
Suasana cafe cukup ramai. Bahkan beberapa pelayan terlihat begitu sibuk. Sementara Sya duduk ditemani segelas jus jeruk. Dia sedang menunggu seseorang yang ingin menemuinya.
Saat ini pikiran Sya hanya pada Lufas yang ada dirumah. Dia takut Anna akan melakukan sesuatu. Sampai saat ini Anna tidak tahu jika Sya sudah tahu semua kebenarannya. Anna pasti akan berbuat sesuatu dibelakangnya.
"Halo," kata Mira yang langsung duduk di depan Sya.
"Apa kau Mira?" Tanya Sya langsung.
Mira tersenyum sembari mengangguk perlahan.
"Apa kita saling kenal? Kau mengajak aku bertemu secara mendadak," kata Sya.
Mira merubah posisi duduknya.
"Kita memang tidak saling kenal, tapi suamiku kenal denganmu. Sudah sangat lama dia ingin bertemu denganmu."
Sya bingung dengan perkataan Mira saat ini. Bagaimana bisa Mira begitu santai saat suaminya akan bertemu dengan wanita lain.
"Aku sengaja ingin mempertemukan kalian. Suamiku sudah terlalu lama menderita. Dia selalu merasa bersalah padamu."
Sya tertawa namun dia masih terlihat bingung.
"Ok. Bagaimana jika suamimu kesini. Kita bisa bicarakan hal ini dengan baik," kata Sya.
"Sebentar. Aku akan memanggilnya lebih dulu."
Mira keluar lagi dari cafe. Dia masuk kearea parkir mobil. Mira melihat Arda yang duduk dengan wajah gelisah. Hal itu sedikit membuat Mira khawatir.
"Arda. Sya sudah menunggu di dalam," kata Mira.
"Apa dia tahu suamimu adalah aku?"
Mira menggeleng. Hal itu membuat Arda sedikit lega. Setelah Mira menenangkannya, akhirnya Arda mau masuk dan menemui Sya.
Sesekali Sya menatap layar ponselnya. Dia begitu berharap ada sebuah pesan atau panggilan dari Lufas. Walau harapan itu pupus saat Mira datang membawa seseorang.
Sya memasukan ponselnya kedalam tas dan mendongakkan kepalanya. Wajah Sya langsung berubah. Pucat, itu yang terlihat saat Sya melihat Arda di depannya.
Mata mereka bertemu. Hanya saja tidak ada debaran yang sama saat mereka bersama dulu. Walau begitu Sya masih kaget dengan datangnya Arda disana.
"Ka...kalian sudah menikah?" Tanya Sya dengan nada bergetar.
Arda memegang tangan Mira. Mira kaget.
"Ya. Kami sudah menikah dan kami bahagia," kata Arda.
Kali ini Sya tersenyum.
"Baguslah. Aku harap kalian bahagia dan cepat memiliki momongan," kata Sya.
Mendengar kata momongan membuat rasa bersalah dihati Arda kembali muncul. Perlahan dia melepaskan tangan Mira. Lalu menatap pada Sya yang saat ini tampak begitu berbeda.
"Aku ada telfon. Kalian bisa berbicara dulu," kata Mira sembari beranjak dari duduknya.
Sebenarnya tidak ada telfon masuk. Mira hanya mencari alasan agar bisa meninggalkan Arda dan Sya berdua. Mira ingin mereka mengatakan apa yang mereka rasakan saat ini.
Sementara di dalam cafe. Sya dan Arda masih sama-sama diam. Mereka tidak tahu harus memulai dengan apa. Sampai akhirnya Arda menatap Sya dengan lekat.
"Maaf," kata Arda.
Sya menatap Arda dengan penuh tanya.
"Untuk hal apa kau meminta maaf?" Tanya Sya.
"Untuk kesalahan dimasa lalu."
"Aku sudah memaafkanmu sejak aku dan kamu berpisah."
Arda mengulas senyum terpaksa diwajahnya. Mereka kembali diam. Hal itu membuat suasana menjadi tidak nyaman sama sekali.
"Apa hanya ini yang ingin kau katakan padaku?"
Arda mengangguk.
"Arda. Kita sama-sama memiliki pasangan saat ini. Lebih baik jika kita melupakan masa lalu kita," kata Sya.
"Kau benar. Mira begitu baik hati sampai mempertemukan kau dan aku. Bahkan dia tidak takut jika kau dan aku akan kembali bersama."
__ADS_1
Kali ini mata Sya berkeliling. Dia mencari Mira, tapi tidak ketemu. Hal itu membuat dia sadar, jika Mira menghindar dari pembicaraanya dan Arda.
"Kita sudah sama-sama rela saat ini. Lebih baik kau kembali pada istrimu. Dia pasti sedih walau tidak menampakannya padamu."
"Tunggu. Aku ingin bertanya satu hal padamu."
"Kau bisa tanyakan sekarang."
"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu yang sekarang?"
Sya diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia memang sudah mulai menerima Lufas. Hanya saja saat ini ada pengganggu yang membuat hubunganya tidak tenang.
