
Suasana kantor begitu sibuk. Setelah acara peluncuran itu. Konsumen banyak yang meminta. Hal ini cukup baik untuk Sya. Semoga dia bisa melanjutkan dan lebih baik lagi.
"Bos."
Sya yang sedang mengetik langsung menghentikan tangannya. Dia menoleh kearah pintu. Rista yang datang dengan sebuah jadwal padat untuknya.
"Masuk saja," kata Sya.
"Baik."
Rista mulai mengabsen jadwal yang akan dilakukan oleh Sya. Sya hanya mengangguk-angguk saja. Sampai pada jadwal malam hari.
"Malam ini ada pertemuan dengan Bos Tom. Dia yang akan berinvestasi."
"Tom. Aku tidak mungkin menemuinya, dia bisa saja ikut langsung dalam rapat dewan. Kenapa harus bertemu berdua denganku."
"Tuan Tom yang meminta. Jika tidak, dia akan membatalkan investasi."
"Tidak masalah."
Rista menggeleng. "Tidak bisa. Kita sudah menerima uang itu dan menggunakannya."
"Kenapa aku tidak mendapat laporan itu?"
Rista hanya bisa menggeleng.
Kali ini Sya tidak bisa berbuat apapun. Dia harus bertemu dengan Tom atau perusahaan akan terkena imbasnya.
"Apa Tom memintaku datang sendiri?" Tanya Sya.
"Tidak."
"Baguslah. Lalu apa jadwalku saat ini?"
"Belum ada. Hanya ada rapat dewan jam 11.00."
"Aku akan istirahat lebih dulu."
"Saya pamit," ucap Rista.
Sya hanya mengangguk. Lalu pergi dari ruangan Sya. Membiarkan dia sendirian dan istirahat.
Dengan urusan yang banyak Rasti kembali ke ruangannya. Dia melihat Anna yang sudah dduk tenang dengan secangkir kopi di depanya.
"Kau kembali? Aku ingin bicara denganmu," kata Anna.
Rasti meletakan berkas dan notebook yang dia bawa. Dia duduk berhadapan dengan Anna saat ini.
"Aku membutuhkanmu," kata Anna langsung.
"Hal apa?"
"Kau tahu, suamiku dan Sya bekerja sama. Aku hanya ingin kau melaporkan appa saja yang mereka bicarakan dan lakukan." Anna meletakan sebuah amplop dan menggesernya pada Rasti.
Rasti melihat amplop coklat yang cukup tebbal. Dia lalau menatap pada Anna.
"Kau bisa meminta lebih dari itu."
Tidak diduga. Rasti kembali menggeser amplop itu kearah Anna. Lalu dia berkata, "Aku setia pada bosku."
"Gajimu tidak seberapa dengan ini."
"Gaji bukanlah masalah bagiku. Bagiku, rasa ppercaya bos Sya padaku adalah hal yang besar. aku tidak akan menghianatinya demi uang."
Anna mendengus. Dia sebenarnya kesal karena Rasti sudah menolaknya mentah-mentah. meski begitu, Anna tidak menyerah begitu saja. Dia mengambil amplop itu kemballi dan tersenyum.
Rsti masih dengan ekspresi yang sama menatap pada Anna.
"Rasti. Kau sudah kenal aku begitu lama, kau tahu aku. Aku juga tahu kamu, aa kamu mau aku membongkar semuanya."
"Silahkan saja."
"Apa kau tidak takut jika Sya akan memecatmu?"
"Tidak. Bos Sya, dia tidak akan memecatku hanya karena masalah tanpa alasan. Dia pasti akan meminta penjelasanku lebih dulu."
"Kau dan Sya sama saja. Keras kepala."
__ADS_1
"Aku karyawannya."
Anna menghentakkan kakinya dan keluar dari ruangan Rasti. Kebetulan sekali dia berpapasan dengan Sya dilorong. Sya melihat tatapan tidak senang dari Anna.
Sya yang sudah terbiasa mendapatkan tatapan itu hanya diam saja. Sampai Anna menarik tangan Sya. Mereka kini berhadappan, tatapan mematikan yang bertemu.
