
Beberapa hari ini perlakuan Arda pada Sya masih sama. Kadang dia baik, kadang juga berbuat kasar pada Sya. Seperti pagi ini, Arda terlihat datang dengan senyuman pada Sya.
Disaat Arda tersenyum, Sya merasa sangat senang karena itu tanda Arda sedang baik-baik saja. Lain hal saat Arda datang dengan tatapan tajam. Dia akan melakukan hal yang kasar walau itu dengan mulutnya.
"Kau terlihat senang. Ada apa pagi ini?" tanya Sya.
"Tidak ada yang sepesial. Nanti malam aku akan mengajakmu ke acara pesta temanku. Kau mau kan?"
Istri mana yang tidak bahagia saat diajak suaminya pergi bersama. Secara tidak langsung, Arda mengatakan jika dia tidak malu memiliki istri seperti Sya.
"Aku harus memakai baju apa?" tanya Sya.
Arda mendekat. "Baju apapun yang kau pakai. Kau akan terlihat cantik."
Pipi Sya langsung merah seketika. Beberapa hari ini Sya berharap Arda kembali seperti saat ini. Kali ini apa yang dia inginkan terwujud.
"Sya."
"Apa?"
"Mama memanggilmu ke ruangannya."
Mama? pikir Sya. Dia tidak tahu jika nyonya Ken sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. Bahkan Eri juga tidak mengatakan apapun padanya tadi.
"Mama memintamu cepat."
"Aku akan mengantarmu lebih dulu," kata Sya.
"Tidak perlu. Lebih baik kau segera menemui Mama sebelum dia marah."
Sya hanya bisa mengangguk lemah. Dia tidak tahu dengan cara apa harus menghindari nyonya Ken kali ini.
Sampai, cup, sebuah kecupan mendarat di kening Sya. Sya mendongakkan kepalanya dan melihat senyuman mengembang di wajah Arda.
"Aku pergi dulu." Setelah mengatakan itu Arda langsung pergi.
Sementara Sya masih diam di tempat. Kejutan yang Arda berikan di pagi ini benar-benar membuat Sya tidak berkutik. Walau begitu tetap saja Sya takut menemui nyonya Ken.
***
Suasana hening. Tidak ada yang mengeluarkan perkataan. Hanya ada suara tangan yang sedang mengetik di keyboard laptop.
Mata Sya tidak bisa memandang kearah nyonya Ken yang masih fokus. Sejak tadi dia masuk, nyonya Ken tidak menoleh padanya atau menyapanya. Sya tahu jika dia sudah berbuat salah karena membuang obat itu.
Brak. Sya menoleh karena mendengar suara meja digebrak. Benar. Nyonya Ken sudah selesai mengetik dan sekarang dia menatap Sya dengan tatapan menembus jantung.
"Ma..."
"Apa kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?" tanya nyonya Ken langsung.
Sya hanya bisa menunduk.
"Apa kau tahu Sya!" kali ini nada suara nyonya Ken cukup keras.
Mau tiidak mau Sya memberanikan dirinya mendongakkan kepalanya.
"Ma. Aku tahu aku sudah salah. Hanya saja, aku juga ingin tahu apa yang terjadi pada Arda. Aku ingin tahu kenapa dia meminum obat itu."
Nyonya Ken menatap dengan mata merah. Dia tidak berharap Sya akan mengatakan hal itu. Dia hanya ingin mendengar kata maaf dari bibir Sya.
"Ma. Aku akan menerima Arda. Apapun dia, bagaimanapun dia. Aku akan menerimannya."
"Kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya perlu menjadi istrinya."
"Aku adalah istri sahnya. Aku berhak tahu. Jika terjadi sesuatu padanya, aku juga akan terluka dan tersakiti."
Awalnya nyonya Ken bersikeras menolak memberi tahu. Hanya saja, nyonya Ken melihat tatapan ketulusan pada Sya. Akhrirnya nyonya Ken rela membagi hal itu dengan Sya.
"Sya. Kamu benar akan menerimannya bukan?"
"Ya. Aku menerima Arda karena cinta yang tumbuh di hatiku. Aku menerima semua konsekuensi atas cinta ini."
Nyonya Ken tersenyum. "Sejak kecil. Arda bukanlah anak yang bisa bersosialisasi. Dia memiliki sifat dingin dan kasar. Hal itu membuat dia tidak bisa berteman."
