The Way Love

The Way Love
CLVII


__ADS_3

Wajah Sya terlihat datar saat melihat berkas yang diberikan oleh Mike. Itu adalah berkas yang harus dipelajari Sya saat dalam persidangan nanti.


Sebenarnya Sya tidak berniat untuk mempelajarinya. Saat ini dia merasa yakin dan sangat yakin jika Danendra akan memilih dirinya. Jadi, dia tidak perlu memahami isi berkas itu.


"Nona, ini tehnya."


Seorang pelayan membawakan secangkir teh dan sepiring camilan. Sya mengangguk, dia mengucapkan terima kasih. Hanya tidak mengalihkan pandangannya pada berkas di tanganya.


Saat ini Sya berada di rumah tanpa Mike. Mike sedang ada urusan untuk sebuah pemotretan. Mike mengatakan jika pemotretan itu sangat sepesial. Sya yang tahu itu mencoba untuk yang terbaik.


Bruk. Sya meletakan berkas di tanganya ke meja dengan cukup keras. Dia bersandar pada kursi dan menghela nafas panjang. Seperti baru saja mendapatkan sebuah kebebasan.


"Sebaiknya aku menemui Danendra. Dia pasti sangat merindukan aku."


Setelah menyesap teh yang diberikan pelayan tadi. Sya bergegas untuk bersiap. Dia akan mencari Danendra di beberapa sekolah ternama.


Sebelum Sya benar-benar pergi. Sya menyempatkan diri untuk mengirim sebuah pesan pada Mike. Dia tidak mau jika Mike mencarinya saat pulang nanti.


'Aku keluar. Mencari anakku, dia pasti sangat merindukan aku.'


Itulah pesan yang dikirim oleh Sya pada Mike.


***


Sebenarnya Mike tidak datang untuk acara pemotretan. Dia datang ke sebuah konferensi pers untuknya. Hari ini dia akan mengatakan pada media tentang niatnya untuk pensiun dari dunia permodelan.


Banyak pro dan kontra yang terjadi. Banyak pihak yang merasa jika Mike salah jika berhenti. Meski begitu, Mike adalah Mike, dia tidak ingin di atur bahkan dia masih tetap dalam pendirianya meski banyak yang menentang.


Acara konferensi pers itu sudah berakhir Mike dan Asisten Lee masuk ke sebuah ruangan. Mike menyandarkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Dia meminum sebuah minuman dingin dengan sekali teguk.


"Banyak sekali pihak yang meminta Anda untuk kembali. Apa sebaiknya Anda memikirkannya lagi," kata Asisten Lee.


Mike meletakan kaleng minuman ke meja. Sembari menatap pada asisten Lee.


"Pekerjaanku bukan seperti ini. Kau tahu."


Asisten Lee hanya mengangguk.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Mike. Wajah Mike berubah tidak senang. Saat ini Sy


pergi keluar sendirian. Dia tidak tahu, sesudah menikah dengan Mike. Akan ada banyak pihak yang mengincarnya. Tentu saja berkaitan dengan bisnis yang dimiliki oleh Mike.


"Cari tahu dimana Nona Sya berada. Setelah itu, perintahkan orang untuk selalu di dekatnya. Ingat, jangan sampai Nona Sya tahu," kata Mike.


Asisten Lee mengambil telfon pintarnya. Dia memerintahkan beberapa orang untuk melakukan apa yang Mike inginkan.


Asisten Lee dan Mike langsung menuju ke parkiran mobil. Tentu saja untuk datang dan bertemu dengan Sya. Mike tidak akan pernah bisa membiarkan Sya dalam bahaya.


"Saat ini Nona Sya berada di sekolah Permata."


"cari tahu apa Danendra berada disana."


Tidak membutuhkan waktu lama. Asisten Lee sudah mendapatkan info yang Mike minta.


"Benar. Tuan Danendra berada di sekolah itu."


Mike mendengus.


"Percepat mobilnya. Jangan sampai Sya bertemu dengan Danendra disana."

__ADS_1


"Baik."


***


Sya kembali mengecek daftar nama murid disana. Dia benar-benar melihat nama Danendra diantara nama murid-murid lain. Sya merasa begitu bangga pada dirinya sendiri. Karena berhasil menebak dimana anaknya berada.


Tidak ingin mengganggu pelajaran Danendra. Sya memilih untuk menunggunya sampai jam istirahat. Sya duduk di sebuah bangku dengan pohon rindang di belakangnya.


Tidak lama ara murid keluar dari dalam kelas. Mereka terlihat ceria. Bahkan mereka langsung berpencar ketujuan masing-masing.


Sya mengedarkan pandangnya. Dia terus mencari sosok Danendra yang sudah lama dia rindukan.


Wajah Danendra terlihat dia sedang bersama dengan beberapa teman lelakinya. Wajah Sya berubah menjadi sangat bahagia. Dia hendak mendekat, sebuah tangan menghentikanya.


"Kamu. Kenapa disini?" Tanya Sya yang melihat Mike menahan tangannya.


