima karena baru tahu jika Tommy mencintai wanita lain selain mamanya, rasanya sudah percuma. Sebab mau seperti apapun mamanya tak akan kembali hidup. Dan tentu akan membuatnya tak tenang di sana, andai kemudian Resty cek cok dengan papanya.


Melihat Tommy begitu, rasanya rencana untuk menyatukannya dengan Ika harus stop dulu. Ia tak mau nanti Ika akan terluka jika belum meyakinkan papanya untuk mau membuka lembaran baru bersama perempuan lain. Agar tidak terus-terusan terjerembab dalam kubangan masa lalu yang seharusnya sudah menjadi cerita lama dan tamat.


Resty perlahan mundur teratur dari kamar Tommy. Menutup pintu dengan sangat pelan, agar papanya tidak tahu kedatangannya. Ia pun terpaksa kembali ke kamar. Segera tidur mungkin solusi yang baik, disaat tubuh dan pikiran terus-terusan bekerja dengan hal-hal random disekitar.

__ADS_1


***


Pagi sudah menjelang. Resty dan Tommy sudah duduk bersama di ruang makan dengan menu sarapan pagi yang menyehatkan.


"Semalam papa nggak lupa minum obat kan?"


Tommy tersenyum manis sambil menganggukkan kepala.


"Setelah ini papa nggak boleh terlalu capek kerja. Di dunia ini aku cuma punya papa. Aku nggak mau kalau akhirnya papa sakit lagi karena memforsir pekerjaan."


Tommy memilih diam sambil mendengarkan saja ocehan pagi anaknya.


"Sekarang ini papa mau kemana? Jangan bilang kalau mau kembali ngantor?"


Resty menyorot curiga pada penampilan Tommy yang sudah rapih, persis seperti mau berangkat kerja.


"Ada meeting sebentar di luar kantor. Paling cuma butuh waktu sekitar dua atau tiga jam, setelah itu papa langsung pulang."


Mulut Resty mengerucut sebal setelah tahu Tommy akan kembali beraktifitas. Tetapi ia juga tidak bisa protes bila menyangkut masalah kantor, sebab Tommy adalah pemegang kendali dan juga sumber asetnya selama ini.


"Oh ya, papa sudah suruh pak Benny untuk mengantarmu pergi ke rumah eyang." tutur Tommy kemudian.


"Masalah pergi ke rumah eyang aku ajak Ika boleh nggak, Pa?" usul Resty.


"Boleh. Asal Ika nya mau saja." sahutnya tanpa berpikir lama lagi.

__ADS_1


"Yes!" pekiknya girang.


*


__ADS_2