
Makanan sudah tersaji di meja. Sya dan Mike masih membicarakan banyak hal. Mike terus membicarakan tentang awalnya dia menjadi model. Sementara Sya tidak terlalu senang untuk mengingat masa lalu.
Sya mencoba terus mengubur kisah-kisahyang telah lalu. Meski begitu, kenangan indah dan kelam masih saja sering muncul di hati Sya.
"Apa kau saat ini tidak kembali bekerja?" Tanya Mike. "Jika kau bukan bosnya. Aku akan mundur untuk perusahaan itu."
"Lufas sudah kembali. Sejak awal perusahaan itu memanglah miliknya."
"Lalu kenapa kau selama ini disana?"
Sya hanya diam. Dia ingata saat Ben dan Xiu terus memintanya mengelola perusahaan itu. Bahkan, Sya harus rela untuk jauh dari anaknya. Kini, semuanya sudah hancur. Apalah daya ketika sang pemilik sudah kembali.
"Maaf jika pertanyaan ini menyinggung."
"Tidak. Aku hanya teringat saat aku harus meninggalkan anakku untuk pekerjaan aneh ini," ucap Sya sembari tersenyum.
Mereka makan dengan begitu santai. Saat ini, Sya memilih untuk dekat dengan Mike. Bukan untuk pasangan hidup, Sya memilih untuk berteman. Jadi, dia dna Mike tidak memiliki peraturan untuk dekat dengan orang lain.
Anna masuk ke restoran. Dia melihat kesekitar. Matanya berhenti berkeliling saat melihat Sya sedang duduk di seuah meja. Anna menatap dengan penuh tanya, siapa pria yang sedang bersama dengan Sya.
Dilihat dari punggung dan potongan rambut. Dia bukanlah Lufas. Anan mendekat dan berhenti tepat di samping Sya. Dengan begini Anna bisa melihat siapa pria yang sedang bersama dengan Sya.
"Kau berselingkuh," celetuk Anna kemudian.
Sya menoleh.Sya tidak tahu sejak kapan Anna berada di sampingnya. Mata Mike juga langsung tertuju pada Anna.
"Kau berkencan dengannya bukan?" Tanya Anna.
Sya berdiri. "Bukan urusanmu."
"Apa Lufas tahu? Ini berita yang bagus," Anna mengatakan dengan mata berbinar.
"Anna. Bukankah kau sudah memiliki suami? Kau urus saja rumah tanggamu. Tidak perlu kau ikut campur dalam urusan orang lain."
"Sya. Lufas baru kembali, kau malh bersma dengan..."
"Mike. Model yang sangat terkenal," ucap Mike dengan sombongnya.
Anna menatap Sya dengan lekat. Dia mendkat dan berbisik pada Sya, "kau menyukai pria muda sekarang?"
Sya hanya diam.
"Sya. Aku ingatkan, jangan berselingkuh. Kasihan anakmu, dia akan kebingungan untuk memilih ayahnya."
Sya sudah bersiap akan menampar. Sebuah tangan menghalanginya. Sya menoleh, begitu juga dengan Anna.
"Dia masih istriku. Mereka tidak berselingkuh, dia kerja di perusahaan milik Sya."
Lufas menatap Sya dan tersenyum. Meski begitu, Sya tetapp melihat Lufas dengan dingin. Sementara Anna harus kembali tersulut api cemburu di hatinya.
Tanpa kata Anna memilih untuk pergi dari sana. Dia keluar dan tidak jadi makan direstran itu. Padahal, restoran itu adalah tempat favorit Anna.
"Sya. Kembalilah ke kantor. Banyak karyawan yang merindkan kamu," ucap Lufas.
"Tidak bisa. Aku sudah tidak punya hak lagi. Ku urus saja, atu jika kau tidak menginginkanya. Kau bisa hanncurkan perusahaan itu."
Lufas terdiam dengan perkataan Sy. Mike hanya menatap mereka dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak, Sya begitu terlihat muak sat bersama dengan Lufas.
"Mike. Sepertinya aku harus pergi. Maaf," uucap Sya.
"Aku akan mengantar kamu."
__ADS_1
Kembali Lufas ditinggalkan oleh Sya. Bersama dengan Mike lagi. Tanpa kata Mike mengantar Sya.
Sementara Sya hanya melamun. Dia merasa Lufas begitu aneh. Kemarin dia datang dan langsung mengambil alih perusahaan tanpa memberi tahu Sya. Sekarang, dia datang dan mengembalikan perusahaan itu.
"Apa kau mau ke tempat yang menenangkan?" Tanya Mike dalam kediaman di mobil.
Sya tersenyum. Mike begitu paham dengan hatinya.
"Ya. Kau bisa mengajakku," jawab Sya.
Tanpa ragu lagi Mike langsung berputar arah. Dia mencba untuk membuat Sya merasa lebih tenang dan lega. Bagaimanapun Sya saat ini sedang mendapatkan hal yang tidak menyenangkan.
***
Mike memarkirkan mobilnya di sebuah vila. Sya merasa aneh, kenapa Mike malah membawanya ksebuah Vila. Sya juga sedikit merasa curiga dengan apa yang dilakukan Mie.
Mike melihat kegelisahan yang terpancar di wajah Sya. Dengan lembut Mike mendekat pada Sya. Dia tidak ingin membuat Sya merasa takut padanya.
"Aku tidak akan membawamu menginap disini," kata Mike.
