
Keesokan paginya keadaan di rumah Alex mendadak kacau. Setelah tiba waktunya sarapan bersama tiba-tiba Alex sudah tidak ada di kamarnya. Entah kemana perginya tiada yang tahu. Apalagi saat dihubungi rupanya ponsel pria itu ada di kamarnya. Entah itu disengaja atau memang lupa dibawa, hanya Alex yang tahu.
Sisil dan Kenzo mendadak resah dengan anaknya itu. Ia tak habis pikir anak lelakinya akan kabur dari rumah hanya karena kesalahpahaman yang belum sempat mereka jelaskan. Berulangkali Kenzo dan Sisil mencoba menghubungi beberapa temannya juga, tetapi jawabannya tidak ada yang tahu keberadaannya.
Sisil juga mencoba menghubungi Resty lewat ponsel milik Alex, tetapi tidak satu pun panggilannya itu dijawab olehnya. Membuat pikiran mereka bertambah kacau. Berpikir mereka sama-sama melarikan diri dari rumah.
"Apakah mereka nekat kawin lari, Ken?" Sisil yang sudah buntu berpikir, mendadak keluar sangkaan seperti itu.
Kenzo berpikir sejenak. Lalu kemudian ia menggeleng ragu. Masih tidak yakin jika anaknya akan senekat itu.
Sedangkan pagi hari di rumah Resty, keadaan dibuat kaget setelah tiba-tiba Alex datang ke sana. Tommy yang kebetulan membukakan pintu saat ketukan pintu itu berbunyi, tentu tak menduga jika Alex akan berkunjung sepagi ini. Meski sedikit mencurigakan tetapi Tommy bisa paham dengan wajah kusut Alex, jika pria itu sedang ada yang dipikirkan.
Alex memang nekat datang setelah semalam Resty memberitahunya jika ia dan papanya juga ikut pulang ke rumah. Sayangnya ia lupa mengabari Resty dulu jika ia akan datang ke rumahnya pagi ini, karena ia baru ingat jika ponselnya tertinggal di kamarnya.
"Selamat pagi, Om," sapa Alex, sembari meraih tangan Tommy untuk menyaliminya takdzim.
"Maaf, pagi-pagi sudah datang." Alex berkata sambil menundukkan wajahnya sungkan.
"Hem," Tommy hanya bergumam.
"Aku boleh bertemu Resty, Om?"
Tommy hanya mengangguk singkat. "Masuk lah.."
Kemudian Alex masuk ke rumah itu dan duduk menunggu Resty di ruang tamu. Tak lama kemudian Resty muncul menemuinya, tetapi gadis itu lantas mengajak Alex untuk masuk ke ruang tengah agar sarapan pagi bersama. Awalnya Alex menolak sungkan, tetapi karena Resty memaksanya maka pria itu pun akhirnya mau.
Di ruang makan itu rupanya Tommy sudah siap menunggu untuk sarapan bersama. Pria itu seakan membuka pintu lebar-lebar dengan kehadiran Alex ke rumahnya. Sama sekali tak menyangkut pautkan dengan masalah yang terjadi semalam dengan mereka.
"Duduk, Lex. Mari kita sarapan dulu," ajaknya dengan ramah.
Alex hanya mengangguk patuh. Kemudian ia pun duduk tepat disebelah Resty duduk. Gadis itu segera mengisi piring papanya dengan nasi dan juga lauk yang ada di meja makan itu. Bergantian ia pun mengisi piring milik Alex, sembari menawarkan menu apa yang akan ia makan.
Pria itu kentara sangat ragu untuk menyantap sarapannya, meski sebenarnya perutnya sedang merintih minta diisi. Semalam saat ia pergi dari rumah hingga pagi ini, Alex tidak memakan apa-apa. Pikirannya yang terlalu kalut membuat pria itu mendadak kenyang. Dan saat sudah duduk didepan suguhan sarapan yang menggugah seleranya, sebenarnya ia sangat ingin memakannya tanpa sisa. Meski begitu tentu ia harus bisa menahannya didepan calon mertua.
__ADS_1
Calon mertua? Mengingat kalimat itu mendadak pikiran Alex jadi galau lagi. Sendok garpu yang semula sudah di tangan, ia letakkan lagi di piringnya.
"Kenapa?" Resty yang sangat tahu jika kekasihnya itu sedang banyak pikiran, menyentuh tangannya dan mengusapnya lembut.
Alex bergeming. Lirikan matanya begitu kentara jika pria itu sangat butuh tempat memuntahkan segala uneg-unegnya itu.
