The Way Love

The Way Love
CXLVIII


__ADS_3

Matahari sudah mulai tinggi. Mike duduk dengan tenang sembari menunggu Sya keluar dari rumah sakit.


Hari ini Mike sengaja membatalkan semua pemotretan dan wawancara eksklusif. Dia hanya ingin menemani Sya sampai mendapatkan hasil.


Tidak lama Lufas keluar dari mobil. Mata elang mereka langsung bertemu. Mike Hanya tersenyum kecil mendapat pandangan itu dari Lufas.


"Kau pasti mengantar Sya," tebak Lufas.


"Tanpa berkata kau juga sudah tahu."


"Apa kau kira sudah mendapatkannya?"


"Ya. Aku yakin dia akan menjadi milikku."


Lufas mengepalkan tanganya. Jika saja Sya masih sama, saat ini Lufas sudah meninju Mike tanpa ampun.


"Jika kau berani melukai hatinya. Aku tidak segan untuk menghancurkanmu."


"Tenang saja. Dia sudah di tangan yang tepat."


Tidak lama Sya keluar dari rumah sakit dengan derai air mata. Dia membawa sebuah kertas di tangannya. Sya hanya melihat Mike disana, tanpa ragu Sya mendekat dan memeluk Mike.


"Ada apa?" Tanya Mike yang juga kaget dengan kelakuan Sya.


Sya hanya menggelengkan kepalanya. Mike mengambil kertas di tangan Sya dan melihatnya. Kini Mike tahu penyebab Sya menangis tersedu.


Lufas tidak menyangka jika Sya sudah begitu dekat dengan Mike. Bahkan Sya tidak malu untuk memeluk Mike di tempat umum.


Mata Lufas terus menatap pada adegan itu. Dia begitu emosi, hanya saja saat itu telfonnya berdering. Mau tidak mau dia harus meninggalkan Sya dengan Mike.


"Tenanglah. Saat ini masuk ke mobil. Aku akan mengantarkan kamu bertemu dengan Nendra. Dia sudah menantimu pasti."


Mereka masuk ke mobil. Langsung menuju ke rumah Lufas. Dalam perjalanan Sya masih saja terlihat gelisah. Mike perlahan memegang tangan Sya. Berharap Sya bisa lebih tenang.


"Kau tenang saja."


"Aku tidak bisa tenang Mike. Ini menyangkut nyawa anakku."


"Aku tahu. Hanya saja kau harus terlihat baik-baik saja didepan Nendra. Kau tidak mau dia sedih kan?"


"Bagaimana aku bisa membiarkanya sedih."


"Kalau begitu jangan biarkan dia melihatmu seperti ini."


"Ya."


Setelah mengantar Sya. Mike langsung menuju ke rumah sakit. Dia berniat untuk melakukan pemeriksaan juga. Hal ini akan semakin mendekatkan Sya dengan dirinya.


***


Wajah Lufas terlihat marah begitu mengetahui hasil tes itu. Dia dan Sya sama-sama tidak bisa mendonorkan hati untuk Danendra.


"Kenapa bisa hasilnya seperti ini?" Tanya lufas.


"Ya. Semua hal bisa terjadi," kata Dokter Jo.


"Lalu bagaimana dengan anakku?"


"Kita akan mencarikan pendonor yang cocok. Kau dan Sya hanya perlu berdo'a saat ini."

__ADS_1


"Dia sudah bersama Mike."


Mendengat itu Dokter Jo hanya diam. Dia tidak ingin melihat Lufas kembali begitu kacau. Saat ini, Dokter Jo memilih untuk keluar. Membiarkan Lufas sendiri dengan pikiran-pikirannya.


Saat ini Lufas memberi perintah pada Ben untuk mencarikan donor hati yang cocok untuk Danendra. Dia tidak mengabari Xiu, Lufas masih kesal dengan Xiu. Karena Xiu, Sya dan Mike bertemu dan menjadi begitu dekat.


"Kenapa kau tidak memberi tahu Xiu?" Tanya Ben.


"Aku tidak ingin melihatnya."


Lufas mematikan ponselnya. Saat ini dia ingin melihat keadaan Danendra. Dia meminta sekretaris untuk membatalkan semua meeting dan jadwalnya.


Baru saja turun dari lantai atas. Mike dan Lufas kembali bertemu. Mereka kali ini tidak saling menyapa, hanya saling bertatapan. Lalu pergi ketujuan masing-masing.


Sementara Sya duduk dengan mata sembab di samping tempat tidur Danendra. Dia melihat Danendra yang harus terbaring lemah.


