
"Aku ingin jadi penulis," celetuk Sya.
Lufas terbatuk dan tidak jadi menyuapkan makananya ke mulut. Dia kaget dengan apa yang dikatakan oleh Sya.
"Apa kau sedang melucu saat ini?"
"Aku serius, kata Sya."
"Jika serius. Lakukanlah, aku akan menunggu hasilnya."
"Apa kau tidak ingin melihat prosesnya?"
"Tidak. Aku ingin kau membuktikan apa yang kau katakan. Aku hanya akan mendukungmu."
"aku akan buktikan."
Mereka kembali makan dengan tenang. Sejak Sya sering embaca buku, niat untuk membuat sebuah karya muncul dihatinya. Walau dia masih ragu dengan bakat yang dia punya.
Setelah selesai makan siang. Lufas mengantar Sya untuk kembali ke apartemen. Sementara dirinya akan kembali bekerja. Banyak hal yang harus dia lakukan, apa lagi dengan perusahaan yang muncul tiba-tiba dan langsung berkembang dengan pesat.
"Apa kau tidak akan naik dulu?" Tanya Sya begitu tutun dari mobil.
"Tidak. Ada rapat mendadak yang harus aku datangi."
"Kalau begitu hati-hati dijalan. Seemoga sukses," kata Sya.
Lufas menganggukkan kepalanya. Dia perlahan menginjak pedal gas. Mobil itu berjalan dengan perlahan, Sya hanya bisa menatapnya tanpa mampu menghentikannya.
Dengan lemah Sya berjalan masuk ke apartemen. Dia terus mengingat mimpi-mimpi yang begitu menghantuinya. Berulang kali Sya meyakinkan dirinya jika Lufas tidak akan pergi. Hanya saja semakin Sya meyakininya, semakin sakit di dalam hatinya.
Sampai di apartemen Sya duduk dengan senyuman sendu. Dia ingin menulis kisah cintanya dengan Lufas. Dia ingin semua orang tahu tentang cinta yang selama ini miliki.
Senyuman Sya mengembang. Dia mengambil laptop dan mulai mengetik. Jarinya menari dengan indah d atas keyboard laptop.
Kata demi kata terangkai dengan indah. Sya hanyut dalam hayalan yang begitu memabukan. Kisah cinta yang bahagia akan dia hasilkan saat ini. Walau sebuah novel bukan hanya kata-kata. Novel membutuhkan waktu, yang tidak sedikit.
"Aduuuh," Sya mengaduh dan memegang perutnya.
Entah kenapa, Sya merasa perutnya begitu sakit. Rasa sakit itu muncul tiba-tiba. Dia melihat kalender. Kandungannya baru saja berumur tujuh bulan, mana mungkin dia merasakan kontraksi.
Sya mencoba mengabaikan rasa sakit itu. Dia kembali mengetk dengan perasaan yang aneh. Rasa sakit itu muncul lagi, hilang, kemudian datang lagi.
Tangan Sya meraih ponsel. Dia mencoba menelfn Lufas, namun tidak diangkat. Dia mencoba samppai akhirnya dia mengatur nafasnya sendiri tanpa diberi aba-aba.
Rasa sakit itu kembali Sya taan. Dia menelfon rumah sakit terdekat untuk menjemputnya dengan ambulance. Setelah itu, Sya hanya bisa menunggu apa yang selanjutnya terjadi.
***
Lufas keluar dari ruang rapat. Dia melihat ponsel, panggilan tidak terjawab dari Sya begitu banyak. Lufas yang merasa khawatir langsung menelfon balik. Tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Akuu haru pergi," kata Lufas dan langsung pergi begitu saja.
Berkas ditangannya terjatuh. Ben yang melihat langsung tahu jika ada masalah saat ini. Dia membereskan semua berkas itu.
Saat dia akan kelur dari ruangan Lufas. sebuah panggilan masuk ke telfon kantor. Ben awalnya ragu untuk mengangkat, tapi karena hanya ada dia saat ini. Ben mengangkat telfon itu.
"Halo. Apa benar ini dengan Bapak Lufas?"
"Bukan. Saya asistenya, ada apa ya?"
"Saat ini, istri Bapak Lufas, Ibu Syaheila sedang di dalam ruang operasi. Beliau akan segera melahirkan."
"Terima kasih infonya. Saya akan hubungi Pak Lufas."
Ben menutup telfon itu. Dia berjalan keluar untuk pergi kerumah sakit. Dia ingin melihat Lufas tersenyum bahagia dengan datangnya malaikat kecil di sisinya saat ini.
Mobil Ben menyala. Dia mencoba menelfon Lufas untuk memberi tahu dimana Sya dirawat. Dering pertamatidak dijawab, begitu juga dering kedua dan ketiga.
