The Way Love

The Way Love
CXXVI


__ADS_3

Suara gaduh membut konsentrasi Sya hancur begitu saja. Dengan enggan akhirnya Sya keluar dari ruang kerjanya. Di depan ruang kerja, Anna sedang berdebat dengan seorang resepsionis.


Langkah Sya begitu tegas sampai dia menarik tangan Anna. Dia menatap Anna yang saat ini terlihat begitu berantakan.


"Apa yang kau lakukan di kantorku?" Sya akhirnya bertanya juga.


"Aku ingin menemuimu, tapi dia tidak mengizinkannya." Anna menunjuk seorang resepsionis.


"Apa benar?" Tanya Sya.


"Benar. Bu. Tadi Bu Rista yang meminta agar tidak ada yang mengganggu Anda."


"Begitu ya."


Resepsionis itu menangguk.


Sya menatap kembali pada Anna.


"Aku hanya diamsaat kau datang kesini sebelum ini. Aku juga tidak mau tahu apa yang kamu lakukan disini. Hanya saja, kali ini kau begitu mengganggu."


"Hanya karena kantor ini kau menganggap aku rendah?"


Entah bagamana bisa Anna berfikir seperti itu.


Sya memilih diam dan akan berbalik badan. Dia berniat melanjutkan pekerjaanya.


"Aku ingin bicara denganmu. Apa kau tidak dengar?" Tanya Anna.


Sya menoleh. "Aku sibuk." Sya langsung masuk kembali ke ruangannya.


Langkah Anna langsung dihentikan oleh Rasti begitu akan masuk dengan paksa ke ruangan Sya. Bagaimanapun, Rasti adalah karyawan Sya. Dia akan selalu membelanya.


"Ayolh Ras. Aku hanya ingin bicara sebentar dengannya."


"Ketika Bu Bos melarrang. Saya harus melarang."


"Ini tentang suamiku. Aku brhak menanyakan segalanya."


"Ini di kantor. Bu Sya, tidak suka membahas hal pribadi disini."


"Begitu? Kalau begitu aku akan menunggunya keluar dari kantor ini."


Wajah marah Anna mendominasi. Dia pergi dari kantor itu dengan kesal. Bahkan tanpa sadar dia menghentak-hentakkan kakinya.


Beberapa karyawan disana bahkan mampu berkomentar tidak sedap. Meski begitu, Anna hanya fokus dengan masalahnya saat ini.


Sementara itu, Rasti masuk ke ruangan Sya. Dia membawa beberapa berkas yang harus ditanda tangani. Rasti juga melaporkan apa yang diinginkan Anna sebenarnya.


Dengan tenang Sya menandatangani berkas itu. Sementara laporan Rasti mengenai Anna tidak dia tanggapi sama sekali.


"Aku ingin makan siang dengan Ben. Tolong carikan restoran yang bagus."


"Baik, Bu."


Setelah Rasti keluar dari ruangan. Sya mengambil ponselnya, dia berniat untuk menelfon Ben. Beberapa kali dering sampai akhirnya telfon itu diangkat.


"Halo. Ada apa Sya?"


"Aku ingin mengajakmu makan siang. Sekaligus bertemu dengan orang yang merusak mobil Lufas."


"Maaf. Aku sedang begitu sibuk."


"Apa ada masalah besar di geng? Maaf jika aku tidak bisa membantumu."


"Tidak ada masalah besar. Kau tenang saja."


"Baiklah."


Sa menutup telfon itu. Saat ini Sya tidak bisa mengajak Xiu untuk bertemu. Dia sedang berada di luar kota untuk bisninya. Jadi, Sya memutuskan untuk makan sendirian. Hal itu bukanlah hal yang aneh.


Melihat jam tangannya. Sya memutuskan untuk pergi makan sekarang. Setelah itu dia bisa kembali bekerja dengan perut yang sudah terisi.


"Bu, saya sudah pesankan sebuah meja."


"Kamu ikut. Ben tidak bisa, jadi kamu yang akan menemaniku."


"Baik."


Tidak diduga. Ternyata Anna masih menunggu Sya di luar kantor. Langkah Anna begitu cepat saat dia melihat Sya keluar dari kantor.


"Tunggu."


Sya berhenti dan menoleh ke belakang. Dia melihat wajah Anna yang memerah karena panas.


"Aku ingin bicara denganmu."


"Aku sudah bilang. Aku sibuk, tidak bisa."


"Apa kau bertemu dengan Tom tadi malam?" Tanya Anna langsung.


"Ya."


"Apa kalian datang ke restoran mewah?"


