The Way Love

The Way Love
CXIII


__ADS_3

Dengan langkah pelan Lufas masuk ke apartemen. Suasana diapartemen begitu hening. Lampu juga sudah dimatikan oleh Sya.


Lufas mencoba masuk ke dalam kamar. Pintu itu terkunci dari dalam. Lufas bahkan tidak memiliki kunci cadangan.


Hanya helaan nafas yang terdengar berat.


Sudah dua hari ini Sya tidak mau berbicara dengannya. Dia lebih sering menghindar saat Lufas mendekat.


Sementara di dalam kamar.


Sya masih duduk dengan buku-bukunya. Bahkan camilan dan minuman juga sudah berada di dalam kamar menemaninya. Sya sengaja melakukannya agar tidak perlu bertemu dengan Lufas.


Rasa sakit dan kecewa tentang obat itu membuat Sya enggan bertemu. Rasa rindu memang hadir. Apa lagi posisinya saat ini sedang hamil. Dia ingin perhatian lebih. Hanya egonya memilih untuk tetap diam dan meminta Sya untuk diam.


"Sya, buka pintunya."


Sya pura-pura tidak mendengar dan memilih untuk diam di tempat.


Tok tok tok. "Sya. Bukalah. Setidaknya katakan apa yang kamu mau."


Masih sama. Sya diam saja.


"Sya. Aku tidak bisa terus seperti ini. Bicaralah padaku."


Karena suara Lufas yang mengganggunya membaca. Akhirnya Sya bangun dari duduk dan membuka pintu.


Lufas terlihat begitu lelah. Sya tahu itu karena pekerjaan Lufas di kantor yang begitu banyak. Namun Sya kembali teringat dengan obat penggugur kandungan itu.


"Jangan ganggu aku. Aku sedang membaca."


Lufas mengulas senyum. "Apa yang kamu mau. Katakanlah, setidaknya jangan buat aku terus menunggu rindu ini."


"Kau tahu apa yang aku inginkan," kata Sya yang langsung berbalik badan.


Belum sempat Sya melangkahkan kaki. Lufas langsung masuk dan menarik tangan Sya. Lufas memeluk Sya dengan erat. Rindu yang beberapa hari ini begitu menyiksanya.


"Aku merindukan kamu," bisik Lufas.


Sya hanya diam.


"Jangan menyiksaku Sya."


Tanpa kata Sya melepaskan pelukan itu. Dia menatap Lufas yang terlihat sedih.


"Aku tidak menyiksamu. Kau sendiri yang membuat masalah ini."


"Sya. Aku..."


"Kau punya kuasa. Lalu apa gunanya kuasa itu sampai hanya obat kau masih belum tahu. Aku hanya ingin kau tahu, aku akan tetap mempertahankan anak ini."


Lufas masih terlihat bingung. Meski begitu dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sya kembali masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Tangan Lufas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa begitu pusing dengan apa yang terjadi. Jika saja Ben saat ini tidak berada di luar kota. Sudah tentu dia tahu obat apa yang membuat kekasih hatinya merajuk tanpa henti.


Lelah. Lufas duduk di sofa dan mencoba menghubungi Ben. Dia meminta Ben untuk segera mencari tahu kebenaran obat itu. Tidak mungkin jika setiap hari dia harus tidur di sofa.


Memang benar jika Lufas masih memiliki rumah lain. Hanya saja itu bukan alasan yang tepat untuk saat ini. Jika sampai Lufas melakukn hal itu, sudah tentu kemarahan Sya akan semakin memuncak.


"Ada apa?" Tanya Ben dari seberang telfon.


"Urusan Tom kita pikir nanti. Aku harus tahu obat itu saat ini juga."


"Aku tahu kau melakukan ini karena Sya masih marah padamu."


"Kau tahu itu. Jadi lakukanlah dengan cepat."


"Ya. Aku akan mengirim informasinya melalui email sebentar lagi."


"Ya. Cepat."


Lufas menutup telfonnya. Dia meletakan ponsel itu dan langsung ada pemberitahuan email masuk. Segera Lufas melihat itu.


