The Way Love

The Way Love
CLX


__ADS_3

Sebuah rumha megah dengan gaya modern terlihat. Banyak penjaga yang berada disana. Meski banyak lampu yang menaringi rumah itu. Tetap saja, rumah itu tidak terlihat indah bagi Sya.


"Tuan sudah datang," teriak seorang penjaga yang berada di luar pintu gerbang.


Tidak membutuhkan waktu lama. Pintu itu akhirnya terbuka juga. Sya menoleh pada Mike. Dia berekspresi datar, namun matanya menyiratkan kemarahan yang jelas.


"Apa sebaiknya kita kembali saja," kata Sya.


"Tidak bisa."


Sya hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak tahu siapa yang akan mereka temui saat ini. Bahkan sejak kembali dari Vila, Mike hanya diam dan tidak mengatakan apapun.


Mobil berhenti di depan pintu rumah yang lebar dan besar. Sya ikut turun, dia langsung menggandeng tangan Mike. Dia tahu, hal ini tidak biasa.


"Jaga sikapmu saat di dalam," ucap Mike tanpa menoleh pada Sya.


"Baik."


Jantung Sya berdegup semakin kencang saat kakinya sudah melangkah untuk masuk. Beberapa pelayan menyambut mereka. Jelas, ini bukanlah rumah orang yang biasa.


"Sayang. Kau sudah datang?" Teriak seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sehat, juga cantik.


Mike melepaskan pegangan tangan Sya. Dia maju satu langkah dan memeluk wanita yang baru saja berteriak itu.


"Bagaimana kabar Mama?"


Sya kaget mendengar Mike yang memanggil wanita itu dengan sebutan Mama. Selama ini dia mengira Mike adalah orang sendiri, tanpa keluarga atau kerabat.


"Aku baik," wanita itu melirik pada Sya. "Siapa dia?" Tanya Mama Mike.


Mike melihat kearah Sya. Masih tanpa ekspresi.


"Mama sudah tahu, kenap aharus bertanya." Jawab Mike.


"Halo, Tante." Sapa Sya yang terlihat begitu canggung dengan keadaan itu.


"Apa kau yang bernama Syaheila?"


"Ya, Tante."


"Mika sudah mengatakan semuanya padaku. Jika dilihat dari penampilan, kau tidak terlihat buruk. Yang aku sayangkan hanya satu..." wanita itu menggantung nada bicaranya.


Saat itu Sya baru sadar jika Mike dan Mika adalah saudara.


"Kau janda dua kali, lalu menikah dengan putra kesayanganku."


Deg. Sya meerasa hancur saat itu juga. Bahkan rasa sakit itu menjalar keseluruh tubuh Sya. Suara Sya bahkan tiak bisa keluar, seperti ada yang menahanya untuk bicara saat itu.


Mike melihat Sya yang kecewa dan terluka. Diia akan mendekat, tapi Mamanya sudah menarik tanganya lebih dulu.


"Mama ingin bicara denganmu. Biarkan dia istirahat."


"Ma."


"Mike. Ayolah, pelayan akan mengantarkanya ke kamar."


Sya masih saja diam. Mike mendekat dan berbisik, "Tenang saja. Aku kkan segera kembali."


Bisikan itu sama sekali tidak membuat Sya tenang apa lagi bahagia. Setelah kepergian Mike dan Mamanya. Seorang pelayan mendekat dan meminta Sya untuk mengikutinya.


Tidak ingin membuat masalah. Sya mengikuti pelayan itu menuju ke lantai dua. Dia di bawa kesebuah kamar. Sebelum masuk ke kamar, Sya diam di tempat karena melihat Mika ada disana.


"Kau sudah disini? Apa kau sudah bertemu Mamaku?"


Sya mengulas senyum. "Mamamu begitu baik. Aku merasa senang," kata Sya.


