Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 84


__ADS_3

Pagi sekali Tommy sudah tiba di rumah eyang Asih. Membuat suasana menjadi tegang bagi Resty dan Alex. Bahkan pria itu datang sebelum sarapan pagi dimulai, dan memilih mengintrogasi ulang ulah anaknya itu yang ia dengar kabar tentang semalam itu dari eyang Asih.


Sebenarnya meski tidak terjadi kejadian semalam, Tommy memang merencanakan akan berkunjung ke rumah eyang Asih. Akan tetapi setelah mendengar kabar memalukan itu, Tommy langsung berangkat malam itu juga.


Alex dan Resty masih belum beranjak dari tempat mereka duduk. Wajah keduanya sama-sama tertunduk takut bercampur malu mendapati tatapan tajam dari Tommy. Hingga tiba saatnya sarapan pagi, semuanya masih betah saling bungkam. Menikmati sarapan paginya dengan sedikit rasa tak minat.


Saat sarapan telah usai, semua kembali ke aktifitasnya masing-masing. Resty yang sedang dapat hukuman dari Tommy, terpaksa menurut tidak keluar kamar kecuali bila perlu mengambil sesuatu ke dapur. Sedangkan Alex kembali bekerja seperti biasa. Menjaga di pos jaga, dan pak Saleh mendapat keringanan libur kerja selama Alex menjalani masa hukumannya seminggu ini.


Eyang Asih dan Tommy terlibat perbincangan serius. Entah apa yang mereka bahas. Alex hanya bisa melihat dari jauh dengan rasa yang sudah campur aduk. Perasaan akan terhalang restu dari papa sang kekasih lebih mendominasi benaknya saat ini.


Hingga siang telah menyapa, tetiba sebuah mobil yang tak asing bagi Alex masuk ke halaman rumah itu. Alex segera berlari kecil menghampiri siapa tamu yang datang. Tetapi seketika ia dibuat tertegun saat tahu bahwa yang datang adalah kedua orang tuanya.


Netranya seketika mengembun. Merasa terharu mendapati kedatangan papa mamanya kesini yang diluar dugaannya sama sekali. Pria itu melangkah lebih dekat, bermaksud ingin memeluk erat orang-orang terkasihnya itu.


"Aduh.... Aduh..."


Alex mengaduh kesakitan saat tiba-tiba mamanya menarik daun telinganya dengan gemas.


"Nakal kamu ya? Hem!"


"Mau sampe kapan bikin ulah terus?"


"Mama malu, Lex!"


Mama Alex terus menjewer telinga Alex semakin keras. Sungguh ia tak menghiraukan lagi rintihan Alex yang memohon ampun.


"Sudah, berhenti Sil. Kamu begitukan Alex kayak anak kecil saja." Kenzo menarik lengan Sisil agar menghentikannya. Melihat kuping Alex yang sudah memerah, membuat Kenzo ikut meringis bagaimana panasnya telinga Alex sekarang.

__ADS_1


Dan Sisil pun menghentikannya. Tetapi sorot matanya menandakan ia masih tak puas ingin menghukum lebih kepada anak semata wayangnya itu.


Alex berhenti mengaduh. Tangannya mengusap-usap telinganya yang terasa panas dan berdenyut. Sungguh tiada lagi sosok mamanya yang selalu lembut dan memanjakannya. Berganti menjadi mama garang yang siap menerkam anaknya sendiri.


"Ehem."


Dehaman keras eyang Asih mencuri atensi mereka.


Kenzo dan Sisil sama-sama mengangguk sungkan sambil tersenyum ramah kepada wanita tua yang mereka yakini adalah majikan Alex.


Eyang Asih berjalan mendekati mereka. Sisil dan Kenzo pun sama-sama beranjak mendekat kepada eyang Asih, tidak dengan Alex yang masih diam ditempat.


"Maaf, Ibu. Perkenalkan kami orangtuanya Alex." Kenzo bersalaman dengan eyang Asih, begitu pun Sisil.


Sejenak mereka sama-sama melempar senyum ramah, sebelum akhirnya eyang Asih mempersilahkan mereka masuk dan kemudian duduk diruang tamu rumah itu.


Sedangkan Tommy sengaja masuk untuk bersembunyi sejenak. Sebelumnya eyang Asih dan Tommy sudah bersepakat untuk kebaikan Resty dan Alex. Tommy tidak keberatan saat eyang Asih menyarankan untuk segera menikahkan Resty dengan Alex. Meski sudah tahu Alex adalah anak dari masalalunya, tetapi Tommy tak mau egois lagi. Rasa bahagia dan dapat hidup bersama dengan orang yang dicintai, membuat Tommy tak tega jika harus menentang percintaan mereka hanya karena sebuah masalalu.


