
Wajah Arda terlihat pucat pasi. Nafasnya juga terengah-engah. Baru saja dia bermimpi jika Sya pergi meninggalkanya. Bukan untuk sesaat, tapi untuk selamanya.
Hal itu begitu mengganggu Arda. Apa lagi dia ingat jika Ruka membawa Sya. Bahkan dia tidak memberikan ijin untuk bertemu dengan Sya. Ruka benar-benar kecewa dengan kelakuan Arda pada adiknya itu.
"Sayang. Ada apa?" Tanya Aila pada Arda.
Arda kaget saat tahu Aila tidur disampingnya. Dikamar Sya. Dia ingat, jika dia tidak mungkin mengajak Aila tidur bersama. Walau mereka sudah berstatus suami istri. Arda enggan untuk tidur dengan Aila.
"Keluar dari kamar ini."
"Arda. Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku juga istrimu."
"Aku bilang keluar." Kali ini nada suara Arda keras.
"Kau selalu tidak baik padaku. Kau hanya memikirkan Sya saja. Padahal dia sudah menghianatimu."
Arda diam. Dia sedang mencoba mengatur nafasnya.
"Aku lebih baik dari Sya. Aku tidak pernah memikirkan lelaki lain."
"Lalu bagaimana bisa kau hamil dengan pria lain?"
Pertanyaan itu membuat Aila tidak bisa berkata-kata lagi. Tidak ingin percakapan itu dilanjutkan. Aila memilih pergi dari kamar itu.
"Aku akan membuatkan sarapan untukmu," kata Aila sembari keluar dari kamar itu.
Kembali bayangan Sya muncul dipelupuk mata Arda. Bayangan saat Sya terbaring lemah karena hampir dua puluh empat jam dia dikurung tanpa makanan.
Rasa sesal membuat Arda memukul dirinya sendiri. Apa lagi, dia juga sudah membuat Ruka marah. Dia tidak diijinkan bertemu dengan Sya. Hal itu semakin membuat Arda terpuruk.
Lalu, kembali dia teringat dengan foto Sya dan Jovi. Rasa marah, kesal dan cemburu muncul. Karena foto itu dia harus bertengkar dengan Sya. Karena foto itu dia mengurung Sya dan membuatnya pingsan di dalam kamar.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini?" tanya Arda pada dirinya sendiri.
Dia memutuskan untuk menelfon seseorang. Dia meminta kebenaran tentang foto itu. Apapun yang terjadi, Arda sudah berniat untuk memaafkan Sya. Dia ingin Sya kembali padanya. Semua hanya karena alasan cinta.
***
Banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk dari rumah sakit. Ada yang menjenguk, ada juga yang hanya datang untuk beberapa hal. Beberapa perawat dan dokter juga terlihat sibuk dengan aktivitasnya.
Sejak tadi pagi, Sya sudah menunggu datangnya Ruka. Dia ingin meminta pulang dan tidak ingin berada diruangan yang serba putih itu.
Tuk tuk tuk. Suara langkah kaki membuat Sya tersenyum. Dia memandang kearah pintu ruang rawatnya. Dia berharap jika Ruka atau Arda yang datang.
__ADS_1
"Apa kau sudah sembuh?"
Pertanyaan itu tidak Sya jawab. Dia malah menatap orang yang bertanya padanya. Dia tidak percaya jika Aila datang dengan buket bunga ditangannya.
"Jawab pertanyaanku. Kenapa malah diam dan hanya menatapku," kata Aila.
"Aku...aku sudah baik-baik saja. Kau datang dengan siapa?"
Sya mencoba melihat keluar kamar dari kaca yang berada dipintu.
"Aku datang sendiri. Kau kan tahu, Arda sedang dalam puncak karir. Dia tidak akan melakukan hal sepele semacam ini."
"Aku kan istrinya."
"Aku tahu, tapi aku sudah mewakilinya. Jadi, kamu tidak usah banyak bicara."
Sya hanya diam dan menahan kesal. Sejak pertengkaran Arda dan Sya. Aila jadi lebih dekat dengan Arda. Bahkan Sya sangat sulit untuk bertemu dengannya.
Mata Aila melirik kearah jam dinding. Lalu dia memberikan buket bunga dengan kasar pada Sya. Sya masih diam dan mencoba tidak mempedulikannya.