Sya hanya diam. Dia menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
"Sampai waktunya aku merasa takut Arda akan sendiri sampai tua nanti. Aku mencari dokter yang bisa menangani hal ini. Kau tahu? semuanya tidak berhasil."
Sya masih diam mendengarkan.
"Sampai akhirnya. Seorang dokter membuatkan resep untuk Arda. Obat itu memang tidak membuatnya berubah. Hanya saja, obat itu mampu membuat Arda lebih tenang."
"Lalu?"
"Dalam ketenangan itulah. Arda tahu apa itu cinta. Dia mengakui jika dia mencintaimu, hanya saja dia tidak ingin mengungkapkannya padamu."
"Kenapa?"
"Karena dia ingin mengatakannya saat tidak diperngaruhi obat. Dia ingin mengatakannya saat dia sudah berhasil melawan sifat dingin dan kerasnya."
Diam. Sya baru tahu kenapa Arda selama ini tidak pernah menyentuhnya. Apa lagi mengatakan kalimat mesra dan romantis.
Walaupun begitu. Sya merasa bangga pada Arda. Dia mau berubah hanya karena ingin mengatakan cinta padanya.
"Apa kamu masih mau menerimannya Sya?"
"Ya. Aku sudah mengatakannya sejak awal Ma."
Nyonya Ken mendekat pada Sya dan langsung memeluknya. Dia merasa sudah menemukan orang yang tepat untuk Arda. Orang yang mau menerima segala milik Arda, baik hal positif atau hal negatif.
Sejak hari itu. Sya lah yang bertanggung jawab memberikan obat pada Arda. Sya menyimpannya dan menjaganya. Seperti dia menjaga Arda.
***
Dering ponsel Sya memecah keheningan malam itu. Dia mendapat pesan dari Arda jika dia akan langsung ke tempat acara. Sementara Sya akan dijemput oleh sopir Arda.
Ya. Arda memang sangat sibuk sejak tadi. Jadi, dia tidak bisa mengabari wanitanya itu. Walaupun begitu. Sya tidak merasa kesal, setidaknya Arda masih mengajaknya untuk pergi bersama.
"Kau sudah sangat cantik. Mau kemana?" tanya Eri.
"Aku ada acara dengan Arda. Kau sendiri mau kemana?"
Sebuah koper memang sedang dibawa oleh Eri. Sudah jelas jika Eri akan pergi dari rumah itu. Dia sudah menyelesaikan tugasnya disana.
"Kau tahu, aku sudah selesai dengan segala urusan disini. Jadi aku akan kembali ke kontrakan kita yang dulu."
"Dia akan bekerja diperusahaan kita. Kau tidak perlu cemas," kata nyonya Ken yang entah datang dari mana.
Sya mendekat pada Eri dan memeluknya dengan erat. Dia sudah mengajarkan banyak hal pada Sya. Tidak mungkin Sya tidak berterima kasih.
"Aku yang akan mengantarnya pergi. Kau sudah ditunggu Arda sekarang."
"Baik Ma. Aku pergi dulu."
Dengan tas tangan berwarna putih. Sya melengkapi dirinya. Dia keluar dan sudah melihat mobil Arda. Tidak ada Arda, hanya seorang sopir.
Tidak banyak kata. Sya masuk ke dalam mobil. Dia merasa gugup, takut jika akan mempermalukan Arda disana. Apa lagi, ini adalah acara bertemu dengan teman-temannya.
Rasa gugup itu semakin bertambah saat Sya sampai disebuah gedung. Beberapa kali Sya membuka pintu mobil namun kembali mengurungkannya. Dia merasa sangat tidak pantas disana.
Tuk tuk tuk.
Sya melihat Arda berada di luar mobil dengan setelan jasnya. Dia terlihat tampan seperti biasanya. Hal itu semakin membuat Sya tidak percaya diri.
"Kenapa masih di dalam. Aku sudah menunggumu sejak tadi."
Sya tidak turun tapi menurunkan kaca mobilnya.
"Aku malu. Aku tidak bisa. Akan lebih baik jika aku menunggu disini."
Arda menyunggingkan senyumnya. Dengan paksa dia membuka pintu mobil. Dia juga langsung menarik tangan Sya agar dia keluar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sya.
"Apa lagi."
Tanpa aba-aba Arda langsung menggendong Sya di pelukannya. Sya mencoba turun karena malu, bagaimana tidak. Banyak mata yang memandang kearah mereka.
"Turunkan aku, Da. Aku malu," ucap Sya.
"Kenapa kau harus malu. Kau adalah istriku," kata Arda.
