Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 69


__ADS_3

"Sebenarnya aku sama kak Ziyyan sudah--"


Resty masih menjeda bicaranya. Ia terlalu takut untuk berterus terang alasan sebenarnya perjodohan itu batal. Sebab jika nanti papanya akan bertanya siapa yang sedang disukai Resty saat ini, gadis itu masih tak siap untuk mengakuinya.


Tommy sengaja menunggu bicaranya Resty, meski ia sangat tahu anaknya itu mungkin sedang memikirkan bagaimana cara menyampaikannya.


"Maafin aku, Pa." ucap Resty pada akhirnya.


Tommy sengaja diam.


"Aku-- Aku nggak bisa sama kak Ziyyan." ujarnya sangat hati-hati.


"Karena?" Tommy bertanya singkat.


"Itu karena--"


"Karena kamu sudah suka sama lelaki lain, iya kan?"


"Aah, tidak Pa! Bukan itu alasannya."


"Kamu sudah janji mau jujur loh sama papa."


"Duh, aku harus alasan apa nih?" batin Resty mulai panik sendiri. Beruntungnya saat ini mereka tidak sedang berbicara berhadapan, karena Tommy bisa tahu kalau saat ini Resty sedang kebingungan sendiri.


"Ee-- Papa lagi nyantai? Apa nggak ada meeting atau apa gitu?" Akhirnya Resty sengaja mengalihkannya dengan menanyakan kesibukan papanya di kantor.


"Kamu lupa kalau papa bisa santai sesuka papa?"


"Eh, iya pak Bos." Resty mulai nyengir yang dibuat-buat.


Tommy paham jika Resty masih belum mau jujur mengenai lelaki yang disukainya itu. Atau bisa jadi Resty memang sudah tidak suka dengan lelaki itu. Tetapi meski begitu rasanya sudah percuma, karena tadi pagi Zayn sedikit curhat kepada Tommy kalau Ziyyan meminta restu ingin menikah secepatnya dengan gadis muda yang masih belum lulus sekolah.


"Ya sudah, Res. Papa tutup dulu ya? Kita ngobrol lagi nanti malam. Oke, Sayang?"


Tommy terpaksa mengakhiri dulu karena sang asisten mengingatkan bahwa hari ini ia harus bertemu klien penting saat ini juga.


"Baik, Pa." Resty langsung menyambut lega.

__ADS_1


Selesai mereka bertelponan Resty masuk lagi ke rumah itu. Keadaan rumah itu masih sangat sepi, hanya dia seorang yang terjaga setelah dua pekerja di rumah ini sama-sama kurang enak badan. Sedangkan eyang Asih sendiri sampai saat ini masih belum kembali dari kebun yang ia kunjungi bersama pak Saleh.


Merasa haus lagi, Resty melangkah ke arah dapur untuk mengambil air minum. Tetapi samar-samar ia mendengar kegaduhan dari dalam kamar Alex saat gadis itu melintas didepannya.


"Alex marah sama siapa?" gumamnya penasaran.


Karena kepo ia pun sengaja menempelkan telinganya di pintu kamar Alex. Setelah didengar dengan seksama, rupanya ada suara perempuan didalam kamar itu juga.


Resty sedikit terhenyak. Merasa masih ragu, ia pun mengulangi mencuri pendengaran yang makin kesini makin jelas jika perempuan itu seperti suara Ayu.


Dari pada hanya menerka saja, Resty pun membuka pintu kamar Alex dan mendorongnya sedikit kasar. Ternyata apa yang dicurigainya benar, rupanya ada Ayu juga di kamar itu.


"Ayu! Ngapain kamu disini?" tanyanya sedikit kasar. Sorot matanya meneliti adanya sebuah handuk kecil basah ditangan Ayu, bisa jadi gadis itu berniat ingin mengompres Alex.


Ayu hanya terdiam. Bagai seseorang kepergok lagi mesum, begitulah kira-kira ekspresi Ayu saat ini.


"Keluar, Yu!" hardik Alex. Pria itu terlihat menahan marah dengan kelakuan Ayu yang menurutnya sudah diluar batas.


Ayu berdiri. Wajahnya terus tertunduk walau sudah keluar dari kamar itu.


