
Malam pun menjelang. Tetapi tetap seharian ini Resty masih tidak berselera makan. Beruntung masih mau makan cemilan, walau tidak sebanyak seperti sebelumnya.
Saat ini Alex dan Resty sudah berbaring di kasurnya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Karena besok pagi mereka sudah harus kembali masuk kuliah, maka mereka berdua memutuskan untuk segera beristirahat. Apalagi mengingat kondisi Resty yang suka mual mendadak, cukup menjadi bukti jika wanita itu belum sepenuhnya sehat. Meski begitu tetap saja Resty tidak mau untuk memeriksakan kondisi dirinya kepada dokter.
Perlahan mereka berdua sama-sama terlelap dengan posisi saling menghangatkan tubuh. Memeluk dengan sayang. Apalagi Resty tiba-tiba memiliki kelakuan yang cukup aneh. Wanita itu selalu ingin dipeluk dan seperti tak mau ditinggal sejengkal pun oleh Alex.
Entah sudah jam berapa saat wanita itu kembali terbangun dari tidurnya. Mulutnya tiba-tiba terasa hambar dan mendadak ingin makan sesuatu yang segar dan masam. Bahkan sepertinya sudah tidak bisa ditunda lagi sekalipun besok. Andai di rumah ada stok buah yang diinginkannya itu, tentu tidak akan menyiksa begini rasanya.
Pikirannya tiba-tiba mellow. Teringat ketika suaminya itu tadi melarangnya saat ia menginginkan rujak manis siang tadi. Lantas Resty memilih duduk dan melihat suaminya itu terlelap sangat damai. Tak terasa air matanya tiba-tiba menetes begitu saja. Mendadak jadi sensi sekali perasaannya. Dan Resty sendiri tak tahu mengapa ia jadi sangat cengeng malam ini.
Wanita itu menangis dalam diam. Dan tak lama semakin tersedu-sedu. Rasanya sangat entah. Sampai-sampai suara lirih tangisnya itu membuat Alex mulai terusik dari tidurnya.
Pria itu membuka matanya perlahan. Mengerjap-ngerjap memandangi istrinya yang menangis bersimpuh sambil menekuk kedua kakinya. Membuat pria itu spontan terjaga, dan menggeser tubuhnya lebih merapat kepadanya.
"Kenapa menangis? Ada apa?" tanya Alex sangat panik.
Istrinya itu tidak pernah begini. Meski sedang bermimpi buruk sekali pun tidak akan bereaksi dengan menangis tergugu seperti malam ini.
"Ada apa? Mimpi buruk ya?" tanyanya lagi, yang kemudian langsung mendapat respon gelengan kepala dari Resty.
Alex langsung merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan dengan membelai manja dan menciumi mahkotanya penuh kasih.
Untuk beberapa saat usapan lembut Alex pada punggung Resty berhasil membuat wanita itu lebih tenang. Membuat Alex akhirnya bisa menghela nafasnya sangat lega, karena hanya menganggap istrinya itu sedang bermimpi buruk yang membuatnya harus terbangun malam ini.
"Ayo tidur lagi. Ini masih jam satu," ucap Alex kemudian.
Tetapi Resty hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian menatap wajah suaminya itu penuh harap.
"Aku pingin makan rujak manis," seru Resty kemudian.
Alex tercengang seketika.
"Astaga! Jadi--"
Alex tak langsung melanjutkan perkataannya. Mengapa istrinya itu harus teringat hal yang tadi coba?
"Sudah ku duga kamu nggak bakal bolehin aku beli itu." Kali ini tangis Resty pecah lagi.
__ADS_1
"Ya ampun, Sayang..."
Mendadak pria itu jadi gemas sendiri. Kenapa Resty jadi mirip anak kecil begini? Merajuk dari siang sampai terbawa malam ini.
"Oke! Fine!"
Tiada kata yang lebih mujarab selain dengan menyetujuinya saja.
Tangan Resty mulai mengusap bersih linangan air matanya yang membasahi wajahnya. Aura wajahnya seketika berubah menjadi riang, mendengar kata oke dari mulut suaminya.
"Masalahnya dimana ada orang jual rujak manis itu tengah-tengah malam begini?"
"Ke apotik yang tadi," sahut Resty.
"Itu tempatnya lumayan jauh, Yang. Lagian ini juga sudah lewat tengah malam. Aku nggak yakin orang itu masih jual."
"Besok ya?" pinta Resty demi tidak dilarang lagi oleh Alex.
Alex terpaksa mengangguk. Cari aman dengan pura-pura setuju saja. Demi bisa kembali tidur pada malam yang masih sangat panjang. Tetapi bila besok Resty sudah membaik, mungkin bisa dipikir ulang.