__ADS_1
"Aku akan ikut kamu masuk. Asal kau turunkan aku."
Akhirnya Arda menurunkan Sya tepat di depan pintu. Beberapa teman Arda menatap aneh melihat kedatangan Arda dan Sya. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Yang mereka tahu adalah Arda bukan orang yang suka tersenyum. Apa lagi sampai tertawa lebar. Kini mereka malah melihat tawa lepas Arda bersama dengan seorang wanita.
"Aku baru melihat tawa itu di wajah Arda. Siapa wanita disampingnya itu?" tanya seorang teman Aila.
Aila tersenyum tipis. Dia menatap tidak senang dengan datangnya Sya.
"Apa dia yang membuat Arda menjauh darimu?" tanya teman wanita itu lagi.
Brak. Aila meletakan gelas dengan keras. Bahkan sampai ada retakan di gelas itu. Dia mencoba menahan rasa kesalnya itu. Sampai dia melihat Arda pergi meninggalkan Sya sendirian.
Sya berdiri dengan tatapan-tatapan penuh tanya. Risih, jelas Sya merasakannya. Mata Sya tertuju pada Aila yang berjalan mendekat kearahnya.
"Aila. Kau disini?" tanya Sya dengan senyuman.
Aila tersenyum. "Ya. Aku harus disini, ini adalah acara teman Arda. Aku adalah teman dekatnya."
"Bagus. Aku jadi ada teman yang kenal disini."
"Apa kau berfikir aku baik padamu. Kau bahkan tidak selevel dengan kami. Kau hanya mantan pelayan."
Setelah mendengar kata pelayan. Beberapa orang teman Arda langsung menatap kearah Sya dan Arda. Mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aila.
"Mana mungkin Arda menyukai seorang pelayan. Dia pria yang berkelas."
Aila menoleh pada teman-temannya itu.
"Kalian tidak percaya apa kataku. Apa foto ini belum menjadi bukti," kata Aila sembari memamerkan foto Sya saat masih menjadi pelayan.
Sya kaget. Dia tidak percaya jika Aila mampu melakukan hal mengerikan itu. Malu? tidak. Sya tidak malu, dia hanya takut Arda marah karena hal ini.
"Dia sudah menggoda Arda. Hingga Arda juga menjauh dariku. Bukankah hal itu mengerikan." Kembali Aila membuat para teman-temannya tersenyum.
Hampir semua teman-teman Arda itu kini menatap dengan tatapan meremehkan pada Sya. Sya mencoba tidak menggubris akan hal itu. Sampai seorang pria mendekat padanya.
"Dibayar berapa kau oleh Arda?" tanya pria itu sembari mendekat dan akan memegang Sya.
Sya mundur beberapa langkah, tapi dia tetap diam.
"Dia mungkin digratiskan untuk Arda," kata Aila dan membuat semua temannya tertawa.
Sakit hati kini dirasakan oleh Sya. Mau melawan rasanya tidak bisa. Sya hanya bisa pasrah saat ini. Dengan tubuh yang terus menghindar dari tangan-tangan jahat.
"Apa yang kalian lakukan?"
Semua orang menoleh. Arda datang dan mendekat pada Sya. Tanpa ragu Arda melepaskan jasnya dan dia pakaikan pada Sya.
"Apa kalian sedang mencoba melukai istriku?"
Banyak yang berbisik-bisik.
"Kalian bisa saja menghinaku, tapi tidak ada alasan untuk menghina istriku."
Aila mendekat. "Dia tidak selevel dengan kita, Da."
"Jika Sya tidak selevel dengan kalian. Maka aku juga tidak selevel dengan kalian."
Setelah mengatakan hal itu. Arda meninggalkan ruangan itu dengan tangan menggenggam Sya. Sya ikut terbawa.
Di parkiran mobil mereka menghentikan langkah kaki mereka. Sya menatap Arda yang rela melakukan semuanya demi dirinya.
"Mereka teman-temanmu. Hanya karena aku, kau menjauh dari mereka."
Arda mendekat. "Sejak awal aku hanya menganggap mereka teman. Bukan teman dekat apa lagi sahabat. Hanya kau yang mampu merubah diriku."
Sya tidak bisa berkata-kata.
"Aku mencintaimu. Karena itu aku terluka saat kau dilukai," kata Arda.
Sya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Arda. Baru kali ini dengan jelas Arda menyatakan perasaanya pada Sya.
***
__ADS_1