"Aku berharap kau tidak kembali kerumah. Kau tahu, Arda sangat membencimu saat ini."
Brak. Pintu terbuka dengan cukup keras. Melihat siapa yang datang, Aila memilih berlalu begitu saja. Sementara Sya hanya bisa menatap dengan penuh kebencian pada Aila.
Sya menggeleng. "Dia datang untuk menjengukku."
"Benarkah? Kelihatanya tidak seperti itu."
Malas membahas tentang Aila. Sya menyingkirkan buket bunga itu dari hadapannya. Lalu dia menatap pada Ruka.
"Apa aku sudah bisa pulang?" tanya Sya.
"Tidak. Dokter belum memberikan perintah itu."
"Aku bisa mati bosan disini, Kak."
"Lebih baik seperti itu," jawab Ruka sekenanya.
"Maksud kakak apa? Aku punya suami yang harus aku urus."
Ruka menoleh dengan tatapan yang menusuk. Sya diam dan menundukan kepalanya. Dia tahu, Ruka saat ini merasa sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh Arda padanya.
"Sya. Aku tidak ingin kau terus bersamanya. Aku takut, dia akan melukaimu. Apa lagi jika tahu kau sedang hamil."
__ADS_1
"Ha...hamil?"
"Ya. Kau hamil."
Tubuh Sya bergetar mendengar kabar itu. Dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Dia memang bahagia dengan kehamilan itu. Hanya saja, saat ini dia sedang ada masalah dengan Arda.
"Aku takut karena masalahmu saat ini. Dia ragu dengan anak yang kau kandung. Hal itu akan memicu dia melukaimu secara batin maupun fisik."
"Kau benar, Kak."
"Untuk saat ini. Kau akan tinggal bersamaku. Aku akan mengurus semuanya untukmu."
"Aku sudah merepotkan Kakak."
Ruka mendekat dan memeluk Sya. Dia tidak ingin melihat air mata jatuh dari mata Sya. Apa lagi karena seorang pria. Sejak awal, Ruka tahu cinta Arda bukanlah kebohongan.
Walau begitu. Saat ini tidak mungkin menyerahkan Sya pada Arda. Masalah ini bisa menjadi bencana untuk Sya maupun bayi yang dikandungnya.
Sementara itu Aial tersenyum dengan lebar. Dia tahu apa saja yang dikatakan Ruka dan Sya. Ya, sejak tadi dia tidak pergi. Dia hanya berdiam di depan pintu ruang rawat Sya.
"Kau membuat rencanaku semakin mudah, Sya."
Setelah berhasil mendapat informasi. Aila melenggang dengan senyum diwajah. Dia mengirim sebuah pesan pada Jovi. Tentunya untuk melanjutkan rencana itu.
***
Arda masih berkutat dengan beberapa berkas dimeja. Bahkan sejak tadi pagi dia tidak makan apapun. Dia memikirkan Sya, tapi juga memiliki tanggung jawab untuk perusahaannya itu.
Pintu terbuka dengan lebar. Arda merasa terganggu dan menoleh siapa yang datang keruanganya itu. Jovi, dia datang dengan tawa.
"Ada apa kau datang lagi?"
"Tidak. Aku hanya ingin kau memberikanku selamat."
Arda mengernyitkan dahi. Dia tidak tahu apa yang dikatakan oleh Jovi.
"Ayolah Arda. Setidaknya kau harus berterima kasih padaku. Aku sudah berhasil menanam benih cinta dirahim Sya."
Arda kaget bukan kepalang. Hatinya hancur bagaikan diremuk. Dia tidak bisa berkata-kata lagi saat Jovi mengatakan hal itu. Walau masih ada rasa ragu tapi Arda tetap kaget.
"Ya. Dia sedang hamil saat ini. Aku sebenarnya sangat marah saat mendengar kabar kau membuat Sya pingsan. Hanya saja, kabar kehamilannya membuat aku bagai diawang-awang."
Buk. Sebuah pukulan keras mendarat diwajah Jovi. Walau begitu, senyuman masih saja terukir diwajahnya. Hal itu semakin membuat Arda marah.
__ADS_1
Dua satpam masuk dan menyeret Jovi. Arda duduk dengan segala rasa yang bercampur menjadi satu. Dia tidak tahu lagi harus apa. Dia mencintai Sya, tapi dia benci dengan apa yang terjadi. Apa lagi kabar kehamilannya.