Jawaban Sya membuat Mika terlihat tidak senang. Dia sudah melakukan semuanya, tidak mungkin Mamanya akan diam saja.


"Baguslah. Dimana Kak Mike?"


"Dia bersama dengan Mama."


"Istirahat dengan tenang. Aku akan menemuimu lagi nanti," kata Mika.


Sya hanya tersenyum.


Di ruangan yang jauh di belakang. Mike dan Mamanya sedang dduk bersama. Seorang pelayan datang membwakan dua minuman untuk mereka.

__ADS_1


"Apa Mika yang mengatakan semuanya?" Tanya Mike.


"Ya."


"Lalu apa maumu?" Tanya MIke dengan tidak senang.


"Apa yang membuatmu menyukainya. Dia bahkansudah menjanda dua kali. Dia punya seorang anak juga."


"Aku tidak peduli dengan itu semua."


Mama Mike mengepalkan tanganya tidak senang. Dia dan Mike memang tidak dekat hanya saja mengenai pernikahan. Seharusnya Mike mengatakan padanya lebih dulu.


"Ceraikan saja dia. mama akan carikan yang lain."


"Mama tidak perlu repot."


Mike mengucapkan sembari berlalu meninggalkan Mamanya itu. Wajah mama Mike terlihat sendu. Meski begitu, dia tidak bisa berbuat apapun saat ini.


Saat keluar dari ruangan Mama. Mike dan Mika berpapasan. Tatapan mereka terlihat begitu asing, tidak seperti saudara pada umumnya. Entah apa yang membuat hubungan itu terasa tidak baik.


Di dalam kamar Sya hanya duduk. Dia menatap kesekeliling yang penuh dengan barang-barang mewah. Disana juga ada foto Mike saat masih bersekolah. Jelas terlihat jika Mike memang tampan sejak dulu.


"Kau sedang memandang fotoku?" Tanya Mike yang langsung memeluk tubuh Sya dari belakang.


"Apa aku tampan?" Tanya Mike kemudian.


Sya tidak menjawab. Meski begitu, Mike tetap saja merasa senang.


Sejak pulang dari liburan mereka. Sya tidak lagi menolak Mike. Meski begitu, bukan berarti Mike bisa melakukan apa saja pada Sya.


"Kenapa kau tidak mengatakan jika Mika adalah saudarimu?" Tanya Sya kemudian.


"Aku juga tidak menganggap hubungan kami seperti itu."


Sya bingung dengan jawaban yang diberikan Mike.


"Kau tahu, kadang hubungan saudara hancur karena orang tua."


Sya menatap pada Mike.


"Ya. Orang tuaku yang membuat aku melakukan hal ini. Mereka begitu mencintai Mika sampai lupa padaku. Hingga aku harus berjuang untuk kehidupanku sendiri."


"Ada aku yang menemanimu," ucap Sya.


"Kalau begitu. Jangan tinggalkan aku, apapun yang akan terjadi."


"Ya. Apapun yang terjadi."


***


Makan malam sudah disiapkan. Sya dan Maki masih berada di rumah orang tua Mike. Mereka berniat pergi setelah acara makan malam itu.


Mika terlihat tenang saat Sya dan Mike masuk bersama. Bahkan, mereka datang dengan tangan yang bersatu.


Sebuah senyuman muncul di wajah Mika saat ini. Entah apa yang terjadi, Sya merasa iri dengan hal itu.


"Kalian membutku menunggu lama," kata Mama Mike.


"Maaf." Ucap Sya.


"Jangan bilang maaf padanya. Salah sendiri tidak makan lebih dulu," kata Mike tanpa menolah pada Mamanya sendiri.


"Kau teralu kasar pada Mama, Kak."


"Aku tidak ingat memiiliki adik sepertimu."


Hal itu tidak membuat ekspresi Mika berubah. Sya hanya bisa melihat dua saudara itu sedang berdebat.


"Diam. Makanlah," kata Mama Mike.


