
Suasana di kampus pagi ini terlihat ramai seperti biasanya. Alex yang sebenarnya malas datang ke kampus dengan mengendarai mobil, hari ini ia terpaksa membawanya. Sekotak lumayan gede berisikan cake resep baru yang dibuat mamanya yang mamanya titipkan agar diberikan kepada Resty, membuatnya terpaksa membawa mobil ke kampus.
Awal menerima titipan mamanya itu Alex merasa enggan, tapi karena mamanya memaksa dengan alasan yang sulit di mengerti membuat Alex akhirnya menyetujuinya saja.
Alex masih betah berdiam diri didalam mobilnya, masih dengan memandangi kotak itu yang teronggok di kursi penumpang disampingnya. Pria itu memang tengah berpikir sendiri, bagaimana caranya memberikan pemberian mamanya itu kepada Resty dengan cara aman. Aman dalam artian tidak diketahui oleh teman-temannya, dan yang terpenting oleh Donita.
Meski dari lubuk hatinya yang terdalam Alex sedikit senang karena memiliki alasan lagi untuk mendekati Resty, akan tetapi pria itu masih tahu diri. Di kampus ini ia diketahui orang jika ia masih menjadi milik Donita. Makanya ia berusaha seaman mungkin agar nama baik Resty tetap terjaga di kampus ini. Sebab Alex sangat tahu bagaimana peringai Donita, bila ada seseorang yang telah lancang mengusik dirinya, maka Donita pun tak akan segan untuk balas mengusiknya juga.
Setelah beberapa menit hanya berdiam diri didalam mobil, Alex pun keluar dari sana. Sedangkan tak jauh dari tempatnya berada, terlihat Resty juga baru sampai dengan mengendarai mobilnya juga. Rupanya pagi ini Resty tidak berangkat sendiri, ada Ika yang turut keluar dari dalamnya.
"Resty." sapa Alex seketika.
Resty menoleh ke arah suara itu. Terlihat Alex sudah melangkah mendekat kepadanya.
Deg deg... Deg deg
"Kenapa tiba-tiba berdebar begini?" Resty hanya bersuara dalam hatinya.
Degup jantung itu terasa berdebar tak karuan. Serasa mati kutu untuk sekedar menghindar dari Alex yang sudah semakin dekat dengan penuh senyum diwajahnya.
Namun meski jelas jantung itu yang berdenyut, Resty malah menyentuh pipinya sendiri. Pipi kanan yang kini tengah di plester olehnya, karena suatu benjolan kecil yang entah sejak kapan tiba-tiba muncul dipipinya yang mulus.
Resty sangat paham jika benjolan kecilnya itu adalah jerawat. Hanya saja kenapa harus muncul di pipi bekas yang dicium Alex. Itulah yang membuatnya semakin tak bisa move on dengan kejadian tak terduga itu.
"Hai.." sapa Alex, saat mereka sudah saling berhadapan.
Resty hanya tersenyum tipis, tanpa bisa membalas sambutannya. Kikuk, gugup, rasanya sudah bercampur aduk yang Resty alami. Sungguh sukses pria itu telah membuatnya sport jantung pagi-pagi.
Sedangkan Ika hanya menatap heran pada keduanya. Sejak kapan mereka bertambah akrab begini?
"Eh, pipi kamu kenapa?" tanya Alex, sambil bergerak ingin menyentuh pipi itu, akan tetapi Resty sigap dan seketika memundurkan wajahnya.
"Eh, maaf." Alex langsung menarik tangannya. Ia melihat jelas wajah Resty yang berkerut pertanda tak nyaman dengan perbuatannya barusan.
__ADS_1
"Yuk, Res. Buruan ke kelas, entar malah tempat kita ada yang nempatin." ajak Ika, dengan menarik lengan Resty.
Untuk urusan tempat duduk di kelas mereka memang bebas. Tidak ada istilah seperti anak SMA yang jika dari awal masuk disitu, maka tetap disitu. Sistem di kelas itu biasanya yang menempati deretan kursi terdepan ialah golongan yang cerdas, rajin dan tekun. Deretan tengah kebanyakan oleh mereka yang biasa-biasa saja, alias ya tidak pintar tapi tidak bodoh, termasuk golongan yang setengah rajin. Barulah yang gemar menempati deretan kursi terakhir atau belakang, terkhusus mereka yang sebenarnya malas belajar tapi tetap berusaha masuk kelas.