"Ya."

__ADS_1


"Apa semua ini karena kerjasama?"


"Ya."


"Kau datang sendiri? Disana kau hanya berdua dengan Tom?"


"Tidak."


"Kau bohong." Anna mendekat dan akan menampar Sya.


Sya dengan tenang menghindar.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sya yang masih tenang.


"Kau sudah merebut Lufas dariku. Tidak mungkin aku akan memberikan Tom."


"Aku bahkan tidak berminat dengannya. Paham."


Sya langsung masuk ke dalam mobil. Rasti mengikuti. Anna hanya diam melihat Sya yang pergi. Meski begitu, dia tetap saja merasa kesal dan ingin menghancurkan Sya.


Di dalam mobil Sya hanya diam. Dia bahkan tidak memperhatikan Tom. Kenapa Anna selalu seperti itu saat bertemu. Bahkan Anna terlihat begitu membenci Sya. Yang ada difikan Sya saat ini adalah Danendra dan Lufas. Hanya itu prioritasnya.


***


Selesai makan siang Sya langsung menuju ke kantor polisi. Dia akan menemui orang itu. Apapun yang sebenarnya terjadi, Sya harus menerimanya. Sya tidak boleh kaah dengan emosi yang menguasainya.


"Rista. Kau bisa kembai ke kantor dulu. Aku ada urusan disini."


Sya turun di depan kantor polisi. Seorang pria dengan jenggot putih mendekat. Dia memperkenalkan diri dan mengatakan jika dia disana karena Ben.


"Jujur. Saat ini aku sulit mempercayai orang. Bisa kau telfonkan Ben untukku? Aku hanya ingin memastikan," kata Sya.


"Baik, Bu."


Pria itu menelfon Ben. Sya memastikan semuanya benar. Setelah itu dia memutuskan telfin. Dia memilih untuk mengikuti pria berjenggot itu masuk.


Sya melihat sebuah sel yang hanya ada satu orang di dalamnya. Sya meminta pria itu untuk pergi dan hanya bicaa berdua dengan si pelaku.


"Apa anda yakin, Bu?" Tanya pria berjenggot itu.


"Ya."


"Kalau sudah, saya ada di depan pintu."


"Ya."


Sya mendekat. Orang yang berada di dalam sel hanya tersenyum saat melihat Sya. Wajah Sya datar tanpa ekspresi saat ini, hal itu membuat si pelaku tersenyum lebih lebar.


"Akhirnya kau datang menemuiku," kata si pelaku.


"Aku bukan siapa-siapa. Nona Syaheila."


"Apa kita kenal?"


"Tidak. Aku hanya tahu namamu dari Lufas."


"Kau mengenal suamiku?"


"Tentu. Kami dekat, bahkan sangat dekat."


Sya tersenyum pedih.


"Apa kau ingin tahu kenap Lufas mati?"


Sya hanya diam mendengar pertanyaan itu.


Tanpa jawaban Pria itu menceritakan kejadiam malam itu. Malam dimana Sya harus kehilangan suaminya dan Danendra harus kehilangan ayahnya.


"Stop."


"Kenapa kau memintaku berhenti, Nona."


"Kenapa kau membunu suamiku? Apa dia memiliki kesalahan padamu?"


"Tidak. Aku hanya ingin membunuhnya saja."


"Kau bohong. Kau pasti punya alasan membunuh suamiku."


"Yang tahu alasanku hanya satuu orang. Lufas, dia tahu alasanku melakukannya."


Sya terus bertanya. Sampai akhirnya, Sya merasa lelah. Bukan badanya yang lelah, batin dan jiwanya.


Dengan air mata Sya keluar dari sana. Pria berjneggot melihat Sya menangis langsung mendekat.


"Apa dia mengatakan sesuatu?" Tanya pria itu.


Sya menggeleng.


"Aku akan menemuinya."


"Tidak. Aku akan menemuinya lagi besok. Saat ini, aku hanya ingin istirahat."


Pria berjenggot mengangguk paham. Sya bergegas masuk ke dalam mobilnya. Dia memegang kepalanya yang begitu pusing.


Perkataan dari pria di dalam sel terus terngiang di kepala Sya. Pria itu mengatakan jika sangat dekat dengan Lufas, hanya saja alasan membunuh Lufas hanya karena ingin.

__ADS_1


Bagi Sya hal ini tidak masuk akal. Hal ini membuat Sya merasa jika pria di sel itu gila Lufas hanyalah korban dalam hal ini, meski begitu hati Sya masih saja begitu sakit untuk menerima kepergian orang yang dia cinta.


