
Pagi-pagi sekali Ben sudah sampai di apertemen Sya. Dia meminta Sya bersiap untuk datang tepat waktu ke kantor. Hari ini akan menjadi awal kehidupan Sya. Kehidupan yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya.
Jantung Sya berdegup begitu cepat. Dia memikirkan apa saja yang bisa terjadi nanti saat rapat dewan. Pasti akan banyak kontra yang dia dapat. Alasannya pasti karena Sya adlaah pendatang baru dan memiliki keahlian apapun.
Sya masuk ke kamar dan melihat Danendra yang masih terlelap. Sangat sulit bagi Sya untuk meninggalkan Danendra, tapi semua ini demi dirinya.
"Mama pergi dulu, Nendra."
Ben sudah menunggu dengan banyak berkas ditangannya. Sya menoleh pada Bi Sali yang sedan membersihkan dapur.
"Bi, aku berangkat dulu. Tolong jaga Danndra, jika ada apa-apa telfon aku.'
"Baik, Nyonya."
Sya dan Ben keluar dari apartemen. Ben menyerahkan semuah berkas pada Sya. Sya harus menghafal isi berkas itu. Teerutama nama dan jabatan orang yang penting di perusahaan.
"Ben. Aku tidak mu melakukannya. Aku akan mencari pekerjaan lain saja."
"Banyak wanita yang berhara mendapatkan semua ini. Kenapa kau menolak?"
"Aku merasa terluka. Bayangan Lufas membuat aku enggan melakukannya. Dia yang memulainya dari awal."
"Ikutii saja semuanya. Kau akan baik-baik saja."
Sya masuk ke dalam mobil dengan tenang. Dia tidak tahu jika saat ini Xiu begitu sibuk dengan rapat itu. Xiu tidak mau para dewan akan memilih orang lain.
Hal inilah yang membuat Xiu turun langsung mengurus semuanya. Dia juga mnyerahkan Sya pada Ben, agar lebih mudah nantinya.
Satu per satu dewan datang. Xiu mengulas senyum untuk menyapa mereka. Bahkan, mereka membicrakan Xiu dengan terang-terangan. Mereka mengakui kehebatan Xiu, sdah tentu ini akan berpengaruh pada Sya.
Tidak lama Sya datang. Dia masuk dengan wajh merah krena gugup. Dia berkali-kali mengatur nafasnya. Ben dan Xiu terus mendampinginya dengan begitu sabar.
Satu jam bagi Sya begitu lama. Dia bahkan ingin berlari dari ruangan itu di tengah rapat. Sampai akhirnya, Xiu yang melanjutkan semuanya.
"Apa yang kau lakukan? Kau hampir menghancurkan semua rencana kita," kata Ben saat masuk ke ruang CEO. Disanalah dulu Lufas bekerja.
"Sudah aku bilang dari awal. Aku tidak bisa."
"Jika bukan kau siapa lagi. Kau yang berhak atas perusahaan ini."
Sya menatap keluar jendela. "Kau. Kau bisa melakukannya untuk aku."
Ben menghela nafas. Dia duduk di sofa dengan tatapan aneh. Sya masih belum memiliki semangat untuk menjalankan perusahaan itu. Bagaimana bisa dia menjalankanya.
"Aku sudah mengambil alih geng mafia. Tidak mungkin aku harus mengurus perusahaan ini juga."
"Xiu, dia bisa melakukanya," kata Sya.
"Aku tidak bisa. Aku harus megurus perusahaankku," jawab Xiu yang masuk tanpa permisi.
Sya merasa kesal. Dia meremas kerta yang berada di meja. Membuangnya sembarangan, dan kembali mengulangnya.
"Sya. Kami memang pbertanggung jawab atas dirimu saat ini. Coba pikirkan, jika aku dan ben sudah pergi. Apa kau akan bergantung juga pada orang lain?" kata Xiu
"Benar yang dikatakan Xiu. Tidak selamanya kami ada di sampingmu," imbuh Ben.
"Aku sudah berhasil membuat para dewan memihakmu. Setelah ini, pikirkan sendiri apa yang akan kamu lakukan."
Xiu meletakan sebuah map berwarna hijau tua ke meja Sya. Berharap Sya akan maju dan memulai semuanya. Tidak membiarkan perusahaan itu hancur.