"Jangan temui dia disini."


"Dia anakku. Saat ini aku ingin menemuinya. Walau hanya sebentar."


Mike melihat kesekeliling. Dia tahu, Sya begitu menginginkan anaknya itu.


"Ikut aku." Mike menarik tangan Sya.


"Aku ingin menemui dia mike."


Mike tidak mendengarkan. Dia terus menarik tangan Sya. Sampai di sebuah pintu bertuliskan kepala sekolah. Mereka berhenti. Sya menatap pada Mike.


"Ayo masuk," kata Mike.


Sya berdiri dan enggan untuk masuk.


Akhirnya mereka masuk juga. Di dalam Mik mengatakan tujuan datangnya. Kepala sekolah yang tahu siapa Mike tidak menolak sama sekali. Dia langsung menghubungi seorang staf untuk membawa Danendra.


Danendra terlihat senang saat bersama dengan teman-temannya. Saat ini mereka sedang menikmati makanan di kantin.


Sampai seorang staf mendekat. Di dalam kantin sudah banyak yang menatap staf itu. Ingin tahu ada apa.


"Danendra. Di panggil kepala sekolah," kat staf itu.


Danendra masih diam.


"Kau yang dipanggil," kata salah seorang teman Danendra.


"Aku?" Danendra menunjuk pada dirinya sendiri.


"Ya. Kau yang dipanggil kepala sekolah," kata Staf.


Mau tidak mau akhirnya Danendra beranjak dari duduknya. Dia berjalan kearah ruangan kepala sekolah berada. Teman-teman yang berada di kantin mulai saling berbisik.


Mereka menerka-nerka apa yang akan terjadi pada Danendra. Apa ada masalah serius atau karena dia murid baru dan belum mengerti sekolah itu.


Danendra membuka pintu kelapa sekolah dengan lembut. Dia masih belum melihat siapa yang ada disana.


"Bapak memanggil saya?" Tanya Danendra dengan sopan.


"Ya. Orang tuamu ingin bertemu."


Danendra mengernyitkan dahi. Dia menoleh ke sofa dimana Mike dan Sya sedang duduk menatapnya.

__ADS_1


Wajah Danendra yang mulanya tenang kini terlihat penuh emosi. Dia tidak tahu, bagaimana bisa Sya datang untuk menemuinya di sekolah.


"Kamu duduklah dan berbincang dengan mereka. Bapak masuk dulu," kata kepala sekolah yang langsung meninggalkan Danendra dengan Sya dan Mike.


"Untuk apa kalian datang?" Tanya Danendra.


Sya mendekat dan hendak memeluk Danendra. Namun yang terjadi adalah Danendra mundur beberapa langkah.


"Jangan menyentuhku." Ucap Danendra.


"Kamu kenapa Nendra. Mama merindukan kamu."


"Aku tidak punya mama seperti kamu."


"Apa maksudmu Nendra?" Tanya Mike.


Danendra menatap Mike tidak senang.


"Kamu jangan bicara padaku. Karena kamu, Mamaku meninggalkan Papa. Karena kamu Mama tidak mencintaiku lagi."


"Danendra. Apa yang kamu bilang sayang. Mama masih mencintai kamu. Sama seperti dulu," kata Sya.


"Sudahlah Ma. Jika Mama masih tetap dengan Om Mike. Berarti Mama tidak pernah mencintaiku."


Danendra keluar dari ruangan itu. Sya diam, dia tidak tahu bagaimana bisa Danendra begitu berubah. Danendra bahkan tidak menyuku Mike seperti waktu itu.


Mike berpamitan sekaligus berterima kasih pada kepala sekolah. Setelah itu mereka keluar dari sana.


"Jangan menangis Sya," kata Mike.


"Aku tidak menangis. Aku hanya merasa bingung. Bagaimana bisa Danendra berlaku seperti itu."


Mike tidak mengatakan apapun. Dia menepuk-nepuk pundak Sya yang masih terlihat kaget dengan sikap Danendra yang berubah.


***


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Lufas. Danendra yang mengirim pesan untuknya. Karena tidak biasanya Danendra mengirim pesan untuknya. Lufas melihat isi pesan itu.


'Mama datang ke sekolah dengan Om Mike."


'Untuk apa?'


'Tidak tahu, Pa. Hanya aku tidak senang.'


'Lalu apa yang kamu inginkan?' Tanya Lufas.


'Jauhkan aku dari mereka.'


'Tidak bisa. Bagaimanapun dia Mamamu.'


'Dia bukan Mamaku lagi setelah dia tidak bersama Papa.'


'Cukup, Nendra. Belajar saja dengan baik.'


Lufas meletakan ponselnya. Dia tersenyum puas. Permainan baru saja dimulai. Perlahan tapi pasti, Sya akan memilih kembali padanya untuk hati Danendra.


Saat waktunya Sya meminta kembali. Saat itu, Lufas akan membuat Sya memilih untuk mati dari pada hidup.


***

__ADS_1


__ADS_2