Terjerat Cinta Berandal Kampus

Terjerat Cinta Berandal Kampus
Eps 154


__ADS_3

"Ini apa? "


"Kemana isinya?"


Resty tetap memilih diam. Tetapi sorot matanya menatap entah pada suaminya yang kepalang kepo. Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Alex berdiri lagi. Kali ini pria itu mulai mencari ke seluruh tempat di kamar itu. Sudah malas bertanya-tanya lagi, karena istrinya itu masih tetap menutup mulut.


Laci nakas hingga pada isi lemari, pria itu mencarinya di sana sedikit membuatnya menjadi acak-acakan. Tetapi yang dicarinya itu tak kunjung ditemukan. Ruang kamar mandi sudah bolak-balik pria itu keluar masuk dari sana, tetap saja tak kunjung ditemukan.


Pria itu mendekat lagi kepada istrinya. Menghembus nafas kesalnya didepan Resty yang terus menatap kepadanya dengan tatapan syarat kekecewaan.


"Aku nyerah!" ucapnya kemudian, sambil menggeleng-geleng kepala menatap istrinya yang sepertinya sengaja ingin membuatnya kesal.


Peluh di tubuh Alex mulai bercucuran, pertanda terlalu banyak bergerak setelah hampir mirip setrika berjalan saat mencari testpack itu.


"Kamu cari ini kan?"


Resty akhirnya mulai bersuara sambil menunjukkan testpack itu di tangannya. Rupanya sedari tadi benda itu ia sembunyikan dibalik bantal tempatnya tidur.


Alex langsung mendekat. Pria itu lantas segera mengambil testpack itu dari tangan Resty. Melihat jelas dengan mata kepala sendiri dua garis merah itu ada.


Tangan Alex seketika gemetar. Tubuhnya seakan tak kuat untuk berdiri dan akhirnya ia pun duduk setengah kaki di lantai itu. Netranya mulai berkaca-kaca, bukan sedih, tetapi terharu dan bahagia luar biasa. Dirinya sebentar lagi akan menjadi ayah. Rupanya Tuhan secepat ini memberinya suatu amanah yang teramat istimewa buatnya.


Seiring tetesan air matanya yang lolos dari mata pria itu, bibir Alex tersenyum tipis. Ia masih tidak percaya meskipun telah melihat dengan jelas bukti jika istrinya itu saat ini tengah mengandung buah cintanya.


Jangan tanya bagaimana reaksi Resty melihat suaminya itu menangis. Ia pun juga menangis. Tetapi bukan dalam arti bahagia seperti yang dirasa suaminya itu.


Setelah itu Alex berdiri lagi. Segera ia berhambur memeluk tubuh Resty yang masih terduduk di atas kasurnya.


"Kamu beneran hamil, Yang?" tanyanya masih butuh kepastian.


"Aku benci kamu!"


Bukan sebuah jawaban yang diterima Alex, melainkan umpatan kemarahan yang dilontarkan istrinya itu kepadanya.


"Aku benci kamu!"


Kedua kalinya Resty melontarkan kata-kata menyakitkan itu. Sambil berderai air mata tangan Resty mulai memukul kecil pada lengan Alex hingga berulang-ulang.


Alex memilih pasrah dibegitukan oleh Resty. Hingga sampai pukulan itu berangsur lemah, barulah Alex kembali membawa tubuh Resty ke dalam pelukan eratnya.


"Semua ini gara-gara kamu!" ucap Resty lagi, tetapi nada suaranya sudah turun satu oktaf dari sebelumnya.


"Maaf..."


Hanya kata maaf yang mampu Alex ucapkan. Sedangkan tangannya tetap membelai lembut pada mahkota istrinya. Terus berusaha mencoba menenangkan.

__ADS_1


"Maaf kamu bilang?" Resty melepas paksa pelukannya.


Alex memilih tak menyahut. Istrinya itu sedang dalam keadaan emosi, jadi alangkah baiknya jika tidak ikut emosi dengan saling beradu mulut.


"Aku hamil gara-gara kamu sengaja nggak pake k*nd*m! Jangan pura-pura lupa! Jangan bilang maaf! Karena aku tidak akan memafkan kamu!"


Satu kalimat terakhir itu sungguh membuat Alex terjengkit kaget. Semarah itukah? Sampai-sampai tak sudi lagi memaafkannya? Atau Resty sudah terlanjur membenci benihnya itu?


"Trus kamu maunya apa? Kamu akan menggugurkan nya?" Alex mulai terpancing emosi.