Dia kaget begitu tahu apa kegunaan obat itu. Pantas saja jika Sya marah padanya. Obat itu sangat terlarang bagi Sya. Meskipun Lufas masih belum menerima anak itu, tapi dia tidak setega itu. Mana mungkin dia akan membunuh anak itu.


Kini yang menjadi pikiran Lufas adalah siapa yang mengirimnya. Lalu kenapa harus atas namanya. Sudah tentu ini adalah teror untuk hubungannya yang baik-baik saja.


Tok tok tok.

__ADS_1


Lufas mencoba mengetuk pintu kamar Sya.


Tok tok tok.


Sya masih saja belum keluar.


Tok tok tok.


Kali ini Sya membuk pintu dengan tatapan melotot pada Lufas.


"Aku minta maaf."


Wajah Sya langsung berubah begitu Lufas meminta maaf.


"Aku tahu kau begitu marah. Hanya saja aku tidak tahu siapa yang mengirim obat itu. Sudah aku bilang, aku mencoba menerimanya."


Sya masih diam. Sya mengerti, Lufas sudah tahu akan obat itu. Jika bukan Lufas mengirimnya lalu siapa. Pertanyaan itu muncul dalam benak Sya.


"Maafkan aku ya," ucap Lufas sembari memegang tangan Sya.


"Apa kau janji akan melindungi bayi ini?"


Lufas mengangguk dengan senyuman diwajahnya.


Sya tersenyum. Dia merasa begitu lega dengan janji yang dibuat Lufas. Setidaknya, Lufas tidak akan pernah menyakiti bayi dalam perutnya itu.


Ponsel Lufas tiba-tiba berbunyi. Sya melihat ponsel itu dari kejauhan.


"Kenapa tidak kau angkat?" Tanya Sya.


"Aku tidak ingin ada yang mengganggu di momen ini. Dimana kau sudah tersenyum lagi padaku."


Sya dibuat kembali tersenyum. "Angkatlah. Bisa saja itu panggilan penting."


"Benarkah? Apa kau tidak akan marah?"


"Tentu saja tidak."


"Baiklah. Aku akan mengangkat telfon itu dulu."


"Ya."


Sya yang melihat itu mencoba mengejarnya. Saat Sya hampir ikut masuk ke dalam lift. Pintu lift itu tertutup. Sya tidak mungkin mengejar Lufas lewat tangga.


Sya menghela nafas panjang. Dia hanya bisa menunggu sampai saat Lufas kembali dan bertanya langsung padanya.


***


Tanpa pikir panjang dan pemberitahuan untuk Sya. Lufas pergi keluar kota. Dia mendapat kabar jika Ben diserang oleh sekelompok orang. Hal itu membuat Lufas khawatir.


Di dalam mobil Lufas meminta sopir untuk mempercepat laju kendaraanya. Ben sudah dianggap adik oleh Lufas. Sejak awal Ben yang menemaninya. Dia juga yang membantu semua usaha yang dimiliki oleh Lufas.


Di rumah sakit Ben baru saja keluar dari ruang operasi. Dia terkena tembakan di dada, jadi harus cepat ditindak.


Lufas baru saja sampai dan melihat Ben yang masih memejamkan mata. Baru kali ini Lufas melihat Ben yang lemah.


"Apa anda saudaranya?" Tanya dokter.


"Ya. Saya kakaknya. Bagaimana keadaan Ben?" Tanya Lufas.


"Adik anda membutuhkan banyak istirahat. Untung saja tadi cepat dibawa kesini, jika tidak dia akan kehilangan banyak darah."


Lufas menatap Ben.


"Dia akan sadar satu atau dua jam lagi. Jika masih belum sadar juga. Tolong langsung cari perawat atau dokter yang berjaga."


"Baik."


Percakapan itu berakhir. Seorang pria dengan pakaian ala pengawal masuk kerumah sakit. Dia langsung menemui Lufas yang sedang menunggu di samping Ben.


