The Way Love

The Way Love
CLV


__ADS_3

Suara kicauan burung terdengar pagi itu. Matahari yang sudah nampak bersinar dengan terang. Embun yang berada di atas daun terlihat mulai menghilang.


Wajah Sya terlihat lebih segar dari sebelumnya. Dia sudah bangun sejak tadi, menyiapkan menu makan pagi untuk sarapan Mike. Juga menyiapkan baju yang akan digunakanya hari ini.


Setelah menikah, Mike memberikan banyak pekerjaan untuk Sya. Setidaknya, hal itu dapat menyibukan Sya dan membuat Sya lupa akan Danendra, untuk sebentar.


"Sayang. Apa yang sedang kau lakukan?"


Sya menoleh. Melihat Mike sedang berdiri dengan setelan jas. Di tanganya ada sebuah dasi. Tanpa pikir panjang Sya mendekat.


"Biar aku saja," Sya mengambil dasi itu dan mulai memasangkan pada Mike.


Mata Mike terus tertuju pada Sya. Saat ini dia sangat menginginkannya. Bahkan membuat batin Mike bergejolak. Meski begitu, Mike tidak ingin melakukan dengan kasar dan terkesan memaksa. Mike akan terus menunggu sampai Sya mau melakukannya.


"Sudah," kata Sya.


Mike melihat hasil dari tangan Sya. Dia tersenyum.


"Bagus. Kau memang istri terbaik."


Sya hanya tersenyum simpul.


Setelah Mike benar-benar siap. Mereka memilih untuk sarapan lebih dulu. Mike meminta Sya untuk menemaninya. Tentu saja Sya tidak menolak.


"Bagaimana? Apa sarapan pagi ini enak?" Tanya Sya.


Mike mengangguk. "Kau yang masak?"


"Tidak."


Mike hanya tersenyum. Sikap Sya saat sebelum dan sesudah begitu berbeda. Saat ini Sya begitu perhatian dan terlihat begitu menerima. Saat belum menikah, Sya terkesan menolak dan acuh pada Mike.


"Apa ada hal yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Mike.


Sya menunduk. Memang benar, Sya mencoba merebut hati Mike lebih dalam. Dia ingin meminta Mike mengembalikan Danendra padanya.


"Itu...Aku...hmm...aku..."


"Danendra?"


Sya mengangguk dengan perlahan.


"Jika kau menjadi istri yang baik untukku. Aku akan memberikan semuanya."


"Meski kau tahu. Danendra anakku dan Lufas."


"Aku tidak peduli. Asal kau bahagia."


Mendapat penuturan dan tatapan itu. Sya merasa senang. Selama ini, hanya Mike yang terus mengatakan hal indah untuk Sya. Hal ini membuat Sya merasa lebih istimewa.


"Makanlah. Aku akan mengantarmu menemui Danendra."


Sya menatap pada Mike.


"Aku sudah janji padamu."


Sya tersenyum lembut.


***


Lufas duduk dengan ponsel di tangannya. Dia melihat berita pernikahan Sya dan Mike yang terus tayang. Amarah yang terus terkumpul membuat cinta yang awalnya lembut menjadi keras. Bahkan batas cinta dan benci itu tidaklah tebal.


"Papa."


Lufas menoleh. Melihat Danendra yang siap dengan seragam sekolahnya.


"Apa kau sudah siap untuk dunia yang baru?"


"Tentu saja. Papa sedang apa terlihat serius?"

__ADS_1


Danendra duduk di samping Lufas dengan senyuman. Dia bahkan mengambil susu yang sudah di siapkan oleh pembantu.


"Kau sudah besar. Sudah seharusnya kau tahu tentang Papa."


Danendra terlihat serius.


"Papa marah karena ini." Lufas memperlihatkan ponselnya.


Mata Danendra menatap tajam. Dia melihat Sya yang begitu cantik dengan gaun pernikahan. Hanya saja dia bersanding dengan Mike, bukan Lufas.


"Apa ini yang membuat Mama tidak pernah datang lagi?"


Lufas hanya diam, namun matanya mengisyaratkan jawaban ya.


"Ternyata Om Mike yang membuat Mama seperti itu."


"Danendra. Kamu tidak boleh marah dengan Mama Sya. Bagaimanapun, dia..."


"Kenapa aku tidak boleh marah? Aku anaknya kenapa Mama tidak memberi tahuku akan hal ini."


"Sudahlah. Saatnya kamu berangkat sekolah. Sopir sudah menunggu."


"Aku ingin menemui Mama. Menanyakan alasanya melakukan semua ini."


"Nendra. Kamu bisa terlambat. Kita bahas ini lain kali saja."


"Baik, Papa."


Danendra keluar dan masuk ke mobil. Saat ini Danendra memiliki banyak fasilitas. Bahkan mobil pribadi yang akan mengantar jemput dia kesekolah.


Lufas melakukan semua ini tentunya agar Danendra sulit bertemu Sya. Bahkan mungkin tidak akan bisa bertemu. Semuanya sudah dipikirkan oleh Lufas. Saat ini dia hanya ingin Sya merasakan sakitnya di campakan dan ditinggalkan.


Umur Danendra memanglah terbilang masih anak-anak. Meski begitu, dia tahu banyak hal. Bahkan rasa peka dalam dirinya begitu kuat.


