
Craaang. Gelas itu terjatuh tepat saat Sya mendengar kabar tentang Arda. Darah mulai keluar dari kaki Sya. Mungkin karena terkena pecahan kaca dari gelas itu.
Degup jantung Sya begitu kencang. Ingin rasanya saat ini dia berlari dan menemui Arda. Dia dibawa kerumah sakit karena perkelahian dengan Jovi.
Sya tahu kabar itu dari berita televisi. Hal itu membuat tubuhnya gemetar. Jika saja dia tidak berada dirumah Ruka. Sudah pasti dia memilih untuk bersama Arda saat ini.
Klik. Televisi itu mati saat Ruka datang. Mira sengaja mematikan TV itu sebelum Ruka tahu apa yang terjadi.
"Sya. Apa yang terjadi?" Ruka mendekat dan melihat pecahan gelas. Kaki Sya juga terluka. "Ambilkan kotak P3K."
Mira bergegas mengambil kotak itu. Sementara Ruka membantu Sya berjalan sampai kesofa. Wajah Ruka yang semula terlihat tenang. Kini kekhawatiran membuatnya berubah.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ruka.
"Nona kaget saat melihat film horor diTV." Mira melirik pada Sya dan tersenyum.
Ruka tertawa kecil. "Kau masih sama saja," ucap Ruka pada Sya.
"Kak. Apa aku boleh jalan-jalan hari ini. Aku merasa bosan."
"Bukankah bukumu masih banyak yang belum dibaca," kata Ruka sembari membalut luka Sya.
Sya milirik Mira. Mira tahu apa yang harus dia lakukan. Dia mendekat dan berkata, "Aku akan menemani Nona, Tuan."
"Baiklah kalau begitu. Hanya dua jam, aku tidak ingin terjadi hal buruk padamu."
"Terima kasih, Kakak." Sya langsung memeluk Ruka dengan hangat. Hal itu membuat Ruka bahagia.
Selama ini dia sangat sulit mendekati Sya. Mungkin karena umur mereka dan pertemuan mereka. Kini, Sya terlihat tidak canggung lagi. Bahkan dia tanpa malu memeluk Ruka.
***
Mira mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang. Dia tidak ingin membuat Sya takut karena mobil berjalan dengan cepat. Dia juga tidak ingin Sya gelisah karena mobil terlalu lambat.
Sebenarnya, Mira merasa kasihan dengan Sya. Tanpa Sya sadari, Mira selalu memperhatikannya. Apa lagi saat sendiri, kadang Mira melihat butiran air mata yang keluar dari mata Sya.
Jelas sekali jika Sya membutuhkan seseorang yang selama ini dia cintai. Siapa lagi kalau bukan Arda. Walau, Mira tahu masalah yang sedang terjadi pada Sya. Ruka yang memberitahunya. Alasannya karena Mira adalah pelayan pribadi Sya.
"Nona, kita sudah sampai."
"Apa kau yakin Kak Ruka tidak akan tahu hal ini?"
Mira mengangguk. "Saya yang akan menemani Nona. Tidak akan ada yang tahu."
"Terima kasih Mira."
Mira hanya mengangguk dan mengulas senyumnya. Dia tahu, saat ini hanya Arda yang berada dipikiran Sya. Dia tidak ingin Nona yang dia ikuti merasa sedih.
__ADS_1
Mereka masuk kerumah sakit. Sebelum bertemu dengan Arda. Mira bertanya pada resepsionis dimana ruangan Arda dirawat.
Setelah itu mereka langsung naik menggunakan lift. Beberapa kali Mira melihat wajah Sya yang bersemangat akan hal ini. Walau begitu, Mira juga harus melihat kondisu. Jika Ruka sampai tahu, Sya pasti akan dimarahi habis-habisan oleh Ruka.
Keluar dari lift. Mira melihat suasana ruangan yang duhuni oleh Arda. Hanya ada seorang perempuan yang Mira tidak kenal.
"Apa ada Kak Ruka?" Tanya Sya.
"Tidak. Hanya saja di dalam ada seorang wanita yang bersama dengan Tuan Arda."
"Aku tahu siapa dia. Kau bisa menungguku disini, kan?"
"Tentu, Nona."
Sya masuk. Dia membawa sebuah buket bunga yang dia pesan khusus. Dia tidak ingin datang hanya dengan tangan kosong. Apa lagi, dia sudah sangat merindukan Arda.
Mata Arda tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sya masuk dengan baju biru dan senyuman yang khas. Walau begitu, saat mata Arda tertuju pada perut Sya. Dia merasa kesal dan marah.
"Ini untukmu," kata Sya sembari menyodorkan buket bunga itu pada Arda.
Arda tidak mengambil buket bunga itu dari tangan Sya. Dia hanya menatap wajah Sya yang selama ini dia simpan didalam hatinya.
