
Hotel bintang lima dengan desain yang begitu unik terlihat begitu megah. Hotel itu menyiapkan private room untuk tamu yang membutuhkannya.
Mobil Tom terparkir disana. Dia sudah memesan sebuah private room untuk bertemu dengan Mike.
Sudah satu jam mengunggu. Bahkan wajah Anna sudah mulai terlihat bosan. Dia beberapa kali merengek untuk boleh keluar dari sana.
"Dia sedang mempermainkan kita. Ayolah, pulang saja," kata Anna.
"Diam. Aku hanya pergi saat dia datang atau membatalkannya."
"Tapi..."
Belum sempat Anna mengakhiri kalimatnya. Mike masuk ke ruangan bersama dengan asistenya. Mata Anna langsung melebar.
Anna tidak tahu jika Mike yang dimaksud Tom adalah Mike seorang model terkenal. Dimana mereka pernah bertemu di restoran. Saat itu dia sedang bersama dengan Sya.
Mike duduk dengan tenang. Matany yang awalnya melihat Tom kini menatap pada Anna. Anna mencoba untuk mengalihkan pandangannya.
"Apa ini Nyonya Tom?" Tanya Mike.
"Ya. Dia istriku, aku sengaja membawanya untuk bertemu denganmu," kata Tom.
Mike mengangguk.
Anna masih mencoba agar Mike tidak mengenali dirinya. Waktu itu, dia sudah membuat masalah pada Mike ini.
"Sepertinya istrimu tidak menyukaiku. Dia bahkan memilih untuk menatap kearah lain."
Perkataan itu membuat Tom menyenggol lengan Anna dengan cukup keras.
"Anna. Istri Tom," Anna mengulurkan tanganya.
Mike tidak membalas uluran tangan itu.
"Kita sudah pernah bertemu bukan? Saat itu kau terlihat begitu mengenal Lufas dan Sya."
Wajah Anna terlihat panik.
"Benarkah Tuan Mike?" Tanya Tom.
"Ya."
"Dia dan Sya dulu adalah teman. Sampai saat Sya memilih untuk menikah dengan Lufas dan berhenti berteman dengan Anna."
Mike tidak mengatakan apapun. Sampai Tom berbisik pada Anna untuk keluar lebih dulu. Saat ini Tom begitu menyesal sudah membawa Anna bertemu dengan Mike. Rencananya bisa saja gagal karena istrinya itu.
Anna menunggu di dalam mobil dengan perasaan tidak menentu. Jika rencana ini gagal, sudah pasti jika malam ini dia akan disiksa oleh Tom. Mata Anna memejam, takut membayangkan semua itu.
Tidak lama Mik keluar dari restoran dengan asistenya. Setelah itu baru Tom masuk ke dalam mobil. Anna tidak berani menatap pada Tom. Dia juga tidak bertanya mengenai hasil pertemuan ini.
"Lain kali berbaiklah pada Sya. Jika tidak kita akan terkena masalah."
"Ya. Waktu itu aku tidak tahu," ucap Anna.
Tom menarik Anna ke dalam pelukanya. Ciuman diantara mereka memanas. Bahkan mereka tidak peduli saat ini berada di parkiran restoran.
***
__ADS_1
Sya baru saja selesai menyuapi Danendra. Setelah itu dia berniat untuk keluar sebentar dari rumah Lufas.
Sudah tiga hari Sya tidak melihat suasana di luar rumah. Jadi, dia mengirim pesan pada Rista untuk bertemu di sebuah mall. Sya ingin membeli beberapa baju untuk dibawa ke rumah Lufas.
Saat Sya baru saja keluar dari gerbang rumah Lufas. Seseorang langsung menariknya untuk masuk ke dalam mobil. Sya kaget dan bersiap berteriak, tapi mulutnya dibekap.
"Tenang ini aku."
Sya menoleh ke belakang tubuhnya. Wajah Mike terlihat dengan senyumanya yang menggoda. Sya langsung menggigit tangan itu. Karena sakit, Mike melepaskan tangannya dari Sya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Sya.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Kenapa?"
"Kau membuat aku kaget."
"Kau mau kemana?" Tanya Mike.
"Aku ada janji dengan Rista."
"Sopir, antarkan Nona Sya ke mall."
