
Malam begitu indah. Bahkan bulan dan bintang tidak malu untuk menampakkan dirinya. Walau suasana cukup dingin, tapi semangat dari para tamu yang diundang begitu berkobar.
Pengusaha dan beberapa artis ternama hadir disana. Walau begitu, Sya tidak bisa hanya berdiam diri saja di dalam kamar. Dia tahu, hal ini bisa membuatnya melupakan Arda. Walau hanya beberapa saat.
"Nona, para tamu sudah datang."
"Aku akan keluar sebentar lagi."
Mira mengangguk lalu kembali keluar. Sya menatap dirinya sendiri di depan cermin. Baju dan tatanan rambutnya sudah serasi. Hanya satu hal yang kurang.
Sya menatap kotak perhiasan diatas meja. Dia melihat beberapa model anting disana. Sampai akhirnya Sya memilih sebuah anting dengan warna putih.
"Setidaknya, aku harus tampil sempurna malam ini."
Pintu kamar Sya terbuka. Tidak ada Mira disana. Mau tidak mau Sya harus pergi keaula sendirian. Walau masih ada rasa gugup, Sya mencoba untuk tenang dan tampil apa adanya.
Sampai disebuah lorong Aya berhenti karena melihat seorang wanita sedang memarahi pegawai hotel. Tanpa pikir panjang Sya menghampiri mereka.
"Apa yang terjadi disini?" Tanya Sya langsung.
Aila menoleh. Dia melihat Sya begitu cantik dengan gaun malam yang gemerlap. Hal itu membuat hatinya gelisah. Apa lagi jika Arda bisa ingat kapanpun.
"Kau?"
"Ya. Ini aku."
"Kenapa kau ada disini?"
"Untuk apa lagi. Kau pasti sudah tahu siapa suamiku. Dia pengusaha besar. Jadi, apa aku perlu alasan lain disini?"
Sya mengisyaratkan pada si pegawai untuk pergi dari sana. Kini hanya ada Sya dan Aila dilorong itu.
"Bagaimana kabarmu Sya? Kita sudah lama tidak bertemu."
"Tidak usah sok akrab denganku. Lagi pula, kenapa kau bisa keluar dari penjara. Bukankah seharusnya..."
"Aduuuuh."
Tiba-tiba Aila memegang pipi kirinya sembari mengaduh kesakitan.
"Ada apa ini?"
Arda datang dan langsung mendekat pada Aila. Dia bahkan melihat wajah Aila dengan begitu dekat.
"Arda," panggil Sya dengan nada kaget melihat Arda begitu sehat.
Arda menoleh. Tatapan itu sangat berbeda, tidak seperti Arda yang menjadi suaminya. Dia lebih seperti Arda yang baru saja bertemu dengan Sya.
"Sayang," panggil Aila sembari memegang kedua tangan Arda, "dia itu Sya."
"Oooh. Jadi dia yang sudah merebut Jovi dari Mila? Pantas dengan gayanya," kata Arda.
Sya hanya bisa diam. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja, Arda begitu berbeda. Bahkan terlihat lupa dengan segala hal bahagia yang dulu mereka lakukan bersama.
"Kenapa dia disini?" Tanya Arda kemudian.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingat. Dia adalah adik Ruka. Ruka temanmu."
"Benarkah. Bagaimana bisa Ruka mau punya adik pelakor sepertinya."
Kali ini Sya benar-benar merasa terluka. Arda benar-benar tidak ingat dengannya. Bahkan, Arda juga tidak ingat pernah berjanji pada Sya. Janji yang tidak mungkin Sya lupakan.
"Nona dan Tuan. Acara sudah dimulai," kata seorang pegawai hotel yang mendekat pada mereka.
"Terima kasih," ucap Sya.
Sementara Arda dan Aila berlalu. Aila melingkarkan tangannya pada Arda dengan begitu mesra. Bahkan, tatapan mata Arda pada Aila begitu manis. Tatapan yang hanya pernag dirasakan oleh Sya.
Semuanya sudah hancur. Bahkan Arda tidak mengingat dirinya. Entah itu kabar baik, atau kabar buruk. Yang jelas, Sya benar-benar merasa terpukul.
"Sya. Kau disini? Kakakmu sudah mencarimu sejak tadi," kata Lufas.
Sya buru-buru menghapus air matanya. Dia menoleh pada Lufas.
"Kau menangis?" Tanya Lufas.
"Tidak. Aku hanya kelilipan saja. Ayo, kau mengatakan jika kakak sudah menungguku."
"Baiklah. Ayo."
***
Malam itu Sya hanya menemani Ruka kesana kemari untuk menyapa para tamu. Sampai saat Ruka mengajaknya kemeja Arda dan Aila. Tangan Sya langsung menahan Ruka.
"Aku tidak bisa Kak," kata Sya.