Sekejap suasana lorong itu begitu mencekam. Tidak ada kata yang terucp, hanya isyarat mata yang memiliki makna.
"Lufas," kata Anna kemudian.
Sya menoleh kebelakang. Dia tidak melihat siapapun disana. Sya kembali melihat kearah Anna.
"Lufas. Lufas masih hidup," kata Anna kemudian.
Sya diam seribu bahasa mendengar penuturan Anna.
"Appa kau sudah berbohong tentang kematian Lufas? Kau bohong dan menyimpannya sendiri?" Anna bertanya dengan dua tangan memegang pundak Sya dengan keras.
Sya melepas pegangan tangan itu. "Untuk apa aku berbohong dan bersedih. Apa gunanya untukku," kata Sya.
"Aku benar-benar melihatnya tadi. Dia ada disini."
"Kau berhalusiinasi Anna. Bagaimanapun kau harusnya sadar, Kau sudah bersuami, tidak pantas memikirkan pria lain."
Sya pergi meninggalkan Anna yang masih kebingungan. Dalam perjalanan keruangannya Sya terus memikirkan perkataan Anna. Jika Anna juga melihatnya, sudah pasti dia tidak berhalusinasi.
Mata Anna menoleh ke kanan dn ke kiri secara terus menerus. Dia berharap dapat menemukan jawaban yang dia inginkan. bahkan sampai saat ini orang yang merusak mobil Lufas masih belum ditemukan. Hal itu membua Anna terus memikirkan Lufas.
Bruk. Tidak sengaja Sya bertubrukan dengan seseorang. Sya meminta maaf dan membantu mengambilkankotak yang jatuh.
"Maaf," kata Sya.
"Tidak apa. Aku kesini untuk menemuimu," kata Ben.
Sya mengangguk. "Masuklah keruanganku. Kita bicara disana."
Ben masuk keruangan Sya. Sya meminta resepsionis untuk membawakan dua teh untuk mereka. Tidak mungkin mereka bicara tanpa ada teman.
"Ada hal apa sampai kau datang kesini langsung. Biasanya kau akan menungguku di apartemen."
"Ini hal penting. Kau harus tahu secepatnya."
Ben mengangguk.
Serang OB masuk membawakan dua cangkir teh. Kemudian dia pergi lagi.
"Dia sudah ditemukan."
"Benarkah? Aku bertemu dengannya. Aku ingin menanyakan banyak hal."
"Polisi sedang mengurusnya. Kau bisa bertemu dengannya beberapa hai lagi. Aku akan jadwalkan untukmu."
Sya memegang kepalanya sendiri. Dia merasa sakit dan terluka di hati, hanya dia tidak bisa mengungkapkannya. Meski beitu, dia bahagia karena si pelaku sudah ditemukan.
"Ini. Ini adalah laporan tentang si pelaku. Kau hanya bisa melihat ini lebih dulu."
"Tidak masalah. Terima kasih atas semua yang kau lakukan."
"Aku melakukan ini untuk kakakku."
Sya tersenyum.
"Bagaimana kabar Nendra?"
"Dia baik. Pertumbuhannya juga baik. Hanya, aku sedang berencna untuk pindah ke sebuah rumah."
"Apa ada masalah?"
"Aku menemui psikolog dan mengatakan semua yang terjadi padaku. Dia bilang, lingkunganku yang membuat aku terus mengingatnya."
Syaa diam. Ben juga diam dan tetap mendengarkan.
"Dia menyarankan aku untuk pindah. Setidaknya, bayangan Lufas akan sedikit mereda. Aku bisa fokus mengurus Nendra dan pekerjaanku saat ini."
"Aku akan carikan. Kau hanya perlu mengurus Nendra dengan baik."
"Sekali lagi terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama."
Ben menyesap tehnya. Lalu berdiri.
"Aku harus pergi. Ada hal yang harus aku urus."
"Ya. Aku akan mengantarmu."
