
"Ada apa kau menelfonku?" Tanya Ruka begitu mengangkat telfon dari Sya.
Sya hanya bisa menghela nafas. "Apa aku sudah mengganggu Kakak?"
"Tidak. Memangnya ada apa?"
"Maaf sudah mengganggu."
Tanpa jawaban dari Ruka Sya langsung memutuskan telfon itu. Sebenarnya, Sya hanya ingin menelfon kakaknya. Dia ingin berkeluh kesah, tapi sepertinya Sya sudah mengganggu Ruka.
Terdengar dari cara bicara Ruka yang tanpa basa-basi dan singkat. Sya meletakan ponselnya. Dia membuka pintu kamar dan melihat Lufas berada di depan pintu kamar.
Sebuah nampan berada di tangan Lufas. Sya menatap itu tanpa ekspresi yang diberikan. Sebenarnya Sya masih kesal karena Lufas yang menciumnya dengan paksa.
"Kau belum sarapan," kata Lufas.
"Aku tidak lapar."
Sya kembali akan menutup pintu, tapi kaki Lufas menahannya.
"Apa kau masih marah karena ciuman itu?"
Sya tidak menjawab dan hanya menatap kosong.
Lufas berdecak. "Kenapa kau kesal karena aku menciummu. Kau kan istriku."
Masih tidak ada jawaban.
"Baiklah jika kau seperti itu. Aku akan menelfon Ruka dan mengatakan jika kau tidak bahagia. Dia pasti akan meminta kita bercerai, dan kau akan kembali membuat Ruka khawatir."
Kali ini Sya membuka suara. Dia tahu maksud dari perkataan Lufas.
"Apa kau sedang mengancamku?" Tanya Sya dengan sengit.
"Tidak. Aku hanya mengingatkanmu tentang pernikahan kita."
"Sudahlah. Aku tidak lapar. Biarkan aku di dalam kamar."
Brak. Tangan Sya membanting pintu itu dengan kesal. Dia masih belum bisa mencintai Lufas. Apa lagi setelah tahu sifat Lufas yang tidak memiliki belas kasihan. Sya benar-benar merasa kacau.
Sementara di luar. Lufas meletakan nampan sarapan itu di depan kamar Sya. Dia masih berharap Sya mau memakan makanan yang sudah dia sediakan.
"Tuan, mobil sudah menunggu," kata seorang pelayan yang mendekat pada Lufas.
"Ya."
Sebelum benar-benar pergi. Lufas meminta pelayan untuk membiarkan Sya. Apapun yang dia lakukan pelayan hanya perlu menanyakan tujuan Sya. Tidak seperti biasanya para pelayan harus mengawasi pergerakan Sya dan melaporkannya.
***
Malam itu bintang terlihat begitu indah dari bumi. Sya dengan sebuah gaun malam dan mantel keluar dari kamarnya. Dia bersiap untuk pergi dengan temannya. Anna.
Anna mengundang Sya untuk datang ke sebuah pesta ulang tahun teman Anna. Karena tidak ada hal yang dia kerjakan. Sya setuju, dia pergi tanpa memberi tahu Lufas lebih dulu.
Dengan langkah cepat seorang pelayan mendekat pada Sya.
"Nona mau kemana malam-malam?"
Sya menoleh. "Aku akan pergi temanku. Apa kau perlu menanyakan ini padaku?"
__ADS_1
"Tuan..."
"Aku tahu Lufas yang menyuruhmu bertanya. Katakan saja padanya, aku keluar dengan temanku."
"Baik, Nona."
Beberapa hari ini Sya merasa sangat tertekan dalam rumah itu. Dia merasa terus menerus diawasi. Apa lagi, saat tahu Lufas bisa menembak kapan saja. Hal itu membuat Sya ingin bebas, tapi tidak membuat kesalahan.
Sebuah mobil berwarna silver sudah menunggu kedatangan Sya. Sya melihat ke kanan dan ke kiri tidak ada siapapun. Hanya ada Anna di dalam mobil itu.
"Kau menjemputku?" Tanya Sya.
"Ya. Aku tidak ingin kita terlambat."
Sya tersenyum. "Bagaimana kau tahu vila yang aku tempati?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Anna kebingungan. Dia bahkan kehilangan kata-kata yang akan dia ucapkan.
"Aku tahu. Kau pasti mengikuti aplikasi chat kita."
Wajah bahagia langsung muncul di wajah Anna. Anna menganggukan kepalanya dengan semangat. Tanpa pikir panjang Sya masuk ke dalam mobil Anna. Wangi aroma mawar.
"Apa kau suka mawar?" Tanya Sya pada Anna.
Anna yang sedang fokus menyetir menganggukan kepalanya.
"Kenapa kau menyukainya?"
"Ada alasan yang membuat aku sangat menyukai mawar."
Sya hanya mengangguk.
Suara dentuman musik mulai terdengar. Bahkan saat sampai di dalam. Suara musik itu semakin kencang. Sya sedikit terganggu dengan hal itu. Meski begitu dia hanya diam dan menatap Anna.
Anna terlihat begitu bebas sebagai seorang wanita. Iri, itu yang dirasakan oleh Sya. Mereka sama-sama wanita. Hanya saja, Anna begitu bebas namun tidak dengan Sya.
Anna menyenggol lengan Sya.
"Kenapa kau hanya diam. Ayo, nikmati pesta ini."