"Dienak-enakkan saja, Lex. Sekalipun lagi banyak pikiran, bukannya juga butuh tenaga?" ucap Tommy sekenanya tetapi tepat dugaan.
Alex hanya tersenyum kikuk, meski awalnya sedikit kaget saat Tommy berkata begitu. Tiba-tiba Alex teringat kembali akan perdebatan mamanya semalam. Pria itu pun tanpa sengaja menatap Tommy dengan sangat intens.
"Apa benar om Tommy dulu adalah pacar mama?" Alex membatin sendiri.
Sekilas ia melirik lagi kepada Resty. "Apakah nasib percintaanku akan kandas begitu saja?"
Mendadak tatapannya menjadi sendu kepada Resty. Akan tetapi kekasihnya itu seakan begitu paham dengan kondisi hatinya saat ini. Gadis itu terlihat lebih tenang dari pada yang dirasa Alex sekarang.
"Dimakan dulu, setelah ini ayo kita keluar." bisik Resty kepada Alex.
Tak lama setelah mereka selesai sarapan bersama, mereka kembali duduk santai di ruang keluarga. Hari ini Tommy memang sengaja berangkat ke kantor agak siang, makanya pria itu juga terlihat santai turut menemani mereka di ruang itu.
"Om, aku ijin mau bawa Resty keluar." ucap Alex, sesuai dengan tujuan utama kedatangannya ke rumah ini.
"Boleh. Tapi mau keluar kemana?" selidik Tommy.
Sebenarnya Tommy tidak begitu peduli mereka akan keluar kemana, selama itu masih didalam kota. Tetapi karena keadaan hati Alex yang sedang kalut, tentu Tommy jadi was was karenanya. Bayangan Resty akan dibawa kabur oleh pria itu mendadak menghantui pikirannya.
"Hanya sekitaran kota saja, Om." balas Alex. Perkara nanti akan sampai kemana itu apa kata nanti. Yang terpenting saat ini Alex ingin keluar bersama kekasihnya untuk membicarakan hubungan mereka ke depannya.
"Benar?" Tommy menatapnya lebih dalam.
Alex mengangguk ragu.
Tommy menghela nafas panjangnya. Pria itu pun akhirnya mengijinkan Alex membawa Resty.
__ADS_1
Sambil menunggu Resty bersiap diri, Tommy masih menemani Alex di ruang itu. Semakin ditatap, semakin Tommy merasa kasihan kepada Alex. Seakan ia juga merasakan apa yang sedang dirasa oleh pria itu.
"Om, aku sudah tahu kenapa mama berubah semalam." tutur Alex, berusaha tetap tenang.
Tommy semakin menatapnya lekat. Sama sekali ia tidak menunjukkan raut kaget, sebab sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri jika hal ini akan terbongkar kepada Alex maupun Resty.
"Tetapi aku tidak peduli masalalu mama dengan Om. Aku juga tidak akan menceritakan hal ini kepada Resty. Tolong tetap restui kami, Om. Apapun nanti, aku tetap akan bersama Resty, walau tanpa restu dari mama." ucapnya dengan mantap.
Tommy menyunggingkan senyum tipisnya. Rupanya kekasih anaknya itu tergolong pemuda nekat dalam urusan percintaan. Tommy yang memang menginginkan kebahagiaan kepada anaknya, hanya bisa mengangguk merestui hubungan keduanya. Sembari berdoa semoga saja pilihan anaknya itu adalah memang yang terbaik untuknya.
Tak lama setelah itu Resty menghampiri mereka. Gadis itu sudah siap keluar lengkap dengan jaket milik Alex yang dipakainya.
"Pa, aku keluar ya.."
Resty mencium tangan papanya, saat Tommy menganggukkan kepala. Bergantian Alex juga mencium tangannya dengan takdzim.
"Titip Resty, Lex." ucap Tommy.
"Iya, Om." sahutnya sopan.
"Kamu bawa anakku utuh, pulangnya juga harus utuh." pesannya, yang membuat Alex mengangguk lagi.
"Kamu paham maksudku kan, Lex?" tanya Tommy lagi.
Alex mengerutkan keningnya. Apalagi yang tidak ia paham, selain harus mengembalikan Resty dengan selamat nanti.
"Aah, sepertinya kamu memang harus om katakan langsung." Tommy berkata ambigu lagi.
"Tolong jangan ada draculla lagi. Paham?" Pria itu berkata penuh penekanan.
Mendadak Alex tertunduk kikuk sambil mengusap tengkuknya sendiri.
*
__ADS_1