The Way Love

The Way Love
CXI


__ADS_3

Sebuah mobil merah datang dengan kecepatan sedang. Lalu parkir dengan rapi di depan gedung apartemen Sya. Tidak lama seseorang turun dari mobil itu dengan sepatu hak tinggi.


Beberapa orang yang lewat berhenti dan mengamati orang yang baru saja turun itu. Anna yang sudah biasa menjadi pusat perhatian hanya bisa menyunggingkan senyum.


Kakinya yang jenjang perlahan berjalan memasuki gedung tersebut. Anna sudah dua kali ini datang ke apartemen Sya. Walau tanpa undangan dari Sya.


"Kamu siapa?"


Nenek Maria yang penasaran mendekat dan langsung bertanya pada Anna. Anna menoleh dan langsung merasa aneh melihat nenek Maria.


"Siapa aku? Itu bukan urusanmu nenek tua," Jawab Anna dengan sombongnya.


Nenek Maria hanya diam saja. Anna kembali jalan memasuki lift dengan masih membawa tatapan sombongnya itu.


Sementara itu. Di apartemen Sya, Lufas sedang duudk denga ponsel ditangannya. Laptop di depannya juga menyala. Dia meminta Sya aar tetap di kamar. Lufas akan mengadakan rapat secara virtual.


Sya hanya bisa menurut, tapi sebelum itu Sya sudah menyduhkan kopi untuk menemani Lufas. Tidak lupa dengan kue kering untuk camilannya.


"Aku sudah siapkan semuanya," kata Sya pada Lufas.


"Terima kasih."


Sya mengangguk tersenyum. Lalu masuk ke dalam kamar.


Lufas memulai rapat virtualnya dengan tenang tanpa ada gangguan. Sampai saat suara bel membuatnya merasa terganggu. Mau tidak mau Lufas menghentikan rapat itu sementara.


"Sya, ada tamu. Aku akan melanjutkan rapatku i kamar saja," kata Lufas.


"Baik. Aku akan lihat siapa yang datang."


Lufas berpindah rapat ke dalam kamar. Sya mmbuka pintu dan terlihat kaget setelah melihat siapa yang berdiri disana.


"Kau kaget," kata Anna.


Sya hanya diam saja.


"Apa aku boleh masuk?"


Sya tidak menjawabnya. Sudah tentu walau tidak diizinkan Anna akan tetap masuk. Benar saja, Anna langsung masuk begitu saja. Dia tidak tahu jika Lufas juga sedang berada disana saat ini.


"Apa kau ingin minum?" Tanya Sya.


Anna menoleh dan tersenyum aneh. "Kau tidak akan mercuniku bukan?"


"Jika kau tidak mau ya sudah."


Sya kemudian duduk diseberang Anna. Mereka saling bertatapan, hanya tidak tahu makna tatapan itu.


"Adaapa kau datang kesini?" Tanya Sya.


"Aku ingin mengunjungimu. Aku dengar kau sedang hamil saat ini."


Sya tidak menjawab.


"Pasti kau sangat repot. Mengurus kehamilan ini sendirian."


"Aku tidak sendirian. Banyak yang membantuku."


"Aku juga dengar jika Lufas tidak menyukai bayi itu," kata Anna sembari melirik kearah perut Sya.


"Ya."

__ADS_1


"Kasihan sekali," kata Anna.


Untuk beberapa saat mereka tidak mengataka apapun. Ruang tamu itu terasa begitu hening. Anna terlihat membuka tas yang dia bawa. Dia mengambil uang dari sana dan meletakannya dimeja.


"Kau butuh uang ini. Simpanlah, Lufas pasti sangat sibuk dan tidak akan memberikan apapun untukmu."


Baru saja Sya akan menjawab. Lufas keluar dari dalam kamar. Dia sudah mendengar semuanya dari sana. Tanpa pikir panjang Lufas langsung duduk di samping Sya.


"Kau simpan saja uanag itu kembali. Kau lebih membutuhkanny nanti. Kita akan segera berpish dan aku tidak akan memberikan apapun untukmu."


