The Way Love

The Way Love
CXLVI


__ADS_3

Wajah Sya terlihat begitu cantik saat diterpa dengan sinar mentari. Mata itu masih terlelap sampai sebuah sentuhan membuatnya membuka mata.


Wajah Lufas terlihat begitu tampan. Sya mencoba untuk bangun. Dia mengingat semuanya, hanya saja dia tidak tahu jika Lufas yang sudah menyelamatkanya.


Mata Sya masih tidak beralih. Dia terus menatap Lufas. Rasa sakit sekaligus sebuah getaran muncul bersama. Sya tidak tahu harus mengartikan apa perasaanya pada Lufas.


Lufas yang tersadar tangan Sya bergerak langsung bangun. Mata mereka bertemu. Sya yang gugup memilih untuk mengalihkan pandangnnya.


"Kau merasa baik?" Tanya Lufas.


"Ya. Apa kau yang membawaku kesini?"


Rista masuk dan langsung memeluk Sya. Dia merasa begitu khawatir saat Lufas membawa Sya dalam keadaan pingsan.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Rista.


"Ya."


Sya menoleh kearah samping. Lufas tidak ada, dia sudah pergi.


"Dia baru saja keluar. Dia yang sudah menyelamatkanmu," kata Rista.


"Aku belum berterima kasih padanya."


"Kau bisa mengatakan padanya nanti. Saat ini kau pulihkan kondisimu."


Sya mengangguk.


"Apa yang dia lakukan padamu?" Tanya Rista kemudian.


Sya menceritakan pertemuan tidak sengaja itu pada Rista. Sya tidak tahu maksud Anna yang sebenarnya. Hanya saja Anna terus mengungkit tentang Mike.


"Apa mungkin Mike berhubungan denganya?"


"Aku tidak tahu," jawab Sya.


Rista melihat wajah Sya yang langsung berubah. Rista memilih diam dan tidak mengatakan jika Mike juga mencarinya.


Suara langkah kaki mendekat. Tidak lama pintu terbuka. Sya mengira itu adalah Lufas yang kembali. Ternyata sosok Mike yang masuk.


Rista terus memandang pada Mike. Tidak dengan Mike, dia memandang wanita yang saat ini sedang diinfus itu.


"Apa kau terluka?" Mike langsung mendekat dan menatap wajah Sya.


"Tidak. Aku hanya pingsan."


Mike melihat bekas merah di leher Sya. Terlihat jika Sya baru saja dicekik oleh seseorang.


"Siapa yang melakukannya?" Tanya Mike.


Sya menggeleng. Dia tidak mau ada masalah lagi. Apa lagi Anna marah padanya jug karena Mike. Jika dia mengatakannya, akan ada masalah lain yang akan muncul nantinya.


Mike menoleh pada Rista. Saat ini Rista langsung mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau Mike tahu jika sejak tadi dia memandang kearahnya.


"Kau pasti tahu sesuatu. Katakan siapa yang melakukannya?" Tanya Mike.


"Anna. Anna yang melakukan hal ini."


Mike menatap pada Sya. Sya hanya menunduk. Sebenarnya dia tidak au Mike terus membantunya. Dia merasa jika hal itu berlanjut, mike akan semakin mendekat.


"Aku ingin bicara empat mata dengan Sya. Apa kau mau pergi dulu," kata mike.


"Ba...baiklah."


Rista mengambil tasnya. Dia enggan meninggalkan mereka untuk berduaan. Hany saja, Rista tidak bisa menolak permintaan Mike. Rista seperti terhipnotis dengan apa yang Mike lakukan.

__ADS_1


Mike menatap marah pada Sya. Kenapa Sya tidak mau jujur padanya.


"Kenapa kau tidak mengatakan dengan jujur?"


"Semu ini bukan urusanmu Mike. Aku tidak ingin orang lain mencampuri urusanku."


"Benarkah? Bagaimana jika urusanmu adalah urusanku."


"Kita tidak ada hubungan apapun Mike."


"Hubungan itu akan segera terjadi."


Mike mendekat dan menarik tubuh Sya. Kini tubuh mereka begitu dekat. Mata mereka bertemu, Mike mendekatkan wajahnya. Tepat pad saat itu Sya mendorong tubuh Mike.


"Aku tidak akan mekepaskanmu Sya," ucap Mike.


Sya hanya diam saja.


Di luar ruangan. Lufas melihat semuanya. Bagaiman Sya begitu dekat dengan Mike. Cara mike memperlakukan Sya.


Marah. Perasaan itu jelas muncul. Hanya saja Lufas tidak ingin memperlihatkanya. Dia hanya berharap Sya tahu, cintanya masih sama. Cinta itu bisa bersemi kembali.


Lufas melepaskan gagang pintu dan memilih untuk pergi. Saat ini, dia hanya ingin tahu perasaan Sya yang sesungguhnya. Jika memang tidak bisa bersama lagi. Lufas akan bersedia melepaskan Sya. Meski cinta di hatinya terus tumbuh.


