The Way Love

The Way Love
CXLIV


__ADS_3

Malam semakin larut. Suasana hening begitu terasa di rumah yang begitu besar itu. Sya baru saja keluar dari kamar Danendra. Tanpa sadar, dia memeluk tubuhnya sendiri.


Tidak ada orang selain seorang pembantu dan satpam di rumah itu. Dokter Jo sedang pergi ke rumah sakit. Sementara Lufas sedang ada di kantornya.


Sya tidak tahu harus apa saat ini. Danendra sudah terlelap. Jika dia di rumah, Sya akan memilih untuk menyeduh teh dan membaca buku. Kini, dia tidak berada di rumahnya sendiri. Tidak mungkin dia akan melakukan hal itu.


"Nona. Kamar sudah disiapkan," kata pembantu.


Sya mengangguk. "Dimana Bi Sali?" Tanya Sya.


"Bi Sali sedang keluar menebus obat."


Sya tahu. Dokter Jo yang memintanya untuk mengambil resep obat itu.


"Maaf, bisa kau mengantarkan aku ke kamar?" Tanya Sya.


"Tentu saja, Nona."


Sya mengikuti langkah kaki pembantu itu ke lantai dua. Disana banyak sekali kamar, jika Sya nekat untuk datang sendiri. Dia takut akan salah kamar.


"Apa ini kamarku?" Tanya Sya begitu melihat ruangan yang luas dengan berbagai macam barang.


"Ya, Tuan Lufas ingin Nona menggunakan kamar ini."


"Terima kasih."


"Selamat istirahat Nona."


Pembantu itu pergi. Sya berkeliling kamar. Banyak sekali buku disana. Bahkan beberapa buku sudah pernah Sya baca. Sampai Sya berhenti di sebuah pintu ber cat merah.


Penasaran. Sya membuka pintu itu. Tembus kesebuah kamar yang begitu mewah dan indah. Melihat tidak ada orang disana. Sya masuk.


Wajah Sya berubah menjadi pucat. Dia kini tahu sang pemilik kamar itu. Lufas.


Foto Sya terpajang indah di dinding kamar. Bukan hanya satu atau dua, tapi banyak sekali foto Sya. Bahkan beberapa kata manis tercetak di foto itu.


Tubuh Sya bergetar. Debaran yang sudah lama hilang kembali hadir. Hanya saja nalar Sya mencoba menolak getaran itu.


Takut jika Lufas kembali. Sya keluar dari kamar itu. Rasa kagum Sya pada kamar yang penuh buku kini hilang. Dia memilih untuk kembali ke kamar Danendra.


Kebetulan Bi Sali baru saja akan keluar dari kamar itu. Mata mereka bertemu, Bi Sali melihat kegugupan diwajah Sya.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Bi Sali.


Sya menggeleng.


"Kata pembantu kamu sedang istirahat."


"Ya. Aku bermimpi buruk. Jadi, aku ingin melihat Danendra."


"Kalau begitu masuklah. Aku akan istirahat. Ini sudah malam."


Sya mengangguk. Dia masuk dan melihat tubuh lemah Danendra. Dia duduk di samping tempat tidur sembari memegangi tangan buah hatinya itu.


Perlahan rasa kantuk datang. Sya ingin istirahat, tapi mengingat kamar Lufas. Sya langsung menggelengkan kepalanya. Dia memilih menahan kantuk dan menemani Danendra.


***


Lufas menghela nafas panjang. Dia menutup berkas terakhir, kemudian bersandar di kursinya.

__ADS_1


Sejak datang ke kantor. Lufas belum istirahat, dia bahkan lupa untuk makan. Sampai saat dia akan menutup matanya. Bayangan Sya muncul.


Lufas memakai kembali jasnya dan keluar dari kantor. Malam ini terasa begitu berbeda bagi Lufas. Sya menginap di rumahnya. Hal ini begitu istimewa.


Laju mobil Lufas begitu lancar. Di malam hari memang lebih sedikit kendaraan yang berlalu lalang. Jadi, Lufas tidak perlu untuk mempercepat laju kendaraanya.


Satpam langsung membuka pintu begitu tahu mobil Lufas yang datang. Tanpa perlu memarkirkan mobil Lufas langsung turun. Dia masuk, suasana rumah begitu sepi.


"Tuan. Minuman anda ada di ruang kerja," kata pembantu.


"Dimana Sya?"


"Saya sudah mengantarnya ke kamar."


"Bagus."


Lufas berniat untuk melihat Sya di atas. Sampai dia menoleh dan melihat kamar Danendra. Dia memutuskan untuk melihat anaknya itu.


Tanpa di duga. Sya sudah terlelap disisi Danendra dengan tangan yang berpegangan. Saat ini, Lufas melihat begitu cintanya Sya dengan buah cinta mereka. Tanpa sadar Lufas menyunggingkan senyum.


Terlalu lelap. Sya hampir saja terjatuh dari kursi. Untung saja Lufas bergegas untuk menangkapnya.


Tidak ingin membangunkan Sya. Lufas menggendong tubuh itu kembali ke kamar. Mata Lufas terus saja menatap pada Sya. Perasaan dulu hadir, bayangan-bayangan indah muncul. Lufas berharap hari itu akan datang lagi.


Dengan hati-hati Lufas meletakan tubuh Sya ke tempat tidur. Dia menatap wajah itu sekali lagi. Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Sya.


