
Lampu-lampu bersinar dengan indah. Bahkan dekorasi itu mampu membuat setiap orang yang melihat tersenyum. Dekorasi yang sangat menawah hanya untuk meresmikan sebuah cabang.
Sya melihat dirinya sendiri di pantulan cermin. Rambut yang tergerai dengan pakaian biasa. Tidak ada kesan elegan apa lagi mewah.
Langkah Sya kini tertuju ke kamarnya. Dia membuka almari pakaian dan mulai mencari baju yang pantas untuk datang. Tidak mungkin dia datang dengan pakaian lusuhnya.
Arda dan Nyonya Ken bisa marah besar jika hal itu terjadi. Tangan Sya mulai memilih dan memilah satu persatu baju yang akan dia pakai. Hari ini, dia akan menjadi istri Arda di depan awak media.
"Pakai apa saja sesukamu. Tidak perlu mencari baju yang bagus," ujar Arda.
Sya menghentikan gerakan tangannya dan menoleh pada Arda. Dia sudah rapi dengan setelan jas. Tampan, tapi tetap tidak bisa membuat Sya terpesona.
"Apa kau ingin ditertawakan semua orang? bukankah hari ini kita akan dinyatakan suami istri di depan semua orang."
Arda tersenyum dan mendekat kearah Sya, "Apa kau sangat berharap akan hal itu?"
Mata Sya membulat. Kini niatnya untuk tidak membuat malu Arda dan Nyonya Ken buyar. Dia merasa kembali dihina oleh Arda. Suaminya.
"Jika begitu, kenapa kau tidak berikan tubuhmu untukku."
Plak. Kali ini Sya tidak bisa menahan emosinya. Dia benar-benar kesal pada Arda. Sejak awal bertemu, Arda selalu saja mengatakan hal yang menghina. Bahkan, tidak ada kebaikan di diri Arda bagi Sya.
Arda memegang wajahnya. Dengan kasar dia menarik Sya dan menyudutkannya di tembok. Tatapan mengerikan kini hadir di mata Arda. Rasa takut menghampiri Sya, tapi Sya tidak ingin kalah.
"Kau selalu menghinaku, tapi aku hanya diam. Kenapa kau tidak bisa menghargaiku walau hanya sedikit," ucap Sya.
"Apa seorang wanita perebut pantas dihargai?" tanya Arda.
Kembali Sya di buat diam. Rasa itu sudah hilang, entah sejak kapan. Saat ini, Sya tidak memikirkan Jovi lagi. Dia hanya memikirkan perlakuan Arda selama ini.
"Kenapa kau diam? apa kau sedang memikirkan kakak iparku itu?"
Tangan Sya tertahan. Dia menahan tangannya agar tidak kembali menampar Arda. Bagaimanapun Arda, dia adalah suaminya saat ini. Apa Arda baik atau buruk, Sya akan menanggung semuanya.
"Kau wanita murahan yang tidak pantas mendapatkan lelaki manapun Sya."
Perkataan itu membuat Sya tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya. Dia mendorong Arda menjauh.
Selama ini, Arda memang tidak pernah bermain tangan dengan Sya. Hanya saja, perkataan Arda selalu mampu untuk membuat air mata Sya keluar.
Dengan tangisan itu Sya keluar dari kamar. Dia tidak tahu harus kemana, semua sudut di rumah ini sudah dihias. Banyak juga tamu yang sudah datang. Tidak mungkin Sya akan melewati mereka.
Brak. Tubuh Sya tersungkur karena menabrak seseorang. Perlahan tangan Sya menyeka air matanya. Dia membantu Mila yang sedang kesusahan.
"Maafkan aku Kak. Aku tidak sengaja," ujar Sya.
Mila membersihkan baju yang dia bawa, "Kau mau kemana. Padahal aku ingin ke kamarmu."
"Aku...aku hanya merasa haus."
Mila tersenyum, lalu dia menyodorkan baju itu.
"Pakai ini, aku akan ambilkan air minum untukmu."
"Biar aku saja, Kak."
"Tidak. Ini harimu dan Arda. Pakailah baju ini, aku akan menemuimu lagi."
"Terima kasih, Kak."
Sya menerima baju itu. Terlihat jelas baju itu bukanlah baju biasa. Baju itu pasti baju khusus untuk Sya hari ini. Sya memeluk baju itu dengan erat.
