The Way Love

The Way Love
CXIX


__ADS_3

Dua bulan sudah berlalu.


Perut Sya semakin membesar. Sya juga rutin meminum vitamin dan periksa ke dokter. Meskipun kadang dia pergi sendiri karena kesibukan Lufas yang tidak bisa diganggu.


Seperti pagi ini. Sejak semalam Lufas masih mengurung dirinya di dalam ruang kerjanya. Sya yang terus mencoba menyibukkan dirinya dengan berbagai cara. Mulai dari dia ikut yoga hamil, baca buku, bahkan kelas belajar memasak.


Tangan Sya masih asik menari-nari dengan pisau di tangannya. Dia ingin memasak makanan yang istimewa untuk dirinya sendiri.


"Pagi sayang," ucap Lufas sembari memeluk Sya dari belakang.


Sya menoleh dan tersenyum. "pagi juga. Apa sudah selesai pekerjaanmu?"


"Belum, tapi aku merindukanmu."


"Aku tahu itu."


"Kau mau masak apa?"


"Aku masih belum tahu," ucap Sya.


"kalau begitu aku akan menikmatinya nanti setelah mandi."


"Ya."


Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Sya. Hal itu menjadi penyemangat tersendiri di dirinya. Sampai akhirnya Sya memilih membuat omlet sayur. Dia masih belum berani untuk memasak makanan yang berat.


Meja makan sudah siap. Kini tinggal menunggu Lufas selesai mandi. Mereka bisa sarapan bersama.


Bel apartemen berbunyi. Sya beranjak dari duduknya dan membua ppintu. Lufas datang dengan senyuman, dia juga membawakan buah untuk Sya.


"Ini untukmu," kata Ben.


Sya menerima parsel buah itu. "Ayo masuk. Kta bisa sarapan bersama," kata Sya.


"Aku pasti menggangguu waktu kalian," ujar Ben.


"Tidak sama sekali," balas Sya.


Dia menyiapkan satu piring lagi di meja makan. Kebetulan sekali Lufas keluar dari kamar. Dia terlihat rapi dengan setelan jas juga dasinya. Sya mendekat dan membenarkan dasi itu.


"Ayo sarapan," ajak Sya.


"Kau disini? Sejak kapan??" Tanya Lufas yang melihat Ben sudah duduk manis.


"Baru saja."


"baguslah. Kita bisa berangkat bersama," kata Lufas yang disambut gembira oleh Ben.


Mereka menikmati sarapan itu dengan beberapa candaan. Meskipun beberapa kali juga Lufas terlihat hanya tersenyum. Hal itu tidak membuat Ben dan Sya berhenti bercanda.


Waktu makan sudah selesai. Sya mengantar Ben dan Lufas sampai di pintu lift. Setelah itu dia kembali masuk. Saat Lufas masuk ke dalam mobil Sya hanya mampu menatapnya dari jendela apartemen saja.


Sudah berkali-kali Sya selalu bermimpi jika Lufas akan pergi. Hal itu sedikit mengganggu Sya. Dia ingin menghabiskan waktu bersamanya lebih lama. Namun perasaanya berkata lain.


***


Lufas mmasukk ke kantor. Beberapa karyawan mencoba menyapanya, namun hanya Ben yang menjawab. Samai di lantai paling atas, Lufas masuk ke ruang kerjanya.


Wajah Lufas yang awalnya biasa saja berubah seketika. Dia merasa ada ancaman yang muncul saat ini. Meski begitu, Lufas menahan dirinya agar tetap kalem.


"Aku sudah menunggumu sejak tadi," kata Tom yang menyambut Lufas dengan uluran tangan.


Lufas menerima uluran tangan itu meski begitu singkat. Tom tidak datang sendiri, dia berama dengan Anna di sampingnya. Hal itu cukup megganggu bagi Lufas.


Lufas duduk berseberangan dengan Tom. Ben berdiri tepat di samping Lufas.


"Hal apa yang membawamu kesini?" Tanya Lufas dingin.


"Aku inggin meminta bantuanmu."

__ADS_1


Lufas mengernyitkan ahi mendengar perkatan itu.


"Aku baru saja membuka perusahaan. Sampai saat in aku masih belum bisa mengelolanya, aku ingin kau membantu dalam hal ini."


Lufas hanya diam.


"Aku ksini degan tulus. Tidak dengan diriku dibisnis yang lain."


Mereka berunding cukup keras. Anna hanya melihat itu dengan tatapan aneh. kadang, dia juga melirik Lufas yang terlihat dingin dan tegas. Tidak seperti Lufas yang dekat dengan Sya.


Anna kagum dnegan profesionalitas Lufas dalam bisnis dan dalam percintaan. Berbeda dengan Tom, dia hanya haus akan kekuasaan dan wanita cantik disisinya.


"Alasanmu membuat perusahaan iini apa?" Tanya Lufas kemudian.


"Kau tahu. Istriku membenci mafia," kata Tom sembari melirik pada Anna, "Jadi aku berfikir untuk berhenti dan jadi pengusaha. Untuk istriku."


Lufas menatap Anna. Anna hanya diam dan menundukan kepalanya.


"Bagiamana??"


"Aku tidak bisa melakukannya."


Jawaban itu meyulut emosi dari Tom. Dia merasa dilecehkan dengan penolakan yang dilakukan oleh Lufas.


"Apa kau sedang mengejeku?" kali ini nada suara Tom begitu keras.


"Tidak. Aku tahu kinerjamu tidak pakai otak, lebih mementingkan otot. Aku tidak menyukainya," kata Lufas.


