The Way Love

The Way Love
LXXXVIII


__ADS_3

Semalaman Sya tidak bisa tidur. Dia hanya menangis menyesali apa yang dia lakukan. Betapa bodohnya dia karena mau menikah tanpa cinta. Walau dia mengatakan semua tidak masalah, hatinya tetap berkata tidak.


Tangan Sya bergetar. Dia menatap layar ponselnya yang bertuliskan nama Arda. Ada rasa ingin menghubunginya lagi. Hanya saja, ada Lufas yang kini mengikatnya dalam sebuah pernikahan.


Sebuah kebaikan Lufas yang diberikan pada Sya. Hal itu berhasil membuat Ruka dan Sya membuka hati. Pernikahan terjadi dan semua ini terjadi. Sya terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Nona, Tuan sudah menunggu di meja makan."


"Katakan pada Lufas. Aku tidak lapar."


"Baik, Nona."


Tanpa pikir panjang Sya menarik selimut lagi. Dia bersembunyi di dalam sana dengan hati yang tidak menentu.


Sebuah tangan mengusap kepala Sya dengan perlahan. Jantung Sya berdetak lebih kencang dari pada sebelumnya. Sya tidak tahu siapa yang melakukan itu.


"Apa kau tidak ingin menyambut kedatangan kakakmu ini?"


Suara Ruka berhasil membuat Sya membuka selimut. Dengan semangat Sya memeluk Ruka dengan erat. Setelah dua minggu lebih, akhirnya Sya bisa bertemu dengan Ruka.


"Kenapa kau hanya di kamar? Sarapanmu nanti dingin."


"Aku tidak lapar, Kak."


Ruka tertawa kecil. Dia menepuk pundak Sya dengan perlahan.


"Apa sedang ada masalah antara kau dan Lufas?"


Sya hanya tersenyum tipis. Dia tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Ruka. Percuma saja jika dia mengatakan pada kakaknya. Ruka pasti akan membela Lufas.


Saat Sya akan berkata sesuatu. Lufas masuk dengan pakaian rapi dan senyuman diwajahnya.


"Bukankah aku sudah menapati janjiku? Aku mengundang kakakmu."


Sya hanya tersenyum.


"Hari ini, jalan-jalanlah dengan Ruka. Aku akan ke kantor dan mungkin pulang terlambat."


"Ya," lirih Sya.


Cup. Sebuah kecupan mendarat lembut di kening Sya. Tidak biasanya Lufas melakukan hal ini, apa mungkin karena ada Ruka disana.


"Aku pergi dulu, Ka."


"Ya."


Setelah Lufas pergi Sya membuka selimutnya dan membuka pintu balkon. Dia ingin Ruka melihat pemandangan yang menakjubkan disana.


Ruka mendekat pada Sya. Dia menghirup udara segar yang masuk. Lalu sebuah senyuman tersungging dibibir Ruka. Dia tahu, Sya bahagia dengan Lufas. Lufas memberikan semua yang Sya inginkan.


"Pemandangan disini sangat menakjubkan. Kau pasti senang," kata Ruka.


"Aku memang senang, tapi tidak bahagia."


Perkataan Sya berhasil memancing pertanyaan selanjutnya dari Ruka.


"Maksud kamu apa?"


"Aku tidak bahagia dengan hidupku saat ini. Aku merasa terikat dan tidak bebas. Kak,..."


"Sya. Lufas sangat mencintaimu. Jangan pikirkan hal lain."


"Kak, aku tidak memikirkan hal lain. Hanya saja, aku tidak mencintai Lufas."


"Sya. Cinta akan datang dengan seiring waktu. Kau harus tahu siapa suamimu, kenali dia dan kau akan jatuh padanya."


Sya berdecak. Dia pasti tidak akan mendapatkan dukungan apapun. Kini Sya hanya bisa pasrah dengan kenyataan ini.

__ADS_1


"Kau juga harus melupakan Arda. Untuk selamanya."


Ruka bersiap untuk pergi dari kamar Sya. Dia merasa apa yang harus dia sampaikan sudah tersampaikan. Entah Sya mau mendengarkannya atau tidak.


"Dia itu mafia, Kak. Dia sangat kejam."


Tangan Ruka terhenti. Dia berbalik dan mendekat pada Sya. Dia langsung menutup mulut Sya dengan tangannya.


Sya hanya menggeleng dan mencoba melepaskan tangan Ruka. Sya tidak tahu kenapa Ruka langsung melakukan hal itu.


"Kau tahu dari mana?"


Pertanyaan itu membuat Sya bingung.


"Aku bertanya padamu. Kau tahu dari siapa? Apa Lufas tahu kau sudah tahu semuanya?"


"Tidak perlu tahu aku tahu dari mana. Aku juga tidak tahu apa Lufas tahu atau tidak, tapi kenapa kakak melakukan ini?"


Kali ini wajah Ruka tampak gelisah. Selama ini dia sudah menyimpan semuanya dengan rapat. Kini entah dari mana Sya tahu semuanya.


"Apa mungkin Kakak sudah tahu hal ini?"


Ruka mengangguk perlahan.


Sya tersenyum kecil, tapi dia merasa sudah sangat dihianati. Ruka sudah menutupi semuanya dari Sya. Hal itu sangat mengecewakan.


"Lalu kenapa Kakak membiarkan aku menikah dengannya? Dia sangat kejam."


Ruka menggenggam tangan Sya dengan erat.


"Aku melakukannya karena tidak ingin kau terluka."


"Apa maksud Kakak?"