Sya tersenyum aneh. Dia merasa malu karena curiga tanpa ada bukti.
"Ayo ke belakang."
Sya mengikuti langkah kaki Mike. Vila itu tidak terlihat seperti vila pada umunya. Bahkan lebih terlihat seperti rumah yang selalu di huni.
Sampai di belakang. Mata Sya terbuka lebar, dia melihat pemandangan yang begitu indah. Sebuah danau buatan dengan tanaman berbunga di sekitarnya. Diisana juga ada ayunan dan tempat untuk istirahat.
"Tempat yang indah," ucap Sya.
"Apa kau menyikainya?" Tanya Mike.
"Ya."
Sya tertawa kecil.
"Mana mungkin akuu akan datang kesini sendirian."
"Kau bisa mengajakku. Jika kau mau."
Sya duduk di ayunan. Dengan perlahan Mike mulai mendorongnya. Sya memejamkan matanya. Mencoba menikmati waktu yang indah ini.
"Dulu aku begitu sering datang kesini dengan ibuku. Tapi, sejak ibuku tiada. Aku tidak pernah datang kesini, kecuali saat aku begitu merindukanya."
"Pasti ibumu sangat menyayangimu," kata Sya.
Mike hanya tersenyum dan mengedarkan pandanganya.
"Seharusnya kau bahagia Sya. Orang yang selama ini kau anggap tiada telah kembali. Kau beruntung."
Sya tidak mengatakan apapun. Dia menatap Mike yang saat ini melihat kearah sebuah bukit kecil di tepi danau.
"Aku bahkan berharap jika ibuku sudah memalsukan kematianya. Dia kembali dan memelukku lagi."
Entah kenapa, ya merasa ikut hanyut dalam perkataan Mike. Dia tidak tahu harus merasa beruntung atau tidak. Yang Sya tahu, dia merasa begitu terhianati.
"Ibumu pasti melihatmu dari surga. Dia bangga memiliki anak sepertimu. Tampan dan seorang model papan atas."
"Apa kau sedang mengagumi ketampananku?" Tanya Mike.
Sya merasa kembali aneh.
__ADS_1
"Aku tahu, kau sudah tertarik padaku saat baru bertemu."
"Kali ini kau begitu narsis," ucap Sya.
"Inilah aku. Mike si model papan atas yang tampan."
Mereka berdua tertawa bersama. Kesedihan yang baru saja menyelimuti kini hilang entah kemana. Bahkan dalam tawa yang tulus, Sya melupakan semua masalah yang datang dalam hidupnya.
***
Sampai di rumah. Sya mencari dimana Danendra. Sejak dia berangkat ke sekolah Sya tidak melihatnya lagi.
Sya hanya menemukan Bi Sali yang sedang mengupas buah di dapur. Sya tidak pernah meminta buah di jam seperti ini.
"Dimana Nendra?"
"Nendra baru saja dibawa oleh Tuan Lufas. Sebentar lagi juga akan pulang."
"Kenapa tidak meminta ijinku lebih dulu?" Wajah Sya berubah menjadi marah.
Bi Sali mendekat. "Maaf, Saya kira Tuan sudah mengatakan pada Nyonya."
"Lain kali. Kamu yang harus melapor."
"Baik."
Sya masuk ke dalam kamar. Dia melihat email yang masuk. Berharap ada sebuah pekerjaan untuknya saat ini. Sya memang beberapa kali mengirim lamaran pekerjaan. Sya tidak memikirkan apa pekerjaan itu, asal baik dan benar.
Suara deru mobil membuat Sya langsung menoleh. Ternyata mobil Lufas. Tidak ada rasa ingin menyambut atau menemuinya.
Danendra turun dengan tawa dari mobil itu. Bahkan beberapa mainan baru sudah berada di tangannya. Sya ingat, bagaimana Lufas menolak kehamilan itu. Membuat mental Sya hampir hancur.
"Mama. Aku pulang," Teriak Danendra.
Sya beranjak dari duduknya. Baru saja Sya membuka pintu, Danendra sudah datang dan langsung memeluknya.
"Apa kamu senang?" Tanya Sya.
"Ya. Kapan aku bisa jalan-jalan dengan Mama dan Papa. Liburan keluarga."
Sya melepas pelukan itu dan menatap mata Danendra. Dia masih begitu polos, Sya tidak mungkin membuatnya kecewa.
"Lain kali." Sya akhirnya mengucapkan hal itu.
"Aku tunggu janji Mama."
Sya mengangguk. Danendra menarik Sya untuk masuk ke ruang tengah. Disana sudah ada Lufas yang sedang duduk. Irisan buah berada di piring. Bi Sali ternyata membuatkan itu untuk Lufas.
"Ma. Papa memberikan mainan baru untukku."
"Bagus."
"Apa Mama tidak ingin apapun dari Papa?"
"Sayang. Mama saat ini tidak membutuhkan apapun. Mama hanya ingin tenang."
"Apa aku mengganggu Mama?"
Sya menggeleng. "Tidak. Apa sekarang Mama boleh ke kamar. Mama ingin tenang."
"Baiklah. Aku akan bermain dengan Papa."
__ADS_1
"Kau bisa lakukan itu."
Sya kembali masuk ke kamar. Sejak dia masuk ke ruang tengah. Lufas sudah menatap Sya terus menerus. Hal ini membuat Sya tidak bisa melakukan apapun. Sya juga tidak ingin hatinya kembali goyah.