***


"Nendra dimana Bi?" Tanya Sya begitu masuk ke apartemen.


"Nendra baru saja tidur, Bu."


"Kalau begitu. Tolong siapkan air dengan aroma terapi, aku lelah."


"Apa ada masalah bu?" Tanya Bi Sali.


"Bi. Aku hanya lelah."


"Saya akan siapkan air mandi. Setelah itu Nynya bisa makan."


Sya hanya mengangguk pelan.


Sementara Bi Sali menyiapkan air untuknya mandi. Sya memilih masuk ke kamar Danendra. Dia melihat si mata hati sedng terlelap. Entah apa yang sedang dia impikan saat ini.


Sya mengelus kepala Danendra dengan sangat lembut. Kemudian mengecupnya. Sya merasa bersalah pada anaknya, di tidak bisa mengenlkan sosok ayah untuk Danendra.


Jika satnya nanti. Danendra pasti akan bertanya tentang ayahnya. Kemana dia? dimana di? Sya merasa begitu terganggu saat memikirkannya.


Bagiamanapun saat ini si pelaku sudah di tangkap. Cepat atau lambat dia pasti akan masuk ke jeruji besi. Sya hanya berharap hal ini menjadi tanda yang baik.


"Nyonya. Air mandi sudah siap."


"Terima kasih."


Sya masuk ke dalam kamarnya. Dia mengganti baju dengan handuk, lalu masuk ke kamar mandi. Aroma lavender menyerbak, Sya merasa lebih tenang.


Setelah mengatur alarm di ponselnya. Sya amasuk ke bak mandi. Dia takut jika tidur dan sampai lupa waktu. Itulah alasan Sya mengatur alarm.


Dalam bak mandi yang hangat. Sya masih saja memikirkan perkataan pria itu. Sya tidak tahu mengapa hanya kata-kata seperti itu yang terucap. Ada sebuah alasan yang masih terbelenggu. Hanya saja Sya masih belum tahu.


Dalam pikiran yang panjang itu sebuah dering telfon mengganggu Sya. Sya meraih ponselnya dan melihat iapa yang menelfon disaat yang menenangkan itu.


Ben. Dialah yang menelfon Sya saat ini.


"Sya. Apa kau dirumah saat ini?"


"Ya."


"Kau tadi sudah menemui si pelaku?" Tanya Ben.


"Ya."


"Apa yang dia katakan padamu?"


Sya menceritakan semuanya. Setidaknya dia memiliki teman untuk membagi rasanya. Tidak buruk, Ben adalah pendengar yang baik saat ini.


"Hanya itu yang dia katakan?"


"Ya. Apa kau tahu sesuatu?"


"Ada hal penting yang harus aku katakan padamu."


"Tentang apa?"


"Pelaku itu."


"Ada apa dengannya? Aku berencana menemuinya lagi besok."


"Kau tidak bisa menemuinya lagi."


"Kenapa? Apa dia bukan pelakunya? Lalu siapa jika bukan dia?"


"Dia memang pelakunya. Hanya saja dia baru saja ditemukan meninggal di selnya."


"Apa?!" Sya tidak percaya mendengar hal itu.


"Ya. Dia menuliskan sebuah nama di dinding. Dia menggunakan darahnya sendiri."


"Nama?"


"Lufas dengan gambar hati disebelahnya. Nama Lufas yang dia tulis."


"Apa kau tahu alasannya? Aku tidak bisa percaya begitu saja."


"Saat ini aku tidak tahu maksud itu."


"Lalu bagaimana dengan kasus ini?"


"Sudah jelas Sya. Kasus ini akan di tutup."


Sya hampir menangis. Dia langsung menutup telfon dan keluar dari bak mandi. Dia masuk ke kamar dan meemparka tubuhnya di atas tempat tidur.


Hancur. Sya merasa begitu hancur mendengar semua ini. Bagaimana tidak, dia tidak mengenali wajah Lufas setelah kecelakaan. Kini, si pelaku ditemukan meninggal. Kasus ditutup begitu saja. Sya tidak bisa menerima hal itu.


Ben khawatir saat Sya menutup telfonya secara tiba-tiba. Dia tahu, Sya begitu tertekan dengan semua ini. Dia juga merasa kehilanganatas kepergian Lufas.


Taanpa pikir panjang Ben langsung masuk ke dalam mobil. Dia tancap gas untuk pergi ke apartemen Sya. Setiidaknya Sya tidak merasa sendiri saat Ben ada disana.


***

__ADS_1


__ADS_2