Kadang Sya berfikir, apa mungkin karena kesalahannya dimasa lalu. Hingga membuat Danendra menanggung semua ini. Meski begitu, Sya tidak bisa melakukan apapun saat ini. Dia hanya bisa berharap, ada donor hati yang cocok untuk Danendra.


***


Danedra yang masih dalam pengaruh obat masih belum bangun. Melihat jam di tangannya, Sya memutuskan untuk pulang ke rumah Mike. Dia akan kembali lagi besok.


"Kau sudah mau pulang?" Tanya dokter Jo yang melihat Sya keluar dari ruangan Danendra.


"Ya. Ada apa?"


"Aku mendapat kabar baik untukmu. Apa kau mau mendengarnya?"


"Tentu. Hal apa?" Tanya Sya.


"Aku sudah mendapatkan donor hati yang cocok untuk Danendra."


"Tapi dia meminta syarat."


"Syarat apa? Jika aku bisa melakukannya. Aku akan berikan syarat itu." Sya mengatakannya tanpa berfikir.


"Apa kau yakin?" Tanya Dokter Jo.


"Ya. Aku sangat yakin untuk Nendra."


"Dia ingin kau mau menikah dengannya."


Sya diam. Dia tidak menyangka Syaratnya hal seperti itu.


"Jangan setuju. Aku bisa carikan pendonor lain," kata Lufas yang mendengar hal itu.


"Apa kau yakin akan melepaskan hal ini. Sangat sulit mencari pendonor hati," kata dokter Jo.


"Ya. Sya tidak bisa menikah."


"Aku bisa." ucap Sya dengan sangat yakin.


"Sya. Ini bukan hal kecil," kata Lufas.


"Aku tahu. Hanya saja, ini tentang nyawa anakku. Aku bisa melakukan apapun untuknya."


"Bagaimana jika dia bukan pria baik. Kau akan tersakiti."


Sya langsung menatap pada Lufas dengan lekat. Dia mendekat dan berkata, "Aku sudah sering tersakiti. Jadi, tidak perlu memikirkan perasaanku."

__ADS_1


Lufas terdiam.


"Bagaimana?" Tanya dokter Jo.


"Aku menerima syarat itu."


"Baguslah. Jika kau cepat menikah, operasi akan segera dimulai."


Sya hanya tertunduk.


"Siapa orang itu?" Tanya Lufas pada Dokte Jo.


"Aku akan memanggilnya. Sebentar."


Dokter Jo sedikit berlari keluar. Tidak berapa lama, Dokter Jo kembali masuk. Di belakangnya ada seseorang.


Lufas terlihat begitu tidak terima. Sementara Sya masih diam tidak percaya. Mike masuk dengan penuh percaya diri. Dia langsung mendekat pada Sya.


"Kau mau menikah denganku?" Tanya Mike.


"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Sya.


"Aku tidak ingin membuatmu sedih. Aku hanya ingin melindungimu."


Lufas memilih masuk ke ruang kerjanya. Di tidak menyangka. Mike melakukan berbagai cara agar bisa memiliki Sya.


Di dalam ruang kerja. Lufas terus memukuli tembok dia bahkan tidak merasakan jika tangannya sudah mulai berdarah. Saat ini, lufas merasa semuany sudah berakhir. Sebuah kebohongan yang dia lakukan membuat semuanya berakhir disini.


Lufas harus menerima kenyataan untuk melihat wanita yang dia cintai menikah dengan pria lain.


***


Di rumah Mike sudah begitu ramai. Persiapan pernikahan sudah dilakukan. Bahkan Mike sudah menyiapkan baju untuk pernikahan itu.


Sya mencoba gaun itu. Dia menatap dirinya sendiri di cermin. Sembari terus menyemangati dirinya sendiri, semua ini untuk Danendra.


"Kau sangat cantik," kata Mike.


"Kenapa kau mau menikah tanpa cinta?" Tanya Sya.


"Kata siapa aku menikah tanpa cinta. Aku cinta padamu."


"Tapi aku tidak. Kita hanya berteman, sejak awal."


Mike mendekat pada Sya.


"Aku tidak peduli. Aku yakin kau akan mencintaiku nantinya."


"Bagaimana jika tidak?"


Mike tersenyum kecil.


"Aku tidak peduli Sya. Aku hanya ingin kau menjadi milikku. Aku akan selalu melindungimu."


Pernikahan itu masih satu minggu lagi. Sya meminta pada Mike untuk melakukan operasi lebih dulu. Sya mengira Mike akan menolak, kenyataanya. Mike mau untuk operasi lebih dulu.


Hal ini, membuat Sya sulit untuk menolak Mike. Mike sudah begitu baik padanya. Bahkan pada Danendra.


***

__ADS_1


__ADS_2