
Brak. Aila menggebrak meja Jovi dengan keras. Dia menatap Jovi yang sedang santai makan dengan seorang wanita. Kali ini, Aila benar-benar merasa sudah dihianati oleh Jovi.
"Kau kesini untuk apa?" Tanya wanita yang berada disamping Jovi.
"Kau hanya perlu diam atau pergi dari sini," kata Aila sembari menoleh pada wanita itu.
Wanita itu duduk kembali. Sementara Aila menatap Jovi yang masih santai menyuapkan makanan kemulutnya.
Geram dengan kelakuan Jovi Aila mengambil piring itu dari hadapan Jovi. Aila bahkan melempar piring itu kesembarang tempat.
Sang wanita kembali berdiri dan menampar wajah Aila dengan tamparan sadis. Aila hanya tersenyum dengan tingkah sang wanita.
"Apa kau bodoh?" Tanya Aila, "kau bukan wanita untuk pria bajingan ini. Kau itu hanya mainan yang bisa dia buang kapan saja."
"Apa benar?" Tanya wanita itu pada Jovi.
Kali ini Jovi hanya mengangguk-anggukan wajahnya saja. Karena malu, sang wanita langsung berlari pergi begitu saja. Kini tinggal Aila dan Jovi dimeja itu.
"Ada apa kau membuat keributan disini?" Tanya Jovi kemudian.
"Kenapa kau tidak katakan semuanya padaku. Kau sangat mencintai Sya sampai rela menghianatiku."
Dahi Jovi berkerut. Dia merasa tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Aila. Aila yang tiba-tiba datang dan langsung marah-marah padanya. Kini dia juga menuduh Jovi berhianat
"Sudah pasti kau yang mengganti minuman itu. Mana mungkin Sya bisa selamat. Racun itu kuberikan sangat banyak."
"Tunggu, tunggu, tunggu."
Kali ini Aila duduk dan menenggak minuman yang berada diatas meja. Entah itu minuman wanita tadi atau milik Jovi. Aila sudah terlalu marah untuk bertanya.
"Kau mengira aku yang mengganti minuman itu?" Tanya Jovi.
Aila mengangguk.
"Apa kau sudah gila?" Tanya Jovi lagi.
Aila akan menjawab, tapi ditahan oleh Jovi.
"Aku memang mencintai Aila, tapi aku tidak sebodoh Arda. Mana mungkin aku mau anaj itu. Anak yang dikandungan Sya milik Arda. Jadi, sudah pasti aku tidak mengganti minuman itu."
Mendengar penjelasan Jovi. Aila hanya diam. Dia masih berfikir siapa yang mengganti minuman itu. Kenapa bisa kandungan Sya masih selamat.
***
Mobil hitam masuk keparkiran rumah Ruka. Ya, sudah pasti jika itu Ruka. Kali ini Sya meminta para pelayan untuk tidak menyambutnya. Sya sendiri yang akan menyambutnya.
Saat Sya akan keluar, Mira berada disisi pintu. Dia ingin menanyakan hal yang membuat dirinya tadi begitu sedih. Sya berhenti dan menatap pada Mira.
"Aku mohon, jangan laporkan pada kakakku tentang apa yang kamu lihat. Aku tidak ingin jika Kak Ruka merasa khawatir padaku."
"Baik."
Mau tidak mau akhirnya Mira berjanji untuk tidak melaporkan hal ini. Merasa dirinya tidak perlu bertemu dengan Ruka. Mira memilih untuk kembali ketempatnya.
Sementara Sya keluar dengan dress selutut dan untuk menyambut Ruka. Ruka turun dari mobil dengan tas ditangannya. Sya mendekat dan langsung mengambil tas itu.
"Kenapa kau melakukan hal ini?" Tanya Ruka, "Dimana para pelayan?"
"Hari ini aku meliburkan mereka. Aku sendiri yang akan melayani kakakku."
"Apa aku sedang bermimpi? Atau kau menginginkan sesuatu?"
__ADS_1
"Aku menginginkanmu menikah."
Jawaban Sya membuat Ruka tersenyum tipis. Sejak pagi Sya hanya membahas tentang wanita dan pernikahannya. Ruka tidak tahu pasti alasan Sya melakukan hal itu. Hanya saja, dia memang seharusnya menikah.
"Apa alasanmu begitu memaksaku?"
Sya menatap kakaknya dengan tatapan yang sangat serius. Mau tidak mau, Ruka juga memasang wajah seriusnya.
"Katakan, Sya."
"Kau sudah sangat tua untuk menikah. Apa kau tidak malu?"
Setelah mengatakan itu Sya tertawa. Ruka hanya bisa tersenyum dengan alasan Sya. Ruka mencoba mengingat umurnya, ternyata dia memang sudah tua. Umurnya kini sudah masuk kepala tiga.
"Apa kau tidak mencintai wanita?" Tanya Sya.
"Sudahlah. Jangan membahas hal itu lagi. Kau mengatakan akan melayaniku bukan?" Tanya Ruka.
"Ya."
"Kalau begitu siapkan makan malam. Aila dan Arda akan datang kerumah."
Sya membelalakan matanya tidak percaya. "Untuk apa kakak mengundang mereka?"
"Aku tidak mengundang mereka. Mereka sendiri yang berniat datang untuk menjengukmu."
"Kalau begitu. Aku tidak mau masak. Suruh orang lain saja. Aku ke kamar," kata Sya yang langsung menghilang kebalik pintu kamarnya.
