The Way Love

The Way Love
XXXVI


__ADS_3

Siang terasa sangat panas hingga membuat beberapa orang malas untuk keluar. Matahari begitu terlihat sempurna tanpa adanya awan yang menghalangi. Mungkin hal itu yang membuat hari semakin panas.


Walau begitu, hal itu tidak membuat Sya diam di rumah. Dia baru saja keluar dari gedung penjara di kota itu. Bukan menemui kakak iparnya, tapi dia menemui Jeremy. Dia ingin tahu dimana makam kakaknya berada.


Kecewa harus di tanggung oleh Sya. Jeremy tidak mau mengatakan apapun selama bertemu. Dia hanya terus mengatakan agar menghancurkan keluarga Ken.


Jika sudah seperti itu. Sya tidak tahu harus percaya pada siapa. Dia hanya bisa berdo'a sebuah kebenaran akan muncul kepermukaan.


"Sya. Ada apa kau disini?"


Sya menoleh. Dia melihat Eri mendekat dengan rantang makanan ditangannya.


"Sedang apa kau disini?" kembali Eri bertanya.


"Aku menemui teman. Kau?"


Eri tersenyum, dengan senyuman itu Sya langsung tahu Eri menemui siapa.


"Apa Arda yang menyuruhmu?" tanya Sya lagi.


Eri diam. Lalu dia melihat jam ditangan kirinya.


"Maaf. Waktunya akan berakhir. Aku harus bergegas."


Tanpa ada kata pamit. Eri pergi begitu saja. Dia meninggalkan Sya dengan pertanyaan yang belum dia jawab. Sya menghela nafas panjang.


"Aku harus segera pergi dari sini," lirihnya dan langsung pergi.


Dalam perjalan pulang. Sya masih berfikir tentang Eri. Jika dia bekerja untuk Arda, dia juga akan mengatakan pada Arda jika bertemu dengannya. Hal itu membuat Sya tidak tenang.


Merasa tidak tahu harus melakukan apa. Sya memilih mengirim pesan pada Eri. Dia meminta bertemu besok. Ya, Sya bisa keluar sendiri saat Arda tidak berada di rumah. Saat Arda sedang di kantor.


***


Pintu mobil terbuka. Sya keluar dengan langkahnya. Sampai di rumah, beberapa pelayan mendekat. Mereka kira Sya baru saja berbelanja dan membawa banyak barang.


"Apa Arda sudah kembali?"


"Belum Nona."


"Kalau begitu kalian bisa kembali bekerja."


Helaan nafas menjadi tanda bahwa dia bisa merasa tenang. Jika Arda sudah kembali, dia pasti akan banyak bertanya. Hal itu akan sangat sulit diatasi.


"Nona tunggu."


Langkah Sya terhenti. Seorang pelayan terlihat berlari kearahnya dengan sebuah kotak di tangannya.


"Apa kotak itu untukku?"


"Ya, Nona."

__ADS_1


"Terima kasih," kata Sya sembari menerima kotak itu.


Dengan langkah yang sudah lemah Sya masuk ke dalam kamar. Dia duduk di sofa sembari memandang kotak di depannya. Dari siapa dan untuk apa kotak itu.


Perlahan tangan Sya mulai membuka kotak itu. Sebuah baju dengan hiasan bunga tertata rapi dalam kotak itu. Disana juga ada sebuah surat.


*Aku berjanji tidak akan membuatmu sendiri dalam hidup ini. Aku mencintaimu.


Arda*.


Senyuman mengembang di wajah Sya. Dia tidak tahu jika Arda bisa melakukan hal semanis itu. Sya mengambil gaun itu, dia meletakkanya di depan mata. Dia memandang gaun itu.


"Apa kau menyukainya?"


"Ya. Aku sangat menyukainya."


Arda duduk di depan Sya. Beberapa hari yang lalu Arda sangat sulit untuk melihat senyuman di wajah Sya. Hari ini Arda kembali bisa menatap senyuman itu.


"Tetaplah tersenyum seperti ini," kata Arda.


Sya mengangguk. Lalu dia beranjak dari duduknya, namun Arda mencegah dan menarik tangan Sya sampai di pangkuanya.


"Kau mau kemana?"


"Aku ingin berendam. Apa kau butuh sesuatu?" tanya Sya.


"Ya, aku membutuhkanmu."


***


Tangan Sya masih sibuk dengan pengering rambut di tangannya. Malam ini, Arda mengajaknya untuk makan di luar. Dia mengatakan jika akan bertemu seorang teman.


