
Dengan sorot mata yang menusuk tajam. Sya menatap dirinya sendiri di depan cermin. Dia menatap orang yang selama ini hancur karena cinta. Sampai saat ini orang itu masih berharap akan cinta lamanya itu.
Cinta memang kadang membuat kita kuat menahan segalanya. Hanya saja, ada sisi lain dari cinta. Dimana cinta harus menyakiti orang yang memilikinya.
"Sya. Kamu harus sadar. Arda bukan milikmu lagi. Apapun yang terjadi, kau harus melupakannya," kata Sya dengan nada mantap sembari menatap pantulan dirinya.
Setelah itu. Sya terduduk dengan mata berkaca-kaca. Dia memang sedang menyemangati dirinya sendiri. Untuk melupakan Arda. Entah apa yang dia harus lakukan agar melupakan pria yang dia cintai. Cinta pertamanya.
Tok tok tok.
Sya menghapus air matanya. Lalu dia kembali mrmbasuh wajahnya dengan cepat. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Sya melakukan itu. Sya keluar.
Di dalam kamarnya tampak gelap. Padahal sebelum dia masuk ke kamar mandi dia sudah menyalakan lampu. Rasa takut langsung menghampiri.
Dengan langkah perlahan Sya mencoba menggapai saklar lampu. Tentunya agar dia bisa melihat semuanya.
"Mira. Apa kau yang melakukan ini?" Tanya Sya, tapi tidak ada jawaban.
Sya terus menyusuri kamarnya. Sampai tangannya menggapai saklar yang dia maksud. Sya mencoba untuk menekannnya. Benar saja, lampu menyala dengan tenang. Hal itu membuat Sya bernafas lega.
Brak. Tepat Sya berbalik tangan. Seseorang sudah mendorong Sya menempel dinding. Mata mereka bertemu. Sya tidak percaya ada hal mengerikan semacam ini.
"Kenapa kau disini?" Tanya Sya dengan nada kasar.
Mata itu menyusuri seluruh wajah Sya. Bahkan mulai menatap kearah yang lain.
"Jaga matamu dan lepaskan aku," kali ini Sya mengatakan dengan nada berteriak.
"Aku yang melupakanmu atau kau yang melupakanku?"
Sya tidak menjawab. Dia hanya berusaha lepas dari jeratan. Tanpa pikir panjang saat tangan kanannya lepas. Sya langsung menampar wajah itu dengan sangat keras.
Arda mundur beberapa langkah. Dia tertawa kecil setelah mendapat tamparan dari Sya. Dia bahkan kembali mendekat pada Sya.
"Jangan mendekat padaku."
"Sya," panggil Arda.
"Jangan memanggilku. Kita tidak kenal dan tidak memiliki ikatan apapun. Jadi pergi dari kamarku," kata Sya.
"Apa kau melupakan ikatan kita Sya?"
Sya diam. Dia mengira jika Arda sudah ingat semua. Hanya saja, ikatan itu sudah tidak ada lagi. Dia juga sudah berjanji pada Ruka dan akan melupakan Arda. Apapun yang terjadi.
"Sya. Jelaskan padaku sekarang Sya."
Tanpa pikir panjang Sya memencet sebuah tombol. Dimana tombol itu jika dipencet akan langsung berbunyi. Beberapa keamanan juga akan datang langsung.
Benar saja. Tidak lama beberapa penjaga dihotel itu datang. Mereka hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sya. Hingga akhirnya Arda dibawa pergi ke kantor keamanan.
__ADS_1
***
Sya hanya bisa duduk dengan pikiran melayang entah kemana. Dia memikirkan Arda yang tiba-tiba datang dan meminta penjelasan. Hanya satu pikiran Sya, apa mungkin Arda sudah ingat semuanya.
Jika memang benar. Apa Arda masih memiliki rasa untuk Sya. Walau begitu, mereka sudah tidak bisa bersama. Janji Sya pada Ruka harus ditepati. Bagaimanapun, selama ini Ruka sudah menjaganya dan selalu berada disampingnya.
"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Lufas yang membuat lamunan Sya buyar.
Sya menoleh dan mendapat Lufas masih tergesa-gesa. Mungkin karena dia berlari.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Lufas lagi.
"Ya. Kau lihat sendiri."
Lufas bernafas lega. Dia duduk di depan Sya dan menatap wanita itu. Wanita yang selalu mencoba acuh tak acuh padanya.
"Aku dengar Arda datang ke kamarmu? Apa dia melakukan sesuatu padamu?"
"Bukankah pihak keamanan sudah mengatakan semuanya padamu?"