***
Wajah Sya terlihat kaget saat melihat tempat yang dia datangi. Jelas-jelas itu bukanlah restoran biasa. Restoran yang menyediakan banyak hal. Tentunya tidak cocok jika anak-anak datang saat mala m hari.
"Sudah akku bilang. Tidak mungin Tom membawamu ke tempat biasa." Ucap Xiu dengan tawa kecil.
"Sepertinya Nendra harus kembali lebih dulu."
Xiu mengangguk setuju. Bi Sali yang mendengarnya terlihat begitu tenang. Dia tahu apa yang harus dillakukannya saat ini. Kemballi dan mengurus Nendra di apartemen.
"Maaf, Bu Bos. Saya tidak bisa ikut, saya da acara keluarga," kata Rasti.
"Ya. Tidak apa," jawab Sya.
"Kau bisa kembali bersama Nendra. Kalian satu arah kan?"
"Benar Bu Xiu," kata Rista.
"Kalau begitu kalian akan pulang bersama."
Sya membuka pintu mobil dan melihat pada Nendra yang masih sibuk bermain dengan tangannya sendiri.
"Sayang sekali kau harus pulang," ucap Sya.
Semua orang yang disana hanya tersenyum.
"Bi, tolong jaga Nendra ya."
"Baik, Nyonya."
Xiu dan Sya akhirnya masuk. Seorang pelayan mendekat dan bertanya tentang identitas mereka. Setelah pelayan itu tahu, dia mengantar Xiu dan Sya ke tempat Tom.
Ruangan yang di pesan Tom begitu pelik. Disebuah lorong panjang dan di ruang yang paling pojok. Entah apa yang dia inginkan.
Sampai disana. Tanpa basa-basi Syamsuk, Tom terlihat begitu snang. Namun, saat Xiu berada di belakang Sya. Wajah Tom berubah. dia tidak terlihat senang, bahkan terlihat kesal.
Di meja sudah ada banyak makanan. Bahkan ada juga minuman berakohol dan hl untuk orang dewasa. Sya hanya menatap tanpa ekspresi, sementara Xiu hampir tertawa dengan keras.
"Silahkan duduk."
Sya dan Xiu duduk secara bersamaan.
"Karna ini bukan acara resmi. Kita tidak perlu terlalu kaku," kata Tom.
"Benar. Anggap saja kita bertemu dengan teman," jawabXiu.
Tom tersenyum dengan paksaan.
"Kalau begitu bisakah aku memesan minuman yang biasa saja. Aku tidak minum hal seerti ini," kata Sya sembari menunjuk kearah minuman yang tersedia.
"Kau bisa memesan apapun yang kau mau."
Setelah itu suasana masih saja tidak membaik. Sya dan Xiu lebih banyak bicar aberdua dan mengacuhkan Tom. Hal ini membuat om merasa harga dirinya beitu terkoyak.
"Apa aku bisa bicara berdua dengan Sya?" Tanya Tom.
"Bicarakan disini." Jawab Sya.
"Kita akan membahas perusahaan. Tidak mungkin jika kita harus membahas di depan orang luar."
Sya tersenyum. "Dia bukan orang luar. Dia juga sudah berinvestasi di perusahaanku. Lebih besar dari milikmu."
Kali ini Tom tidak berpura--pura lagi. Dia menampakan wajahnya yang sebenarnya.
"Kau menjebakku saat ini?"
"Tidak. Aku tidak menjebak dirimu sama sekali. Aku mengundang Kak Xiu, karna kau yang mengatakan jika ini adalah acara untuk investasi baru. Dia juga baru."
"Kalau begitu nikmati saja pesta ini. Aku ada urusan dengan yang lain," lata Tom dan memilih untuk pergi.
__ADS_1
Saat ini Tom tidak bisa melakukan hal yang gegabah. Xiu bukanlah orang biasa, saat ini Tom sendiri. Sudah pasti dia akan kalah, jadi Tom akan mencari cara lain untuk menyingkirkan Xiu dari sisi Sya. Jadi, tidakada lagi yang akan membantu Sya.
***