
Tarik nafas, hembuskan. Tarik nafas, hembuskan. Sya mencoba fokus meniru yoga ibu hamil melalui siaran di tv. Beberapa kali Sya mencoba tapi kembali fokus Sya terpecah.
Sya tidak menyerah dan terus mencoba. Disaat gerakan yoga yang dilakukannya hampir berhasil. Suara bel apartemen membuat Sya buyar. Dia bangun dan melihat siapa yang datang.
"Dengan Nona Sya?" Tanya pria itu.
"Ya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ini ada kiriman undangan."
"Undangan?"
"Ya."
Sya menerima undangan itu dari si pria. Setelah itu dia masuk dan membukanya. Sya tidak tahu Tom itu siapa, hanya Sya merasa terkejut dengan nama mempelai wanita. Anna.
Sya tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan oleh Anna. Belum satu bulan dia bercerai dengan Lufas. Dia sudah menikah dengan pria lain. Sya hanya menggelengkan kepalanya.
Sebuah pesan masuk dan membuat Sya melihat ponselnya. Lufas mengatakan jika dia akan menemui Ben dirumah sakit. Sya langsung membalas jika dia juga akan datang.
Aku akan menjemputmu.
Itulah pesan terbaru yang dikirim Lufas untuk Sya. Sya meletakan undangannya di atas meja. Dia buru-buru bersiap sebelum Lufas datang untuk menjemputnya.
Banyak hal yang Sya lakukan di kamar mandi. Sebelum itu dia juga membuatkan makanan untuk Ben. Dia tidak ingin membawa buah, buah akan merepotkan Ben dalam memakannya nanti.
Lufas datang dan belum menemukan Sya dimanapun. Lufas masuk ke kamar dan mendengar suara di kamar mandi.
"Apa kau sedang mandi?" Tanya Lufas.
"Ya."
"Cepatlah. Aku akan menunggu sembari menonton tv."
"Ada undangan untuk kita. Aku meletakanna di atas meja."
"Aku akan melihatnya."
"Tentu."
Sya keluar kamar mandi dan tidak mendapati Lufas disana. Sya keluar dan melihat Lufas sedang membaca undangan itu. Terlihat fokus dan teliti.
"Siapa Tom?" Tanya Sya sembari mendekat, "Kenapa dia bisa menikah dengan Anna?"
Lufas terlihat gugup saat Sya menanyakan hal itu. Bahkan undangan itu terjatuh begitu saja dari tangan Lufas.
"Apa kita akan datang? Aku belum pernah datang keacara seperti ini denganmu."
"Kita akan datang," jawab Lufas.
Sya tersenyum lalu menunjuk kearah perutnya yang buncit. "Apa kau tidak malu membawaku seperti ini?"
Lufas menarik Sya ke dalam pelukan. Dia tidak ingin Sya merendah karena kehamilan itu.
"Kau hamil karena aku. Kenapa harus malu."
"Apa kau akan menerima ini?"
"Tentu. Aku tidak boleh menjadi pengecut hanya karena kehamilan istriku."
__ADS_1
Sya membalas pelukan itu. Itu sebagai jawaban rasa senangnya. Lufas dengan terang-terangan menerima anaknya saat ini. Tidak akan ada
lagi yang akan melukai hatinya.
"Ayolah. Ben pasti sudah menunggu," kata Lufas selanjutnya.
"Tunggu. Aku sudah buatkan makanan. Kita akan makan disana bersama Ben."
"Baiklah."
***
Suasana Vila milik Tom begitu ramai. Sebuah ruangan yang luas sedang di dekorasi. Banyak pelayan dan orang yang sudah ahli mendekor ruangan itu.
Tom meminta agar acara hari ini harus mewah dan sepesial. Tidak boleh ada cacat sedikitpun. Dia ingin memberikan hal yang indah untuk Anna, Lufas bahkan tidak pernah memikirkannya.
Sementara itu. Anna duduk diam dengan tatapan kosong. Dia merasa sudah hancur karena niatnya sendiri. Bagaimanapun saat ini, Anna tidak menyalahkan Lufas. Dia hanya menyalahkan Sya yang sudah datang di dalam hidup Lufas.
"Aku sangat membencimu, Sya." Ucap Anna.
Beberapa orang masuk dan mencoba membawa Anna pergi. Anna berontak dan mencoba melepaskan pegangan tangan mereka.
"Aku mau dibawa kemana?" Tanya Anna.
Seseorang dari mereka menjawab. "Kau harus mandi saat ini."
"Aku bisa melakukannya sendiri. Lepaskan aku," kata Anna sembari terus mencoba untuk mepelaskan diri.
Kekuatan Anna tidak sebanding dengan beberapa wanita yang memegangnya saat ini. Sampai saat Tom masuk. Dia menyuruh semua orang keluar.