"Kau tahu. Aku sudah hancur saat bertemu denganmu waktu itu. Lalu Lufas menolongku, aku tahu dia kejam. Hanya saja aku butuh bantuannya agar kau lepas dari Arda."


"Sya. Aku hanya ingin kau hidup bahagia. Jalani hidup ini semaumu, tapi jangan membuat Lufas terluka. Dia bisa saja melakukan hal buruk padamu."


"Jadi, semua ini sudah direncanakan. Lalu apa yang akan terjadi jika aku pergi darinya?"


Ruka tidak tahu harus mengatakan apa pada Sya. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, bukan hanya Sya yang dalam bahaya. Ruka dan semua yang menyayangi Sya juga akan terluka.


"Katakan padaku, Kak. Jika tidak mengatakannya, aku akan pergi. Aku juga tidak ingin menemuimu lagi."


"Sya. Dengarkan aku dulu."


"Katakan padaku semuanya, Kak."


"Sya. Kau harus tetap dengannya. Aku memang salah sudah membuatmu menikah dengannya. Hanya saja, semuanya sudah terlambat. Bukan hanya kau yang akan terluka. Aku juga bisa saja dia bunuh."


Mendengar hal ini Sya tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sudah terjebak dalam lingkaran hitam. Lingkaran yang seharusnya dia jauhi selamanya.


"Dengan alasan apa dia ingin membunuhku dan membunuhmu, Kak."


"Jika dia ingin membunuh, dia tidak perlu memiliki alasan. Apa lagi saat ini dia sudah benar-benar jatuh hati padamu."


Sya menggeleng lirih.


"Jika kau mau. Manfaatkan cintanya saja, kau pasti akan terbebas. Hanya saja aku tidak bisa membantumu untuk hal ini."


"Baiklah."


Ruka kemudian pergi dari kamar itu. Sya terduduk. Dia masih memikirkan percakapannya dengan Ruka. Jika sudah seperti ini, Sya tidak tahu harus bagaimana untuk keluar dari situasi ini. Apa lagi, Lufas bisa melakukan apapun tanpa berfikir lebih dulu.


***


"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan. Jadi biarkan aku kembali," kata Ruka.

__ADS_1


"Ya. Terima kasih untuk bantuanmu."


"Aku tahu."


Lufas memberikan sebuah hadiah pada Ruka. Setelah itu Ruka masuk ke dalam mobil untuk kembali ke kotanya. Dia akan menjalankan bisnisnya kembali disana.


Sementara itu Lufas memilih beberapa barang ditoko untuk dia berikan pada Sya. Dia ingin membuat Sya bahagia seperti apa yang dikatakan oleh Ruka. Hal itu akan membuat Sya perlahan membuka hati untuk cinta Lufas.


"Aku mau semua barang ini dikirimkan ke rumahku. Biarkan Sya memilih apa yang dia suka."


Setelah memborong semua barang itu. Mulai dari tas, baju, sandal, sepatu dan masih banyak lagi. Lufas kembali ke kantor. Dia ada meeting dengan beberapa teman, yang tentunya mampu menghasilkan banyak uang.


"Tuan. Apa ini tidak berlebihan," kata sekretaris Lufas pada Lufas.


Lufas menoleh dan melihat pengeluaran yang baru saja dia lakukan.


"Kau bisa pergi dan ambil uang sakumu jika kau tidak suka."


"Maaf, Tuan."


Tanpa membutuhkan waktu lama akhirnya Lufas sampai di kantor. Teman-temannya sudah menunggu. Beberapa ada yang mengatakan tentang pernikahan Lufas.


"Ya. Dia menyembunyikan wanita cantik dari kita," kata seorang teman berambut merah.


"Aku tidak menyembunyikannya. Aku hanya tidak ingin kalian melihat kecantikan istriku."


Semua orang yang ada disana langsung tertawa. Lalu, mereka kembali fokus pada tujuan mereka. Sekretaris Lufas saat ini tidak berada di dalam, dia mendapat perintah untuk mengantar semua barang ke vila Averest.


Sementara itu Sya sedang membuka majalan yang berada di meja. Dia duduk dengan teh hijau dan beberapa camilan. Sampai saat ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.


"Permisi," kata sekretaris Lufas.


"Ya. Apa kau mencari Lufas?" Tanya Sya langsung.


"Ti...ti...tidak." Suara sekretaris itu terdengar gemetar saat melihat wajah Sya.


Sya mencoba mendekat.


"Nona Nita," lirih sekretaris itu.


"Aku bukan Nita."


"Ta...tapi..."


"Ya. Lufas juga mengatakan aku mirip dengan Nita."


Sekretaris itu mengangguk.


"Oh ya. Ada apa kau kemari? Pasti ada sesuatu yang penting."


"Tuan Lufas mengirimkan semua barang ini untukmu."


Lalu satu per satu orang-orang masuk. Ada yang membawa tas, sepatu, sandal, baju dan yang lainnya.


Sya tidak mengatakan apapun. Dia kaget dengan apa yang dikirimkan oleh Lufas. Entah rencana apa lagi yang sedang Lufas lakukan.


"Dia mengirimkan semua ini untukku?"


"Ya, Nona."


"Lalu bagaimana dengan baju lamaku?"


"Tuan meminta untuk membuangnya saja."


Sya kaget dengan apa yang dia dengar. Dia sudah benar-benar menjadi boneka Lufas saat ini. Mau menolakpun semuanya tidak bisa. Jadi, Sya hanya mengangguk dan melakukan apa yang Lufas inginkan.


***

__ADS_1


__ADS_2