Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 104


__ADS_3

Setelah melewati perdebatan sengit antara Ika dan Donita yang memperebutkan Tommy, rupanya tak cukup sampai disitu. Mereka sama-sama menantang untuk berhadapan dengan Tommy langsung. Yang akhirnya Ika dan Donita pergi menemui pria itu ke kantornya saat itu juga.


Sedangkan Resty dan Alex yang sedari tadi menjadi penonton perdebatan mereka, bahkan terkadang menjadi penengah bila keduanya mulai terpancing emosi akan saling mencakar, hanya bisa menatap heran kepada dua wanita yang memperebutkan Tommy didepannya.


Hingga ketika Ika dan Donita bertolak ke kantor Tommy, Resty dan Alex juga ikut mereka. Lebih tepatnya saat ini mereka berangkat bersama menaiki mobil Donita, dan Alex yang bertugas menjadi sopirnya.


Dan motor milik Alex terpaksa ditinggal di parkiran kampus. Bubar sudah rencana calon pengantin itu untuk keluar seperti yang dibilang Alex. Karena mereka tidak bisa membiarkan saja dua wanita itu saling beradu mulut hanya karena seorang duda matang namun rupawan seperti Tommy.


Saat sudah tiba didepan kantor Tommy, Ika langsung turun lebih awal, disusul kemudian Donita. Langkah kaki mereka mengayun lebih cepat, sama-sama sok tahu dimana ruang Tommy bekerja. Resty dan Alex tetap mengekor, sembari terkekeh geli melihat aksi keduanya yang diluar dugaan sama sekali.


"Sayang, menurut kamu kira-kira papa Tommy pilih yang mana ya?" Alex bertanya sambil sedikit berbisik, saat mereka sudah berada didalam lift.


"Pasti pilih Ika lah." Resty menjawab yakin.


"Emang kamu mau kalau Ika jadi mama kamu?"


"Kenapa nggak? Aku sudah kenal Ika seperti apa, jadi nggak ada alasan buat aku nggak mau. Sebenarnya aku pernah mau jodohin papa sama Ika, cuma--"


"Pasti nggak mau. Iya kan?" Alex langsung menyela.


Dalam hati pria itu berharap semoga saja Tommy akan mengusir dua wanita rempong itu setelah ini. Karena sebenarnya dari keduanya Alex tak setuju jika salah satu dari mereka harus menjadi mama mertuanya.


"Bukan nggak mau, tapi akunya aja yang nggak gencar nyomblanginnya." sahut Resty.


Jujur Alex sedikit kaget saat mendengar Resty merekomendasikan Ika untuk menjadi ibu sambungnya. Demi apa coba? Apalagi dilihat dari segi umur, jelas terpaut puluhan tahun. Bahkan masih lebih pantas menjadi anaknya dari pada menjadi seorang istri.


Tentang Donita sendiri Alex sangat tak percaya, meski saat perdebatan tadi wanita itu ngotot mengaku jika Tommy adalah ayah dari janinnya itu. Ia sama sekali tidak yakin jika papa mertuanya itu akan seperti itu.


Pintu lift sudah terbuka. Mereka sudah tiba dilantai teratas, tetapi masih belum sampai diruangan Tommy.


Donita dan Ika sama-sama terdiam ditempat. Karena sebenarnya mereka berdua itu tidak ada yang tahu dimana ruang kerja Tommy berada. Dari sini Resty semakin yakin jika Donita hanya asal membual, karena jika memang ia sedekat itu dengan papanya, tentu pasti tahu dimana ruang kerja Tommy. Untuk Ika, Resty bisa maklum. Sebab memang gadis itu baru pertama ini datang berkunjung ke kantor Tommy setahunya.


"Kenapa pada berhenti? Kalau memang salah satu dari kalian dekat dengan om Tommy, pasti tahu dong dimana ruangannya?" Seloroh Alex.

__ADS_1


Ika melirik kecil pada Resty. Seakan sudah paham jika sahabatnya itu membutuhkan bantuannya, dengan lirikan mata Resty mengode dimana ruang kerja papanya.


Gadis itu langsung paham, makanya dengan yakin Ika melangkah cepat menuju sebuah ruangan yang ia yakini adalah ruang kerja Tommy.


Mereka bertiga turut mengekor kemana Ika pergi. Sedangkan Donita mendadak menjadi ragu sendiri. Takut aibnya itu semakin tercemar dan bertambah malu nanti, jika Tommy menyangkal dari foto yang sebenarnya sudah disiapkan oleh Donita sebelumnya.