Ayo loh, kalau readers dulu masa sekolahnya gemar duduk di deretan kursi yang ke berapa?
Jawab di kolom komentar ya...😅
"Eh, tunggu dulu, Res.." Alex sengaja meraih pundak Resty untuk mencegahnya pergi.
"Ada apa?" tanya Resty, dengan nada dinginnya.
"Eee.... Nggak jadi deh. Entar aku chat kamu aja ya?"
Sengaja Alex berkilah. Karena dari kejauhan matanya tak sengaja menangkap sosok Donita yang sedang menyorotinya.
"Uuh... Dasar gaje!" sungut Ika, merasa kesal sendiri dengan Alex yang sudah membuang-buang waktunya dan Resty.
Ika langsung menarik lengan Resty untuk segera menjauh dari Alex. Sedangkan Resty sendiri hanya terdiam saja dengan perasaan yang mulai penasaran dengan apa yang akan dibahas pria itu kepadanya.
"Nggak. Aku nggak akrab sama dia." Resty berucap sambil nenggelengkan kepalanya agar lebih meyakinkan Ika.
"Aku nggak percaya." Ika tidak mungkin langsung mempercayai sahabatnya itu. Dilihat dari nada obrolan Alex kepada Resty, sepertinya mereka pernah melewati suatu masa bersama sebelumnya.
"Nggak percaya ya sudah."
"Ya mana aku bisa percaya? Tadi saja Alex bilang mau lanjut chat kamu. Belum lagi pas aku perhatiin dia lagi nanyain pipi ini kenapa?"
"Aduh!" Resty mengaduh sakit, saat Ika dengan sengaja menekan plester di pipi Resty saat berucap kata pipi tadi.
"Aduh, sakit ya Res... Maaf, maaf..."
"Lagian pipi kamu ini kenapa pake di plester begini? Jelek tau!" Mereka sengaja berhenti sebentar di koridor.
__ADS_1
Resty cemberut sambil mengusap pelan pipinya. "Udah aku bilang ada benjolannya malah ditekan. Nyut-nyutan nih.."
"Bisulan?" Ika menebak sekenanya.
"Iya kali bisul. Enak aja kalau ngomong."
"Jerawat?"
Resty hanya bergeming.
"Jadi benar jerawat nih?" Paras Ika mulai menyeringai.
"Tauk ah! Yuk, buruan ke kelas.." Kali ini giliran Resty yang menarik lengan Ika. Lalu mereka pun kembali melangkah menyusuri tiap koridor menuju ruang kelas mereka.
"Ciyee... ciyee... ehem.. ehem..."
Ika masih tak henti-hentinya menggoda Resty yang ketahuan bersemu merah saat tebakannya tepat sasaran.
"Jerawat pertanda apa nih? Naksir orang? Siapa orangnya?"
Resty langsung mendelik sebal saat Ika semakin tak terkontrol bertanya.
"Apa kaitannya jerawat sama naksir orang? Kamu tuh ya, nggak ada bahasan lain apa?"
"Eh, ada loh kaitannya. Nih ya, umumnya tuh jerawat muncul karena hormon androgen kamu lagi naik. Secara kamu ini kan tipe tipe pendiam dan belum pernah merasakan pacaran, jadi masuk akal kan kalau pubernya kamu datang sekarang?" jelas Ika, sok paham tentang hormon-hormonan itu.
"Kamu samain aku sama bocah SMP?"
Ika mengangguk nyengir.
Resty menimpuk lengan Ika dengan buku tebal yang dipegangnya. Dalam sesaat mereka saling tertawa bersenda gurau, dan terpaksa berhenti saat sudah memasuki ruang kelas yang sudah terisi lebih dari separuhnya.
Sedangkan situasi di area parkir kampus, Alex dan Donita masih tetap berada disana. Setelah tadi Donita melihat Alex berbicara cukup serius dengan Resty, wanita itu pun semakin menaruh curiga. Karena memang bukan baru kali ini saja ia tak sengaja memergoki Alex bersama dengan Resty. Apalagi ditambah dengan pengakuan dari teman Donita yang sengaja Donita sewa sebagai mata-mata, tentu membuatnya semakin geram dan sudah tak sabar ingin menanyakannya langsung kepada Alex.
__ADS_1
"Ada hubungan apa kamu sama dia?"
*