Ben menatap layar ponselnya. Lalu dia kembali menelfon Lufas. telfon itu akhirnya diangkat juga oleh Lufas.
"Lufas. Kabar gembira untukmu, Sya sedang melahirkan saat ini."
"Maaf. Apa kau kenal dengan pemilik ponsel ini?" Tanya seseorang yang mengangkat telfon Lufas.
"Ya. Apa yang terjadi dengan kakak saya?" Tanya Ben.
"Dimana?" tanya Ben.
Setelah tahu dimana kejadiannya. Ben langsung tancap gas. Dia bahagia sekaligus terkejut dengan hal ini.
***
Sebelum kecelakaan.
Lufas terus mencoba menelgon Sya. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada Sya. Hanya ponsel Sya masih tidak bisa dihubungi.
Di jalan yang menurun, Lufas tidak tahu jika ada seekor kucing yang lewat. Dia kaget dan mencoba menghindarinya. Saat itu, dia baru sadar jika mobilnya ada masalah. Remnya tidak berfungsi dengan baik.
Dalam keadaan yang kacau itu. Lufas menabrak sebuah pembatas jalan dengan sangat keras.
"Apa yang terjdi," lirih Lufas.
Perlahan pandangan matanya buyar. lalu, gelap.
***
Sya merasa dirinya sangat bahagia saat ini. Dia baru saja meelahirkan bayi yang sehat. Walau bayi itu premature, Sya tetap merasa senang.
Kali ini, Sya menatap bayinya yang masih terlelap. Hanya satu yang kurang, Lufas masih belum datang juga.
__ADS_1
Pintu ruang rawatnya terbuka. Sya merasa begitu senang, tapi saat melihat siapa yang datang. Ekspresi wajah Sya berubah.
"Dimana Lufas?" Tanya Sya.
Ben diam. Dia mendekat dan melihat bayi lelaki yang begitu tampan di samping Sya. Dia tersenyum dan berkata, "Kau terlihat seperti ayahmu," lirih Ben dengan air mata yang tertahan.
"Ben. Aku bertanya padamu. Dimana Lufas?"
"Lihatlah. Lufas memberkan ini untukmu," kata Ben dengan tangan menyodorkan sebuah kotak.
Sya menerimanya dan langsung membuka kotk itu. sebuah cincin dengan batu permata berwarna biru tua.
"Dia memberikan hadiah yang indah. Dimana Lufas, aku ingin berterima kasih padanya."
Ben hanya diam dan tidak tahu harus mengatakan apa pada Sya saat ini.
"Apa dia tidak ingin melihat anak ini? Bukankah dia juga ingin anak ini. Dia sendiri yang mengatakannya padaku." Kali ini nada suara Sya meninggi.
Ben menundukan kepalanya. Dia mengatakan semuanya, tapi tidak berani menatap mata Sya. Dia tahu, Sya akan hancur mendengar semua ini.
Mata Sya menatap kosong, namun air matanya mengalir dengan deras. dia tidak bisa mendengar semua ini. Dia merasa dibohongi oleh Ben.
"Jika dia meninggalkan aku. Dimana jasadnya, biarkan aku melihatnya."
"kata dokter, wajahnya hancur. Jadi,..."
"Aku ingin melihatnya. Tidak peduli wajahnya hancur atau tubuhnya hancur. Aku hanya ingin melihatnya."
Ben mengangguk. Dia membantu Sya untuk berjalan. saat ini, Sya masih merasakan sakit akkrena operasi cesar yang dia lakuakn. Hanya rasa sakit itu tidak sebanding dengan kehilangannya saat ini.
Sampai disebuah ruangan. Ada beberapa polisi disana, dua orang dokter terlihat sedang melihat kearah ranjang rumah sakit.
Sya menatap semua polisi itu. Meereka tidak mengatakan sepatah katapun. Sya perlahan berjalan sendiri ke samping dokter-dokter itu.
"Maaf, wajahnya sudah rusak," kata salah satu dokter itu.
"Aku hanya ingin melihatnya untuk yang terakhir."
Dokter itu membuka kain yang menutupi wajah Lufas.
Kali ini Sya tidak bisa membendung lagi. Air matanya pecah begitu saja. Dia terduduk di samping ranjnag rumah sakit. Dia tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini.
"Kau baru saja menjadi ayah. Kenapa kau sudah meninggalkan aku lagi, kau membiarkan anak kita menjadi seorang yatim."
"Tenangkan dirimu,"" kata Lufas.
Sya teru meracau, sampai akhirnya dia pingsan. Ben merasakan sakit yang sama, bahkan mungkin lebih sakit. Hanya saja dia seorang pria, dia ingin terlihat tetap tegar dalam situasi apapun.
***
__ADS_1