"Biar aku yang berikan," kata Aila yang langsunh mengambil buket ditangan Sya.
"Terima kasih," ucap Sya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sya.
Arda tidak menjawab. Dia memilih membuang muka dari pada menatap Sya. Aila tersenyum melihat drama itu. Setidaknya saat ini dia bisa dengan mudah mendekat pada Arda.
"Arda. Apa kau tahu, aku sangat merindukanmu selama aku dirumah Ruka. Kenapa kau tidak ingin menemuiku. Kau bahkan tidak mengirim pesan padaku."
"Dia juga ingin menemuimu. Hanya saja, Kakakmu tidak memperbolehkannya," jawab Aila.
Sya hanya diam. Dia hanya mampu menatap Arda. Sampai Arda merubah posisinya terlihat jika itu membuatnya sakit. Sya mendekat.
"Apa ini sakit?" Tanya Sembari memegang tangan Arda.
Arda menepis tangan itu. Lalu dia menatap mata Sya. Jelas sekali Sya masih sama seperti biasanya. Hanya saja Arda masih kesal dengan bayi yang dikandung oleh Sya.
"Apa aku ada salah padamu?" Tanya Sya.
"Ya. Kau bersalah karena sudah menghianatiku. Bahkan kau sampai hamil dengan Jovi."
Mata Sya membelalak. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arda. Bagaimana bisa Arda memutuskan hal yang masih perlu ditanyakan.
"Aku memang mencintaimu. Hanya, aku tidak bisa menerima anak dalam kandunganmu."
__ADS_1
Hati Sya hancur mendengar apa yang dikatakan oleh Arda. Dia sudah dituduh berselingkuh. Kini, suaminya sendiri tidak menginginkan anak dalam kandungannya.
"Jika kau memang mencintaiku. Gugurkan kandunganmu."
Sya menggeleng. Tanpa ada kata lagi, Sya berlari keluar dengan derai air mata. Mira kaget melihat Sya keluar dengan tangis pecah. Beberapa saat Mira melirik kedalam ruangan. Mira melihat Aila tersenyum dengan senang.
***
Suara deru mobil Ruka membuat beberapa pelayan langsung keluar. Mereka ada yang menyiapkan makanan ada juga yang menyiapkan hal lain. Hal itu sudah biasa bagi Ruka.
Dia masuk kerumah, tas sudah ada yang membawakan. Dia melihat keruang TV, tidak ada Sya disana. Dia juga tidak melihat Mira dimanapun.
Sampai saat Ruka menaiki tangga. Dia melihat Mira turun membawa nampan yang masih penuh dengan makanan. Ruka tahu jika pasti sedang ada masalah pada adiknya itu.
"Apa Sya tidak mau makan lagi?" Tanya Ruka.
"Tu...tuan sudah pulang?" Tanya Mira yang kaget.
"Ya."
Ruka mengambil nampan itu dan kembali berjalan kekamar Sya. Dia membuka pintu dan melihat Sya duduk disofa dengan sebuah ponsel ditangannya.
Matanya terlihat baru saja menangis. Jelas sekali jika ada masalah besar. Ruka duduk dan meletakan nampan itu keatas meja.
"Sudah aku bilang aku tidak ingin makan, Mira."
Sya tidak tahu jika yang berada dihadapannya saat ini adalah Ruka. Ruka masih diam, dia langsung mengambil ponsel Sya dengan paksa. Dia membaca pesan-pesan itu.
"Kau menemui Arda hari ini?" Tanya Ruka dengan wajah marah.
Sya hanya menunduk. Niatnya adalah curhat pada Eri. Kini, Ruka juga membaca pesan itu. Sudah pasti jika Sya akan dihukum karena hal ini.
"Apa Arda benar-benar mengatakan semua ini?" Kembali Ruka bertanya.
Sya hanya diam dan menundukan kepalanya.
"Jawab Sya."
Sya tidak menjawab. Dia hanya mengangguk anggukan kepalanya saja. Hal itu membuat wajah Ruka semakin terlihat marah.
"Mulai saat ini kau tidak boleh menemuinya sendirian. Jika kau ingin keluar rumah. Kau akan bersamaku, bukan dengan orang lain."
Kini Sya hanya bisa pasrah. Jika dia menolak Ruka pasti akan lebih marah dari ini.
"Makan makananmu. Jika kau tidak ingin memakannya, ingatlah anak dalam kandunganmu."
Akhirnya Sya mau makan juga. Walau dengan paksaan. Ruka sebenarnya sangat marah. Dia sangat ingin menemui Arda dan menghajarnya. Hnaya saja, dia tidak ingin melakukan hal gila itu. Sya akan terluka nantinya.
__ADS_1
***