Akhirnya Ruka memanggil beberapa pelayan. Dia meminta untuk buatkan makan malam yang sepesial karena ada tamu.
Setelah itu dia masuk kedalam kamar untuk istirahat. Ya, selama dikantor dia merasa sangat lelah. Bahkan dia sampai melewatkan makan siangnya.
Didalam kamar Sya sedang bicara dengan seseorang lewat telfonnya. Dia membicarakan semua hal yang membuatnya dia marah dan kesal.
"Menurutmu apa aku harus kembali pada Arda?" Tanya Sya kemudian.
"Tanyakan saja pada hatimu, tapi jika aku menjadi kamu. Aku akan memilih menyudahi semuanya. Apa lagi, Arda masih saja menganggapmu berselingkuh."
"Aku masih mencintainya," lirih Sya.
Eri menghela nafas panjang. Selalu saja cinta yang menjadi alasan agar hubungan tidak berakhir. Padahal, jelas-jelas Sya selalu saja disakiti oleh Arda maupun madunya.
"Pikirkan dulu apa yang terbaik untukmu. Sudah dulu ya, aku mau menutup cafe dulu."
"Baiklah. Terima kasih sudah mau mendengarkan aku."
"Lain kali kau juga harus mendengarkan aku."
Sya tertawa kecil, lali dia mematikan ponselnya. Dia duduk dengan mata menerawang jauh. Dua memikirkan apa yang dia inginkan. Tentunya, pilihan itu tidak boleh menyakiti dirinya sendiri.
***
Makan malam sudah siap. Ruka sudah duduk bersama dengan Aila dan Arda. Hanya Sya yang belum turun dari kamarnya.
Sejak tadi siang dia hanya di dalam kamar. Bahkan dia juga tidak makan siang karena merasa kesal pada Ruka. Dia masih memikirkan hal apa yang akan dilakukan dihadapan Arda.
Rasa cinta memang membuatnya sulit untuk membenci Arda. Hanya saja, dia masih memiliki akal untuk berpikir. Dia tidak mungkin merelakan rasa cinta itu pada Arda lagi. Apa lagi setelah kehilangan anak dan difitnah oleh Arda.
Sya akhirnya turun keruang makan. Dia menggunakan sweater dan celana katun. Rambutnya tergerai dengan sebuah bandana merah dikepalanya.
"Maaf, aku lama, Kak." Sya langsung duduk didekat Ruka.
__ADS_1
"Tidak masalah," ucap Ruka.
Lalu pandangan Sya beralih pada Aila dan Arda. Mereka datang dengan pakaian yang beguti serasi. Rasa cemburu hadir dihati Sya, hanya saja dia mimilih untuk tersenyum.
"Maaf membuat kalian menunggu lama."
"Tidak masalah," ucap Aila.
Sementara Arda hanya menatap lembut pada Sya.
"Kita mulai makan malam saja." Ujar Ruka.
Malam itu mereka makan malam dengan tenang. Bahkan nyaris tanpa ada kata untuk makan malam itu.
Sampai saat Sya dan Arda akan mengambil makanan yang sama. Sya mengurungkan niatnya dan memilih menu lain.
"Jika kau mau ambil saja," kata Arda.
"Aku sudah tidak menginginkannya. Kau saja yang makan." Sya mengatakan itu dengan tatapan fokus kepiring.
"Tidak. Kau saja," kata Arda sembari mendorong piring itu pada Sya.
Sya akan kembali mendorong piring itu saat Aila berdiri dan mengambil piring itu. Sya menoleh, tapi tidak melakukan apapun.
"Jika kalian tidak mau. Aku saja yang makan."
Ruka hanya menatap tingkah tiga orang itu. Sya yang sudah tidak bisa menahan amarahnya langsung berdiri.
"Kak. Aku sudah kenyang, aku akan pergi kekamar lebih dulu."
"Ya."
Sya melangkah pergi. Sampai dilorong kamar, dia berjalan dengan perlahan. Perasaanya masih saja tidak bisa berbohong. Rasa cemburu itu begitu menyiksanya.
"Sya," panggil Arda sembari memegang tangan Sya.
Sya menoleh. Dia melihat Arda dibelakangnya dengan tatapan tenang pada Sya.
"Ada apa kau mengikutiku?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa kau masih mengira aku berselingkuh? Apa kau mengira anak yang aku kandung bukan anakmu?"
Arda menggeleng. "Aku ingin meminta maaf untuk semua yang aku katakan padamu."
"Lalu?"
"Aku ingin kau kembali kerumah. Bagaimanapun kau adalah istriku, tidak mungkin jika kita harus terus berpisah."
Sya diam. Dia kembali bertanya pada hatinya. Apa harus memberikan maaf pada Arda atau tidak.
"Aku mohon Sya."
"Sayang. Ayo pulang, aku merasa lelah. Apa lagi dengan bayi dalam kandunganku."
Sya dan Arda menoleh secara bersamaan. Aila datang dengan lenggak lenggoknya. Dia langsung menggandeng tangan Arda dengan begitu mesra.
"Aku lelah. Kalian bisa pergi dari sini."
Brak. Sya masuk kekamarnya sembari membanting pintu. Dia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dengan tangis pecah. Ya, dia memangis antara cemburu dan terluka karena Arda tidak bisa memilihnya.
__ADS_1
***