"Sebelumnya kami mohon maaf karena selama Alex berada disini mungkin banyak bikin ulah." Kenzo mengawali pembicaraannya kepada eyang Asih.


"Alex memang bandel, Bu. Di kampusnya dia memang dikenal sering bikin ulah. Tetapi saat mendengar kabar kalau Alex akan dipaksa menikah, terus terang kami shocked. Sejauh ini yang kami tahu Alex tidak pernah mempermainkan perempuan. Bahkan selama ini dia tidak pernah bawa main perempuan ke rumah kecuali hanya satu orang perempuan tidak lama ini." jelas Sisil, mencurahkan rasa kagetnya lewat berusaha memberi kesan baik tentang anaknya, apalagi masalah perempuan.


Sejenak eyang Asih berkerut kening, saat mendengar tentang hanya satu orang perempuan yang Alex perkenalkan kepada kedua orang tuanya. Jika itu benar, berarti bisa jadi Alex hanya main-main dengan Resty. Dan kemungkinan Resty hanya menjadi bahan pelarian selagi pria itu berada disini.


"Ibu, tolong ceritakan bagaimana ceritanya sehingga anak kami kabarnya harus dipaksa menikah." pinta Kenzo, setelah sedari tadi ia memperhatikan tidak ada melihat Saleh di rumah itu.


"Dipaksa menikah?" batin eyang Asih mulai curiga. Mungkinkah disini ada kesalahpahaman sehingga muncul istilah dipaksa menikah?

__ADS_1


Sebelumnya Kenzo sendiri sudah menanyai kepada Saleh masalah pesan singkat itu. Tetapi memang dasar Saleh yang terpaksa berbohong, maka pria itu pun menyarankan lebih baik membicarakan hal itu dengan eyang Asih saja.


"Jadi begini..."


Lalu kemudian eyang Asih menceritakan semuanya. Tidak kurang, pun tidak ditambah. Dan yang membuat Kenzo dan Sisil sama-sama tercengang saat mendengar langsung kalau ternyata perempuan yang didekati Alex disini adalah cucu eyang Asih sendiri.


Sesaat Kenzo dan Sisil saling bertatapan, mulai bingung harus mengambil keputusan apa untuk kebaikan bersama. Walau kasus semalam bukan tentang kasus kepergok ONS, tetapi dari cerita itu jelas yang sedikit dirugikan adalah pihak perempuan. Apalagi perempuan itu adalah dari keluarga yang cukup disegani di kampung ini. Yang secara tidak langsung akan mencoreng citra keluarga eyang Asih andai kasus semalam itu tersebar ke seluruh kampung.


"Jadi bagaimana?" Eyang Asih bertanya, saat hanya melihat kedua orang tua Alex terdiam.


"Tapi tidak sampai terjadi tidur bareng kan, Bu? Mereka hanya kebarengan apes kepergok warga. Jadi saya rasa tidak harus ada istilah harus menikahkan mereka." Sisil yang sudah tahu jalan ceritanya mencoba menentang rencana pernikahan seperti yang dikatakan Saleh lewat pesan singkatnya.


"Memang tidak tidur bareng. Tapi sudah berani menggigit leher cucu saya." Meski malu eyang Asih terpaksa menceritakan itu demi menghindari kata perpisahan antara Resty dan Alex, setelah mencium gelagat sulit restu dari mamanya Alex.


"Hah? Benar begitu, Bu?" Kenzo dan Sisil sama-sama kaget. Sama sekali ia tidak menyangka kalau Alex akan berbuat yang memicu perzinahan.


Eyang Asih mengangguk meyakinkan.


"Saya tidak ada menuntut Alex untuk segera menikahi cucu saya. Saya hanya pernah bilang bawa orangtua kesini, kalau dia serius dengan cucu saya." eyang Asih memberi pembelaan. Sebagai pihak perempuan tentu sangat malu jika didengar telah mendesak meminta dinikahi kepada lelaki, padahal tidak terjadi apa-apa yang harus disegerakan.


"Tapi pak Saleh bilang--"


Saat Sisil akan bicara lagi, Kenzo langsung menahannya. Pria itu kemudian menunjukkan bukti pesan yang dikirim Saleh kepada eyang Asih, agar tidak saling salah paham yang berkepanjangan.


Seketika bola mata wanita tua itu melotot tajam saat membaca pesan Saleh itu. Ia tidak menyangka saja kalau Saleh akan bertindak seperti itu, saat kemarin ia meminta Saleh untuk menghubungi kedua orang tua Alex.


"Kalau begitu ijinkan kami bertemu dengan cucu Ibu," pinta Kenzo.

__ADS_1


"Baik."


*


__ADS_2