Resty menyorot kemana perginya Ayu dengan nanar. Ia tidak menyangka gadis itu akan nekat dengan diam-diam masuk ke kamar Alex. Ssdangkan pria itu kini sedang merapikan kaosnya yang dipakai.


Resty hanya mendengus kesal. Ia tak tahu harus marah atau bagaimana. Yang ia tahu sudut hati kecilnya saat ini seperti tercubit karena kejadian ini.


"Kamu sudah mendingan?" tanya Resty kemudian. Mencoba biasa saja dengan kondisi hati yang entah.


"Hem," Alex mengangguk kecil.


"Hanya masih sedikit pusing saja. Terimakasih ya tadi sudah mau merawatku." lanjutnya.


Resty hanya menanggapinya dengan anggukan kepala juga. Setelah itu gadis itu berniat ingin keluar juga dari kamar Alex, tetapi pria itu mencegahnya dengan pernyataannya yang ingin berbicara serius dengan Resty.


Resty bisa menebak apa yang mungkin akan dibicarakan Alex itu. Makanya gadis itu mengiyakan saja, teringat akan masalah Alex yang sebenarnya yang kemungkinan pria itu butuh tempat untuk meringankan segala keluh kesahnya lewat bercerita.


Alex pun ikut mengekor kemana Resty pergi. Tetapi sebelum mereka sampai ditempat yang ingin dituju, mereka kembali berpapasan dengan Ayu.


"Ayu," sapa Resty.

__ADS_1


Ayu menoleh dan langsung tertunduk lagi. Kepergok sedang berdua di kamar Alex membuat Ayu seperti orang kehilangan muka didepan cucu majikannya itu.


"Aku minta yang tadi jangan diulangi lagi ya?" ujar Resty. Berusaha berbicara dengan lembut, padahal hatinya masih sedikit dongkol dengan ulah Ayu tadi.


Ayu hanya mengangguk.


"Ketahuan sekali lagi, aku aduin ke eyang kapok kau!"


Ayu bergeming. Rona wajahnya menandakan jika gadis itu benar benar menyesali perbuatannya.


"Kamu mengerti kan, Yu?"


Ayu mengangguk kecil. "Ayu ngerti, Mbak. Maaf..."


Setelah berkata begitu Resty kembali keluar rumah, dan Alex masih mengikutinya hingga mereka berdua sampai di gardu kecil depan rumah. Lalu mereka duduk disitu dengan sedikit berjarak. Pandangan mata Resty melihat ke sekitar, ke arah jalan desa yang sedikit sepi yang melintas.


Sedangkan pria itu masih betah mencuri pandang kepada Resty. Sungguh ia tidak menyangka mereka akan dipertemukan kembali. Padahal Alex pernah mencoba berhenti berharap pada gadis itu, yang nyatanya perasaan itu sangat sulit ia singkirkan dari hatinya.


"Dari tadi kamu ngigau mama kamu." Resty berbicara lebih dulu.


"Oh, iya?" Alex sedikit kaget tak percaya.


"Hem,"


Alex menatap lurus ke depan. Entah apa yang saat ini dipikirkannya.


"Baiklah. Mari kita seperti biasanya. Bukankah kita masih berteman? Kamu bisa cerita pengalaman kamu disini, dan aku juga."


Resty berucap dengan yakin. Ia sudah lelah terus-terusan seperti ini dengan Alex. Dan semoga saja Alex tidak keberatan dengan ucapannya itu.


Sudut bibir Alex mengulas senyum tipis. Hatinya tentu sangat senang saat mendengarnya. Bagai menemukan sesuatu yang pernah hilang yang kini kembali lagi dalam genggaman.


"Apakah itu artinya aku masih bisa berharap sama kamu?" Pria itu malah menyahut dengan sesuatu yang membuat hati Resty bergetar kembali.


Sangat kentara netra gadis itu sedikit resah. Jika memang tiada harapan itu dari Resty, tentu gadis itu akan langsung komplain dan mengelak perkataan Alex. Nyatanya saat ini Resty hanya terdiam saja. Membuat Alex semakin melambungkan harapannya kepada gadis itu dengan yakin.


Perlahan Alex sengaja menyentuh tangan Resty, dan langsung menggenggamnya saat tiada penolakan lagi darinya.

__ADS_1


*


__ADS_2