
Angin malam mulai masuk ke dalam kamar. Suasana kamar yang awalnya hangat langsung berubah menjadi dingin. Sya sengaja membuka pintu balkon malam itu. Dia merasa begitu bosan disana. Rasa ingin kembali ke apartemen Xiu saat itu juga. Disana dia merasa nyaman.
Sementara Sya menatap kearah langit malam. Lufas menatapnya dari belakang. Lufas ingin meminta maaf, hanya saja dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Sya. Dia masih memikirkan cara untuk hal ini.
"Lufas."
Panggilan Sya membuat Lufas sadar akan lamunanya. Dia mendekat dan duduk di samping Sya.
"Ada apa?" Tanya Lufas dengan nada lembut.
"Apa aku ada salah sama kamu. Beberapa hari ini, aku merasa kamu berubah. Kau dingin padaku," kata Sya.
Lufas hanya diam. Dia menunduk, lalu menatap pada Sya dengan tatapan yang menusuk. Hal itu membuat wajah Sya langsung berubah.
"Kau tahu kenapa aku melakukan ini? Aku melakukan ini karena dirimu."
"Maksudmu?"
"Kau sudah mengurungku di dalam hatimu, tapi kenapa kamu masih menemui pria lain."
Kali ini Sya merubah posisi duduknya. Dia menatap Lufas saat ini.
"Apa kau cemburu?"
Lufas tidak menjawab. Kali ini dia mencoba mengalihkan pandangannya dari Sya. Dia tidak ingin Sya tahu jika dia bisa melakukan apapun karena cemburu. Lufas tidak ingin kehilanganya.
"Jika kau bis merasakan cemburu. Aku juga bisa merasakannya. Apa kau pikir aku baik-baik saja saat kau dekat dengan Anna? Kau bahkan bisa tertawa bersama dengan Anna. Dia juga lebih mengenalmu dari pada aku. Bahkan, rumah ini juga kau bagi dengannya."
Kali ini Sya benar-benar meluapkan isi hatinya. Dia meras kesal dengan sikap Lufas. Hanya karena cemburu Lufas mengabaikan cinta Sya. Hal ini membuat Sya tidak habis pikir.
"Jangan-jangan kau masih mencintai Anna. Padahal sudah jelas jika dia itu pembohong. Dia..."
Belum juga Sya selesai bicara. Sebuah kecupan mendarat di bibir Sya. Sya dibuat diam seketika. Mata Lufas dan Sya bertemu.
"Aku bisa melakukan apapun demi kamu. Besok kita akan pindah dari sini. Biarkan Anna menempati vila tua ini." Lufas menatap Sya dengan sepenuh hati.
Mata Sya berkedip beberapa kali.
"Aku mencintaimu, Sya."
Malam itu menjadi malam yang panjang untuk mereka. Tidak ada hal yang bisa memisahn mereka.Sebuah ikatakan yang mereka buat dengan cinta.
***
Pagi hari Lufas sudah begitu sibuk, begitupun dengan Sya. Mereka bersiap pindah hari itu juga. Adanya Anna ditengah-tengah mereka membuat hubungan menjadi tidak baik.
Anna baru saja keluar dari kamar saat melihat Sya dan Lufas membawa koper. Buru-buru Anna mendekat dan menghentikan Lufas saat itu juga. Bahkan koper Lufas juga dia rebut.
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" Tanya Anna curiga.
"Kami akan pergi dari sini. Jadi, kau bebas menggunakan vila ini." Kata Sya.
Anna tidak menjawab. Dia menatap Lufas serta menatapnya dengan penuh kasih.
"Apa kau akan meninggalkan aku disini? Apa kau sudah lupa akan janjimu?"
Lufas hanya bisa menelan ludah saat melihat tatapan yang diberikan oleh Anna. Sya melihat jika Lufas masih memiliki hal untuk Anna.
"Janji apa yang kau berikan padanya?" Tanya Sya dengan tegas.
Lufas menoleh pada Sya. Dia tahu, kali ini Sya sudah merasa kesal. Jika dia berbohong, akan banyak hal rumit yang akan terjadi.
"Apa kau tidak mengatakan pada Sya?" Tanya Anna kemudian.
Kali ini Lufas benar-benar diantara dua wanita dan dua perasaan. Lufas tidak tahu harus menjelaskan pada siapa lebih dulu.
"Jika kau tidak ingin mengatakannya. Tidak masalah, aku akan pergi," kata Sya yang langsung berbalik badan pergi.
Lufas menyambar koper ditangan Anna. Dia berniat menyusul Sya, tapi ditahan oleh Anna. Dengan kasar Lufas melepaskan pegangan tangan Anna.
"Jaga batasanmu," kata Lufas, kemudian pergi.
Anna kembali merasa bersalah. Dia kesal dengan apa yang dilakukan Lufas. Apa lagi dengan Sya, karena Sya, Lufas kini menjauh lagi darinya.
Sementara Sya hanya diam. Bagaimana bisa Lufas melakukan hak itu padanya. Semalam Lufas sudah bersahasil membuatnya percaya. Pagi ini kembali Lufas membuatnya sakit hati dengan caranya.