Anna kebingungan harus berkata apa. Dia kira Lufas sudah tidak mengunjungi Sya lagi. Kini rasa kesal dan kecewa kembali menyelimuti hati Anna. Padahal, dia hampir tidak melakukan rencana terakhirnya.


"Kenapa kau masih duduk dan melamun disini?" Tanya Lufas pada Anna.


Anna kelimpungan. Dia mengambil kembali uang yang berada diatas meja. Lalu keluar tanpa pamit dari apartemen Sya. Dalam perjalan keluar Anna terlihat sedang menelfon seseorang.


"Aku menyesal memberimu bonus. Kau memberikan laporan yang tidak benar. Apa kau tahu, aku baru saja dipermalukan karena dirimu."


"Maaf, seharusnya aku melaporkan kabar Sya tadi malam. Tapi karena ada urusan lain aku jadi lupa."


"Sudahlah."


Anna menutup telfonya. Dia merasa sangat malu di depan Sya. Bagaimana bisa dia melakukan hal bodoh itu.


Di dalam mobil merahnya. Anna terus memikirkan penawaran yang diberikan Tom. Awalnya dia menolak, tapi saat ini Anna merasa sangat membutuhkannya.


Di dalam apartemen Sya menatap Lufas dengan lekat. Sya merasa jika Lufas sudah memilihnya. Walau ikatan pernikahan masih terikat pada Lufas dan Anna. Penolakan Lufas pada Anna membuat Sya yakin dengan cinta Lufas padanya.


"Terima kasih."


"Untuk apa kau berterima kasih. Aku melakukannya untukmu."


"Jangan bahas itu lagi. Aku hanya ingin bersama denganmu."


Lufas memeluk erat tubuh Sya. Dengan tangannya, Lufas menyibakkan rambut ditelinga Sya. Perasaan cinta mereka semakin erat.


***


Vila yang cukup jauh dari kota terlihat begitu mewah dan terang. Ada beberapa orang yang terlihat berjaga disana. Vila itu adalah vila milik Tom. Disanalah Tom melakukan banyak pekerjaanya.


Tawa Tom menggema begitu mendapat pesan dari Anna. Dia tahu, Anna tidak dapat menolaknya. Ini bukan kali pertama Sya melakukan penawaran dengan Tom.


"Sudah aku bilang. Seorang penghianat tidak akan pernah setia pada tuannya." Tom mengatakan hal itu dan kembali minum.


Tom sedang bermain kartu dengan beberapa temannya. Sementara malam ini, dia akan bersama dengan Anna. Untuk melakukan berbagai kesenangan.


Di vila averest. Anna memandang keluar jendela. Tangannya yang memegang ponsel masih terlihat gemetar. Dia baru saja mengirimkan pesan pada Tom.


Anna merasa dirinya begitu buruk jika mengingat perlakuan Tom saat bersamanya. Hanya rasa buruk itu langsung hilang. Anna kembali mengingat penolakan-penolakan yang Lufas berikan padanya. Juga raut wajah Sya yang tersenyum manis di samping Lufas.


Tangan Anna mengambil sebuah kertas yang selama ini dia singkirkan. Kertas yang selama ini dia hindari. Anna menatapnya dengan putus asa, lalu satu tangannya meraih pulpen dan membubuhkan tanda tangannya.


Lalu Anna menelfon Lufas. Setelah lama berdering akhirnya Lufas mengangkatnya. Nada Lufas saat bicara pada Anna begitu dingin.


"Ada apa?" Tanya Lufas.


"Datanglah ke Vila. Aku akan menunggu."


"Aku masih memiliki pekerjaan yang lebih penting."


"Aku tahu. Hanya hal ini pasti akan membuatmu senang."

__ADS_1


"Baiklah."


Lufas mematikan telfon itu. Anna menatap dirinya di cermin. Dia menatap dirinya yang begitu menyedihkan. Walau begitu, dengan hati-hati Anna memoleskan make up kewajahnya. Dia tidak mau Lufas melihatny dalam keadaan ini. Dia ingin terlihat kuat di depan Lufas.