"Apa kau tidak bahagia?" Tanya Arda kemudian.
"Aku bahkan sangat bahagia. Suamiku begitu pengertian."
"Baguslah jika seperti itu."
Sya mengangguk.
"Kalau begitu aku pergi. Ada hal yang perlu aku urus," kata Sya.
Sya dan Arda berpisah. Setelah mereka meluruskan masa lalu. Kini mereka akan mulai dengan lembaran baru dalam hidup mereka.
Arda berlari kecil kearah mobil. Mira terduduk dengan tatapan kosong. Di hatinya memang mencoba rela, hanya wajahnya tidak bisa berbohong begitu saja.
"Kenapa wajahnya murung?" Tanya Arda sembari memberikan sebuah bunga.
Mira menoleh. Dia melihat Arda, tapi tidak ada Sya disana. Bahkan Mira mencoba melihat kearah belakang Arda.
"Disana Sya?" Tanya Mira sembari menerima bunga yang diberikan oleh Arda.
"Dia sudah pulang."
Kali ini Mira menatap wajah Arda. Dia ingin melihat jawaban tanpa harus bertanya. Saat Mira masih menatap dengan mata tajam. Arda mendekat dan langsung mencium Mira.
Mata Mira membulat. Apa yang dilakukan Arda saat ini menjadi sebuah jawaban yang akurat. Tanpa sadar Mira ikut menikmati semua itu. Mereka seperti pasangan yang baru saja dimabuk cinta.
***
Tangan Sya terus bermain dengan ponselnya. Dia mencoba menghubungi Lufas saat ini. Hanya Lufas tidak menjawab semua panggilannya. Bahkan Lufas jug tidak membalas pesan yang dikirim oleh Sya.
Begitu mobil berhenti di depan rumah. Sya langsung turun dari mobil. Dia membuka paksa pintu dan melihat Anna sedang duduk dengan majalah ditangannya.
"Kau sudah pulang?" Tanya Anna yang langsung menyingkirkan majalah ditangannya.
"Ya. Apa Lufas dirumah?" Kali ini Sya bertanya tanpa basa basi.
Anna menggeleng, "Dia pergi dengan beberapa pria. Mungkin sedang bersenang-senang."
Sya meletakan tasnya di sofa. Dia duduk dan meminta pelayan mengambilkan minuman dingin.
"Apa Kau tidak curiga pada suamimu?" Tanya Anna.
Sya hanya diam dan melihat ponselnya.
"Sya. Jaman sekarang jangan percaya begitu saja pada lelaki. Kau tahu, banyak lelaki yang memiliki wanita lain diluar sana."
"Bagaimana bisa kau mengatakannya? Setahuku kau tidak terlalu dekat dengan pria. Bagaimana kau tahu semua itu?"
Anna duduk mendekat pada Sya. Dia memegang tangan Sya dengan erat. Wajahnya tidak terlihat sedih. Bahkan matanya berkaca-kaca.
"Kau jangan marah padaku ya, Sya. Sebenarnya aku mengatakan hal ini karena sebuah alasan."
"Apa kau dekat dengan seorang pria? Apa dia menyakitimu?"
Sya menghela nafas panjang. Dia tidak tahu saat ini Anna sedang memainkan permainan apa padanya.
"Tidak. Aku bahkan mencoba menjauh darinya."
"Apa maksudmu?"
"Sebenarnya saat kau pergi tadi. Lufas datang padaku. Dia bahkan ingin menyentuhku," kata Anna dengan wajah memelas.
Kali ini Sya paham maksud darinya ucapan Anna. Dia sedang mencoba melihat Sya kesal pada Lufas.
Sya mengatakan wajah kaget. "Benarkah suamiku melakukannya? Jika begitu aku akan mencarikan sebuah rumah untukmu. Aku tidak mau jika kau sampai terluka karena suamiku. Dia memang sangat temperamental."
__ADS_1
Anna tidak menduga jika Sya begitu santai. Bahkan dia tidak terlihat marah sama sekali. Hal itu membuat Anna merasa kalah dalam sekejap.
"Sya. Bukan aku tidak mau pergi dari rumahmu. Hanya saja, aku masih takut jika tinggal sediri. Aku takut kejadian kebakaran itu terulang lagi."
Kali ini Sya hanya diam. Dia mengambil minuman dimeja dan menenggaknya. Setelah merasa hausnya hilang. Sya mengambil tasnya dan melihat sebuah pesan masuk.
Ben yang mengirim pesan. Dia meminta agar Sya datang karena Lufas meminum alkohol. Saat ini Lufas tidak sadarkan diri. Hal itu membuat Sya khawatir.
Tanpa pikir panjang Sya langsung meminta sopirnya untuk menyiapkan mobil. Dia akan menjemput Lufas saat ini juga. Sya sudah duduk di dalam mobil dan saat mobil sudah akan berjalan. Tiba-tiba Anna masuk wajahnya juga terlihat panik.
"Kau mau kemana?" Tanya Sya langsung.
"Kau hilang Lufas tidak sadar. Jadi aku juga mau melihatnya."