"Oke! Sesuka kamu menuduhku ini semua salah aku. Tapi tolong jangan seperti ini, Res. Kamu bicara begini seperti orang yang tidak memiliki iman. Membenci nikmat pemberian Tuhan. Padahal di luar sana banyak orang yang ingin memiliki anak. Kita semudah ini diberi kepercayaan oleh Tuhan, apa kamu tidak mau mensyukurinya?"


Resty masih tersedu-sedu saat suaminya itu mulai ceramah panjang lebar.


"Ini rejeki kita, Sayang. Ini buah cinta kita, amanah dari Tuhan untuk kita."


Alex memberanikan diri mengusap perut rata Resty. Beruntung wanita itu tidak menangkisnya lagi. Hingga sampai Alex semakin nekat mencium perut rata itu, Resty tetap terdiam tanpa penolakan berarti.


"Sayang, ini papa. Kamu baik-baik ya di sini. Tetap kuat sampai saatnya nanti kamu terlahir ke dunia." Alex berbicara sendiri sambil mengusap perut Resty.


Sekilas Alex menatap netra Resty lagi. Wanita itu berangsur mereda dari tangisannya.


"Jangan suka rewel lagi ya? Kasihan mama kamu nih nangis terus."


Alex berbicara lagi pada perut yang sudah tertanam benih cintanya itu.


"Anak kita tadi ngomong, katanya nggak akan rewel dan nakal lagi."


Perlahan sudut bibir Resty mulai melengkung. Wanita itu seperti ingin tersenyum tetapi masih ia tahan.


"Senyum dong calon mama. Apa kamu mau anak kita nanti cengeng kayak kamu?"


"Apaan sih! Aku nggak cengeng tauk!"


Resty menimpuk bahu Alex dengan kepalan tangannya.


Tetapi Alex lekas meraih tangan itu saat lagi-lagi Resty ingin menimpuknya. Kemudian pria itu membawa tubuh Resty ke dalam pelukan hangatnya.


"Makasih, Sayang," gumamnya sambil menghujani pucuk kepala istrinya itu dengan ciumannya.


Resty tak menyahut apa-apa. Tetapi tangannya juga ikut melingkar di pinggang Alex, turut menyambut pelukannya yang menenangkan.


"Oh, iya! Tadi aku belikan kamu rujak manis," tunjuk Alex pada dua bungkus rujak itu yang berada di atas nakas.


"Mau makan sekarang apa tunggu aku selesai mandi dulu?"

__ADS_1


"Nggak usah mandi," sahut Resty seketika.


Kening Alex sedikit berkerut. Tak paham dengan maksud larangan mandi itu.


"Kamu nggak usah mandi. Sekarang suapin aku. Aku mau makan itu." Resty menujuk dengan dagunya.


Senyum Alex begitu sumringah mendengar istrinya tak lagi drama ngambek dan marah seperti tadi.


"Oke! Apapun akan aku lakukan buat calon mama yang cantik ini."


Lalu Alex mulai membuka bungkus rujak manis itu. Dan kemudian membimbing Resty untuk memakannya dengan nikmat.


"Janji akan lakukan apapun?" Resty mulai menagih janji yang terucap beberapa detik yang lalu.


Alex hanya mengangguk.


"Asal jangan minta bulan sama bintang saja," seru Alex lagi.


Alex begitu sabarnya menyuapi sesendok demi sesendok buah itu ke mulut Resty. Hingga sampai tersisa satu bungkus, dan itu yang porsi pedas.


"Kurang nggak?" tawar Alex memastikan.


Resty hanya menggeleng.


Lalu Alex kembali beranjak untuk meletakkan bungkus kosong itu ke tempat sampah yang telah disediakan.


Begitu selesai, Alex belok ke kamar mandi karena sudah tidak betah dengan kondisi tubuhnya yang aduhai lengketnya.


"Mau kemana?" tanya Resty seperti tak mau ditinggal.


"Mau mandi, Yang. Gerah banget!" balas Alex.


"Kalau entar aku minta kamu nggak perlu mandi apa bisa?"


Alex merengut sesaat, tetapi ia menunggu dengan sabar apa maksud dari perkataan istrinya itu.


"Jangan mandi!" ucap Resty lebih tegas.


"Maksudnya aku nggak boleh mandi gitu, Yang?"


Resty mengangguk.


"Sini, jangan jauhan. Aku suka cium bau asem kamu," seru Resty sangat aneh, tetapi begitulah bumil yang ngidamnya suka ngadi-ngadi.


"Hah?"

__ADS_1


*


__ADS_2