Sya menggeleng.
"Sya. Kau harus menghadapi kenyataan ini. Dia tidak ingat pada dirimu. Jadi, bersikaplah kau tidak pernah mengenalnya."
Sya akhirnya mengangguk. Dia mengikuti langkah Ruka.
"Malam. Maaf aku baru bisa menyapamu."
Arda berdiri dan langsung memeluk Ruka.
"Tidak masalah. Aku tahu kau memiliki banyak tamu penting," kata Arda.
Ruka tersenyum. Mereka membahas beberapa hal dan itu membuat Sya hanya bisa diam dan menahan rasa kesal. Ya, bagaimana Sya tidak kesal. Sejak tadi Aila terus menerus mendekat pada Arda. Bahkan tidak ada penolakan pada diri Arda.
"Maaf. Aku dan adikku harus menyapa tamu lain," kata Ruka kemudian.
"Tidak masalah. Oh ya, katakan pada adikmu. Dia harus mencari pria yang baik dan tidak memiliki istri."
Ruka menoleh pada Sya. Sya hanya bisa tersenyum tipis.
"Terima kasih sarannya Tuan," kata Sya pada Arda.
Setelah itu Sya dan Ruka pergi. Mata Arda masih belum berpindah dari Sya. Dia merasa begitu dekat dan nyaman saat disamping Sya. Hanya saja, ingatannya tentang Mila dan Jovi membuat Arda melupakan perasaan aneh itu.
"Arda. Apa kau mau minum?" tawar Aila.
__ADS_1
"Terima kasih," kata Arda sembari menerima minuman dari tangan Aila.
Ditempat yang cukup sepi Sya memukul keras tubuh Ruka. Dia merasa begitu kesal pada kakaknya itu. Ruka tahu segalanya tentang Arda, tapi dia tidak mengatakannya sama sekali pada Sya.
"Kenapa kau tega, Kak."
"Sya. Dengarkan aku, ini semua untuk kebaikan kamu. Kamu juga harus bisa melupakan dia."
"Ini tidak adil. Dia tidak mengingatku dan hanya ingat saat aku membuat kesalahan. Sedangkan aku, aku harus berusaha melupakan semuanya."
"Aku yakin kau bisa."
Sya hanya bisa menggeleng dengan cepat. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana dengan semua ini.
"Ayo kembali ke pesta. Banyak tamu yang menunggu."
"Aku akan menyusulmu." Jawab Sya.
Sampai akhirnya pesta itu hampir berakhir. Sya duduk dengan tangan terlipat didada. Dia hanya menatap beberapa tamu yang sedang asik berbincang dengan sesama tamu.
Lufas melihat hal itu. Jadi, dia memilih untuk duduk bersama dengan Sya. Walau dia tahu, Sya pasti akan menolaknya dengan kasar jika dia meminta ijin.
Apa yang dipikirkan Lufas salah. Sya sama sekali tidak menolak. Dia bahkan menggeser duduknya agar Lufas memiliki ruang. Walau masih sama, tidak ada perkataan dari mulut masing-masing.
"Apa kau sedang sedih?" Tanya Lufas kemudian.
Sya menggeleng. "Aku tidak sedih."
"Baguslah."
Setelah itu Lufas mengambil dua minuman. Dia memberikan satu pada Sya. Dengan senyuman tipis Sya mengambil minuman itu.
Sya dan Lufas tidak tahu jika ada sepasang mata yang menatap mereka. Mata itu adalah mata milik Arda. Entah apa yang membuat matanya begitu terpaku dengan Sya.
Kedekatan Sya dan Lufas juga memberikannya rasa kesal didalam hati. Arda tidak sadar jika dia sedang merasa cemburu.
"Arda. Apa kau lelah?" Tanya Aila sembari memeluk lengan Arda.
Aila tahu jika Arda begitu memperhatikan Sya saat ini. Jadi, dia mencoba membuat Arda beralih perhatian atau pergi dari sana.
"Arda. Kau harus minum obat. Ayo kita kembali ke kamar."
"Pestanya belum selesai."
Aila memasang wajah cemberut. "Apa pesta ini begitu penting sampai kau merelakan kesehatanmu."
"Aila benar. Kau tidak boleh telat minum obat. Kembalilah, besok kita bisa bicara lagi," kata Ruka.
"Kalau begitu aku dan Aila kembali ke kamar. Ruka. Pesta ini begitu indah dan mewah."
"Aku tahu itu."
Malam itu Aila terus menerus memberikan kata-kata yang membuat Arda kesal pada Sya. Ya, tujuannya hanya satu. Dia tidak ingin Arda kembali ingat. Apa lagi jika perasaan cinta itu muncul lagi. Sudah jelas dia akan diceraikan, bahkan dia harus kembali kepenjara.
***
__ADS_1