Lufas menggelengkan kepalanya. Dia tidak percaya jika Sya akan menjawab seperti itu.
"Kau tahu aku harus terus mengawasimu. Kakakmu tidak ingin terjadi apapun padamu."
"Aku tahu," jawab Sya.
"Jika kau terus bersikap seperti ini. Bagaimana bisa aku dekat denganmu."
"Baiklah. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku."
"Ya."
Merasa tidak diinginkan oleh Sya. Lufas memilih untuk kembali kepekerjaanya. Ya, dia memang bukan pria yang sempurna. Hanya saja, Lufas memiliki sifat pria yang mungkin diimpikan oleh banyak wanita.
Sifat perhatian dan rasa khawatir yang cukup berlebihan. Sifat itulah yang selalu berada di diri Lufas saat bersama dengan Sya. Entah sifat itu datang dari mana.
Ponsel Lufas berdering. Nama Ruka tertera disana. Dengan perasaan yang bercampur Lufas menerima panggilan itu.
"Bagaimana?" Tanya Ruka langsung. Tanpa ada basa-basi lebih dulu.
Terlihat sekali jika Lufas masih bingung dengan pertanyaan itu.
"Aku hanya berharap kau mau menerima adikku. Ini permintaanku, bukan sebagai bosmu, tapi sebagai kakak dari Syaheila."
"Ruka. Kau tahu aku dan dia tidak mungkin bersama. Dia hanya mencintai satu pria."
"Dan aku ingin dia melupakan pria itu."
Lufas berdecak. Tidak kakak tidak adik sama saja. Sama-sama merepotkan.
__ADS_1
"Lufas. Aku tahu hanya kau yang bisa menjaga adikku itu."
Tawa kecil keluar dari bibir Lufas. "Dia bahkan tidak mau dekat denganku."
"Kalau begitu. Aku yang akan turun tangan," kata Ruka.
Setelah itu panggilan itu terhenti. Lufas hanya bisa menatap ponselnya. Walau ada perasaan ingin menjaga Sya. Disisi lain, Lufas juga masih ingat dengan mendiang istrinya.
Istrinya yang meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan mobil. Saat melihat Sya, Lufas merasa jika dia menemukan kembali istrinya itu. Mulai dari nada bicara dan sifatnya, Sya hampir mirip dengan mendiang istrinya itu.
***
Aila merasa gelisah. Dia terus mondar mandir di dalam kamarnya. Dia sedang menunggu Arda kembali. Ya, sejak tadi Arda keluar dari kamar. Bahkan tidak mengatakan apapun pada Aila.
Sampai Aila mendapat kabar jika Arda masuk ke dalam kamar Sya tanpa permisi. Hal itu membuat jantung Sya berdegup dengan cukup kencang. Takut jika Arda mengingat semuanya.
"Aila. Aku kembali," ucap Arda yang langsung mendekat pada Aila.
"Kau dari mana saja. Aku mendapat kabar jia kau masuk ke kamar Sya."
"Apa kau percaya pada mereka? Mereka hanya ingin membuat skandal di hotel ini."
Aila menatap wajah Arda dengan teliti. Dia tidak ingin dibohongi.
"Tapi kau benar masuk ke kamar Sya bukan? Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika Sya adalah pelakor dari kakakmu. Apa sekarang kau sudah terpikat dengannya? Sama seperti Jovi."
"Aila," panggil Arda sembari memeluk mesra Aila, "apa kau cemburu padaku?"
Aila tidak menjawab. Dia hanya diam di dalam pelukan itu.
"Aku melakukan ini agar dia tahu. Tidak setiap pria menginginkannya."
"Lalu untuk apa kau datang ke kamarnya?"
"Aku kesana untuk memastikan jika dia tidak sedang bersama pria dari wanita lain."
Aila masih merasa kesal. Walau begitu, dia tidak ingin pertengkaran itu menjadi lebih besar.
"Kali ini aku akan melupakan kejadian ini. Jika kau sampai melakukannya lagi, aku akan katakan semuanya pada Mama. Dia pasti akan membuatmu sadar," kata Aila.
"Baiklah baiklah. Maafkan aku sayang," kata Arda.
Aila tersenyum tipis karena panggilan mesra dari Arda.
"Aku sudah siapkan obat di nakas. Kau bisa meminumnya. Aku ada janji dengan teman," kata Aila.
"Aku pasti akan meminumnya. Kau hati-hati dijalan."
"Tentu."
__ADS_1
Aila mendekat dan memeluk Arda sebelum pergi. Aila juga mengecup mesra pipi kiri Arda.
***