"Baik, Tuan."
Mobil itu melaju dengan kecepatan standar. Berhenti tepat di pintu depan mall. sya turun, Mike juga mengikutinya.
"kenapa kau mengikutiku?"
"Aku hanya ingin tahu siapa yang akan kau temui."
Tidak lama sosok Rista muncul. Dia mendekat dan menatap mike dengan lekat.
"Kami sudah janjian bertemu. Kenapa kau ada disini?" Tanya Rista.
Mike menatap kearah Rista. Dia mendekat dan berbisik, "Aku hanya memastikan tunanganku baik-baik saja."
Rista mengernyitkan dahi. Setelah itu Mike pergi dengan lambaian tangan. Sya hanya tersnyum kecil.
"Apa kalian sudah bertunangan?" Tanya Rista.
"Siapa?"
"Kau dan dia." Rista menunjuk kearah Mike.
"Jangan gila. Aku hanya berteman dengannya."
"Baguslah. Sepertinya dia juga bukan orang baik."
Sya hanya tersenyum. Lalu mereka mulai berbelanja ria. Banyak sekali barang yang Rista beli. Bahkan Sya sampai membantu membawakan tas belanjanya.
"Rista. Aku ke toilet sebentar. Kau bisa menungguku kan?"
"Ya."
Sya pergi menuju toilet wanita. Saat masuk, Sya dan Anna tidak sengaja bertabrakan.
"Kau." Anna terlihat begitu kesal.
__ADS_1
Sya yang merasa tidak bersalah hanya diam.
"Kenapa kau melakukan hal ini padaku. Apa kau mau bersikap sombong padaku?"
Sya tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Anna.
"Jangan kau kira karena dekat dengan Mike kau bisa seenaknya padaku."
"Mike? Ada apa dengannya?" Tanya Sya.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kau memang wanita penggoda."
Plak. Sya menampar wajah Anna begitu saja. Bahkan tatapan Sya saat ini terlihat tidak baik-baik saja.
"Kau menamparku?"
"Ya. Kenapa? Apa kau ingin membalasnya? Balas saja jika kau mampu."
"Kau memang..."
"Anna sekali lagi kau mengatakan aku wanita penggoda. Aku tidak akan segan lagi membuatmu terluka."
Anna merasa belum cukup mendorong Sya sampai ke dinding. Dia menekan tubuh Sya dan mencekik lehernya dengan begitu kuat.
Sya sudah tidak mampu mengatakan apapun. Bahkan saat ini kekuatan Anna menjadi begitu besar.
"Aku ingin kau mati di tanganku Sya."
Anna semakin memperkuat tekanan di leher Sya. Pintu toilet terbuka. Lufas masuk dan menarik tubuh Anna dengan kasar.
Tanpa peduli dengan keadaan Anna yang terjatuh. Lufas menggendong tubuh Sya yang sudah pingsan.
Rista terlihat begitu kaget dengan hal itu. Sebenarnya, dia tadi ingin menolong Sya hanya saja melihat Anna yang begitu marah. Rista tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, dia yang memutuskan untuk menelfon Lufas saat itu.
"Apa kamu yang mengadu?" Tanya Anna pada Rista.
"Ya. Kau sudah begitu jahat padanya."
"Sekarang aku akan melelpaskan kamu karena kita pernah dekat, tapi tidak untuk lain kali."
Anna melewati Rista begitu saja. Saat ini Mike tiba-tiba saja muncul. Dia hanya mendapat Rista disana.
"Dimana Sya?" Tanya Mike.
"Dia dibawa Lufas."
"Kenapa kau malah mengatakan pada Lufas. Seharusnya kau menghubungi aku."
"Aku tidak punya nomor kontakmu."
Mike merebut ponsel di tangan Rista. Dia mengetik nomornya sendiri dan kembali memberikan pada Rista.
"Simpan nomorku dengan nama Mike."
Rista bingung dengan mike. Hanya saja, rasa tertarik muncul di hati Rista saat ini. Dia merasa, Mike berbeda dengan pria lain.
Rista menatap telfonya. Lalu melakukan apa yang Mike minta. Dia menyimpan nomor itu, berharap jika dia bisa menghubungi Mike tanpa ada kaitan dengan Sya.
__ADS_1