Melihat siapa yang datang Lufas keluar dari ruang rawat. Dia menatap tajam penuh selidik pada pria itu.


"Bagaimana?" Tanya Lufas yang tidak sabar ingin tahu kejadiannya.


Pria itu mengatakan semua detail yang dia tahu pada Lufas. Lufas hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Apa kalian tahu siapa yang menyerangnya?"

__ADS_1


"Kita sudah cari tahu. Semua bukti menunjukan jika ini ulah mafia Tom."


"Tom?"


"Ya."


"Kamu bisa pergi sekarang," kata Lufas pada pria itu.


Tanpa perlu perintah kedua kali. Pria itu meninggalkan Lufas.


Lufas duduk di kursi tunggu. Sudah lama dia tidak mendengar nama Tom. Kini dia harus mendengarnya dan berurusan dengannya lagi.


Dulu mereka berkelahi karena sebuah kasus. Tom ingin menjual orang, tapi Lufas menentangnya. Lufas memang melakukan penjualan senjata gelap, tapi dia menolak untuk perdagangan manusia.


"Masalah apa yang membuatnya kembali mengusikku," lirih Lufas.


***


Lampu apartemen menyala. Tv pun menyala, tapi Sya tidak menontonya. Dia terlihat mondar mandir di ruang tamu. Sejak tadi Lufas pergi masih belum ada kabar sama sekali. Hal itu membuat Sya khawatir.


Beberapa kali Sya ingin menelfon, tapi takut jika akan mengganggu pekerjaan Lufas. Padahal sejak tadi ponsel terus berada di tangannya.


Suara bel apartemen membuat Sya tidak sabaran untuk membukanya. Dia berharap jika Lufas yang kembali saat ini.


"Permisi.Ada paket untuk Nona Syaheila," kata seorang kurir dengan senyum ramahnya.


Sya menoleh ke kanan dan ke kiri. Berharap Lufas ada disana.


"Apa anda nona Syaheila?" Tanya kurir paket itu.


Kali ini Sya mengangguk.


"Ini ada paket," kata si kurir.


Karena Sya pernah dikirimi hal yang menakutkan. Sya terlihat ragu saat akan menerim paket itu.


"Siapa pengirimnya?" Tanya Sya.


"Disini tertulis nama Lufas."


Mendengar nama suaminya yang disebut. Sya langsung menerima paket itu. Sebelum masuk kembali, Sya terlebih dahulu tanda tangan sebagai bukti menerima.


"Terima kasih," ucap Sya.


"Sama-sama."


Sya masuk dengan kotak besar dipelukannya. Lufas tidak kembali, tapi dia mengirimkan sebuah paket. Meski begitu Sya masih saja khawatir.


Sebuah buket bunga besar dengan cincin ditengahnya. Sya terkejut sekaligus terharu dengan apa yang Lufas kirimkan. Biasanya Lufas tidak pernah seromantis itu pada Sya. Hal itu membuat Sya tidak bisa menahan untuk menelfon suaminya itu.


"Halo. Kamu dimana? Kenapa belum pulang juga? Apa ada masalah?" Tanya Sya beruntun.


"Kamu tenang dulu. Aku lagi di kota W, Ben diserang."


"Kenapa kamu nggak ngomong dari tadi. Aku khawatir."


"Maaf, aku terlalu panik karena Ben harus operasi."


"Lalu bagaimana dia sekarang?" Tanya Sya.


"Dia baru saja sadar dan langsung menanyakan kamu."


Sya hanya diam.


"Sudah dulu. Ben masih belum pulih benar. Aku harus menemaninya saat ini."


"Ya. Aku merindukanmu."


"Aku juga."


"Tunggu. Selama aku belum kembali, jika ada orang yang mencurigakan. Kamu langsung telfon aku ya."


"Baiklah."


"Jaga dirimu dan bayi kita."


Lufas mematikan telfonya. Membiarkan Sya tersenyum sendiri karena apa yang Lufas katakan. Perhatian yang begitu kecil namun sangat bermakna.

__ADS_1


***


__ADS_2