Lufas menahan dirinya untuk tidak melakukan hal buruk. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh Sya. Setelah itu, dia masuk ke kamarnya sendiri.


Sementara di rumah Mike. Mike terus mondar-mandir tidak jelas. Saat ini dia begitu ingin datang ke tempat Lufas dan membawa Sya kepelukanya. Meski Sya terus menolaknya.


Bayangan mengerikan terus muncul dipikiran Mike. Bahkan dia beberapa kali memukul tembok dengan meras.


Tidak ingin Sya kembali ke dalam pelukan Lufas. Mike memikirkan cara agar bisa dekat dengan Sya. Bahkan memilikinya untuk selamanya, tanpa harus melihatnya bersama pria lain.


Asisten Mike masuk. Dia melihat Mike yang begitu gelisah. Meski begitu, Asistenya tetap mengatakan hal penting yang dia bawa.


"Tuan. Tuan Tom ingin bertemu denganmu."


Mike berhenti mondar-mandir dan menatap asistenya itu.


"Siapa?"


"Tom."


"Apa maksudmu Tom yang baru saja ingin menculik Sya?"


Asisten itu mengangguk.


"Apa maunya?" Tanya Mike tidak suka.


"Tentang Nona Sya."


Mendengar hal tentang Sya. Mike langsung setuju untuk bertemu dengan Tom.


***


Di vila Tom.


Tom mendengar semua tentang identitas Mike yang sebenarnya. Hal ini membuat wajahnya berubah menjadi begitu panik. Bagaimanapun, saat ini status Mike begitu tinggi di bandingkan dengan Tom.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu? Aku sudah membuat gara-gara dengan Mike," kata Tom.


Anna melihat wajah Tom yang begitu panik. Dia memberikan air minum dan berkata, "Kau minta maaf saja. Lalu, katakan tujuanmu membawa Sya. Siapa tahu, dia mau bekerja sama untuk menghancurkan Lufas. Kau akan untung."


Tom melirik kearah pengawal.


"Saya setuju dengan Nyonya Anna," kata pengawal.


"Jika begitu, kirim email untuk bertemu dengan Mike. Aku berharap dia akan memaafkanku."


Pengawal itu mengangguk dan keluar dari ruangan itu. Kini hanya ada Anna dan Tom. baru kali ini Tom terlihat begitu panik dan takut.


"Siapa sebenarnya Mike?"


"Dia adalah bos besar. Dia memiliki banyak anak buah dan bisnis di dunia gelap. Bahkan bisnisnya begitu mengerikan."


"Bukankah kau sudah mengerikan?" goda Anna.


"Kau tidak tahu. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Bahkan orang yang dianggapnya sampah dia akan membunuhnya, tanpa bekas."


Mendengar hal ini Anna mengulas senyum. Dia merasa jika Sya sudah terjebak dalam kandang harimau. Bagaimanapun, Mike tidak akan membiarkan Sya pergi dari sisinya.


Kehancuran Sya sudah dekat. Anna begitu menantikan hari ini. Hari dimana dia melihat Sya terjatuh dan tidak mungkin bangkit lagi.


***


Sinar matahari yang masuk ke kamar membuat Sya terbangun. Dia duduk dan melihat kamar penuh buku itu. Sya mencoba mengingat hal semalam, dia ingat tadi malam tidur di kamar Danendra. Lalu kenapa bisa dia berada disini saat bangun.


Pintu terbuka. Sya menoleh dan melihat pembantu yang masuk. Ingin bertanya perihal semalam, tapi Sya merasa tidak bagus bertanya padanya.


"Nona. Bersiaplah untuk sarapan, Tuan Lufas sudah menunggu."


"Katakan padanya. Aku tidak lapar."


"Baik."


Pembantu keluar. Sya menyingkap selimutnya dan bangun. Disana ada kamar mandi, tapi Sya ingat. Dia tidak membawa baju ganti.


Mata Sya tertuju pada baju yang digantung rapi di samping tempat tidur. Disana ada kertas kecil bertuliskan namanya. Sya mengira baju itu untuknya.


Tangan Sya sudah menyentuh baju itu, tapi kembali dia urungkan untuk mengambilnya. Sya memilih tetap mandi, meski tidak mengganti bajunya.


Setelah merasa bersih Sya keluar kamar dan langsung menuju ke kamar Danendra. Disana ada Lufas. Mata mereka bertemu, Sya yang sadar langsung mengalihkan pandangannya.


"Sudah bangun? Sarapan ada di meja makan."


"Terima kasih," ucap Sya.


Melihat Sya tidak ganti baju. Lufas langsung mendekat pada Sya. Sya melangkah mundur.


"Kenapa tidak mengganti bajumu?" Tanya Lufas.


"Aku akan pulang dan menggantinya. Kau tidak perlu memikirkanya."


"Aku sudah menyiapkanya. Setidaknya kau tidak perlu untuk pulang dan meninggalkan anakmu."


Mata Sya beralih pada Danendra.


"Hal mengerikan bisa terjadi kapan saja pada Nendra. Seharusnya kau memikirkan hal itu."

__ADS_1


Setelah mengatakannya Lufas langsung pergi. Sya memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Lufas. Kini air matanya meluncur begitu saja. Dia membayangkan hal yang begitu mengerikan saat ini. Tanpa ragu Sya mendekat dan langsung memeluk tubuh Danendra.


__ADS_2