Kembali dia teringat dengan Mila. Wanita itu begitu cantik dan baik hati. Rasanya tidak menyangka jika Arda adalah adiknya.
"Kenapa kau disini? apa kau ingin mengajakku kawin lari?"
Sya menoleh dan melihat Jovi sudah berada di sampingnya.
"Kenapa kaget. Kau baru saja menangis?" tanya Jovi yang akan mendekat pada Sya.
__ADS_1
Sya mundur dua langkah, "Tidak. Aku tidak apa-apa."
Sya akan pergi tapi Jovi menahanya.
"Apa Arda yang membuatmu menangis?"
"Bukan urusanmu."
Jovi memegang pundak Sya perlahan. Sya mencoba menyingkirkan tangan itu.
"Sya, kenapa kau tidak memilihku. Kau hanya akan tersakiti jika bersama dengan Arda."
Mungkin ada benarnya yang dikatakan oleh Jovi. Hati Sya kembali goyah, namun dia ingat dengan Mila. Dia selalu baik pada Sya, Sya juga ingat dengan ancaman yang diberikan Arda.
"Lebih baik hidup seperti ini dari pada mencintai pria beristri," ucap Sya.
Lalu Sya meninggalkan Jovi disana. Sya mengingat apa yang sudah dia lakukan dengan Jovi. Dia sudah melakukan hal yang sangat salah. Mila begitu baik pada Sya, mana mungkin Sya akan merebut Jovi darinya.
***
Tok tok tok.
Sya membuka pintu kamarnya. Mila berdiri dengan senyuman di hadapan Sya. Bahkan kali ini Sima berada di samping Mila.
"Ada apa, Kak?" tanya Sya.
Mila menyodorkan air minum pada Sya, "Aku dan Sima kesini untuk menjemputmu."
Terlihat jelas jika Sya sedang gugup, "Kak, apa bisa aku tidak ikut pesta ini. Aku merasa tidak enak badan."
"Apa kau sakit?" tanya Mila yang langsung menyentuh kening Sya.
Wajah Mila mulai ikut khawatir. Sya benar-benar sakit. Bahkan keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.
"Apa kau mandi air dingin tadi?" tanya Mila.
Sya mengangguk.
Sya terpaksa mandi dengan air dingin. Jika dia tidak mandi. Dia akan terlihat sangat lusuh nantinya. Mana mungkin dia berani keluar, tapi sekarang dia malah kena demam karena mandi air dingin di malam hari.
"Sima. Kau jaga tante Sya dulu disini, Mama akan bertemu dengan nenek."
Benar saja. Sima duduk di tepi tempat tidur Sya. Sementara Sya berbaring, dia sesekali terbatuk karena rasa tidak enak ditubuhnya.
"Apa sangat sakit tante?" tanya Sima.
Sya menggeleng, "Tidak. Tante hanya butuh istirahat."
Baru kali ini Sya bercengkrama dengan Sima. Sejak dia pindah ke rumah ini, Sima selalu di kamarnya. Entah itu bermain atau belajar.
"Kau sangat cantik Sima," lirih Sya.
Sima tertawa kecil. Lalu, beberapa orang masuk ke dalam kamar Sya. Ada nyonya Ken, Arda juga Mila.
"Apa kau sakit?" tanya nyonya Ken.
Mila mendekat, "Bu..."
"Jawab Sya."
Sya hanya mengangguk.
Nyonya Ken terlihat tidak senang. Apa lagi Arda.
"Kak, riasi dia. Aku ingin dia datang denganku," kata Arda.
Mila terlihat tidak setuju.
"Benar. Aku tidak ingin dipermalukan hanya karena dia," kata nyonya Ken.
__ADS_1
Kali ini Mila tidak bisa mengatakan apapun. Dia meminta Sima keluar dan mulai merias wajah Sya agar tidak terlihat pucat. Mila merasa kasihan pada Sya kali ini.
***
Sya keluar dengan tangan menggandeng tangan Arda. Banyak kamera yang langsung menyorot kearah mereka. Bahkan banyak juga perkataan kagum dari tamu yang datang.