Sya dan Mike duduk. Dengan tangan Sya sendiri, dia menyiapkan makanan untuk Mike. Mika dan Mama hanya menatap saja. Sementara Mike merasa senang dengan perlakuan istrinya itu.


Acara makan malma itu tidak ada obrolan yang penting atau baik. Yang ada hanya percikan api yang siap membuat kegaduhan.


"Mike. Mama harap kamu mengerti," kata Mama Mike kemudian.


Mike tidak menjawab.

__ADS_1


"Sudahlah. Mama lelah, ingin istirahat."


Mama Mike pergi begitu saja. Kini hanya tinggal Mike, Sya dan Mika. Tidak ada pembicaraan.


"Apa kau juga memperlakukan Lufas seperti itu?" tanya Mika kemudian.


Sya yang tahu, pertanyaan itu tertuju padanya.


"Kenapa kau tidak bertanya langsung padanya."


"Aku tahu. Kau melakukan semua itu karena di depan Mamaku, ingin menjadi menantu yang baik bukan."


Sya ingin bicara, namun Mike menahan tangannya. Sya akhirnya diam.


"Dia tidak perlu menjadi menantu yang baik. Cukup menjadi istriku yang baik."


"Istri baik?" Mika tertawa setelah mengatakanya.


"Ya. Setidaknya aku dan Mike memiliki ikatan yang jelas. Tidak sepertimu, merebut dan akhirnya tidak dimiliki."


Brak. Mike menggebrak meja dan berdiri.


"Kau lancang ya," katanya.


"Aku mengatakan yang sebenarnya," kata Sya.


Mika hanya tersenyum aneh dan menyembunyikan emosinya.


"Kita pulang saja. Disini hanya akan menguras emosi kita."


Mike menarik tangan Sya. Sya hanya diam dan mengikuti langkah kaki Mike sampai di samping mobil.


"Apa kau marah pada Mika?"


"Ya. Sangat marah," jawab Sya.


"Kenapa kau marah padanya?"


"Entahlah. Aku hanya marah saja."


"Apa karena Lufas?"


Sya langsung menatap tajam pada Mike.


"Apa menurutmu aku masih memiliki rasa itu?" Sya balik bertanya.


"Bukan begitu. Aku hanya merasa senang dengan Mika. Dia mengambil Lufas dan membiarkan dirimu menjadi milikku."


"Apa ini?" Tanya Sya.


Mike tidak menjawab. Dia menarik pnggang Sya dan memeluknya dengan erat. Diam, itulah yang dilakukan oleh Sya saat ini.


***


Lufas mendengarkan semua yang dikatakan oleh Mika. bahkan wajahnya terlihat senang dengan kabar it. Orang tua Mike jelas tidak suka pada Sya. Hal ini sudah menjadi tekanan batin untuk Sya. Belum lagi Danendra yang memilih untuk tetap bersama dengannya dan meninggalkan Sya.


"Kenapa kamu tersenyum?" Tanya Mika kemudian.


"Kau memberikan kabar yang bagus."


"Lalu kapan kau akan menikah denganku?" Tanya Mika.


Lufas menatap aneh.


"Ya. Kau harus menikahiku."


"Tidak. Kau tahu, aku dan kamu hanya hubungan saling membutuhkan saja. Tidak lebih."


"Apa kau tidak mencintaiku?"


Lufas tidak menjawab ppertanyaan itu.


"Kau jahat."


Mika langsung pergi begitu saja. Selama ini, Mika menganggap hubungannya dengan Lufas adalah istimewa. Ternyata tidak sama sekali untuk Lufas. Lufas masih memiliki hati dengan nama yang sama. Syaheila.


Melihat kepergian Mika. Lufas merasa kehilangan sebuah kunci. Diia harus membujuk kunci itu sebelum hilang dan tidak akan kembali.

__ADS_1


***


__ADS_2