Sya masih diam dan tidak bergeming. Saat ini, di merasa menyesal sdah mencintaai Lufas dan memiliki anak. Jika saja dia masih sendiri, dia bisa bekerja semaunya, dia bisa memilih pekerjaan itu.
"Pikirkanlah. Jika kau memang tidak menginginkanny. Biarkan perusahaan ini hancur." Xiu mengatakan itu dan langsung pergi dari sana.
Tidak lama Ben juga keluar dari ruangan itu. Sya sendirian. Dia terus memikirkan apa yang diucapkan Ben dan Xiu. Mereka hanya ingin Sya mandiri dan bisa menjalankan semuanya. Xiu dan Ben sangat berharap jika Sya dan anaknya tidak harus hidup susah setelah kepergian Lufas.
***
Baru saja Sya keluar dari kantor. Dia sedang menunggu sebuah taxi di depan gedung itu. Sampai saat Bi sali menelfon Sya.
"Nyonya. Banyak keperluan yang harus saya beli, tapi saya tidak bisa mninggalkan Nendra sendiri."
"Bi. Aku yang akan berbelanja. Kirimkan saja keperluan yang dibutuhkan."
"Baik, Nyonya."
Bi Sali menegirimkan pesan dengan banyak barang yang harus Sya beli. Belum juga dengan stok sayur dan buah. Masih ada popok bayi yang diperlukan.
Sya membuka tsnya dan melihat isi dompetnya. Dia berharap Lufas masih ada, Lufas akan memberikan apa saja yang dia mau. Kini, Sya harus menjadi seorang ibu sekaligus ayah bagi Danendra.
"Sepertinya aku harus bekerja keras. Jika tidak uangku akan habis. Semua uang sudah dimasukkan ke perusahaan."
Dengan rasa keterpaksaan Sya akhirnya mau menjadi pemilik perusahaan itu. Semuanya dia lakukan untuk kelangsungan hidupnya dan hidup anaknya. Sya tidak bisa hanya duduk dan berpangku tangan.
__ADS_1
Merasa dia harus belajar dengan apa yang dulu dilakukan Lufas. Sya masuk kembali ke kantor. Dia mengambil buku dan beberapa berkas di tempat Lufas. Dia akan mempelajarinya saat di rumah nanti.
Ben dan Xiu duduk di dalam mobil. Mereka sedang mengawasi Sya yang terlihat kerepotan dengan barang yang dia bawa.
"Aku harus membantunya," kata Ben yang bersiap untk turun dari mobil
Xiu mencegahnya. "Biarkan dia melakukan itu sendiri. Dia pasti akan belajar."
"Tapi, aku sudah berjanji pada Lufas."
"Bukan masalah janji Ben. Jika kau datang membantunya saat ini. Dia pasti akan berfikir, jika kau dan aku hanya menggertaknya untuk bekera. Dia akan terus bergantung ppada orang lain."
Ben kembali duduk dengan tenang. Mereka melihat Sya masuk ke dalam mobil taxi. Ben tancap gas untuk mengikuti kemana Sya ergi. Teryata Sya berhenti di super market.
"Lufas pasti selalu memanjaknya," kata Xiu.
"Tidak juga. Sya lebih sering masak sendiri di rumah. Dia juga tidak menuntut banyak hal dari Lufas."
"Lalu kenapa dia tidak mau menerima mejadi pemilik perusahaan itu."
"Dia malu."
"Malu?" tanya Xiu bingung.
"Ya. Dia merasa perusahaan itu bukanlah miliknya. Lufas yang merintisnya sejak awal. Jadi, dia segan."
"Huuh, aku bahkan tidak tahu jalan pikirnya," lirih Xiu.
Mereka mengikuti Sya sampai di depan gedung apartemen. Setelah itu, mereka kembali ke tempat masing-masing. Mereka juga memiliki urusan yang harus diurus.
***
Malam datang dengan segala keindahan dan ketenangannya. Lampu di gedung-gedung mulai menyala, meramaikan indahnya malm. Begitu juga dengan apartemen milik Sya. Lampu menyala dengan terang.
Bi Sali sedang memasak untuk makan malam. Sementara Sya bermain dengan danendra di kamar. Dia masih mencoba mengurus danendra sendiri, meski akhirnya Bi Sali ikut membantunya.
