
Resty mendorong bahu Alex agar menghentikan ciumannya. Seketika wanita itu mengatur nafasnya yang tersengal-sengal saat Alex melepas pagutannya.
"Duh, jadi pingin kan?" Alex mulai resah sendiri begitu pusaka miliknya tiba-tiba terbangun.
Resty melotot seketika. "Jangan ngadi-ngadi deh."
"Masih ada sejam lebih masuk kelasnya, Yang. Ayolah..." rengeknya sudah kepalang pusing sendiri.
"Nggak bisa, Sayang." Resty ingin beranjak tetapi Alex masih mencegahnya dengan memeluknya dari belakang.
"Jangan khawatir karena belum minum pilnya. Biar aku aja yang mau pake pengaman. Stok yang ku beli tuh bisa mubadzir kalo nggak kepake."
Alex mulai mencumbu lagi pada area sensitif Resty. Pria itu sangat tahu titik kelemahan Resty, sehingga berhasil membuat istrinya mendesah tertahan saat itu juga.
"Aku nggak nyaman, Yang. Sebentar lagi masuk kelas. Masa iya aku mandi lagi?" Meski enggan tetapi gerak tubuhnya menandakan jika mulai menikmati kecupan mesra yang dilakukan suaminya.
"Aku percepat deh. Beneran nggak lama. Nggak nahan banget nih, Yang. Dibiarin lagi kepalaku tambah nyut-nyutan."
Alex membungkam mulut Resty dengan ciumannya lagi. Bahkan kali ini tubuh istrinya itu sudah ambruk di kasur, masih dalam kungkungan suaminya yang semakin brutal.
Pria itu benar-benar berhasil menguasai tubuh Resty lagi. Memainkannya dengan durasi lebih cepat dari biasanya, tetapi tetap terasa begitu nikmat bagi keduanya.
Alex melengkungkan senyumnya diatas tubuh lemah istrinya yang penuh dengan keringat, saat cairan unggulnya itu menyembur sempurna pada ladang surgawinya. Rasanya begitu candu hingga menginginkannya lagi dan lagi. Tetapi terhalang oleh waktu yang mengharuskannya kuliah siang ini.
"Diem dulu sebentar. Aku masih mau peluk," ucap Alex saat Resty akan beranjak dari kasurnya.
"Waktunya udah mepet loh, Yang." Resty melepas tangan Alex yang melingkar erat di pinggangnya.
Saat wanita itu duduk, Alex pun akhirnya ikut duduk meski sebenarnya sangat malas.
__ADS_1
"Mandi bareng yuk, Yang?" ajak Alex seketika. Tetapi bukan solusi yang baik untuk Resty walau nyatanya waktunya sudah mepet dengan jadwal masuk kelas.
"Kamu duluan sana yang mandi. Aku harus beresin ini dulu," tolak Resty menunjuk ruang kamarnya yang cukup berantakan akibat aksi berbagi peluh barusan.
Demi keamanan diri dari suami mesum seperti Alex, tentunya wanita itu harus lebih pandai mengambil alasan logis untuk menghindarinya. Sudah sering terkena modus yang berujung ninuninu dari suaminya itu, sudah cukup juga bagi Resty untuk selalu waspada diri.
Tetapi Alex langsung sigap. Ia turun dari kasurnya, lalu dengan cepat memunguti pakaiannya yang teronggok di lantai. Meletakkannya pada tempat pakaian kotor yang ada di kamar mandi. Kembali lagi ke kasur untuk membantu Resty merapikan spreinya yang acakadul.
"Dah, beres kan?" ucapnya sumringah.
Resty hanya menyimpulkan senyum tipisnya. Suaminya itu memang selalu sigap membantu dalam hal pekerjaan rumah. Tanpa aba-aba kemudian Alex mengangkat tubuh Resty dalam gendongannya. Membuat wanita itu langsung menjerit kaget, tetapi Alex tidak menghiraukannya.
Pria itu menurunkan tubuh Resty saat mereka sudah sama-sama berada dalam kamar mandi.
"Mandi bareng itu bisa irit waktu loh, Yang," ucap Alex. Lalu mulai menyirami tubuh Resty dengan air hangat, takut istrinya itu akan masuk angin lagi karena belum sehari saja sudah mandi tiga kali.