Acara demi acara dilalui. Sya terus menahan rasa pusing di kepalanya. Bahkan keringat dingin terus keluar dari tubuhnya. Membuat rasa tidak nyaman semakin mendera.
"Arda, apa aku bisa ke kamar lebih dulu," ucap Sya dengan lirih.
Mata Arda masih fokus pada acara itu. Dia bahkan tidak menoleh pada istrinya yang sedang menahan sakit.
"Apa kau sedang merasa cemburu karena kakak iparku?"
Saat ini, Jovi dan Mila sedang berdansa mesra dengan banyak tamu.
Sya menggeleng. Bahkan, sejak tadi Sya tidak memikirkan apapun. Dia hanya ingin istirahat di dalam kamarnya. Rasa pusing dikepalanya kini semakin menjadi.
"Aku merasa sangat pusing," lirih Sya.
Arda masih tidak menggubris. Bahkan beberapa kali Sya harus tersenyum ramah pada tamu. Tanpa ragu, Sya menggenggam tangan Arda dengan erat. Bagaimanapun caranya, dia tidak boleh sampai membuat Arda malu apa lagi marah.
"Arda. Apa aku cantik?" tanya Aila yang langsung berdiri di depan Arda.
Sya kaget dengan apa yang dia lihat. Baju yang dibelikan oleh Arda dan sebuah rangkaian bunga di kepalanya. Jelas sekali itu rangkaian yang tadi di buat oleh Sya.
"Kau sangat cantik. Tidak ada wanita yang bisa menandingimu," kata Arda dengan senyuman serta mengusap pelan kepala Aila.
Aila melirik pada Sya. Entah apa yang dipikirkan Aila saat ini.
"Arda? apa kita bisa berdansa saat ini?"
Belum sempat Arda menjawab. Seorang MC sudah mengumumkan sesuatu.
"Sekarang, sudah waktunya kita melihat dansa dari pasangan utama kita. Arda Ken dan Syaheila Ken." Teriak MC.
Sya langsung menoleh pada Arda. Untuk menopang tubuhnya saja terasa tidak mungkin. Sekarang dia akan berdansa. Sya menggeleng, namun Arda malah tersenyum dan menariknya ke tengah ruangan.
Alunan musik mulai terdengar. Langkah demi langkah mereka lakukan bersama. Sampai saat Sya berputar dan Arda akan menangkapnya. Sya malah pingsan tepat di pelukan Arda.
Arda kaget dengan apa yang terjadi pada Sya. Dengan tangannya Arda mencoba untuk membuat Sya bangun. Hanya saja, Sya tetap menutup matanya.
Merasa ada yang salah. Nyonya Ken meminta MC untuk kembali melanjutkan acara. Setidaknya hal itu tidak akan membuat Arda dan Sya menjadi pusat perhatian.
Saat seorang penyanyi naik ke panggung. Arda bergegas membopong istrinya itu masuk ke dalam kamar. Dia melihat keringat dingin sudah membasahi tubuh Sya.
***
Semuanya terlihat khawatir. Kecuali Arda yang masih saja setia dengan ponsel di tangannya. Dia bahkan merasa kesal dengan apa yang baru saja terjadi.
Arda tidak menyangka niatnya bersenang-senang hancur karena Sya. Arda merasa Sya bukanlah wanita keberuntungannya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Jovi yang terlihat sangat khawatir.
Dokter tersenyum, "Kenapa anda sangat khawatir. Bukankah ini istri dari tuan Arda?" tanya Dokter itu.
Jovi merubah ekspresi wajahnya, "Dia adik iparku. Mana mungkin aku tidak khawatir."
Mila mendekat, "Benar. Baru kali ini kami melihat Arda bersama seorang wanita."
"Aku tahu semuanya," kata dokter itu.
Ya, dia adalah dokter dari keluarga Ken. Jika ada apa-apa mereka akan langsung menghubunginya. Jadi, secara tidak langsung Dokter itu tahu semuanya.
Dokter itu mendekat pada Arda, "Ini resep untuk istrimu."
Arda menerimanya dan tersenyum tapi tidak ada perkataan.
"Aku akan pergi sekarang."
__ADS_1
Dokter itu langsung pergi begitu saja. Sementara Nyonya Ken memilih untuk kembali bekerja. Hanya Mila yang duduk di samping Sya dan menunggunya.
***