Tidak membutuhkan waktu lama. Lufas akhirnya sampai di vila averest. Anna sudah menunggunya dengan baju berwarna putih dan make up yang tebal.


"Ada apa?"


Anna menyodorkan surat perceraian yang sudah dia tanda tangani.


Lufas menerima dengan senyuman.


"Apa kau bahagia?"


"Tentu." Jawab Lufas.


"Kau bisa bahagia saat ini. Kita lihat saja nanti, kau juga akan merasakannya. Bahkan lebih sakit."


Lufas menoleh. "Jangan bicara omong kosong." Setelah itu Lufas langsung pergi lagi.


Anna hanya bisa melihat kepergian itu. Kini dia akan menjadi orang lain lagi. Tentunya agar bisa melukai Lufas lebih dalam. Kali ini, Nita ingin melihat Lufas tunduk dihadapanya.


Dalam ratapan itu, Anna mendapatkan sebuah pesan. Pesan dari Tom. Dia meminta untuk segera datang atau penawaran itu akan berakhir.


Tanpa pikir panjang Anna langsung masuk mobil dan tancap gas. Dalam waktu sepuluh menit akhirnya Anna sampai. Kali ini Anna memarkirkan mobilnya sembarang. Lalu masuk ke vila.


Tom sudah menunggunya disebuah ruangan. Anna masuk dan langsung duduk. Anna juga langsung meminum minuman yang berada di atas meja.


"Jangan sedih, Sayang. Tidak ada kekasih Tom yang boleh merasa sedih," kata Tom.


"Apa aku harus tertawa di depanmu?"


"Jika itu perlu. Lakukanlah."


Anna tertawa. Entah apa yang sedang dia tertawakan. Hidupnya atau rasa sakit yang selama ini menyelimuti hatinya.


Tom mendekat dan langsung memeluk Anna. Dalam pelukan itu Anna langsung menangis. Saat ini dia tidak peduli siapa Tom. Dia tidak peduli apa Tom hanya akan mempermainkannya. Anna hanya berfikir, saat ini hanya Tom yang mau merengkuhnya ke dalam pelukan.


Di sisi lain.


Lufas naik di lift sudah tidak sabar. Dia ingin segera bertemu dengan Sya. Dia ingin menyampaikan kabar baik itu sesegera mungkin. Pasti Sya akan merasa sangat bahagia.


Sampai diapartemen. Lufas mencari-cari dimana keberadaan Sya. Semua ruangan sudah dia lihat. Sya tidak ada. Lufas mulai panik, sampai saat Lufas akan keluar dari apartemennya. Sya sudah berada di balik pintu.


"Kamu pulang? Bukankah kamu harus bertemu orang penting?" Tanya Sya.


Lufas menarik tangan Sya untuk masuk. Sya masih bingung dengan tingkah laku Lufas kali ini. Lufas tersenyum dan mengambil sesuatu dari saku. Sya hanya diam sembari menatap apa yang sedang Lufas lakukan.


"Lihat," kata Lufas menunjukan sebuah kertas.


Sya mengambik kertas itu dan membacanya. Sampai saat Sya melihat Anna sudah membubuhkan tanda tangan disana. Mata Sya berbinar, dia menatap Lufas dan langsung memeluknya.


"Apa kamu senang?" Tanya Lufas.


Sya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia tidak bisa berkata-kata lagi saat ini. Suaminya. Lufas akan menjadi miliknya seorang.


Saat itu Sya merasa ada yang aneh. Selama ini Anna begitu keras mendapatkan Lufas kembali. Kini dia tiba-tiba menerima cerai itu. Tanpa ada hal aneh sebelumnya.


Walau Sya memikirkan hal itu. Sya mencoba melupakan. Dia ingin terus bersama Lufas, membangun keluarga yang selama ini mereka impikan. Keluarga idaman dan harmonis. Sya hanya bisa berharap di hati kecilnya.


***

__ADS_1


__ADS_2