Kali ini tanpa Anna sadari dia sudah menampakan perasaan aslinya. Sya hanya diam dan meminta sopir untuk jalan. Saat ini Sya masih diam, dia juga menahan emosinya.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Sya dan Anna sampai. Sya turun diikuti oleh Sya, belum sempat Sya tanya pada resepsionis restoran. Anna langsung masuk begitu saja, sepertinya dia sudah hafal sangat dengan restoran itu.
Dengan penasaran Sya mengikuti Anna yang setengah berlari. Sampai disebuah ruang VIP langkah Anna terhenti. Dia masuk tanpa mengirim pintu lebih dulu.
Ben dan beberapa teman lain kaget dengan kedatangan Anna yang tiba-tiba. Tidak lama Sya masuk, dia melihat Lufas yang duduk namun matanya terpejam. Diruangan itu bukan hanya ada lelaki, tapi ada juga beberapa perempuan. Mereka memakai pakaian yang cukup terbuka.
"Kenapa kalian datang kesini?" Tanya Sya dengan nada tidak senang.
"Maaf, Kak. Kami datang kesini hanya untuk bersenang-senang. Tidak ada hal lain."
Mendengar hal itu Sya hanya diam. Dia berniat mendekat pada Lufas. Disaat Sya akan membantu Lufas, Lufas memanggil nada wanita lain.
"Nita. Kamu sudah datang?" Tanya Lufas dengan mata yang setengah terbuka.
Anna yang mendengar itu langsung tersenyum. Dia mendekat pada Lufas dan sedikit mendorong Sya. Sya diam, kini Anna tidak lagi menutupi kebenaran ini.
"Aku sudah disini. Ayo kita pulang," kita Anna sembari membantu Lufas berjalan.
Kali ini Sya hanya diam, matanya berkaca-kaca. Hal itu membuat Ben merasa sangat bersalah. Awalnya dia ingin mendekatkan Sya dan Lufas. Kini Nita sudah menampakan dirinya.
"Kak. Aku akan mengantarmu pulang," kita Ben.
Sya mengangguk. Sementara sopir membawa Anna dan Lufas. Sya masuk ke dalam mobil Ben. Di dalam mobil Sya hanya diam, dia memikirkan apa yang baru saja dia alami.
Belum juga satu hari Lufas meminta Sya menyingkirkan Anna. Kini, Lufas sendiri yang mengundang Anna kedalam pelukannya. Janji Lufas yang begitu manis membuat Sya terlena. Sya lengah hingga membuat sebuah celah untuk orang lain.
Dalam perjalanan Sya terus menatap mobil di depannya. Dia membayangkan apa saja yang terjadi di dalam sana. Apa Anna yang menggoda atau Lufas yang melakukannya.
"Kakak tenang aja. Lufas tidak akan melakukan hal aneh."
"Ya."
Ben mencoba menenangkan hati Sya. Hanya saja Sya tetap merasa tidak tenang. Dia juga merasa takut jika Lufas akan lebih memilih Anna nantinya. Anna lebih tahu semuanya tentang Lufas.
Sampai divila Averest. Anna begitu memperhatikan Lufas. Bahkan Sya tidak bisa menyentuh Lufas sedikitpun. Saat Anna kembali dari dapur membawa segelas air. Sya menghentikannya.
"Biarkan aku yang mengurus Lufas. Dia suamiku. Bukankah kau tadi mengatakan jika suamiku sudah menggodamu."
Anna tersenyum dengan sinis. Dia mendekat pada Sya dan berkata, "Apa tahu. Aku adalah Nita yang Lufas cintai selama ini."
Sya tidak merubah ekspresi diwajahnya.
"Aku sangat berterima kasih padamu. Karena kamu, aku jadi lebih dekat dengan Lufas."
Tanpa diduga, Sya mengambil gelas ditangan Anna. Dia tidak mengatakan apapun dan duduk disamping Lufas. Anna akan melakukan sesuatu, tadi Ben langsung mencegahnya.
"Jika kau masih ingin disini. Jaga sikapmu."
"Kau hanya pelayan. Tidak usah ikut campur," kata Anna.
"Dia bukan pelayan. Dia adikku dan Lufas."
Anna tertawa dengan keras. "Kau tidak tahu hal yang sebenarnya. Lufas adalah bos besar, dia akan selalu seperti dulu. Dingin dan menakutkan."
"Diam dan pergi dari sini. Aku muak melihatmu," kata Sya.
"Kau tidak akan pernah bisa mengusirku. Vila ini juga milikku. Lufas membeli Vila ini atas namaku dan Lufas. Jika kau tidak percaya, kau bisa melihat surat rumah ini."
Sya terlihat ragu, tapi fokusnya hilang saat Lufas bangun dan meminta Ben membawannya ke dalam kamar.
"Aku ingin istirahat saat ini. Jika Lufas sudah sadar. Katakan padaku, aku ingin menemuinya."
__ADS_1
Setelah itu Anna pergi. Dia meninggalkan Sya yang sedang berfikir. Sya memikirkan dirinya dianggap apa oleh Lufas sebenarnya.
***