Awalnya Sya menolak. Dia lebih memilih diam di rumah dengan banyak buku yang akan menemaninya. Hanya saja, Arda begitu keras mengajaknya.


"Sya. Cepatlah, aku akan menunggu di bawah," kata Arda.


"Kau lihat. Aku baru saja mengeringkan rambutku dan kau minta aku bergegas?"


Arda tidak menyangka jika akan sangat lama bagi seorang wanita untuk berdandan. Kali ini Arda hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari membantu Sya bersiap.


Sejak siang tadi Sya terus menerus bersikap manja padanya. Hal itu membuat Arda senang. Walau dia merasa ada yang salah. Tidak biasanya Sya begitu manja dan suka berdandan di depan cermin.


"Kali ini kau sudah siap," ucap Arda sembari mengusap lembut kepala Sya.


"Apa aku sudah cantik?"


"Ya. Kau sangat cantik."


Sya membuang muka. "Aku tahu kau sedang berbohong. Ayo berangkat."


Arda mengekor pada Sya yang sudah berjalan lebih dulu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Arda melihat nama Aila yang muncul dilayar ponselnya.

__ADS_1


Tidak ingin membuat Sya curiga. Arda menjauh dan mengangkat telfon itu. Raut wajah kaget kini hadir di wajah Arda. Dia tahu saat ini Aila begitu membutuhkannya. Hanya saja, dia sudah berjanji pada Sya akan membawanya pergi.


"Kenapa kau masih disini?" tanya Sya.


"A..aku..aku."


Sya mendekat dan langsung mengambil ponsel Arda. Sya melihat panggilan masuk dari Aila.


"Apa dia membutuhkanmu sekarang?" tanya Sya.


"Ya. Saat ini dia bekerja di perusahaanku sebagai sekretarisku. Jadi, aku juga bertanggung jawab untuk keselamatanya."


"Kenapa kau baru mengatakan jika Aila adalah sekretarismu?"


Arda tahu jika saat ini Sya marah. Arda mendekat dan memegang tangan Sya. Dia mencoba menenangkan mood istrinya itu.


"Aku ingin mengatakannya. Hanya saja..."


Sya tidak menggubris perkataan Arda. Dia memilih untuk menelfon Aila dari ponsel Arda. Setelah tersambung, Aila langsung mengangkat telfon itu.


"Arda. Aku merasakan sakit yang sangat," kata Aila ditelfon.


"Apa kau tidak memiliki orang tua? sampai kau menelfon suami orang di malam hari?"


"Sya. Biarkan Arda menemuiku. Aku sangat membutuhkannya."


"Benarkah? aku adalah istrinya. Aku lebih berhak dari pada dirimu. Jadi, jangan menelfon suamiku jika itu hal pribadi."


Belum sempat Aila menjawab. Sya sudah mematikan ponsel itu. Mata Sya tertuju pada Arda. Dia melihat Arda tampak biasa saja. Dia tidak merasa bersalah sudah membuatnya marah.


"Aku benci padamu," kata Sya sembari melempar telfonya.


Arda mengikuti langkah Sya. Sampai mereka masuk ke dalam mobil. Perjalanan itu bagai neraka untuk Arda. Sya tidak mengatakan apapun, dia lebih memilih untuk menatap keluar kaca mobil.


Beberapa kali Arda mengucapkan kata maaf, tapi tidak ada respon sama sekali. Kini malah terlihat Sya sedang berbalas pesan dengan seseorang.


Sampai disebuah tempat makan yang terlihat mewah. Arda diikuti oleh Sya turun dari mobil, tapi tetap tanpa kata. Sampai saat mereka bertemu teman Arda di meja.


"Selamat malam. Maaf, kami terlambat," ucap Arda yang langsung berjabat tangan dengan seorang pria.


Pria itu terlihat tampan dan maskulin. Bahkan suaranya sangat khas hingga membuat Sya terdiam. Sya merasa tidak asing dengan suara itu, juga dengan aura dari pria itu.


"Apa ini istrimu?" tanya teman Arda.


"Ya. Perkenalkan dia adalah Syaheila Zein. Sya, ini adalah temanku. Ruka."


Sya berjabat tangan dengan pria itu. Kembali, Sya merasa dirinya begitu dekat dan mengenal pria itu. Sya langsung memalingkan wajahnya, dia tidak ingin ada hal lain selain tentang Arda.


"Silahkan duduk," kata Ruka.


Sya dan Arda duduk. Ruka sudah memesankan makanan untuk Arda juga Sya. Mereka membahas hal ringan. Bahkan Ruka sesekali membuat Sya tertawa.

__ADS_1


***


__ADS_2