The Way Love

The Way Love
LX


__ADS_3

Sejak kemarahan Ruka hari itu. Sya tidak pernah keluar rumah. Dia hanya keluar ke taman belakang atau hanya duduk-duduk diteras depan.


Jika saja waktu itu Sya tidak menemui Arda. Pasti hatinya tidak akan terluka, Ruka juga tidak akan memarahinya. Ada rasa menyesal dalam hati Sya. Apa lagi saat mengingat ucapan Arda yang begitu menyakitkan.


Tidak ingin luka itu kembali. Sya sengaja memblokir nomor Arda. Dia tidak ingin jika Arda akan kembali mengatakan hal yang membuatnya terluka.


"Nona, ini minumannya."


"Terima kasih," ucap Sya sembari menerima segelas jus jambu.


Sya kembali menatap keluar rumah. Banyak orang yang berlalu lalang. Beberapa pedagang juga terlihat lewat dirumah itu. Terlihat sekali jika mereka bebas. Tidak terbebani apapun.


Tanpa sadar Sya mengelus perutnya sendiri. Dia sangat berharap jika Arda berubah pikiran dan mau menerima anak yang ada dikandungannya saat ini. Dia tidak ingin anak itu lahir tanpa seorang Ayah.


Tidak lama Ruka pulang. Seperti biasa, para pelayan langsung berada diposisi masing-masing. Mereka menyambut Tuanya yang pulang dengan senyuman.


"Kakak sudah pulang?" Tanya Sya dengan senyumannya.


Ruka mendekat. "Bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja. Ada apa, Kak?"


"Aku akan mengajakmu kepesta. Nanti malam."


"Benarkah?" Wajah Sya langsung berubah menjadi sangat cerah.


Dia terlihat bahagia dengan apa yang dikatakan oleh Ruka. Hari ini dia bisa keluar, tanpa harus memikirkan kebosanan yang menyelimuti dirinya.


"Aku akan mencari baju yang cocok," kata Sya yang langsung melenggang pergi dari hadapan Ruka.


Ruka hanya bisa tertawa saat melihat tingkah Sya. Dia kembali mengingat saat dulu Sya merasa bosan dan dia mengajaknya ke taman bermain. Hal itu mampu merubah segalanya.


***


Brak. Kembali Arda menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras. Beberapa kali dia mencoba fokus untuk mengerjakan pekerjaanya. Bayangan Sya muncul dan kembali mempermainkan fokus Arda.


Rasa bersalah menyelimuti hati Arda. Apa lagi saat mengingat Sya pergi dengan tangisnya. Bahkan, dia tidak bisa menghapus tangis itu. Dialah yang membuat wanitanya menangis.


Rasa menyesal karena sudah menuruti perkataan Aila membuat hati Arda hancur. Jika saja dia mengacuhkan perkataan Aila waktu itu. Dia pasti akan bisa bertemu dengan Sya kembali.


Sya datang dengan senyuman saat menemuinya. Lalu, Sya kembali dengan derai air mata.


"Arda. Aku sudah buatkan minuman untukmu."


"Apa kau tidak lihat aku sedang bekerja?" Tanya Arda.


Aila meletakan gelas itu kemeja kerja Arda. Tanpa peduli apa Arda menerimannya atau tidak.


"Ada undangan pesta nanti malam. Apa kau akan datang?" Tanya Aila.

__ADS_1


"Untuk apa aku datang. Tidak ada urusan bisnis disana."


"Bagaimana jika Sya datang. Ruka pasti membawanya kepesta itu."


Arda terlihat berfikir. "Apa kau akan membuatku menyakitinya lagi?" Tanya Arda.


Wajah Aila berubah. Dia merasa rencananya akan segera ketahuan. Hanya saja, dia mencoba menutupinya.


"Apa kau kira aku sejahat itu. Jangan pikirkan hal lain, bagaimanapun dia adalah istrimu. Apa kau tidak ingin meminta maaf padanya? Bukankah ini kesempatan yang bagus."


Arda memang sangat ingin bertemu dengan Sya. Apa lagi bisa bicara dengannya. Hanya saja dia merasa bersalah karena sudah membuatnya menangis waktu itu.


"Jika kau tidak mau. Aku akan pergi untuk mewakilimu. Bagaimana?"


"Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Arda sembari menutup laptopnya.


Setelah itu dia pergi meninggalkan Aila. Walau kembali ditinggalkan. Aila bisa tersenyum dengan puas. Arda sudah termakan rayuan Aila. Setidaknya, Arda akan mencoba mendekati Sya nanti malam.


Jovi dan Aila memang sudah merencanakan sesuatu dalam pesta itu. Tentunya untuk memecah Arda dan Ruka. Hal itu pasti akan berdampak pada hubungan Sya dan Arda. Bahkan mungkin, mereka bisa langsung bercerai.


"Halo, Jovi."


"Ya. Ada apa kau menggangguku saat ini," kata Jovi pada Aila.


Aila berdecak kesal. "Apa kau sudah melakukan semuanya saat ini?"