***


Sya masuk ke dalam rumah Lufas. Dia melihat Danendra yang sedang melakukan pemeriksaan. Disana ada dokter Jo, tapi tidak ada Lufas.


Mata Sya terus mencari. Sampai pembantu mendekat pada Sya.


"Makan siang sudah disiapkan."


"Ya. Dimana Lufas?"


"Di taman belakang."


Tidak ingin kehilangan kesempatan. Sya mendekat pada Lufas. Lufas sadar jika ada seseorang yang datang. Dia menoleh kebelakang. Bayangan Sya langsung tertangkap oleh matanya.


"Ada apa kau disini? Bukankah kau sedang di rumah sakit."


"Aku sudah tidak apa-apa."


"Baguslah."


"Lufas," panggil Sya.


"Ya."


"Terima kasih karena sudah menolongku."


Lufas menatap pada Sya. Dia tertunduk saat ini. Jika saja rasa itu masih sama. Lufas pasti akan menghambur untuk memeluk kekasih hatinya itu. Lufas sadar, cintanya itu bukanlah miliknya lagi.


"Ya. Lain kali berhati-hatilah."


"Ya."


Lufas dan Sya kembali masuk ke dalam rumah. Mereka berniat untuk melihat kondisi Danendra bersama. Tiba-tiba saja Mika datang dan langsung memeluk Lufas.


Mata Sya melebar melihat hal itu. Dia mencoba untuk tidak melihatnya dan kembali berjalan. Tapi tangan Mika memegangnya dengan erat.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Mika.


"Ya. Aku disini karena Nendra."


"Nendra?"

__ADS_1


"Dia anakku dan Sya," jawab Lufas.


"Kalian sudah punya anak?" wajah tidak terima terlihat pada Mika.


Lufas yang tahu Mika marah langsung mendekat pada Mika. Dia memeluk pinggang Mika dengan mesra. Sya melihatnya, dia diam. Tidak marah, juga tidak merasakan cemburu.


"Kau tidak perlu ragu dengan Lufas. Aku dan dia, masih berhubungan karena Nendra. Bukan karena hal lain."


Setelah mengatakan itu Sya masuk ke ruangan Danendra. Dia mencoba bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa tidak merasa marah dan cemburu. Apa mungkin cintanya sudah hilang. Jika saja cinta itu benar-benar hilang. Sya merasa begitu lega.


Di ruang kerja Lufas.


Mika masih saja marah. Hal ini cukup mengganggu bagi Lufas. Sampai akhirnya Lufas menarik Mika ke dalam pelukannya.


"Jangan marah."


Mika membuang muka. "Kau masih mencintainya."


"Memang benar, tapi dia tidak mencintaiku lagi."


"Kau masih ingin mengejarnya?" Tanya Mika.


"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa lelah."


Senyum terukir di wajah Mika mendengar hal itu. Dengan ini, Lufas memang belum mencintainya. Hanya saja mika membutuhkan waktu untuk membuat Lufas mencintainya.


***


"Mama pulang dulu ya. Besok Mama akan datang lagi."


"Benar. Aku ingin masakan Mama."


"Besok akan Mama bawakan. Sekarang Mama akan pulang dulu."


"Baiklah."


Sya memeluk Danendra dengan erat. Sebelum melepas pelukan itu, Sya mencium kening Danendra.


Baru saja keluar dari rumah Lufas. Mike sudah menunggu dengan bersandar di mobil.


"Kau disini?" Tanya Sya.


"Ya. Aku menunggumu."


"Aku ingin pulang ke rumah."


"Rumahmu sudah dihancurkan oleh Tom."


"Apa?!" Wajah Sya terlihat tidak senang.


"Kau tidak percaya? Aku akan mengantarkanmu."


Sya masuk ke dalam mobil Mike. Mobil melaju ke rumah Sya. Dalam hati Sya terus bertanya. Apa yang membuat Tom melakukan hal itu padanya.


Tidak membutuhkan waktu lama. Sya terduduk lemas karena melihat rumah yang selama ini dia huni rata dengan tanah.


Air mata mengalir begitu saja. Rasa sakit hati begitu terasa. Saat itu Mike membantu Sya bangun. Dia menenangkan Sya saat itu. Setelah itu Sya masuk ke dalam mobil.


"Kita pulang dulu ke rumah. Nanti kita pikirkan lagi." Ucap Mike.


Di dalam mobil. Sya mendapatkan pesan dari Anna.


'Bagaimana? sudah aku bilang jangan menggangguku. Sekarang, kau mau kemana? gelandangan.'


Sya hanya menghela nafas. Tanpa sadar, dia meletakan kepalanya di bahu Mike. Mike tersenyum dengan senang.

__ADS_1


Kesalahan apa yang sudah aku lakukan pada Anna. Kenapa dia tega melakukan hal ini. Pikir Sya.


***


__ADS_2