Mata Sya masih saja menatap tajam kearah depan. Bahkan nafasnya terdengar begitu berat. Lufas tahu, dia sudah membuat kesalahan lagi.
"Kau menjanjikan apa padanya?" Tanya Sya tanpa menoleh atau melirik.
Pertanyaan itu membuat Lufas begitu sulit menjawab. Dia tidak ingin membuat Sya kembali terluka.
"Apakah begitu sulit untuk menjawabnya?"
"Sya. Kau tahu, aku dan Anna. Maksudku Nita, kami belum sepenuhnya bercerai."
Sya diam.
"Kau tahu awal kita menikah karena aku menyangka jika Nita sudah tiada. Aku masih menyimpan kartu nikah kami. Sampai saat aku ingin membuangnya. Nita mendapatkannya kembali, dia meminta haknya."
Nafas Sya semakin berat. Dia tidak tahu harus mengatakan apa dalam situasi ini. Rasa sakit begitu dalam menusuk hatinya. Bahkan lebih sakit dari rasanya diselingkuhi.
"Aku minta maaf, Sya."
Sya sadar. Kini bukan Anna yang menjadi penganggu, namun dirinya sendiri. Sya yang datang diantara hubungan itu. Walau tanpa disadarinya.
__ADS_1
"Aku akan segera menceraikannya secara sah. Kau hanya perlu menunggu beberapa saat."
Tidak ada kata yang diungkapkan Sya. Dia masih diam dengan renungan dihati dan pikirannya. Bagaimanapun, statusnya kini menjadi wanita kedua.
"Aku sangat mencintaimu, Sya. Maafkan aku." Lufas memegang erat tangan Sya.
Sya melepaskan pegangan tangan itu. Dia merubah posisinya hingga membelakangi Lufas. Untuk sementara Lufas hanya diam dengan pasrah. Lufas tahu, hal ini begitu memukul hati dan pikiran Sya.
Sampai akhinya mobil berhenti disebuah apartemen. Sya tahu, dia harus turun dari mobil saat ini juga. Sya merasa sendiri, dia tidak tahu harus berbagi rasa dengan siapa. Saat ini, sahabatnya dan kakaknya sudah tidak peduli lagi denganya. Mereka dibawah kendali Lufas.
Mereka masuk ke apartemen. Dilihat saat baru pertama masuk. Sya sadar jika apartemen itu bukanlah apartemen biasa. Seorang pria berseragam mendekat dan langsung membawakan barang milik Sya dan Lufas.
"Kita naik menggunakan lift saja," kata Lufas.
Sya tidak menjawab. Namun dia mengikuti langkah kaki Lufas.
Dilantai 10 pintu lift terbuka. Lufas keluar dengan tangan menggenggam erat Sya. Tersirat jika Lufas tidak ingin melepaskannya saat ini.
Mereka masuk ke dalam ruang apartemen. Disana sudah ada pemilik bangunan yang tersenyum dengan ramah. Sya mau tidak mau membalas senyuman itu.
"Selamat datang," kata pemilik bangunan.
Sya dan Lufas mengangguk.
"Kalian bisa melihat-lihat semua ruangan dulu. Jika ada yang dibutuhkan katakan pada Saya."
Lufas akan pergi melihat-lihat, tapi Sya berkata. "Aku puas dengan semua ini. Tidak perlu aku melihat-lihatnya lagi."
Lufaspun mengurungkan niatnya. Dia kembali kesisi Sya.
"Baiklah. Jika ada masalah langsung hubungi aku saja. Oh ya, setiap jam 06.00 pagi. Akan ada seseorang yang membersihkan tempat ini."
"Terima kasih," ucap Sya.
Pemilik bangunan pergi. Kini hanya tinggal Sya dan Lufas. Sya langsung masuk ke kamar, dia mengeluarkan semua isi kopernya. Dengan lembut dia menata semuanya.
Setelah selesai Sya duduk di tepi tempat tidur. Dia menatap koper milik Lufas. Dia merasa tidak seharusnya Lufas meninggalkan Anna. Bagaimanapun dia istrinya juga. Walau begitu, rasa tidak rela berbagi membuatnya seperti disayat-sayat.
Lufas masuk dan melihat Sya melamun. Perlahan Lufas duduk di depan Sya. Dia memeluk erat tubuh itu. Tanpa sadar, Sya menitikan air mata.
"Kenapa kau melakukan hal ini padaku?" Tanya Sya dengan isak tangis.
"Maaf. Aku juga tidak tahu dengan aku menyimpan kartu nikah itu. Aku dan dia tetap terikat."
Sya menangis sembari memukul tubuh Lufas.
"Tenanglah Sya. Aku akan membuatmu menjadi istriku satu-satunya. Saat ini hanya ada kau yang mengisi hatiku."
__ADS_1
Tangisan Sya semakin deras. Hal itu membuat Lufas juga merasakan sakit dihatinya. Lufas terus menerus membujuk Sya. Sampai rasa lelah menghampiri Sya dan membuatnya tertidur dipelukan Lufas.
***