"Mbak, mas Tommy ada?" Ika langsung bertanya pada sekretaris yang berada diluar ruang kerja Tommy.


Resty cukup terhenyak saat mendengar Ika memanggil kata mas pada papanya. Apakah sahabatnya itu juga ikutan kehilangan malu seperti Donita, sehingga seenak mulut bilang mas Tommy pada sekretaris papanya itu.


"Ada, Mbak. Tapi sebelumnya apa sudah ada janji?" tanya sekretaris itu sangat ramah.


Saat masih berbincang itu Donita mengambil kesempatan untuk langsung masuk ke ruangan Tommy. Alhasil akhirnya semua ikut masuk ke ruangan itu secara rombongan.


"Sayang," Donita langsung berhambur mendekat kepada Tommy yang kebetulan sedang berdiri menatap luar jendela, sembari membaca berkas penting ditangannya.


Tommy menoleh. Tentu ia sangat kaget saat tahu ruangannya mendadak ramai. Apalagi juga ada Resty dan Alex.


"Ada apa ini?" tanyanya heran.


Kemudian sekretaris itu keluar dari ruangan itu, setelah Tommy menyuruhnya pergi saja. Seketika pria itu menatap penuh tanya kepada Resty, tetapi gadis itu hanya mengangkat kedua bahu pertanda entah.


"Sayang," Donita lebih mendekat kepada Tommy. Sampai tiada sungkan langsung memeluk manja pada Tommy.


Tommy reflek melepas rengkuhan tangan Donita dipinggangnya. "Ada apa ini?" tanyanya penasaran.


"Masa mereka nggak percaya kalau kita itu saling dekat. Bahkan sudah lebih dari sekedar kata dekat biasa," seru Donita, memaksimalkan dramanya sendiri.


"Kamu bicara apa sih?" Tommy langsung menatap horor pada Donita.


Pria itu sedikit ingat dengan raut wanita itu, tetapi lupa pernah bertemu dimana.


"Tuh, ketahuan bohongnya kan? Nggak di aku kan? Kapok!" Ika ikut menimpali.

__ADS_1


Gadis itu sedari tadi terdiam bukan tanpa sebab. Sejujurnya ia teramat malu untuk mengaku-ngaku seperti tadi didepan Tommy. Karena ia sangat sadar jika memang tidak ada hubungan apa-apa antara keduanya, selain rasa suka terpendam yang dimiliki Ika kepada Tommy.


"Baiklah. Kalau kalian butuh bukti kalau kita memang saling dekat, aku ada buktinya buat kalian," ujar Donita, sambil memainkan hapenya sibuk sendiri mencari bukti itu di ponselnya.


"Ini ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kalian datang ramai-ramai, trus ngomong hal-hal aneh di sini." Tommy menyorot tajam pada satu persatu manusia yang ada diruangannya itu.


"Ada apa ini, Res?" tanyanya lagi, karena tak satu pun dari mereka mau menjelaskan.


"Begini, Pa.."


Seketika Alex menyentuh pundak Resty, agar dirinya saja yang akan menjelaskan tujuan kedatangan yang tak sopan ini.


Resty langsung mengerti, makanya seketika ia bungkam. Membiarkan Alex saja yang menjelaskan yang sebenarnya.


"Dia." Telunjuk Alex langsung mengarah kepada Donita.


Semua mata beralih menatap horor kepada Donita.


"Wanita itu mengaku sedang mengandung anak Om," jelas Alex, yang seketika membuat reaksi Tommy ikut ternganga.


"Mengandung? Dari mana bisa? Aku sama dia saja tidak saling kenal?" Tommy mengelak sesuai kenyataan.


"Tuh kan?" Ika menyorak senang.


Jelas kesabaran Donita mulai menghilang lagi. Pria yang diharapkannya itu rupanya tidak mudah goyah terganggu dalam rayuan. Bahkan mengaku tidak saling kenal, padahal sudah pernah bertemu beberapa waktu kemarin.


Tak mau berbuntut dengan lama, Donita terpaksa menunjukkan foto dirinya dengan Tommy disebuah restoran.


"Ini buktinya. Kita tuh sering kesini. Apa masih nggak percaya?" Donita menunjukkannya dengan jumawa.


Semua yang ada diruangan itu mendadak berkerut kening, sama-sama merasa heran dari mana wanita itu mendapatkan foto itu. Semakin dicermati foto itu seperti asli tanpa editan. Jangan-jangan?


Hayoloh... Jangan-jangan apa ya?

__ADS_1


Bantu jawab dikolom komentar yuk Readersku...


*


__ADS_2