Tom hampir meninju Lufas, saat Ben berhasil menarik tubuh Tom keluar dari ruangan itu. Anna berjalan di belakang Tom, dia masih sempat melirik kearah Lufas. Lufas tidak menampakkan emosi apapapun saat ini.


Anna dan Lufas sampi di samping mobil. Tanpa pikir panjang Tom meninju mobilnya sendiri. Dia awalnya ingin mengajak Lufas bergabung, lalu membuatnya hancur. Kini rencana ini hancuri begitu saja.


"Kenapa kau hanya diam?" Bentak Tom pada Anna.


Anna terkejut dan mundur beberapa langkah. Dia terlihat takut.


"Kau mengatakan jika Lufas akan setuju. Kenapa diaa malah menolakku mentah-mentah."


"Masuklah ke dalam mobil. Aku akan pikirkan cara yang lain untuk menghancurkan Lufas. Kau tenang saja," kata Tom.


Anna masuk ke mobil. Tom sendirilah yang menyetir mobil itu. Dengan kecepatan tinggi, Tom melewati beberapa mobil. Bahkan tidak menghiraukan lampu merah.


Tangan Anna berpegangan erat pada jok mobil. Dia juga memasang sabuk pengaman. Semua itu untuk menjaganya dari hal yang tidak diinginkan.


Sampai di vila. Tom meminta Anna masuk dan beristirahat. Sementara dirinya akan pergi menemui seseorang. Anna hanya menurut tanpa bertanya Tom akan pergi kemana.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Ann. Anna melihat pesan itu. Dari Tom.


Aku sudah siapkan hadiah untukmu.


Itulah pesan yang dikirimkan Tom untuk Anna. Anna tidak merespon dan langsung masuk. Seorang pelayan datang dan langsung membawakan tas yang dibawa Anna.


Sampai di pintu kamar Anna menghela nafas panjang. Lalu kemudian dia membuka pintu itu. Apa yang dilihatnya membuat Anna tersenyum simpul.


Semua barang yang dia inginkan sudah ada di dalam kamarnya. Pakaian, sandal, sepatu juga perhiaan merk terkenal. Tentunya juga dengan harga yang mahal.


"Tuan meminta semua ini agar Nyonya merasa senang," kata pelayan itu.


"Aku emang senang. Siapkan sauna untukku," kata Anna.


"Baik, Nyonya."


Perlahan tapi pasti. Anna yang suka kemewahan merasa dirinya menemukan pria yang cocok. Meski hatinya tetap menyerukan nama Lufas sekeras-kerasnya.


***


Sya masih berjalan-jalan dengan santai di taman. Dia mencoba menghirup udara segar kali ini karena Lufas masih belum kembali dari kantor.


Saat merasa lelah, Sya kan memilih untuk dduk di bangku taman. dia mencoba membri tahu bayinya tentang apa yang dia lihat dan rasakan.

__ADS_1


Seorang pria dengan pakaian jas resmi menghampiri Sya. Dia juga menggunakan sepatu yang mengkilap, serta kaca mata hitam.


"Apa benar anda Nona Syaheila."


Sya berdiri dan mengangguk.


"Ada kiriman untuk Nona," kata pria itu.


"Apa Lufas yang mengirimnya?"


"Tidak."


Sya langsung menolak aket itu. Dia tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Ini dari tuan Tom."


"Tom?" Sya mencoba mengingat-ingat nama itu. "Oh ya, Tom suami Anna, yang menikah beberapa hari yang lalu?"


"Betul sekali Nona."


"Dia mengirim apa untukku?"


"Saya tidak tahu."


Sya akhirnya menerima paket itu. Setidaknya dia dan Lufas sudah mengenl Tom. Tidak akan ada hal yang menakutkan.


Setelah selesai berjalan-jalan di taman, Sya memilih kembali ke apartemen dengan kotak paket di tangannya.


Sampai di apartemen. Sya duduk di ruang tamu, dia membuka isi paket itu. Kaget, Sya melihat sebuah cincin berlian dengan edisi terbatas di dalam paket itu.


Sya ragu untuk mencobanya. Hanya saja, pengirim iu bilang jika paket itu uuntuknya. Akhirnya Sya memberanikan diri untuk mencobanya.


"Cantik," lirih Sya.


"Apanya yang cantik?"


Sya buru-buru menyembunyikan tangannya. Di belakang tubuhnya, Sya mencoba melepas cincin itu.


"Ada yang kau sembunyikan?" Tanya Lufas.


Sya menggleng.


Lufas melihat kotak cincin ci meja. Kali ini Lufas mendekat dan menarik tangan Sya. Sya hanya diam, tidak bisa berbohong lgi.


"Dari siapa ini?" Tanya Lufas.


"Tom yang mengirimnya?"


Lufas kaget. Dia merah jari Sya dan melepaskan cincin itu.


"Apa kau menggunakannya sejak tadi?"


"Baru saja."


Lufas membawa cincin itu. Dia membuka jendela apartemen dan melemparkanya begitu saja.


Sya merasa begitu kaget dengan tingkat Lufas. padahal cincin itu sangat cantik.


"Jika kau ingin cincin. Aku akan belikan yang lain," kata Lufas.


"Tidak. Aku hanya mencobanya. Itu saja."


"Lain kali, jika Tom memberikan sesuatu. Buanglah."


"Kenapa?"


"Suatu saat nanti kau akan tahu."


Sya hanya menurut saja dengan apa yang dikataan olel Lufas. Dia memilih masuk ke dapur dan memasak untuk makan malam. Dia juga melupakan cincin yang diberikan oleh Tom.

__ADS_1


***


__ADS_2