Pria itu menuntun istrinya untuk kembali merebah. Tetapi sepertinya wanita itu tetap bertahan dengan posisinya.
Tangan Alex terulur ingin mengambil segelas air putih yang memang ada diatas nakas samping dirinya.
"Pingin minum susu hangat."
Seketika Alex menoleh kepada istrinya itu. Menatapnya sejenak dengan tatapan penuh tanya. Tetapi jika mengingat kalau seharian ini istrinya itu tidak kemasukan gizi yang seimbang, membuat Alex harus beranjak untuk membuatkan suhangat permintaannya.
"Aku buatkan. Kamu tunggu sini saja."
Alex melepas tangan Resty yang sedari tadi memegangnya erat.
"Jangan lama-lama," ucap Resty lagi saat suaminya itu sudah bersiap memegang handle pintu kamar itu.
Alex hanya mengangguk sambil tersenyum tipis kepada istrinya yang tersenyum begitu hangat kepadanya.
Tak lama kemudian pria itu kembali masuk ke kamarnya dengan membawa segelas suhangat permintaan Resty. Tetapi lihatlah, wanita itu rupanya sudah terlelap saja. Sangat sangat lelap. Sampai-sampai saat dicium keningnya oleh Alex, wanita itu tetap terlelap begitu tenang.
__ADS_1
Dari pada mubadzir maka suhangat yang dibuatnya itu ia minum sendiri. Apalagi tenggorokannya terasa lumayan kering, membuat segelas suhangat itu tandas dalam kurun waktu beberapa detik saja.
Lalu segera Alex menyusul istrinya. Kembali tidur dengan nyenyak. Dan terbuai oleh mimpi indah dalam tidurnya masing-masing.
Pagi kembali menyapa. Mereka telah selesai menunaikan kewajiban dua rokaatnya secara bersamaan. Bahkan sinar matahari itu sudah mulai tembus lewat celah-celah kaca kamarnya yang terhalang oleh kain korden yang menjulang tinggi.
Mereka masih harus nge jadwal dulu apa yang akan mereka bawa kuliah setelah ini. Tidak melihat adanya Resty muntah-muntah saat bangun tadi, membuat Alex tersenyum lega. Dan berencana akan membelikan rujak manis biang kerok Resty menangis semalam itu nanti sepulanb kuliah..
Padahal sebenarnya yang dirasa Resty saat ini agak merasa mual. Tetapi tetap ia tahan demi terkabulnya makan rujak manis yang sangat menggiurkan lidahnya.
Saat sudah selesai merapikan diri, akhirnya mereka berdua pun keluar dari kamar. Segera turun dan duduk diruang makan. Menyantap sarapan pagi yang telah dibuatkan oleh mak Asna.
Tetapi coba lihatlah Resty, wanita itu terlihat hanya mengaduk-aduk makanannya menggunakan sendoknya. Tanpa mau dicoba barang sesuap pun.
"Jadi beli kan?" tanya Resty menegaskan.
"Iya, tapi nanti selesai kelas," balas Alex.
Mendadak mulut Resty mengerucut sebal sendiri. Sudah ditahan dari semalam ujung-ujungnya masih menunggu nanti siang.
"Duh, kok manyun gitu? Cantiknya entar hilang loh," goda Alex.
Tetapi reaksi Resty tetap bergeming. Malah ia berjalan lebih dulu keluar rumahnya, melangkah dengan ayunan kaki lebih cepat dari biasanya. Membuat Alex seketika terhenyak, dan terpaksa tidak menghabiskan sarapannya demi ikut menyusul istri tersayang.
Dalam hitungan seperkian detik, wanita itu sudah berdiri disamping mobilnya sambil melipat kedua tangan di dada. Segera Alex berlari menyusulnya saat itu juga.
Saat pria itu mulai membukakan pintu mobilnya untuk Resty, tiba-tiba saja wanita itu menutup hidungnya rapat-rapat.
"Mm, bau!" serunya seperti sedang menahan rasa mual yang kembali bertandang.
Langsung saja Resty menutup lagi pintu mobilnya. Tak jadi masuk ke dalamnya gegara wangi parfum pada mobil itu yang memicu rasa mualnya kembali datang.
Ditahan-tahan tetapi tetap saja perut Resty seketika bergejolak. Membuat wanita itu kembali memuntahkan isi perutnya ditempat itu juga.
Huwweeeekk....
"Ya ampun...!! Apa aku sebaiknya diam-diam saja panggil dokter Hasan kemari. Jika Resty begini terus, aku tidak tega. Rasanya pingin bertukar tubuh saja, andai itu bisa." lirih suara hati Alex saat membantu memijiti tengkuk istrinya itu, yang masih saja terus muntah-muntah seperti kemarin.
__ADS_1
"Kamu sakit apa sih, Yang?"
*