Resty memilih diam menikmati saat suaminya itu dengan sengaja membantu membilas rambutnya. Pijitan lembutnya pada kepala Resty terasa menenangkan. Membuat wanita itu merasa tambah segar dari tubuh yang sebelumnya ambruk karena kurang fit semalam.
"Nggak usah. Yang penting kamu yang nyaman. Udah sedikit enteng nggak?"
Resty mengangguk. Tetapi wajahnya sedikit cemberut karena mendapatkan penolakan langsung dari suaminya.
"Kamu cukup layani aku di ranjang saja," bisik Alex, sambil sengaja menggigit kecil daun telinga Resty dengan nakal.
"Iiish, itu sih emang kamunya yang doyan." Resty mengusap telinganya yang mulai merinding geli.
Lalu wanita itu segera membilas tubuhnya dengan bersih. Begitu selesai segera meninggalkan suaminya begitu saja. Tinggal lah Alex seorang diri yang masih belum selesai membersihkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka selesai mengenakan pakaiannya dengan cepat, lekas mereka berdua masuk ke mobil untuk segera pergi ke kampus. Beruntungnya keadaan di jalan cukup senggang, sehingga memudahkan mereka segera sampai di kampus dengan lancar.
__ADS_1
Saat mobil itu sudah terparkir rapi ditempat khusus parkir mahasiswa, dering ponsel milik Alex berbunyi.
"Aku sudah sharelock," ucap Cello saat Alex mengangkat panggilan darinya.
Pria itu sebenarnya sudah mengirim pesan kepada Alex dimana Donita akan mengadakan konperensi pers saat ini. Berhubung tidak ada tanda-tanda terbaca oleh Alex, maka Cello akhirnya menghubunginya.
"Oke. Makasih, Cel," jawab Alex yang kemudian langsung mengakhiri obrolannya beralih membuka pesan singkat yang dikirim Cello padanya.
Setelah tahu dimana mantan pacarnya itu akan membuat pengakuan siapa ayah dari jabang bayi yang dikandungnya itu, Alex segera menyalakan mobilnya lagi. Memutar arah keluar kampus, sampai-sampai tidak menghiraukan pertanyaan Resty yang terheran-heran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Ini mau kemana sih?" Resty masih terus bertanya saat Alex melajukan mobilnya di jalanan sedikit lebih cepat.
"Nanti tahu sendiri. Ini penting, Yang. Jadi kamu diem aja, biar aku fokus nyetirnya," ucap Alex memberi perintah agar Resty tak lagi bertanya-tanya.
Sejujurnya Alex sendiri tidak peduli lagi bagaimana Donita. Tetapi karena dirinya pernah dilibatkan kasus dengan mengaku-ngaku hamil dengannya, maka Alex pun sebenarnya hanya penasaran saja siapa yang sesungguhnya ayah dari janin Donita itu.
Mobil itu berhenti tepat pada sebuah restoran ternama yang dipesan Donita untuk mengadakan jumpa pers hari ini. Donita yang memang berkarier sebagai model itu sudah barang tentu akan banyak wartawan yang datang untuk meliputnya.
Resty ikut turun dari mobil saat suaminya itu memerintahnya turun. Wanita itu hanya bisa mengekor kemana suaminya menuntun walau dalam hati sudah teramat penasaran. Beruntungnya saat mereka tiba acara itu baru saja dimulai. Segera Alex mencari tempat duduk yang aman dari pandangan mata Donita.
"Kamu kesini--" Resty yang sudah paham dengan maksud tujuan Alex ke sini langsung menatap tak percaya padanya. Sudah tahu punya istri, ngapain masih ngepoin urusan mantan menurutnya.
Alex langsung menggenggam tangan Resty, mencoba meyakinkannya untuk tidak terbawa emosi.
"Ini nggak seperti yang kamu maksud. Sekarang kita dengarkan saja. Apa kamu nggak penasaran siapa bapak anak yang dikandungnya?"
Resty menghela nafas kesalnya. Untuk hal ini ia juga sangat penasaran. Jika dulu Alex dan papanya tidak berhasil dijebak oleh Donita, kali ini lelaki mana lagi yang akan dijebaknya.
Penasaran nggak?
__ADS_1
Tunggu part berikutnya😉