"Nyonya, makan malam sudah siap."
"Ya, aku dan Danendra akan segera keluar."
Perlahan Sya menggendong danendra. Dia keluar dan melihat dapur yang bersih. Makanan sudah siap.
Bi Sali begitu memperhatikan makanan Sya. Dia selalu memasak makanan yang sehat. Bi Sali selalu mengingatkan Sya, makanan yang sehat akan mempengaruhi ASI yang dihasilkan.
"Baik, Nyonya."
Sya menyelesaikan makannya. Dia mendekat pada Bi Sali yang sedang menggendong Sya. Sya mencium keniing danendra dengan lemut.
"Do'akan Mama ya sayang. Mama akan berjuang untuk kamu."
Sya hmpir tertawa saat melihat Danendra tersenyum. Dia merasa begitu bahagia saat ini.
"Bawa Nendra masuk ke kamar saja. Jika Bi sali lelah, istirahatlah dengan Nendra."
Bi Sali masuk ke kamar. Sya menyeduh secangkir kopi dan membawanya masuk ke ruang kerja. Dia membuka laptop dan menyalakan lagu yang menenangkan.
satu ersatu halaman buku Sya buka. Dia mempelajari perusahaan yang dirintis oleh Lufas. Lufas membangun perusahaan dengan pikiran yang matang. Sya baru sadar, jika Lufas memiliki perusahaan tentang baju. Pantas saja Lufas kadang bertemu dengan model-model terkenal.
Di sebuah halaman disana terdapat catatan dengan kertas kecil. 'Fashion akan mengikuti perkembangan zaman' . Sya mengangguk setuju dengan itu.
Sebenarnya Lufas masih memiliki banyak perusahaan lain. Meski begitu, hanya perusahaan baju ini yang dia berikan pada Sya. Berharap Sya akan meneruskannya.
Kini, hal itu tercapai. Sya mau menerima perusahaan itu, walau masih dengan sebuah paksaan.
Beberapa kali Sya menguap. Dia menahan rasa kantuk itu dengan secangkir kopi. Saat ini, dia membuka sebuah buku tentang karyawan di perusahaan itu. Sya ingin mengenal mereka.
"Bagaimana bisa Lufas bekerja sampai larut malam. Aku sudah mengantuk, padahal belum terlalu malam," kata Sya.
Dia menyandarkan tubuhnya di kursi. Tanganya mengambil foto Lufas. Dia memandangi foto itu, rasa rindu perlahan muncul dihati Sya. Dengan berat Sya menutup kembali foto itu.
Tangannya meraih sebuah berkas. Disana ada sebuah desain gaun yang indah. Belum diluncurkan karena masih menunggu persetujuan dari pemimpin. Sya memiliki ide untuk hal ini.
"Aku harus mendiskusikannya dengan seseorang."
Sya mengammbil ponselnya dan mulai melihat nomor disana. Tidak ada yang bisa diharapkan, dsana hanya ada beberapa nomor saja. Milik Xiu, Lufas dan Ben.
Bingung harus menghubungi siapa. Sya menelfon pada Xiu. Tidak diangkat. Bahkan sampai Sya mengulangnya beberapa kali. Kini, dia menelfon Ben, tepat di dering ke tiga akhirnya diangkat.
"Ben. Apa kau sedang sibuk. Aku butuh teman untuk berdiskusi," kata Sya.
"Tentang apa?" Tanya Ben.
"Kantor. Aku tidak tahu harus bicara dengan siapa," kata Sya lagi.
__ADS_1
"Maaf, aku sedang ada urusan di luar."
"Ben, aku mohon. Hanya lima menit saja."
"Sya. Kau punya banyak karyawan, hubungi salah satu dari mereka. Ajaklah bicara dan diskusi, karyawanmu akan menyukainya."
"Aku belum mengenal mereka."
"Kalau begitu. Mulai besok kau harus mengenal mereka."
"Ben. Ben."
Telfon itu sudah mati. Sya hanya bisa menghela nafas panjang. Dia berfirik jika Xiu dan Ben kesal dengan tingkahnya tadi di kantor.
Sya sadar. Apa yang dilakukannya salah. Dia tidak ingin menerima tantangan dan hanya ingin mendapat hasil yang besar. Padahal hasil yang besar membutuhkan sebuah usaha yang besar juga.