Anna hanya diam, dia tidak berani melakukan hal yang membuat Tom emosi. Rasa sakit karena pukulan-pukulan itu masih membayangi dirinya.
Anna hanya membuang muka.
Tom tidak senang dengan kelakuan Anna. Dia menarik Anna dan mencengkram pundak Anna. Mau tidak mau Anna akhirnya menatap pada Tom.
"Bukankah kau ingin menghancurkan Lufas?"
Anna hanya menatap. Tidak berkata apapun.
"Jika kau menginginkan itu. Buatlah dirimu menjadi lebih cantik, tampakan wajah bahagia saat bertemu dengannya. Lufas pasti akan tersiksa."
Apa yang dikatakan oleh Tom dibenarkan oleh hati Anna. Dia akan membuat Lufas kembali mengejarnya. Saat itu, dia juga akan terbebas dari Tom. Pikir Anna.
"Lakukan saja semuanya dengan patuh. Kau akan mendapatkan apa yang kau mau."
Tom keluar meninggalkan Anna sendirian dengan pikirannya. Tidak lama wanita-wanita itu masuk lagi. Anna sudah tidak melakukan berontak lagi. Hanya saja dia diam seribu bahasa walau wanita-wanita itu mengajaknya bicara.
***
Sya duduk dengan tenang di dalam mobil. Tidak biasanya, Lufas meminta sopir untuk mengantarnya. Padahal Lufas tidak terlalu menyukainya.
Sejak mendapatkan undangan dari Anna. Fokus Lufas terganggu. Jadi dia memutuskan untuk sopir yang mengantarnya. Lufas masih memikirkan keselamatan Sya dan bayinya.
"Apa ada masalah?" Tanya Sya yang sejak tadi melihat pada Lufas.
"Tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku melihatmu begitu gelisah. Jika ada masalah, katakan saja padaku. Siapa tahu aku bisa membantumu."
__ADS_1
Lufas tersenyum. Dia kemudian menggenggam tangan Sya dengan erat. Perhatian Sya begitu kuat pada Lufas. Hal itu membuat Lufas tidak tega mengatakan semuanya dengan jujur.
Sampai di rumah sakit. Ben terlihat duduk dengan laptop di depannya. Walau sakit, Ben masih tetap mengerjakan semua tugasnya. Hal itu dilakukan karena hanya Ben orang yang saat ini dipercaya oleh Lufas.
"Kenapa kau masih saja bekerja?" Tanya Sya yang masuk dengan kesal ke kamar Ben.
"Aku..."
"Apa Lufas yang menyuruhmu? Jika begitu tinggalkan saja dulu. Kau harus memulihkan dirimu dulu," kata Sya yang langsung menyingkirkan laptop itu.
"Dengan siapa kau datang?" Tanya Ben.
"Lufas. Dia sedang menelfon seseorang di luar," jawab Sya.
Di luar.
"Aku hanya ingin tahu detailnya saja. Jangan katakan pada siapapun, langsung katakan saja padaku jika kau sudah tahu," kata Lufas dengan penuh penekanan.
Lufas mendengarkan lawan bicaranya dengan serius.
"Baiklah. Sudah dulu, istriku sedang menunggu."
Lufas masuk ke rungan tempat Ben di rawat. Sya sedang menyiapkan makanan yang sedang dia bawa.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Lufas.
Sya mendekat pada Lufas. "Kau menanyakan keadaanya. Dia begitu lelah karena pekerjaan yang kau berikan."
Lufas menoleh pada Ben. Ben langsung menggeleng mendengar pernyataan itu.
"Apa menurutmu aku memaksanya bekerja?" Tanya Lufas.
"Ya. Kau begitu kejam. Orang sakit pun kau suruh bekerja."
"Benarkah aku menyuruhmu bekerja Ben?" Tanya Lufas.
"Tidak. Aku melakukannya atas kemauanku sendiri."
Sya menghela nafas mendengar percakapan Lufas dan Ben. Mereka benar-benar seperti adik dan kakak.
"Sudahlah. Sekarang ayo makan. Aku menyiapkan semua ini sendiri. Jadi habiskan," kata Sya.
"Baik." Ucap Lufas dan Ben secara bersamaan.
Sya tertawa bahagia mendengar hal itu. Tidak disangka, bayi dalam kandungan Sya bergerak. Sya kaget sekaligus bahagia.
"Dia menendangku," kata Sya.
Lufas mendekat dan langsung memegang perut Sya.
"Dia tidak melakukannya," kata Lufas kecewa.
"Dia pasti akan menendang lagi nanti. Jika itu terjadi kau akan merasakannya," kata Sya.
"Aku berharap begitu."
Ben menatap Lufas dan Sya. Terlihat jika Lufas sudah merubah pikirannya. Dia tidak lagi memikirkan hal negatif tentang anak itu. Ben merasa senang dengan hal ini. Sya mampu membuat Lufas menjadi lebih baik.
***
__ADS_1