Ponsel Lufas berdering. Dia melihat nama pengacaranya. Dengan tenang Lufas mengangkatnya. Pengacara itu menjelaskan apa yang sedang terjadi.


"Saat ini. Nona Sya memiliki harta juga suami, dia bisa saja meminta hak asuh itu. Dia bisa menghidupi Danendra saat ini.


"Apa kau punya saran untuk hal ini?"


"Bagaimana kalau kita bertemu saja. Mungkin saya ada saran yang bagus."


"Baik. Berikan alamatmu saat ini."


"Ya, Tuan."


***


Mobil Mike berhenti tepat di depan rumah Lufas. Sya turun sendirian, sebenarnya Mike berniat untuk menemani. Hanya saja, Sya menolaknya.


"Bukakan pintu, Pak. Saya ingin menemui Danendra," kata Sya pada satpam rumah itu.


"Tuan Nendra baru saja keluar untuk ke sekolah."


"Sekolah?" Sya terlihat bingung "Dia sedang sakit. Tidak mungkin pergi kesekolah."


Satpam itu diam saja.


"Apa kau tidak sedang berbohong padaku?"


"Untuk apa saya berbohong. Jika tidak percaya, silahkan tanyakan saja pada Tuan Lufas.


Satpam itu membukakan gerbang rumah Lufas. Saat itu Lufas terlihat keluar rumah dengan ponsel di tangannya. Sya yang melihat hal itu segera mendekat.


"Lufas. Dimana Nendra?"


Lufas menghentikan langkahnya. Dia menyimpan ponsel dan menatap pada Sya.


"Apa yang sedang dilakukan Nyonya Mike disini?"

__ADS_1


"Nendra dimana? Aku ingin bertemu denganya."


"Percuma saja kau datang. Dia tidak disini, lagi pula. Seharusnya kau sibuk dengan suami barumu."


Wajah marah Lufas begitu terlihat. Nyali Sya sedikit menciut, apa lagi Sya tahu. Lufas adalah seorang mafia, dia bahkan hampir tertembak mati saat itu.


"Kamu tidak perlu memikirkan kesibukanku. Aku hanya ingin menemui anakku."


"Maaf. Aku sibuk. Nendra juga tidak di rumah."


Lufas masuk ke mobil. Sya menghentikan dengan menarik jas yang dipakai oleh Lufas. Lufas menoleh dan melepaskan tangan Sya dengan paksa.


"Jangan halangi aku menemuinya."


"Aku tidak menghalangimu. Saat ini, Danendra sudah besar. Dia tidak membutuhkanmu lagi."


Tubuh Sya bergetar saat mendengar perkataan Lufas. Bahkan kata-kata itu terus terngiang di telinga Sya.


Mike melihat mobil Lufas pergi. Saat mobil berlalu, Sya terlihat diam dengan ke dua tangan mengepal. Mike buru-buru turun dari mobil. Dia membantu Sya untuk masuk ke dalam mobil.


"Apa yang terjadi?" Tanya Mike.


"Apa benar Nendra tidak membutuhkanku lagi?"


"Siapa yang mengatakan hal itu? Lufas?"


Sya tidak menjawab. Matanya perlahan mulai mengeluarkan air. Mike menggeleng dan langsung memeluk Sya.


"Jangan dengarkan dia. Semua anak membutuhkan ibunya. Kau tenang saja, Nendra pasti akan bersamamu lagi."


Tidak tahu bagaimana. Sya merasa lebih tenang setelah mendengar perkataan Mike. Dia masih terus berada di dalam pelukan Mike. Dia merasa tenang disana.


***


"Bagaimana?" Tanya Mike pada asisten Lee.


"Untuk alasan Lufas kembali ke dunia mafia. Kami masih belum tahu."


Mike diam.


"Untuk urusan Danendra. Kami sudah melakukan sebisa kami. Hanya saja, pihak dari Lufas meminta Danendra sendiri yang memilih."


"Lalu?"


"Hakim setuju."


Mike mendengus. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara membuat Sya kembali tertawa jika Danendra memilih Lufas. Hati Sya pasti sangat remuk, bahkan akan sulit mengembalikannya.


"Apa ada jadwal hari ini?" Tanya Mike kemudian.


"Ada dua pemotretan."


"Batalkan saja semuanya."


"Tuan. Tuan sudah menolak banyak pemotretan. Banyak juga yang bertanya tentang alasan tuan membatalkanya."


"Pikirkan cara agar aku bisa bebas dari dunia model. Aku ingin lebih dekat dengan Sya."


"Penyamaran tuan bisa ketahuan jika menghentikan dunia model."


"Aku tidak peduli."


"Saya akan pikirkan."


Asisten lee keluar dari ruangan Mike. Sementara Mike terus memikirkan kondisi Sya. Entah apa yang ada dalam diri Sya. Hingga membuat Mike begitu ingin melindungi dan memilikinya.


Rasa tidak rela melihat Sya sedih dan menangis membuat Mike tersiksa. Meski begitu, Mike terus melakukan hal yang membuat Sya bisa tersenyum dan melupakan rasa sakit yang dilakukan lufas padanya.


***

__ADS_1


__ADS_2