Lelah dengan buku dan berkas-berkas di depannya. Sya memilih untuk menyudahinya. Dia kembali ke dapur untuk meletakan cangkir. Dia juga mencucinya langsung.
Sya masuk ke dalam kamar. Bi sali sudah terlelap di sofa. danenra di ayunan. Sya menyelimuti tubuh Bi Sali dan kembali keluar dari kamar.
Dia duduk di samping jendela apartemen. Memandang kkearh tempat parkir gedung itu. Tanpa disadari Sya melihat bayangan seseorang. Sya mengira itu adalah Lufas.
Mata mereka tidak sengaja bertemu. Orang itu langsung menutup wajahnya dengan topi kemudian pergi meninggalkan parkiran.
Sya hanya bisa diam terpaku dengan hal itu. Dia ingin mengejarnya, tapi tidak mungkin. Dia menyadarkan dirinya jika Lufas suudah tiada dan dimakamkan. Sya juga melihatnya secara langgsung, jadi tidak mungkin itu Lufas.
***
Sya bangun terlambat. Dia melihat danendra sudah tidak di tempatnya. Dia keluar dan melihat sarapan sudah tersaji. Sementara Bi Sali juga tidak ada. Di meja makan ada sebuah note.
Aku membawa Nendra jalan-jalan di taman. Bi Sali.
Sya tersenyum. Dia mengambil segelas air putih dan meminumnya. Melihat jam di dinding dia tahu tidak ada waktu untuk bermalas-malasan.
Setelah selesai mandi Sya langsung sarapan. Dia juga sudah memanggil taxi untuk berangkat ke kantor.
Di kantor. Banyak karyawan terlihat begitu sibuk dengan adanya kabar pemimpin baru akan datang. Mereka menyiapkan semuanya dengan teliti.
Taxi berhenti di depan kantor. Sya turun degan setelan berwarna merah maroon. Dia membawa tas tangan berwarna hitam dengan sepatu yang berwarna senada.
Para karyawan berkumpul. Sya mulai berpidato dengan lantang. Sebelum itu dia memperkenalkan dirinya sendiri. Di akhir pidato, dia meminta para karyawan untuk bekerja sama. Tentunya untuk kelanjutan perusahaan itu.
Sya memegang dadanya sendiri saat berada di lift. Dia merasa begitu gugup dengan apa yang dia lakukan. Dia sendiri tidak menyangka jika bisa melakukan hal semacam itu.
"Selamat pagi Bos," ucap seorang wanita.
Sya berhenti. "Kau bisa jadi asistentu."
Wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kamu," kata Sya lagi.
"Saya?" tunjuk wanita itu pada dirinya sendiri.
"Ya. Aku ingin kau membantuku dalam banyak hal. Oh ya, bwa juga data dirimu ke ruanganku," kata Sya.
"Baik, Bos."
Sya masuk ke ruangannyya. Dia melihat ada beberapa laporan yang harus dia lihat dan tanda tangani.
Wanita itu masuk ke ruangan Sya. Dia membawa data dirinya yang Sya minta. Sya menerima data diri itu dan mulai melihatnya dengan cermat.
"Namamu Rista?"
"Ya, Bos."
Sya melihat jia dia termasuk karyawan yang baik. Dia juga lulusan dari sebuah universitas terkenal. Sya merasa tidak salah memilih seorang asisten kali ini.
"Kau juga akan merangkap sebagai sekretaris di sini," kata Sya lagi.
"Kenapa?"
"Sekertaris yang dulu sudah keluar. AKu membutuhkan dirimu untuk halini."
"Bos, bukannya saya mmenolak. Saya masih belum bisa melakukannya dengan baik."
Sya tersenyum. "Aku juga belum pernah menjadi bos sebelumnya. Kita sama-sama belajar. Ok."
"Baik, Bos."
Setelah perkenalan singat itu. Sya mulai melakukan pekerjaanya. Rista juga melakukan pekrjaanya dengan sangat baik. Sya merasa jika Rista bukanlah karyawan biasa di kantor ini.
Terlihat dia begitu cekatan dan teliti. Bahkan dia tahu harus melakukan apa saat Sya salah dalam beberpa hal. Hal ini membuat Sya begitu puas.
__ADS_1
***