Sya hanya tersenyum tipis. Tidak lama seorang pelayan lewat membawa nampan berisi beberapa gelas jus. Anna mengambil dua gelas dan memberikannya pada Sya.
Kali ini Sya menerima gelas itu dengan sebuah senyuman. Tanpa pikir panjang Sya minum dari gelas itu. Rasanya lain dari jus, walau masih ada rasa jusnya.
"Ini minuman apa?" Tanya Sya kemudian.
Anna tertawa. "Ini minuman ala pesta. Kami selalu menyediakannya."
"Apa tidak ada masalah setelah meminumnya?"
Kali ini Anna terlihat berfikir. "Mungkin tidak. Minum saja dulu saja sampai habis. Kau akan menyukainya."
Tanpa ragu Sya meminum habis semua minuman itu. Perlahan, Sya merasa dirinya mulai pusing. Matanyapun melihat dengan samar. Kali ini Sya merasa sudah dipermainkan oleh Anna.
Merasa tidak bisa berdiri lagi. Sya mengedarkan pandangannya. Dia melihat sebuah sofa yang cukup jauh darinya. Perlahan dia mulai berjalan. Sampai saat dia hampir terjatuh.
"Kau tidak apa?"
Sya menoleh dan mendapati wajah yang sangat familiar dengannya. Arda. Sya mengulas senyum dan langsung memeluknya.
__ADS_1
Padahal, pria itu bukanlah Arda. Arda hanya halusinasi dari Sya. Mungkin karena masih ada rasa yang tersisa membuat Sya berhalusinasi tentang Arda.
Si pria yang merasa mendapatkan ikan segar langsung membantunya duduk. Dia tidak mengaku siapa dia. Dia masih tetap mengaku sebagai Arda untuk Sya.
Anna mencoba mencari-cari dimana Sya. Tidak dia temukan. Anna mencari sampai ke toilet bahkan ke kamar-kamar yang disediakan oleh teman Anna.
Sampai saat Anna keluar dari kamar dan melihat Sya sedang dibantu berjalan oleh seseorang. Anna berlari kecil dan mendapatkan Sya. Dia menarik tubuh Sya ke dalam pelukannya.
"Kau siapa? Mau membawa temanku kemana?"
Pria itu tidak menjawab. Dia hanya menyeringai lalu pergi meninggalkan Sya dan Anna.
Anna menepuk-nepuk pipi Sya. Tentunya agar Sya bangun dan sadar kembali, tapi saat Sya membuka. Nama Arda yang dia sebutkan.
"Apa itu nama suamimu?"
Sya mengangguk.
"Kau pasti tidak pernah minum minuman beralkohol," lirih Anna.
Dengan tertatih Anna membantu Sya kembali ke dalam mobil. Anna berniat membawanya kembali. Sya mengatakan jika dia harus dirumah sebelum jam sepuluh. Saat ini, sudah hampir jam sepuluh.
Ada rasa bersalah di hati Anna. Dia tidak tahu jika Sya begitu polos. Bahkan mungkin baru kali ini Sya datang keacara semacam itu.
***
Lufas membentak para pelayan di rumah itu. Dia tidak mengira jika Sya akan keluar tanpa mengabarinya lebih dulu. Melihat jam yang sudah menunjukan pukul sepuluh lewat. Hati Lufas menjadi kacau. Dia khawatir pada istrinya itu.
Tok tok tok.
Seorang pelayan bergegas membuka pintu. Dia menemukan Anna yang sedang merangkul Sya. Tanpa ragu pelayan itu membantu Anna membawa Sya masuk.
Setelah meletakan Sya diatas sofa. Anna membenarkan bajunya. Tanpa sengaja mata Anna dan Lufas bertemu. Anna diam, entah apa yang dia pikirkan. Diam, namun memiliki tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kau siapa?" Tanya Lufas.
Hal itu berhasil membuat Anna sadar dari lamunanya.
"Oh aku ingat. Kau adalah teman Sya."
Anna mengangguk.
"Terima kasih sudah mengantarkannya."
Setelah itu Lufas langsung membawa Sya masuk ke dalam kamar. Tanpa mempersilahkan Anna duduk atau hal lain. Walau hanya untuk basa-basi.
Anna yang merasa tidak dianggap langsung keluar. Dia tancap gas dengan kecepatan yang begitu tinggi. Mungkin dia melakukan itu karena sikap Lufas yang tidak bersahabat.
Sementara Lufas menatap Sya dengan tatapan yang tidak bisa digambarkan. Dia merasa begitu khawatir dengan keadaan Sya. Ada rasa takut kehilangan di hati Lufas. Mungkin karena wajah Sya dan Nita yang mirip. Lufas tidak ingin kehilangan untuk ke dua kalinya.
"Arda," lirih Sya.
Hal itu membuat rasa cemburu dihati Lufas langsung meluap. Apa lagi saat Sya memegang tangannya dan mengatakan, "Arda. Jangan tinggalkan aku lagi."
Rasa sakit muncul dihati Lufas. Dia melepaskan tangan itu. Dengan kekesalan yang memuncak Lufas keluar dari kamar Sya.
Dia melampiaskan kekesalannya di dalam kamar yang dia tempati. Suara tembakan dan pukulan beradu. Sampai Lufas terduduk dalam gelap.
"Aku akan melakukan apapun asal kau tetap disampingku."
__ADS_1
***