"Tentu saja sudah siap. Kita tinggal menunggu para pemainnya."


***


Suara riuh terdengar dari gedung itu. Dimana acara pesta itu akan dimulai. Pesta itu bukan sembarang pesta. Pesta itu diselenggarakan oleh orang yang memiliki pengaruh dalam bisnis. Jadi, sudah pasti para pebisnislah yan datang.


Banyak orang yang sudah datang. Ada yang sedang menikmati musik. Ada juga yang memilih untuk bercengkrama dengan sesama tamu. Hal yang sudah wajar dilihat saat acara semacam ini.


Sya turun dengan perlahan dari mobil. Ruka mencoba untuk membantunya. Tentunya agar Sya tidak terjatuh karena memakai sepatu hak tinggi.


Sebelum berangkat mereka sempat berdebat karena sepatu itu. Ruka tidak ingin Sya memakai sepatu hak tinggi. Hanya saja, Sya merasa malu jika datang dan tidak mengenakan hal yang sama dengan yang lain.


"Sudah aku bilang kau akan kesusahan. Apa lagi kau sedang hamil," kata Ruka.


"Kak. Biarkan aku menikmati acara ini. Ok."


"Baiklah."


Tangan Sya memegang erat lengan Arda. Mereka berjalan dengan senyuman diwajah. Beberapa orang memang sudah tahu akan hubungan Ruka dan Sya. Jadi, Sya tidak akan mendengar hal buruk tentang hubungan itu.


Tidak lama beberapa orang mulai berbisik. Bukan membicarakan Sya dan Ruka. Melainkan kedatangan Aila dan Arda. Mereka memakai baju dengan warna senada.


Pusat perhatian kini tertuju pada Aila dan Arda. Bahkan beberapa orang mempertanyakan hubungan Sya dan Arda. Hubungan yang terkenal romantis dan dekat.

__ADS_1


"Kak, katanya dia nggak akan datang. Kok dia ada disini?"


"Aku juga baru melihatnya datang keacara seperti ini."


Wajah Sya kini terlihat gelisah. Dia merasa tidak tenang. Apa lagi jika mengingat perkataan yang Arda ucapkan. Dia takut Arda meminta hal yang sama saat dirumah sakit. Menggugurkan kandungannya.


"Dengarkan aku. Apapun yang terjadi jangan menjauh dariku. Aku tidak mau ada hal buruk terjadi."


Sya mengangguk. Lalu dia kembali mengikuti langkah Ruka untuk menyapa beberapa teman Ruka. Banyak yang memuji akan kecantikan Sya, walau ada juga yang bertanya tentang hubungan Arda dan Sya.


Sampai akhirnya. Sya harus duduk sendiri disebuah sofa. Dia merasa lelah karena menggunakan hak tinggi. Hal itu memang kesalahannya sendiri.


"Sya."


Tubuh Sya langsung gemetar saat mendengar suara itu. Suara siapa lagi jika bukan suara Arda. Dia ingin lari, hanya saja tidak bisa.


"Ini, aku bawakan minuman untukmu."


Sya akan menolak dia takut jika ada hal lain dalam minuman itu. Perkataan Arda selalu terngiang ditelinga Sya.


"Minumlah. Kau terlihat pucat sekali."


Sya memegang wajahnya sendiri. Benarkah wajahnya pucat? atau hanya perkataan Arda saja. Tidak lama Jovi mendekat dan mengambil minuman itu.


"Aku yang akan mewakili Sya minum," kata Jovi.


Terlihat sekali jika Arda kesal dengan sikap Jovi. Dia terlihat begitu dekat dengan Sya. Hal itu membuat perasaan cemburu dihati Arda membuncah.


"Ini minuman untuk Sya. Bukan untukmu," kata Arda sembari mengambil kembali gelas itu dari tangan Jovi.


Melihat Arda dan Jovi akan bertengkar. Sya langsung mengambil gelas itu. Dia bahkan meminum dari gelas itu sampai habis.


Jovi tersenyum melihat hal itu. Dia sudah berhasil membuat Sya meminum minuman itu dari tangan Arda.


Tidak lama. Sya terlihat sangat gelisah. Dia memegang bantal sofa dengan sangat erat. Arsa melihat hal itu dan memegang tangan Sya dengan erat.


"Ada apa Sya?" tanya Arda.


Sya tidak menjawab. Dia terlihat semakin pucat.


"Apa yang kau berikan pada Sya?" Teriak Jovi pada Arda.


Hal itu membuat beberapa orang menatap kearah mereka. Sementara Ruka mendekat dan langsung memeluk tubuh Sya.


"Apa yang terjadi Sya?" tanya Ruka.


"Kak. Ini sakit," kata Sya dengan nada lemah.


Setelah mengatakan hal itu. Sya langung pingsan. Ruka mengangkat tubuh Sya dan langsung membawa Sya kerumah sakit.

__ADS_1


Sementara Jovi dan Arda masih bertengkar karena apa yang terjadi pada Sya.


***


__ADS_2